Uraian Singkat tentang Membuang



Sedikit terkesima juga dengan hal-hal sekitar yang berubah dan dalam diri yang pelan-pelan berganti. Memang benar kata orang apabila untuk bermekaran memang perlu melewati masa-masa menggugurkan kelopak. Hari-hari liburan Lebaran yang dilewati dengan membereskan rumah dan membuang banyak barang-barang yang tidak perlu. Kemudian membulatkan tekad dan niat untuk hari-hari depan. Lucu juga ya, untuk mengambil keputusan aku seperti menempelkan stiker yang miring di jendela lalu aku berjalan menjauh hanya untuk menimbang-nimbang benar gak ya?  Huh.

Banyak rencana dan goal yang perlu diatur maju mundur dan dipikir-pikir. Kemudian jadi kesenangan karena memiliki ‘bengkel’ sendiri dengan banyak agenda tapi aku ingin memastikan diriku sendiri tidak akan kehilangan diri sendiri dengan melewati duduk-duduk sendiri minum kopi susu tanpa percakapan, meski kadang aku kangen juga memiliki ‘percakapan’. Tapi sudahlah, ada beberapa yang harus ditunda karena ya barangkali aku belum menemukan. Biarkan pertemuan-pertemuan dengan siapa entah menjadi sebuah takdir (?) yang tidak direncanakan.

Kembali lagi ke urusan membereskan rumah dan kamar yang menelurkan sampah-sampah kenangan. Kubuang semua. Gila. Perasaannya senang sekali dan menang sekali. Sadis deh setelah kupikir-pikir, jangan-jangan aku ini semacam kekasih yang psycho kali ya karena diganduli hal-hal ga penting yang manja dan melankolik. Plis maafkan aku.

Kemudian kemarin pada saat membereskan ini itu, aku menemukan kalau aku benar-benar penyimpan yang ulung, masa aku masih saja menyimpan notes-notes di Taiwan dari teman-teman tentang hal-hal remeh temeh dan manis. Mungkin hal-hal detail ini yang aku selalu suka dan sebagai salah satu bagian krusial dari diriku. Sepertinya itu tidak akan bisa terpisah. Meski aku selalu berusaha untuk memberikan jeda pada suatu objek yang ingin aku perhatikan dan tulis, namun selalu aku hanyut bersamanya. Rasa-rasanya aku bukan Sartre yang bisa memberikan jeda pada apapun yang akan dia tulis.

Lepas dari itu, aku rasa penting juga untuk lepas dari keakuan dan segala pandangan yang subjektif. Ya bahasa kerennya melepaskan diri dari delusionalnya kali ya. Hehe.

Comments

Popular Posts