10.12.19

amor fati #7

Meski seminggu kemarin padat dan dipenuhi dengan perpindahan, aku menemukan hal-hal tidak terduga. Ternyata kita memang perlu pergi sejenak saja keluar dari rutinitas. Melepaskan diri dari diktat buku kuliah yang menanti dibaca. Tumpukan buku yang menunggu untuk bisa dibaca dan dirivew. Ternyata tubuh dan pikiran kita butuh tempat dan kota baru yang jarang dijelajahi. 

Cirebon buatku adalah kampung halaman, bagaimana tidak? Setiap tahun aku harus melewati Cirebon menginap semalam untuk akhirnya melanjutkan perjalanan ke Ciamis. Bagiku Cirebon adalah kota persinggahan untuk duduk-duduk sebentar makan empal gentong. Memang tidak begitu mengerti mengenai kota tersebut karena panas sekali sampai 34 derajat lalu kerjaanku adalah mencari minuman manis dingin dan keinginan untuk kopi yang meningkat dari biasanya. 

Di luar dari kenyataan bahwa Cirebon itu panas, aku suka melihat kota dan aktivitasnya. Kadang saat bepergian aku terlalu fokus dengan diriku sendiri, dengan perasaanku, dengan pikiran yang tertinggal, pekerjaan, kuliah, tanpa akhirnya aku bisa mengamati lebih bahwa kota ini memiliki kecepatan yang berbeda dengan Jakarta. Kota ini sedikit melambat, dengan jalan raya yang mengecil, logat bicara Jawa-Sunda, ice cream durian yang wanginya ke mana-mana (tapi aku gak suka durian). Hal yang menarik dari Cirebon adalah bisa jadi kota ini masih malu-malu menunjukan dirinya karena kesan pertama itu panas. Aku penasaran mungkinkah di kota ini ada kedai kopi yang nyaman untuk duduk-duduk, es kopi yang lokal banget gak dengan merek kinclong Jakarta. Lalu, adakah skena-skena musik indie yang asik ala Cirebon banget yang anak muda banget. Adakah toko-toko buku alternatif di sini dan komunitas-komunitas baca yang mungil dan intim. Penasaran kan? Kalau kota bisa jadi tidak hanya sebuah kota saja dengan panas 34 derajat tanpa ada siapa dan apa yang bisa dikulik dan kenal lebih dalam. 

Hal personal yang menurutku menarik dari Cirebon adalah hadiah jeda buat kepalaku yang sedang ruwet 24/7 non stop, lalu perhatian yang mulai lelah, kebutuhan akan butuh suasana baru untuk memberikan jarak pada banyak hal yang terus-terus beradu dan mantul aja ke sana ke mari. Untunglah jarak selalu bisa menjadi obat yang baik. Memberikan jada, hingga rasanya bisa nafas lagi. Ternyata hal yang aku rasakan dan realitas tidaklah sinkron. Kadarku perasaanku berlebihan sehingga aku sering nyemplung ke dalam. Padahal tidak rumit, semata-mata menjadikan yang ada menjadi apa adanya, ada itu sendiri.

Ada satu perikop bagus dari diktat kuliahku yang aku suka, begini bunyinya: Individually, by the single human being alone for himself, to gain some insight into own misery and need, into his own limitation." —Nietzsche. 

Ya begitulah kira-kira. 

No comments:

Post a Comment

Libur Natal dengan Degdegan Kecil

Mengunjungi Jawa Barat artinya pulang ke kampung halaman. Mengunjungi Bandung artinya pulang pada kota kelahiran dan bernaf...