22.10.20

Retret

 

Kurasa aku kini jauh lebih legowo dan suwung dalam menjalani beberapa hal yang membuatku tertatih-tatih. Rasanya melegakan juga melepaskan pada satu kenyataan: "Toh nanti aku akan siap dengan apa pun yang terjadi di depan." Aku mempercayai Tuhan akan melindungiku dan memeliharaku. Ia akan memberikanku hikmat dan kebijaksanaan sesuai dengan waktu yang Ia miliki. Ia tidak akan terlalu cepat dan tidak pula berlama-lama, Ia akan tepat pada waktunya. Ia akan menjadikanku siap untuk memenuhi tugas-Nya. Ia mengetahuiku dan mencintaiku. Ia mengasihiku lebih dulu. Ia adalah Kekasihku yang pertama. Adalah Bapa. Lalu aku diajarkan cara berbagi Kasih. Bersabar dalam putaran waktunya, maka segalanya akan dimungkinkan dengan pertemuan. Dia mencintaiku lebih dulu, meski aku pemarah, sulit diatur, dan sering meragukan bertanya. Aku berserah pada-Nya dan mengikuti-Nya sampai nanti tiba waktuku. Aku ditumbuknya menjadi 'bijih polos telanjang'. Ia mempersiapkanku. Aku bersedia. Aku berkata: Ya. Aku membuka diri. Aku menerima Kasih-Nya yang besar. Aku legowo menerima. Aku memeluk semuanya. Bahwa inilah aku. Aku yakin Dia tetap, Dia akan memenuhi janji-Nya, rancangan-Nya bukanlah rancangan kecelakaan tapi damai sejahtera. Di dalam Dia aku merasa aman. Dialah gunung batuku. Perisaiku. Api Cintaku. Tidak akan aku merasa gentar. 


"Laksana butir-butir gandum kau diraihnya,

Ditumbuknya kau sampai polos telanjang

Diketamnya kau, agar bebas dari kulitmu

Digosoknya, sehingga menjadi putih bersih,

Diremas-remasnya menjadi bahan yang lemas dibentuk

Dan akhirnya diantarkan kepada Api Suci,

Laksana Roti Suci yang dipersembahkan pada Pesta Kudus Tuhan."

          (Cinta-Khalil Gibran) 

 

 

 

pagi

pagi yang diusung dari doadoa

adalah pintalan mimpiburuksemalam 

yang ditenun dengan kehati-hatian

menggabungkan kataku dan rencana-Nya

tapi tetap pedih juga


21.10.20

solitude

ketika mulai linglung dan bingung sepertinya tidak apa-apa kalau mau mulai minggir sebentar dan memandang dari jauh. hidup itu susah-susah-gampang. tidak apa-apa juga untuk memisahkan diri dan kembali ke diri sendiri untuk bisa belajar. 

solitude: (n) the quality or state of being alone or remote from society. 

untuk berpikir, untuk bernafas, untuk mencari, untuk melihat pemandangan, untuk mencerna ke dalam, untuk merenungkan, untuk meragukan, untuk menentukan, untuk meragukan lagi, untuk merenungkan lagi, untuk berproses, untuk mencipta,

untuk mengerti

inilah hidup.




19.10.20

pelan-pelan

berapa kali coba aku ganti themes blog agar terus baru. kayaknya jiwaku merindukan kebaruan yang bisa aku kontrol dan pegang. bukan yang mendadak baru, tiba-tiba terjadi tanpa bisa aku antisipasi. kayaknya makin banyak hal yang tidak bisa aku antisipasi dan did not see it coming bikin mentalku semacam capek. aku capek musti berada di masa-masa yang uncertain begini (meski aku terus-terus berkata pada diriku sendiri untuk bisa terbiasa dengan ketidakpastian) tapi aku butuh yang pasti, ternyata. 

kayaknya ngunyahnya musti pelan-pelan deh, gak usah buru-buru harus diperbaiki. diam dulu, lihat lebih dekat, amati pelan-pelan. lucuti satu-satu. terima satu-satu, gak usah khawatir yang ada di depan. 

ya, baiknya jalani hari per hari aja, kalau serasa ketakutan. 

13.10.20

latihan

pagi ini harus ikut rapid test dan jujur panik sekali sih. seperti pertanyaan gimana kalau ternyata aku positif kena covid? mengingat aku selalu ketemu customer dan kadang gak tertib pakai faceshield. ternyata aku masih khawatir kalau mati, gimana? padahal aku kira, aku bukan tipe orang takut mati karena memang spoiler kita hidup ya akan mati, kan?

ternyata aku masih takut akan kematian ya...

***

sambil memikirkan akan kematian saat menunggu hasil rapid keluar, aku berpikir sambil minum kopi pagiku. aku jadi tersadar akan beberapa penderitaan yang aku alami tapi seringnya gak sadar.

