21.4.17

Narasi Renta


pic: metta 2017


Aku tidak lagi meminjamkan ruang tamuku untuk siapa pun singgah. Tidak ada lagi dengkuran malas yang susah dibangunkan ataupun derit kursi yang bergeser. Gelas-gelas kopi dan teh yang telah diseduh berulang-ulang. Layar televisi yang terus menyala sedangkan berita hanyalah itu-itu saja, semacam udara kosong dengan alur yang sudah kita mengerti. Setiap helaan nafas adalah kemerdekaanku karena kumiliki seluruh oksigen untukku sendiri. Bergulat dengan ke-aku-an dan buku bertumpuk tempelan post it ramai warna warni. Kuyakin ada beribu diriku di dunia ini yang juga mengulangi kebiasaan di waktu yang sama. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang membedakanku. 

Hallo, ini aku tetap sama melipati baju kering dan menyetrika agar garis kemeja kerjaku lurus meski sebentar lagi aus. Menggosokkannya berulang-ulang hingga licin dan tidak ada keriput, meski saat dimasukkan ke lemari akhirnya kusut lagi. Mungkin keahlianku hanyalah menghabiskan waktu dengan sia-sia dan menerka-nerka cerita. Janggal ganjil karena tidak lagi ingin tinggal, tidak lagi ingin menetap karena akhirnya banyak ubah sewaktu-waktu. 

Lalu sedikit terkejut karena seseorang berkata dia ingin hidup lama seribu tahun lagi. Mungkin dia bukan kelas pekerja dan terus menerus komplain dengan aksi buruh yang meminta kenaikkan upah. Seharusnya mereka bisa merasakan apa rasanya orang bayaran agar jalan cerita hidupnya lebih teatrikal. Bingung sekali melihat dia yang ingin abadi dan imortal, hidup selamanya (meski kematian pun sangat kikuk karena tidak bisa diromantisasi).

Apakah masih ada yang masih memetakan masa depan dan mengumpulkan remah-remah waktunya untuk merencanakan sesuatu? Seperti semut pekerja yang bekerja siang malam menambah perbekalan dan mengisi gudang-gudang di sarang. Karena musim-musim kini berubah dan tidak bisa diprediksi. Segalanya molor dari waktu dan memiliki waktu tampil yang berbeda. Mencoba memahami yang namanya tiba-tiba dan perubahan. Bahwa ternyata sepi kita miliki akan terus mengikuti ,menunggu untuk ditemui. Empat mata.

Kamu tidak akan mampu membayar sebuah kecukupan dan bergegas berkemas untuk pergi. Tidak ada tempat lain selain di sini. Kelelahanku sudah menguap dan hanya pertahanan yang tersisa. Tidak lagi mendamba sebuah titik temu. Barangkali inilah harga yang harus dibayar untuk segala laku yang enggan untuk diikat. Selalu berlarian dan tidak ingin menetap. Apakah ada kebebasan yang betul-betul bebas tanpa ada belenggu yang mengikutinya?






No comments:

Post a Comment