Amor fati #6




Hari Minggu yang cerah dan aku hanya tidur-tiduran saja sedari kemarin sore. Rasanya badanku remuk sekali seperti renginang. Kemarin aku sempat menonton sedikit Black Mirror yang episode 1, gila ya apa yang bisa teknologi dan internet lakukan pada sebuah peradaban. Ceritanya satir, thriller dan sebuah hiperbola akan ketergantungan kita pada teknologi, pada media kurasa.  Terlepas dari film itu, lalu aku jadi sedikit tersadar betapa aku sendiri salah satunya menghabiskan banyak waktu bermain-main di alat pada genggaman ini. Bukan berarti itu buruk karena sebenarnya itu sangat memudahkan siapapun dalam berbagai hal terutama komunikasi dan kerjaan. Namun segalanya jadi diperluas seperti betapa tersitanya beberapa waktu hanya untuk melihat-lihat sosial media lalu mengetahui: Oh si ini makan bakmi, dia sedang sedih karena putus, si ini sedang super sibuk kerja, dan lain-lain. Segala informasi dari yang pribadi, penting, sampai akhirnya yang sampah gak penting-penting amat diguyur di hadapan kita. Benar, kita memiliki pilihan untuk filter mana yang mau dan tidak karena pada dasarnya kita bukan sponge, tapi kenyataannya yang paling mudah hanyalah menerima semuanya tanpa filter tanpa sekat, kan? Aku rasa, kebutuhanku yang sekarang adalah komunikasi dan kerja, kurasa aku harus membatasi media sosial karena aku tidak mau kehidupanku dan perhatianku hanya berada di situ-situ saja. Terlalu  mudah. Terlalu mudah. Toh pada dasarnya untuk berkomunikasi secara real bisa lewat media chat yang lainnya atau bertemu tatap mata.


Lalu seharian kemarin ini aku berpikir, seberapa banyak lekatan label yang terus menerus diusahakan untuk menempel dan melekat hingga pada akhirnya seseorang harus melakukan banyak acara, serangkaian kegiatan yang bisa jadi dia tidak demikian. Namun dia perlu menjadi demikian karena itu wajah yang dia pakai. Upaya agar orang lain impres akan kehidupannya atau akan apa yang dia punya. Dih label-label sosial itu mahal ya, lalu aku jadi berpikir akankah segalanya akan menempel selama-lamanya, lekang waktu. Kurasa yang aku inginkan bukan label dan segala pandangan orang lain akan hal-hal artifisial. Kuhanya ingin bahagia itu saja.


Comments

Popular Posts