(ini akan jadi tulisan depresif, sepertinya, jadi kalau seandainya energinya lagi gak kuat lebih baik ga usah. red)

aku sedang berpikir tentang penderitaan....
(kenapa kata penderitaan di bahasa indonesia terasa lebih ngenes daripada suffering ya? gimana kalau aku ganti bahasa aja jadi suffering, agar beban hati kita sedikit uplifted, gitu padahal mah LOL)

okeh, aku sering sekali denial suffering dan perasaan karena aku merasa harus functional dalam keseharian dan dunia profesyenel, gak ada waktu untuk merasa kurasa. aku seringnya merasa jikalau aku jadi orang yang perasa/merasa banget maka aku tidak akan bisa fungsional di keseharian dan akan terbawa arus kesedihan aja melelelelele. gak produktif, menurutku. jadi, seringnya aku akan lebih memilih blok aja dulu perasaannya karena kita harus berfungsi dengan baik (operate well kalo maksud anak mesin). 

aku merasa ketika sudah merasa produktif dan fungsional yang jalan, maka artinya aku sudah menunaikan tugasku dengan baik. tapi ternyata, aku salah sih. ternyata, manusia tidak bekerja demikian, kalau aku perhatikan pada diriku sendiri aku tetap merasa membutuhkan kanal-kanal perasaan juga, sehingga aku bisa considerate pada orang lain dan gak pakem banget, jadi orang. kayaknya value untuk menjadi depandable dan responsible itu terlalu mengambil porsi dalam hidupku, menurutku saat menjadi responsible dan dapat diandalkan artinya ya bisa bekerja dan berfungsi dengan baik, perfect tanpa noda membandel. 

ternyata aku salah.

ternyata, dapat diandalkan bukan perkara urusan pekerjaan dan sokongan materi saja, tapi juga bisa menggunakan hati dan perasaannya. ternyata manusia ini bukan batu yang keras, tapi manusia itu kayak sungai mengalir dan akan berubah. perubahan itu akan selalu terjadi, kita akan selalu transform dan belajar menjadi sesuatu bentuk yang lebih baik lagi untuk bisa beradaptasi dengan zaman. 

ternyata perasaan itu butuh divalidasi dan semua itu sama tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya. ternyata perasaan itu tidak bisa diperbaiki cepet-cepet selesai dan asal pangkas/potong aja, ternyata perasaan itu perlu diterima saat takut, sedih, gembira, kecewa, ditinggalkan, dll dll

ketika perasaan diterima, kita akui, bisa masuk nalar, maka kebenaran terungkap. susah ya. padahal lebih mudah semua dilakukan dengan otak dan analisis yang tepat dan praktis. 

aku selama ini salah.

aku mau belajar. 



11.10.20

seharian

seharian ini aku lagi mikir keras sambil nonton korea. ini baru namanya multitasking, yagaksiii? pernah gak sih rasanya berasa tolol dan merasa gak mutu ke diri sendiri? kenapa banyak banget gitu loh yang salah react atau salah prediksi? rasanya hari ini sebenernya aku semi menghukum diriku sendiri dengan berpikir yang udah-udah. capek gak? wow cape banget, sih. 

lalu solusinya apa seharian aku mikir?

ya gak ada solusinya lah.......... ya sekarang nonton drakornya udah sampai episode 11 aja gitu.  pinter banget warbiasak.

kayaknya banyak deh hal-hal yang emang aku ga berani selesaikan dan hadapi tapi malah mundur cabut. kayak rasanya kemampuan menghindar dan cepet-cepet cabut adalah gayaku banget. rasanya kayak aku gak merasa diriku mampu untuk menghadapinya dengan terbuka dan dar-der-dor karena takut sakit hati atau rejection kali ya (?) tapi sakjane dengan aku menghindar juga ga menyelesaikan masalah dan aku juga tetep aja juga sakit hati, menurutku. 

sepertinya aku memang punya keahlian untuk bisa ignore, cuek, dan dingin-dingin aja. tapi coba deh, kalau aku pikir-pikir tidakkah aku cuman menghindari masalah aja dan gak menyelesaikannya dengan baik, gitu?

ngerti, secara analisis pasti aku sudah punya list pro-con kanan kiri atas bawah, tapi bisa jadi sampai akhir hayat aku bakalan gini-gini, aja nih boss gak maju-maju. coba, misalnya aku masih culun-culun gini aja dan ga bisa kelarin dengan baik, artinya ya bakal di sini-sini aja dong pribadiku, wah ga berkembang. 

(aku takut sih)

tapi coba deh, kalau dipikir-pikir jikalau aku beneran berani menghadapi dan menyelesaikan masalah bukannya menghindar, bukankah aku bisa mempersiapkan diri jadi ibu mentri pendidikan (!) wkwk. jadi, coba deh jadi orang tuh gak usah perfeksionis banget coba-coba, realistis kalau yaaa semua harus cupu-cupu bego dulu untuk bisa sampai ke goal yang kita mau, kan?

***

kadang (eh bukan kadang deng, SERING) aku suka menyalahkan diri sendiri dan marah-marah sama diri sendiri untuk banyak hal yang menurutku: goblogg bener. tapi, kalau dipikirkan baik-baik, aku ga bakalan jadi diriku yang sekarang; bisa menarik pelajaran, dan mengerti-- kalau aku gak melewati masa-masa culun dan salah-salah, kan? :( toh, aku pun baru sekali mengehadapinya, aku musti memaklumi diriku sendiri kalo aku juga bisa salah, ini kali pertamaku, aku saat itu belum tahu, kalau gak kejadian abcdef ini tentu aku ga akan tahu. aku masih belajar, belum skillfull. 

yaaa namanya juga idup, musti eksplor!

(and celeng myself)



10.10.20

Anget-anget Kuku

"Kuncinya adalah konsistensi", katanya. 

