Konspirasi Tai Kucing #13: Terus Bergerak Hingga Menjadi Buih



Desa Panawangan, Ciamis Jawa Barat

Hal yang paling menarik dari sebuah persimpangan jalan adalah kebingungan untuk transisi itu sendiri. Kenyamanan yang lama berganti, kekhawatiran yang lama hilang, bertukar dengan kekhawatiran lainnya. Berarti memang benar selama hidup manusia ditakdirkan 'dikit-dikit' khawatir. Lalu ternyata untuk sampai pada titik normal pun, akhirnya diperlukan waktu yang lama untuk beradaptasi. Sempat terjadi dari pada pusing-pusing memikirkan hal yang di luar dari kemampuan diri, akhirnya saya rehat dengan melakukan kegiatan yang lain seperti: nonton drama korea. Itu bagaikan sebuah permen mint yang melegakan tenggorokan saat batuk, namun dengan kondisi harus terus menerus dimakan. Lama-lama ketagihan. Lama-lama candu. Menyenangkan sih. 

Dari sekian banyak pelarian dan eskapisme akhirnya saya menemukan titik di mana ternyata ada beberapa yang tidak bisa dihindari terus menerus. Seperti misalnya: melihat ulang tentang rencana hidup dan tujuan, yang kalau dipikir-pikir lebih baik berakhir dengan perkataan Ah, sudahlah ga usah dipikirin sih. Tapi ujung-ujungnya pun kepikiran juga. Hingga mau tidak mau harus dihadapi dan diterima saja. Betapa depresinya, bagaimana pusingnya, bagaimana hilang arahnya, bagaimana caranya mencari jalan keluar yang benar-benar adalah solusi; bukan hanya fatamorgana pelarian. Asli ya itu suliiiit sekali. Ternyata semua perencanaan harus dikalkulasi ulang agar semakin mengerti keinginan dan kian realistis. Melewati berbagai panjang curhatan berbusa ke sana sini, lalu kelelahan sendiri. Berganti stage jadi menyimpan komplain dalam diri dan dijalani saja. Mungkin hal itu jauh lebih mudah dibanding melakukan obrolan sono sini yang isinya komplain semua. Sampai pada titik jenuh menemukan: yang paling penting dilakukan adalah mengambil keputusan untuk menghadapi dan memulai apa yang bisa dilakukan secara berkelanjutan. Itu sih kuncinya. 

Kemudian saya jadi semacam kepo juga dengan membaca, mendengarkan orang lain, mendengarkan podcast dan sebagainya.  Saya bisa bernafas lega bahwa stage yang sedang saya lalui ini normal kok. Manusiawi sekali memiliki perasaan rungsing seperti ini dan semua orang juga pernah merasa yang serupa. Sambil menyetrika hari ini, lalu saya tiba-tiba mendengar bunyi pukulan yang keras sekali. Dhuarrr! Lalu terdengar orang berteriak: Baskom-baskom-anti-pecah-baskom-baskom! Men, bahkan baskom saja untuk laku dijual harus diuji terlebih dahulu. Ibarat baskom yang harus dipukul kencang-kencang untuk memastikan pembeli bahwa baskomnya anti pecah, dia harus diadu dan dipukul keras. 

Saya jadi tersadar dan senyum-senyum sendiri kalau sekitar kita memang menuntut manusia dan segalanya melakukan pembuktian untuk eksistensi. Proses melakukan pembuktian ini pula bukan perkara mudah karena kredibilitas seseorang jadi dipertaruhkan. Keinginan kita untuk melakukan uji coba yang sekali jadi langsung berhasil. Ini membuat saya gemas setengah mati pada diri sendiri karena pola pikir instan yang berkerak lama.  Sekali rebus, langsung jadi mie rebus. Sekali masak, langsung jadi mie goreng. Mungkin karena banyak kemudahan di abad modern ini jadi 'kecepatan' akhirnya ibarat komoditi yang laku dijual. Siapa juga yang hari gini mau menunggu dan menanti lama untuk mendapatkan hal yang dia mau?  

Setelah saya (akhirnya) lelah dengan diri sendiri,  saya kembali lagi mencari hal-hal yang menantang yakni kembali riset dan membaca buku. Salah satu hobi saya membaca buku namun kini menjadi lebih berat rasanya karena bermain social media lebih menyenangkan dari pada baca buku. Nonton drama korea lebih lagi, itu adalah kebahagiaan hakiki. Sayang serial drama korea sudah habis saya tonton, jadi saya sudah bosan tidak ada serial bagus lagi. Ya, akhirnya kembalilah saya membaca buku. Kemarin ini saya sedang tertarik dan iseng penasaran kenapa Soe Hok Gie meninggal, akhirnya saya baca Soe Hok-Gie ... sekali lagi. Lalu saya jadi berpikir memang ada beberapa orang yang dilahirkan untuk menjadi orang-orang yang sedemikian hebat dan concern untuk negaranya, kemanusiaan, sastra, alam seperti Soe Hok-Gie. Ya saya sebenarnya jadi agak malu karena dalam usianya saat itu Soe Hok-Gie sudah melakukan ini dan itu. Lha saya? Belum begini dan begitu. Tidak harus menjadi seperti Soe Hok Gie namun setidaknya menjadi seseorang yang bergerak dan berkarya di kolam masing-masing itu penting. Dan terkadang ya, terjun ke dalam dan bergerak adalah pembuktian diri. Pengakuan akan eksistensinya kalau dia benar ada. 






Comments

Popular Posts