16.9.17

Konspirasi Tai Kucing #14: Sehelai Rambut yang Juga Dihitung





Konon dalam menulis harus dilakukan terus menerus agar otot-otot menulis semakin terlatih dan juga agar pembaca budiman tidak pergi melupakan penulis. Tapi ah, sudahlah membuat segala sesuatu sesuai dengan tempatnya amatlah membosankan. Dan mungkin pekerjaan yang menyenangkan adalah segala hal yang spontan-spontan saja. Meski katanya jikalau sungguh-sungguh ingin menjadi profesional harus mengerjakannya terus menerus. Hingga akhirnya saya memutuskan bahwa menulis bukan lagi perkara profesional atau tidak tapi ya semacam kelenjar yang selalu ada. Menuliskannya dan dishare atau tidak hanyalah perkara pilihan si penulis. 

Daripada akhirnya saya menuliskan panjang lebar pembenaran mengapa sudah lama tidak menulis di sini (hehe!), untuk kesempatan ini saya baru mempunyai sedikit waktu lagi untuk berbagi ini itu. Gila berbagi waktu pun adalah hal-hal yang tidak mudah karena tiba-tiba saya jadi pelit berbagi waktu cuma-cuma dengan segala hal yang menurut saya tidak penting-penting amat. Sudahlah, akui saja semakin saya menginjak umur 20an ke atas, saya semakin selektif merelakan waktu istirahat saya. Hingga sebuah kegiatan makhluk sosial seperti bertemu teman, bermain, memperluas pergaulan saya pangkas dengan keji untuk sekedar leha-leha berguling-guling di tempat tidur setelah Senin-Sabtu bekerja rauwis-uwis. Begitulah.

Kemarin ini saya tiba-tiba terkena panas tinggi, demam, pusing yang tidak sembuh-sembuh sudah tiga hari, lalu akhirnya memutuskan tes darah, hasilnya kena demam berdarah. Gila, seumur hidup baru sekali ini rawat inap, diinfus dan makan makanan rumah sakit yang rasanya gak karuan itu. Lalu rasanya lemas, pusing setengah mati dan keluar bintik-bintik merah di permukaan kulit persis seperti yang ada di buku pelajaran PPKN SD dulu. Saya juga agak bingung kenapa harus kena demam berdarah, sejenis penyakit negara tropikal yang gak elit. Trombosit saya jatuh sampai 34,000 dari 200,000-400,000 trombosit orang normal. Bisa jadi ternyata saya ini juga adalah manusia yang sudah sampai pada batas-batas kekuatan tubuh. Bahwa saya ini manusia bukan mesin. Bukan melulu harus menghasilkan, cuan sana cuan sini.

Kemarin ini saya jadi berpikir, mungkin sudah waktunya istirahat dulu dan tidur yang benar-benar tidur. Lalu saya jadi berpikir sendirian di kamar rawat inap itu, betapa hidup itu berharga. Saya jadi ingat bahwa saya sering berbisik sendirian saat rasanya hidup sungguh menyebalkan dan menguji kesabaran setiap harinya, saya sering kali berpikir: Apakah mati saja akan lebih enak? 

Lalu kemarin di tempat tidur rumah sakit, dengan infus yang bikin tangan ngilu nyut-nyutan hingga telapak tangan saya sedikit membengkak, saya jadi berpikir betapa hidup ini sangatlah berharga. Betapa untuk survive sampai pada hari ini pun ada banyak sel-sel dan organ tubuh saya yang berkerja keras untuk tetap hidup. Betapa mati juga bukan state yang dapat menyelesaikan masalah dan segala persoalan hidup. Saya jadi merenungi bahwa bisa saja kemarin itu saya tiba-tiba lewat dengan trombosit yang hanya 34,000 itu namun ternyata Tuhan tetap menjagai jiwa dan tubuh saya. Bukankah terkadang kita menganggap enteng akan hidup dan nafas itu sendiri? Seperti semua itu cuma-cuma milik manusia. Padahal jiwa jelas bukan milik manusia.

Sempat saat saya sedang lemasnya di rumah sakit dan betapa inginnya saya ke toilet hingga akhirnya saya harus menggeret-geret tiang infus ke kamar kecil, lalu tiba-tiba darah di infus saya malah naik hingga saya panik sendiri dan terburu-buru memencet tombol darurat. Saat itu adalah hari-hari di mana saya berusaha sekuat tenaga hanya untuk bertahan hidup. Dan saya pun jadi merefleksikan bahwa mungkin benar kita dapat melihat ketulusan sebuah hubungan sahabat dan keluarga saat kita sedang terbaring sakit bukan pada saat badan masih sehat dan bersenang-senang. 

Barangkali demam berdarah ini memang adalah sebuah kesempatan untuk saya merefleksikan banyak hal dan melihat lebih dalam lagi akan banyak hal. Mengevaluasi hidup dan memutuskan beberapa hal yang krusial dan baik untuk hidup ke depannya. Kemudian di pagi hari saat saya beranjak ingin duduk mengambil minum, rambut saya terurai panjang. Hendak saya ikat, namun untuk mengikat rambut sendiri pun saya tidak bisa. Tangan kanan saya diinfus dan ketika bergerak sedikit rasanya ngilu sekali lalu darah mulai naik ke selang. Pada momen itu saya sungguh merasa, ketidakmampuan untuk melakukan hal remeh temeh. Mengikat rambut saja saya tidak bisa. Kemudian saya jadi teringat akan sebuah perikop Matius 10:30-31 yang berbunyi, Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, sebab kamu lebih berharga dari banyak burung pipit. Seketika saya menjadi tenang mengetahui ada yang Lebih Berkuasa di luar saya.

Dan tahun yang tidak mudah dan berganti untuk menyita kewarasan seseorang untuk sekedar berdiri tetap di garisnya masing-masing. Tanpa perlu mencong-mencong ke kanan kiri. Tanpa perlu membanding-bandingkan kebahagiaan sendiri dan kebahagiaan orang lain. Kalau ternyata banyaknya kita selalu mencatat ketidakbahagiaan. Kalau sebenarnya tidak apa-apa berusaha melangkah meski berat, meski akhirnya kamu harus menyeret langkah kaki satu dan lainnya. Hei, setidaknya kamu berpindah dan tidak statis. Seperti komedi putar yang bergerak naik turun saja, berputar tapi di situ-situ saja. Awas, nanti kamu muntah! Kamu butuh perpindahan yang nyata. Meski hanya selangkah.



No comments:

Post a Comment