Menurutmu bener gak? Agar beneran bisa berjalan dengan lurus dan gak belok-belok kita harus bisa memiliki niat dan hati yang nempel di sana. Terkadang memang harus dilakukan dengan terburu-buru dan mendadak agar beneran jadi, katanya sih gitu. Mungkin yang benar adalah jalan dulu aja pelan-pelan, toh jalan kan? Bukan lari-lari ke mana-mana. Seharusnya dengan jalan yang pelan-pelan ini bisa membuat kamu jadi gak kecapean di tengah jalan, jadi pastikan gak terlalu overwork kalau kamu mau melakukan sesuatu. Kalem, pelan-pelan, santai, menyukai dalam prosesnya,  ga usah dar-der-dor, yang penting sustain, dan gak ngos-ngosan kerjainnya. Gitu yaaa, moms sekalian 😎

***

(ngantuk banget ya hari ini 20:31 aku udah semacam klenyer badannya pengen tidor)

Tadi di twitter aku melihat twit menggelitik dari Mark Manson yang bikin buku The Sublte Art of Not Giving a F*ck itu loh, menurutku menarik karena dia menyarankan bahwa: janganlah jadi pribadi yang merasa diri spesial, menarik, talented, dan lebih daripada yang lain. Selain karena ternyata kita bukan the special snowflake (wkwk) dan monmaap kita juga bukan sultan, jadi hadapilah hidup dan situasi dengan realistis, gitu. Tidak ada yang spesial artinya: kita bukan number one di seluruh dunia ini, jadi tidak harus memperlakukan diri dengan standard ketinggian yang harus abcdef karena: "ih gengsi dong kalo seandainya ternyata aku diperlakukan gini...." , dengan tidak memberikan persepsi diri yang bak ratu sejagad, artinya kalo seandainya banyak hal gak sesuai dengan ekspektasi kamu gak kecewa-kecewa banget. Yuk coba manage ekspektasi dengan gak bego-bego banget taro standard ketinggian.

(oOOOOooooOOOo tentu saja ini juga ngomongin aku banget wkwkw karena aku perfeksionis standard tinggi, iyuhhhh jijix he he he, coba deh ya Met kurang-kurangin deh)

yaudah gitu aja, aku dah ngantuk bgt deh. 

9.10.20

kecepetan gak ya?

aku tuh terlalu sibuk gak ya? karena aku berasa seminggu ini cepet banget kayak slipped away from my hands gitu loh perasaannya. aku khawatir gimana kalau ternyata sehari-hari ini berjalan 2x lebih cepat dari biasanya karena aku sibuk banget ya? 

udah mulai musim hujan yang artinya sudah mulai masuk bulan-bulan akhir. aku rindu bandung dan ingin ke sana. oh enggak sih, aku cuman rindu suasana normal di mana ga perlu khawatir ada covid. bisa jadi jangan-jangan suasana normal tidak bisa kembali seperti semula karena kita semua udah terbiasa dan menjaga diri dari kerumunan. 

coba aku ingin membuat waktuku gak kecepetan gimana ya? dengan menyediakan waktu buat melamun kali ya?

kemarin saat aku sedang iseng ikut misa online, ada hal yang menarik yang dikatakan. buatku sih pas sekali karena aku sedang mencari dan redefine big-why ku lagi. sesungguhnya aku sudah sumir-sumir menemukannya di ujung otakku dengan sotoy berkata: "wahini dia big-why-ku (untuk saat ini setidaknya). long story short, dalam homili diselipkan sebuah pertanyaan "apa yang kamu cari?" 

iya ya, apa yang aku cari ya?

masa mencari tapi diri sendiri ga tau apa yang sedang dicari?

apa tidak lebih ngenes dari pada nyari jarum di tumpukan jerami?

menelaah diri maunya apa memang susah sih, tapi kalau diri sendiri gak jelas maunya apa dan gimana gimana dong cara praktis untuk bisa jalan sesuai dengan goalnya?

kalau belum tau maunya apa, maunya gimana dong? masa iya, ketika tidak tahu gak dicari tahu. pun jikalau sudah menemukan maunya apa, tapi realita tidak mendukung, setidaknya langkah tiap hari punya mimpi dan harapan (ya paling engga jalan yang dijalani sekarang adalah jalan putar buat dapetin yang aku mau gitu?) 

pun jika ternyata engga bisa sesuai dengan keinginan, seharusnya di tengah jalan memutar itu banyak menemukan pemandangan indah kan?

ya kan? 

8.10.20

screen time

keputusan yang paling salah hari ini adalah memutuskan untuk gak keramas tadi sore, gak keringetan sih, tapi sepertinya aku butuh keramas. aku mau keramas dulu deh sebelum lanjut nulis. oke, bentar ya.....

***

he he he dah keramas hidup serasa lebih indah dan segar, pemirsa. 

***

hari-hari yang biasa aja ini disponsori oleh kesibukan sehari-hari, otakku rasanya ngebul dan full terus. mungkin harus bersyukur kali ya masih bisa sibuk dan memiliki rutinitas asik sendiri sama kehidupan yang real ada di depan mata. kurasa ya dalam usahaku menjadi pribadi yang lebih baik ternyata butuh effort banget deh, kak. kadang susah sih untuk bisa mindful dalam mengerjakan suatu hal karena biasanya aku akan fokus banget dan kesedot banget aja gitu, tanpa ada keinginan untuk ok aku akan dengan sadar menikmati ini dengan kesadaran penuh. sebagai sobat overthinking kayaknya memang musti menata pikiran untuk bisa kasih slot-slot yang rapihan dikit deh. coba satu-satu yang dipikirin ga usah semua dipikirin yakan? 

buatku usaha yang paling mudah melatih fokus pikiran adalah dengan mengurangi screen time handphone sih, jadi aku bisa diajak lebih fokus dalam mengerjakan banyak hal. meski memang sih kalau misalnya mau day time mau gak mau harus standby hp karena kerjaan, tapi selebihnya di luar jam kerja memang mengurangi screen time bisa memaksamu untuk bisa lebih fokus dengan hidup yang sekarang.

lucu juga ya, aku sampai pada sebuah masa yang aku takutkan sendiri ketika harus beli hp android yakni mudah dihubungi ke ranah pribadi dan harus selalu siap sedia. padahal dulu di taiwan hidupku sudah cukup indah dengan sms dan telp aja, kalau mau butuh ngobrol panjang bisa skype haha. eh ternyata, aku harus menghadapi situasi harus mengurani screen time, kocak. 


