13.10.19

Hari Minggu dan Percakapan







Aku selalu protektif dengan hari Mingguku. Aku ingin bisa menikmatinya pelan-pelan saja, tidak terburu-buru, tidak perlu mandi kepagian, masih mengenakan pakaian rumah yang belel, minum teh hangat di balkon dan membaca. Aku selalu ingin bisa menikmatinya dengan lambat-lambat di tengah orang terdekat dan kusayangi. Mendengarkan cerita keseharian mereka selama seminggu, makan siang bersama, dan bertukar cerita tentang rencana dan mimpi mereka.

Terkadang kita selalu lupa akan hal-hal remeh temeh yang kita punya karena dianggap sudah terlalu biasa, sehari-hari dan mudah didapatkan. Tanpa kita tahu bahwa hal-hal yang kecil-kecil itulah yang menyusun kehidupan kita. Ternyata memiliki percakapan itu adalah hal yang mahal untuk dimiliki seseorang. Setiap orang bisa memiliki percakapan, namun tidak esensinya. Pengalaman yang berbeda, menciptakan keharuan bahwa langkah yang baik adalah dengan jujur dan mengkomunikasikan dengan baik. Apapun itu. Itikad menginginkan semuanya gamblang, jernih dan dibutuhkan kerendahan hati untuk menurunkan ego.

Dari percakapan yang tepat kamu akan menemukan perasaan lega luar biasa. Ada proses sembuh yang dilalui dan kesadaran pun muncul: bahwa perjalanan masih panjang. Kesigapan tetap diperlukan; dengan sudut pandang berbeda. Semua mengalir tak pernah sama. Lalu aku jadi tersadar bahwa aku pun akan terus berbeda dari aku yang kemarin. Aku berubah dan bertumbuh. Keabadian menjadi konsep dan bukan milik kita. Jalan yang ditempuh panjang, berliku, dan tentu tak mudah. Namun, lihatlah jalan ini dan pepohonan di sisi-sisinya tetap hidup, tumbuh, rindang, dan hijau. Kira-kira siapakah yang setia melindungi dan memelihara?








new post

Retret

  Kurasa aku kini jauh lebih legowo dan suwung dalam menjalani beberapa hal yang membuatku tertatih-tatih. Rasanya melegakan juga melepaskan...