22.11.19

amor fati #6

Desember pelan-pelan mengampiri di dapan mata. Tidak merasa khawatir ataupun terlalu senang. Apakah semakin dewasa jadi lebih sering memiliki perasaan yang biasa saja (yang penting tidak capek dan tidak stres) kurasa sudah lebih cukup. Apakah ini yang dinamakan dengan mengatur perasaan sendiri, kalau kekecewaan adalah hal yang lumrah dan penolakan adalah bagian dari hidup yang juga tidak bisa ditolak. 

Apakah mungkin seperti Nietzsche bilang kalau pengalaman dalam hidup seperti penderitaan tidak bisa diiyakan atau ditidakkan, tidak bisa disetujui dan tidak bisa dinegasi. Lalu bagaimana menyikapinya? Dengan menjalani saja dan menerima sesuai dengan porsi realitasnya. Bisa jadi dengan terus menerus reality check itu juga bagus karena bisa jadi ada banyak hal-hal usang yang ada dalam hidup kita namun masih saja menggelayut. 

Pertengahan November ini tidak bisa tidak sibuk, namun setidaknya ia tidak seperti Oktober yang chaos. November ini rasanya seperti bepergian sibuk ke sana kemari, namun dijalani dengan ikhlas dan satu-satu melepaskan 2019. Lagipula sebenarnya keberwaktuan ini bisa dimaknai banyak. Pendek dan panjangnya bisa diatur sesuai dengan keinginan, pun apabila dirasakan panjang sekali toh ternyata banyak harapan dan kejutan di sana-sini. Memang baik rasanya kalau bisa benar-benar sadar pun ketika sedang sibuk atau sedang bersedih, sehingga kesadaran itu bisa membangunkan diri dari siklus sibuk dan sedih yang di situ-situ saja. Jangan-jangan, kelegaan itu ada pada mereka yang menemukan sendiri cerahnya langit setelah badai. Sedahsyat apapun. 

No comments:

Post a Comment

amor fati #6

Desember pelan-pelan mengampiri di dapan mata. Tidak merasa khawatir ataupun terlalu senang. Apakah semakin dewasa jadi lebih sering memili...