7.10.20

the big Y

(aku mau nulis tapi kok teh angetku ketinggalan di bawah ya, bentar aku ambil dulu ya)

(nah udah)

ini blog akan expired 1 bulan lagi: TARAAA. jadi kayaknya bakal menjadi blogspot aja, aku gak mau perpanjang website, atau mending pindah rumah ya? belum kepikiran sih, apakah pindah ke wordpress lebih enak ya? mana aku jarang banget blogwalking karena ga punya waktu udah full ngerjain kantor sama thesis lalu urusan ini itu. apa ngeluh? ngga sih. 

hari ini pagi-pagi sebelum kantor aku memulainya dengan menjawab semacam lembar kerja untuk upaya mengenal diri sendiri gitu deh mungkin hari-hari ke depan memang akan dipenuhi pertanyaan seputar diri. jadi pertanyaannya hari ini yang tiba-tiba aku gak tahu jawabannya adalah: the big why.

coba, pathetic ga sih kalau tiba-tiba kehilangan the big why. iya juga, kenapa ya? 

jadi pertanyaannya adalah: "apasih yang membuat kamu bersemangat bangun pagi dan menjalani hari?"
lalu aku menjawab dengan membaca buku kesukaan. ternyata jawabanku seharusnya lebih ke arah 'tujuan hidup' gitu loh misalnya 'to help others' atau apakek. aku ga kepikiran ke sana sih, apakah artinya aku jadi egois ya? rasanya aku bangun tiap pagi karena aku ingin lanjutin buku bacaanku lalu jalan pagi sambil dengerin podcast. rasanya itu rutin yang bisa aku peluk erat-erat tiap pagi.

coba deh, apakah big why itu sendiri harus yang bener-bener big? gimana kalau seseorang menjalan hari memang fokus hari per hari saja, menikmati bangun kepagian dan duduk-duduk baca buku. gimana kalau misalnya hidup itu gak melulu soal memiliki tujuan tapi juga lagi rehat sejenak dan ingin sit back, relax, reflect, dan enjoy the day. hello, we are pandemic anyway, boleh gak sih gue lebih menikmati hari aja dari pada stress mikir apa yang akan aku lakukan setahun ke depan, gimana kalau stuck di situ-situ aja?

gimana kalau sebenernya emang masa-masa ini, adalah waktu yang tepat buat hang on aja, mengenal diri sendiri, dan self improvement gitu? mau hidup sehat? boleh banget mulai olahraga dan diet yang bener. kayaknya gapapa banget sih kalau ternyata menyadari diri: "eh gue makin lambat nih pace nya, capek kali ya?" dan gapapa banget kalau tiba-tiba berkata pada diri sendiri: "ah ga tau ah, aku santai-santai kalem di sini aja, baca buku, kalo yang lain mau lari ya gapapa, aku mau menikmati diri sendiri, gitu juga gapapa sih."

sebuah big why, ga usah ngoyo dicari why-nya, showing up for and as yourself aja udah big kok. 

(perkara lupa minum teh, sekarang udah ga panas lagi)









6.10.20

kurang

sambil menulis ini aku suka sekali sambil santai-santai di kamar menikmati ujung-ujung hari ketika badanku udah mulai kretek-kretek rasanya. mengacu bahwa aku sedang mencari yang bener-bener esensial dan tulus-tulus saja dalam hidup, tiba-tiba kenapa rasanya seperti serasa ga penuh-penuh ya? mungkin gak sih kalau aku kelupaan bersyukur dan terlalu melihat apa yang aku gak punya gitu? kayaknya aku selalu panik-panik gak berfaedah setiap kali mau mendekat akhir tahun. aku berasa seperti kecolongan banget di tahun 2020 ini, serasa stuck di tempat tidak bergerak. aku sedang mencari ulang makna, bukankah manusia harus selalu bisa merefleksikan dari mula dan belajar ulang mengenal dirinya sendiri? kita akan selalu menemukan hal-hal baru dari dalam diri ternyata. di bagian mana ya, yang ternyata aku masih merasa suffering di dalam dan belum bisa dicerna, di mana ya bagian aku masih unskillfull, pasti banyak kurangnya kan dari pada benernya? 



5.10.20

teh hijau

hari ini coba konversi minum kopi menjadi teh hijau, rasanya biasa aja sih ternyata. ternyata memahami bahwa diri itu bisa berubah sesuai dengan kebutuhan agak kaget juga ya. aku pun jadi tersadar ternyata ketika kita menulis sebenarnya adalah membantu mengosongkan pikiran aja sih, biar gak rumit banget.

aku masih sedikit syok dengan swift perubahan yang dialami diri sendiri bahwa ternyata mengenal diri itu bisa berkabut banget yaa dengan misalnya tuntutan kanan kiri: "kamu tuh seharusnya.....dan...., dong." dan ternyata gapapa banget jikalau tidak ingin memenuhi tuntutan orang lain, kayak buat apa coba? mengerjakan tanggung jawab sebaik-baiknya dan sisanya adalah pilihan. kalo gak mau, ga usah. 

dan belajar bilang "tidak" ternyata melegakan, ya.

4.10.20

minggu hujan

hari ini terbangun super kepagian yakni pukul 4:44, tanggal 4 oktober, ga berusaha nyari artinya juga sih karena berakhir dengan goler-goler manja di tempat tidur meneruskan membaca ebook. menurutku membaca ebook di hp menyenangkan karena kamu gak terlihat kayak kutu buku banget menekuni hp dari pada harus membawa buku ke mana-mana. padahal sebenarnya kamu lagi asyik membaca dan mengulik suatu topik yang seru. membaca ebook memang lebih efektif ketika aktifitas seharian tidak mendukungmu untuk bisa duduk diam membaca buku. jadi, aku selalu menyiapkan ebook di hp buat bisa dibaca kapan aja untuk mengangin-anginkan pikiran.

hari ini aku melakukan kegiatan yang melegakan, sih. mungkin saat sudah selesai berproses aku akan ceritakan ya. setidaknya ini adalah upaya yang menenangkan aku dari banyaknya pikiran yang njelimet dan perasaan yang terlalu membeludak, aku rasa ini kanal yang pas buatku sih. lalu aku jadi berpikir, upaya menenangkan itu sebenarnya apakah sugesti aja ya? atau benar-benar itu manjur dan bisa diproses dengan baik? namun, kupikir meskipun misalnya itu sugesti setidaknya menenangkan pikiran adalah efek positif yang kita butuhkan akhir-akhir ini kan? 

tadi aku menemukan sebuah insight menarik dari teman sekolahku, nadia. dia menyebutkan bahwa memang masa-masa ini adalah masa khawatir dan stressful karena serasa control ga ada di tangan dan semuanya serba gak pasti. mungkin yang terpenting adalah kudu ikhlas dengan keadaan. musti aware dan grounding terus-terus, memilah dan mengerjakan yang memang adalah porsi kita, sisanya ikhlasin. lalu bersyukur untuk semua yang kita punya dan kita tidak punya. 

aku setuju sih. 

ikhlasin dan bersyukur adalah bentuk paling sempurna dari menerima ya.  


3.10.20

coba sadar coba

aneh banget deh, ternyata ketika kita sedang mencari balance dalam hidup, eh hidup will keep testing you dengan kejadian-kejadian setiap hari. atau mungkin sebenarnya kejadiannya sebenarnya terasa biasa dan sudah sering dialami, tapi karena kamu sedang mencoba memperbaiki diri sendiri, tiba-tiba jadi lebih sadar pola dan berkata: "oooOooOoo cemni" tapi saat menghadapinya nyebelin aja gitu bawaannya karena sudah tahu ternyata kita memiliki pilihan untuk bereaksi akan banyak situasi di hadapan kita. namun ya satu lagi terkadang ego diri lebih kenceng ya. 

kejadiannya adalah situasi yang biasa banget dalam pekerjaan menemukan kastamer yang rese dan maunya disayang-sayang, tapi cara bersikap yang menurutku "keknya gak perlu bersikap begitu kalau mau menutut respect, yakan?" berusaha untuk berpikir bahwa apa yang dia keluarkan adalah cerminan yang dirasakan di dalam bahwa dia merasa takut dan insecure, tapi memisahkan pengertian bahwa dia sedang memproyeksikan ketakutannya padaku dengan cara sebaliknya, bahwa sebenarnya dia tidak menyerang 'aku' dan 'bukan tentang aku' persisnya, itu sulitnya luar biasa. 

apakah ini maksud charles darwin dari upaya manusia bertahan dengan mengintimidasi manusia lainnya dengan menyakiti 'ego' kali ya? kayak misal ada penjajah masuk ke suatu kawasan yang diserang mental dan egonya kali ya? jadi upaya menyerang duluan/invasi mendadak akan dilakukan sebelum disakiti, gitu? terus korbannya masih lemot mikir "ngapa siy ni orang heran w?!!" dan ketakutan duluan. gitu kali, ya. 

mungkin ga sih yang mengaum duluan dan paling kenceng, sebenernya dia yang lagi takut dan merasa insecure? akhirnya curi start. 

terus jadi berpikir sebenarnya term memaklumi sikap nyebelin orang lain tuh, gak pas gak sih? mungkin lebih bener bernegosiasi dengan sadar dan terbuka kali ya. 

halah dalam praktiknya bernegosiasi emang teori doang karena win-win but still we will lose something, sih. bisa jadi skill pura-pura budeg dan tebel muka paling bener, sih menurutku sih.

ya mending, ga usah ikutin aku juga sih  👀😵 

 




udara di luar dingin

terlepas dari kenyataan bahwa hari sabtu itu tetap bekerja dan harus melakukan beberapa hal yang kiranya kurang lebih maksudnya: "upaya merebut waktuku untuk mencapai tenang jiwa", rasanya hal yang tetap diperlukan adalah rutinitas yang tertentu. aku suka bangun pagi dan memulai segalanya pelan, sekaligus aku tidak suka terburu-buru harus bangun pagi untuk memulai segalanya pelan. kadang aku cuma ingin bangun lebih siang dari biasanya, tapi aku akan menemukan rasa bersalah kalau bangun kesiangan karena tidak bisa pelan-pelan minum kopi. aku gak suka minum kopi di kantor, terlalu kemerungsung dan aku ingin kopi yang damai. 

kira-kira upaya bugar apa yang kamu lakukan sering-sering dan religiously tanpa peduli kata orang? mungkin aku berjalan kaki sore ke tempat yang tidak terlalu ramai, tidak banyak orang. kemarin aku membaca bukunya thich nhat hanh berjudul how to fight. bukunya bukan mengajarkan tentang cara berantem atau kekerasan, bukunya lebih ke arah compassion bahwa setiap orang memiliki penderitaannya masing-masing, oleh karena itu tindakan yang mereka lakukan adalah upaya defensive mereka untuk mereaksi sesuatu. 

seperti kalau di dalam batin dan nuraninya masih sakit, tapi gak menyadarinya, lebih banyak tindakannya akan memproyeksi apa yang ada di dalam. di buku itu dibilang bahwa jikalau kita suffer, ketakutan, sakit hati harus mau diakui dan diterima. suffering yang diterima dan dilegakan inner childnya membuat diri menjadi lebih terbuka dan bisa merasakan dan care akan suffering orang lain. dalam hatiku merasa betapa beres-beres dan eksplor jeroan ini sakit yaa rasanya. memang terasa lebih mengenal diri sendiri tapi memang jadi terasa lebih kencang otot lehernya lol. 

ketika di dalam hati tidak damai, bagaimana mungkin bisa memberikan damai dan kasih ke luar. tapi untuk menuju pada proses untuk bisa menjadi damai banyak amat yang musti diberesin dan upaya mengenal dan menerima diri sendiri. ya proses, sih. 

2.10.20

pegel-pegel di leher

lama-lama blog aku ini hanya ajang mikir dan curhat yang tidak penting ya. coba deh bayangkan kecenderungan manusia untuk bisa menceritakan perasaan dengan baik dan sebenar-benarnya itu kapan? apakah efektif untuk melulu terus-terusan membicarakan perasaan ya? rasanya tidak semua orang di dunia ini akan cukup memahami dan mau serius mendengarkan perasaanmu, jangan-jangan seharusnya yang perlu diasah adalah kemampuan untuk memiliki perasaan dan mendengarkan perasaanmu sendiri. kalau diri sendiri saja tidak mampu kamu mengerti bagaimana caranya bisa berempati dengan orang lain.

hari ini turun hujan deras saat aku mau pulang ke rumah, perasaanku hanya ingin pulang dan makan karena laper sekali. apakah hanya perasaanku saja ya kalau akhir-akhir ini terasa bergelayut lebih berat, tapi cepat. setiap pagi sudah mempersiapkan banyak hal yang akan dihadapi setiap harinya sih. tidak berharap akan kemulusan hidup yang akan dihadapi karena itu adalah jebakan batman saudara-saudara, percaya deh. mempersiapkan hati dan hari untuk kemungkinan terburuk itu rasanya akan membuat harimu lebih bearable buatku, karena aku tahu hari ini will be sucks anyway, tapi aku gak berharap lebih dan sudah memiliki antidotenya. seperti memiliki ritual bangun tidur yang bisa membaca buku dulu sejenak, berjalan-jalan sebentar, makan, mandi, pelan-pelan baca whatsapp, berdandan, sesampainya di kantor aku akan buat kopi panasku, tidak berharap yang muluk-muluk sekali. 

lalu apa pasalnya ya yang membuat leherku pegal-pegal selalu, seperti tegang sekali? bisa jadi aku merasa khwatir dengan keadaan, berita duka yang terlalu dekat, kelelahan ingin liburan yang normal, keinginan untuk bisa seperti dahulu kala yang lebih santai, tuntutan pada diri sendiri yang kebanyakan (?) 

coba deh, aku tuh rasanya butuh rilek yang santai, gak banyak pikiran, apa itu barang mahal yaa untuk saat  ini? sebuah ketenangan pikiran. apakah artinya menjadi aware dan mindful adalah sebuah koentji kehidupan di zaman kini? bisa jadi sebenarnya lahir dari: hati yang menerima dan bisa mengambil pelajaran yang bermakna, gitu kali ya.

tapi jujur, mungkin sebenarnya leher pegel-pegel ini artinya keinginan untuk bisa melepaskan beban kali ya, seperti: dah-dah-dah-dah-waktuku-telah-tiba

seperti kata chairil anwar: bila sampai waktuku kumau tak seorang pun kan merayu, tidak juga kau, tak perlu sedu sedan itu.



setelah dipikir-pikir

apa yang menggangguku akhir-akhir ini adalah dengan pikiran banyak sekali buku yang aku punya tapi perpustakaan belum bisa berjalan dengan full karena pandemi (?) atau bisa gak bisa mengataka bahwa justru karena pandemi ini ada aku jadi semangat 45 yuk mulai yuk. bukan perkara karena tidak bisa berkumpul yang hura-hura lagi, tapi mungkinkah kalau memang belajar untuk bisa menekuni sesuatu dengan baik adalah awal dari bagaimana maintain komitmen. meski hadeh banget sih menggeluti satu hal yang sifatnya berkelanjutan. namun, sebagai ibu (pemiliki buku-buku) sepertinya aku serasa memiliki tanggung jawab publik unuk bisa memberi akses buku-buku ini agar bisa berguna untuk orang lain. bahwa banyak orang yang membutuhkan pencerahan dan mungkin buku-buku itu bisa menunaikan tugasnya. gimana yaa caranya untuk bisa tetap berjalan dengan kekuatan stabil dan gak jatuh-jatuh? kayaknya manusia tidak akan mampu sekedar berjalan tapi juga butuh bantuan semangat dari kanan kiri.

hal yang membuatku resah adalah bagaimana kalau seandainya buku-buku ini tidak bisa sampai pesannya pada yang membutuhkan? bagaimana jikalau seharusnya buku-buku ini bisa menyelamatkan orang lain yang membutuhkan teman, membutuhkan jalan, membutuhkan uluran tangan, tapi tidak ada. punya gak ya aku kekuatan untuk bisa berkelanjutan dan hidup, anginnya kenceng banget.

apa mungkin harus ada angin kenceng banget, baru aku terbangun, takut, dan berjalan?

15.8.20

Paling penting

 Kemarin saat sedang berjalan-jalan sore dengan Ibu, sekilas kami berbincang-bincang kalau di masa-masa seperti ini tiba-tiba banyak hal yang perlu ditinjau ulang dari hidup kita. Semuanya harus jadi serba simpel dan esensial. Jikalau tidak perlu-perlu amat lebih baik tidak usah. Jikalau mengambil banyak waktu di luar, lebih baik tidak perlu. Kita diharapkan untuk bisa mengatur jarak dan waktu dengan seperlunya. Ternyata satu per satu berguguran juga ya, yang tidak krusial pindah kuadran, yang sifatnya tidak perlu akhirnya mengeliminasi dirinya, yang sifatnya artifisial akhirnya menampakan wujud aslinya.

Mungkin 2020 ini mengajarkan kita untuk kembali lagi pada fungsi dan esensi. Agar fokus dan tidak teralihkan. Bagi yang mau memperbaiki dari baik dari gaya hidup, cara pikir, dan belajar kemampuan baru sangat bisa dimulai dari sekarang. Dari yang hobinya serba apa-apa harus di luar, terpaksa menyamankan diri di dalam rumah. Belajar untuk bisa menahan keinginan ala-ala sweet escape. Romantisasi sweet escape sudah tidak bisa digunakan lagi, mencari kedamaian diri tidak lagi dengan berjalan ke luar, tapi di dalam diri. Mengenal diri.

Memang menyebalkan sekali tidak bisa memiliki pelampiasan ke luar. Apalagi untuk mereka yang tertutup dan tidak bisa mengkomunikasikan dengan baik suasana hatinya. Menurutku tidak apa-apa deh jadi tertutup dan tidak bisa berbagi, toh yang kelegaan bisa ditemukan di manapun. Selain harus diceritakan. Berawal dari "sadar" kenapa dan penyebab, validasi dari diri sendiri kalau: "oke, capek. oke mau minggir." Normal banget.

Mungkin kita musti biasakan: setting boundary demi kenyamanan bersama. Istirahat sejenak. Bersantai. Memahami diri sendiri. Paling penting.


10.8.20

Tune in

Susah juga ya mau berusaha tune-in di masa-masa seperti ini. Perasaan bosan tidak bisa divalidasi lagi karena pada hakikatnya kerja dan hidup sudah tidak ada batas lagi. Ternyata kalau kuperhatikan yang diperlukan hanyalah tune-in dengan diri sendiri dan fokus dengan hal-hal yang bisa dikontrol. Ternyata itu jauh lebih memudahkan daripada mengantisipasi situasi dan kejadian yang sebenarnya belum kejadian.

Ternyata tune-in tidak semata-mata mengambil jarak pada beberapa hal tapi juga mencoba untuk memilah sesuai dengan skala prioritas. Sepertinya dengan menjadikannya seperti itu membawa diri menjadi lebih terbuka dengan kejadian sehari-hari yang lebih realistis ketimbang terus menerus khawatir hari depan. Kepastiannya adalah tidak ada yang pasti. Jadi, membatasi perilaku terlalu mengawang-awang dan tendensi untuk membuat persepsi yang keliru dengan tetap ajeg pada keadaan sini kini. Ternyata tune in juga adalah bentuk percaya. Gitu sih.

5.6.20

Sekadar Mempertanyakan

 

Tidak ada yang baru di bawah langit ini”, begitu katamu. Namun, boleh dong aku bertanya kenapa bisa ada new normal?

Tidak ingin menambah kerumitan situasi dengan kening berkerut, tapi nyatanya memikirkan ini sudah membuatku sedikit rungsing. Berawal dari sebuah kutipan yang mengatakan bahwa ada hari-hari yang diisi dengan upaya bertahan hidup saja. Kemungkinan untuk ‘urip iku urup’— hidup itu nyala, menjadi 100x lebih rumit. Tentu, adalah sebuah keberuntungan jikalau masih bisa merasakan hidup yang benar-benar hidup.

Hal yang dialami pada saat wfh ini sudah pasti kurang lebih berisi: perjuangan kerja dan upaya memiliki sekat antara dunia kerja dan kehidupan. Ternyata segala yang dilakukan dengan upaya itu melelahkan karena ada usaha dan harapan di sana. Lalu harapan pasti berkembang menjadi ekspektasi. Apabila sudah melakukan abcdef maka hasilnya diharapkan akan sesuai dengan input yang telah diberikan. Nyatanya, rencana-rencana seperti itu tidak sesuai kenyataan. Hasil yang diinginkan tidak sesuai dengan usaha yang sudah diberikan. Padahal fungsi dari rencana adalah menghindari hal-hal yang tak terduga untuk bisa mendapatkan hasil yang dekat dengan ‘sempurna’. Namun, di keadaan pandemi yang kita alami seperti sekarang mengajak kita untuk menerima bahwa kesempurnaan adalah milik Tuhan semata.

Tidak perlu contoh jauh-jauh, misalnya dengan mencari titik temu antara keseimbangan kerja dan hobi di keadaan seperti ini sudah sulit sekali. Waktu kerja jadi bablas karena segalanya serba harus cepat, toh di rumah juga, kan. Lalu berakhir dengan kelelahan bekerja dan ingin istirahat saja. Tanpa kita sadari; sebenarnya istirahat tidak hanya badan, tapi juga pikiran. Tidak punya waktu untuk melakukan hobi karena sudah lelah bekerja yang berakhir dengan tidur saja. Akhirnya jadi tidak merasa ‘penuh’, tabung emosi habis karena kekurangan asupan energi baik, katanya.

Salah siapa? Tentu Corona. Nggak deng. Tentu lebih baik kita meyalahkan diri sendiri saja, jadi bisa diperbaiki hehe~

Langkah awal yang paling mudah dilakukan adalah mengenali cara pandang diri dan disandingkan dengan realitas:

1. Arti produktif untukmu seperti apa?

2. Memaknai arti “kesempurnaan” itu sendiri dan seberapa genting untuk dicapai

3.Jangan-jangan standard kebahagiaanmu ketinggian

Dari pertanyaan di atas, aku menganalisisnya menjadi ruwet (yailahhhh💢👀), tapi ini yang mau aku coba tawarkan di sini:

1. Menyoal arti produktif; bisa jadi arti produktif bukan hanya seberapa banyak karya yang dikeluarkan dan upaya untuk mengedukasi diri. Bisa jadi produktif artinya bertahan hidup. Tidak perlu sulit berpikir bahwa hidup ini perlu berguna dll dst dsb, jangan-jangan manusia bukan soal guna dan fungsi — yang terdengar sangat utilitarian amat jikalau begitu. Kasarnya, emang hidup harus berguna? Kalau mau hidup aja, emang tidak boleh?

2.Harus punya balance baru. Mari melihat kembali ide: keseimbangan dalam hidup. Benar 50:50 kah, ataukah malah justru yang seimbang itu bukan sama besar tapi sesuai kebutuhan. Yang pas, bisa jadi bukan yang sama besar. Tapi sepadan. Sesuai.

3.Bahagia itu “ya udah bahagia aja” tanpa banyak embel-embel yang menyertainya. Makanya banyak stiker di gerobak penjual kaki lima bertuliskan: “Jangan lupa bahagia 😇” Lengkap dengan emoticon smile seolah ingin mengatakan: “Sekedar mengingatkan hehe~” Jika bahagia bisa dilupakan, sesungguhnya bahagia itu berada di kuasa kita, dong ya?

Kurang lebih ini adalah tulisan curhatan yang berusaha gak pake perasaan banget dengan pendekatan analisa semi overthinking semi anxiety. Lalu tiba-tiba jadi terpikir, jikalau new normal itu artinya perubahan tatanan hidup secara besar-besaran , aku curiga, kalau sebenarnya new normal ini sudah pernah terjadi berkali-kali. Sudah pernah kita alami sebelumnya, tapi dalam bentuk yang lain.

Bukankah, tidak ada yang baru di bawah langit ini?


10.2.20

amor fati #9


Apakah kehilangan mampu menjadi pertanda bahwa memang kesementaraan itu nyata dalam kehidupan kita? Bahwa segala-galanya ini sementara dan kau pun juga begitu. Bahkan langit sore yang cantik dan warna gula-gula kapas pun akan hilang dalam beberapa detik saja. Jangan-jangan kita ini hanya terpesona oleh hal-hal yang indah karena ia sesungguhnya sementara dan tidak bisa dimiliki. Kepemilikan bukankah begitu asing terdengar sementara nafas diri pun bukan milik kita. Bahkan ruh yang berdiam di dalam sukma memiliki pribadinya sendiri. Lalu kedalaman akan dicari di tengah-tengah kemarau panjang yang panas dan pelik, atau di tengah hutan-hutan hujan yang tanahnya basah. Wangi tanah basah yang aku cintai dan wewangian pohon pinus yang gemerisik ditiup angin. Apakah kau masih tersesat dan mengembara? Apakah kamu sudah menemukan jalanmu yang tepat? Ataukah kamu tersesat di jalanmu sendiri tapi tidak memiliki rencana untuk kembali? Karena sesungguhnya ketika tersesat aku justru memiliki banyak pertemuan.

5.2.20

amor fati #8


Kayaknya aku sudah dibasuh habis dari tahun 2019 yang membuatku terbuka dan menerima beberapa hal dalam hidupku yang perlu dilihat ulang. Ternyata kuncinya adalah menerima, bahwa bisa jadi beberapa hal tidak sesuai dengan keinginan kita tapi selayaknya pohon ia tetap tumbuh rindang dan sumeleh

Apakah mungkin semua yang terjadi di hari lalu membawaku pada segala pilihan-pilihan dan ketenangan yang dulu dirasa tidak akan kudapatkan? Perjalanan ziarah ini memang membentukku menjadi orang baru dengan perasaan baru. Hari-hari depan mungkin tidak akan ringan-ringan saja karena 2020 pasti akan membuatku berlari lebih kencang dari siapapun. Aku akan diremukkan dan dibentuk lagi. Memikirkan bahwa sebenarnya kita ini hanya se-iota kecil di alam semesta membuatku jadi sadar kalau alam raya ini sungguh besar dan dungulah dia yang ingin menguasai seolah memiliki segalanya. Kita hanya se-iota saja. 

new post

Retret

  Kurasa aku kini jauh lebih legowo dan suwung dalam menjalani beberapa hal yang membuatku tertatih-tatih. Rasanya melegakan juga melepaskan...