22.2.17

amor fati #2


butuh sebuah sober yang se-sober-sober-nya (meski saya tahu sih ini bukan bahasa indonesia yang baik dengan huruf yang tabrak semua huruf kecil. yaaaa bagoos! semoga Ibu tidak baca karena eyd amburadul ke mana-mana. amin.) kembali lagi, saya butuh sober yang absolut dan tidak setengah-setengah. maka saya minum teh hijau. tidak kopi untuk saat ini, karena kopi bisa membuat saya ngantuk dan nyaman. 

lalu saya jadi penasaran, sebenarnya kita bisa mencelupkan kantong teh untuk berapa kali seduh ya? dua kali? tiga kali? atau sampai air seduhannya berubah putih? akhirnya saya memutuskan untuk melakukannya tiga kali seduh. karena Tuhan Yesus bangkit di hari ketiga. hahaha gak lucu ya? sudahlah banyak hal yang tidak kita mengerti dan tahu jawabannya kan?

di suatu hari yang biasa, teman dekat saya bertanya: apa kabarmu hari ini? dan saya menjawab seharusnya seperti orang normal biasanya saya baik. lalu dia bertanya: apakah ada yang menarik dan membuatmu excited? yang saya jawab dengan: biasa-biasa aja sih. dan lalu dijawab teman saya bertanya lagi : tapi kadang lu suka berasa, ini gue idup sampai kapan yaa? begini-begini aja terus nih. dan pastinya saya jawab: iya sih cuy bener biasa-biasa aja. 

mungkin semua orang berasa hidupnya biasa-biasa aja gak sih? bahkan vlogger terkenal pasti ada aja pasti bilang gini: duh, gue bingung mau nge-vlog apa secara idup gue ya gini-gini aja. padahal mungkin kita menyangka hidup sang vlogger itu gak gini-gini aja. tapi dia put effort lebih untuk membuat hidupnya nampak asyik di kamera. bisa jadi. atau saya cuman sotoy haha.

pernah suatu kali saya baca kalau ada orang bunuh diri karena hidupnya lempeng lurus-lurus aja,biasa-biasa aja. ternyata mundane activity bisa bikin orang stress juga. terus saya jadi membayangkan jikalau seandainya punya cucu nanti cerita-cerita saya juga akan klise-klise. lalu saya bayangkan saya akan menjelaskan sesuatu yang klise dengan cara yang menarik, ya semacam meromantiskan yang klise-klise itu. gila musti latihan dari sekarang ya. ih tapi setelah saya pikir-pikir kenapa saya malah mempersiapkan cerita hidup yang lempeng-lempeng aja yaa. dan tiba-tiba saya mau mengubah life story saya jadi: perempuan yang sedemikian nekatnya dan kabur ke negeri orang.

saya jadi ingat sebuah summed up dari Heraclitus yang berkata ever-newer waters flow on those who step into the same rivers.  semua berubah dan tidak ada yang bisa menjejakkan kaki di tempat yang persis sama. dengan intinya bahwa perubahan tidak bisa dielakkan dan kita terpaksa berubah untuk kelangsungan hidup. demi tidak menjadi punah seperti dinosaurus. eh tapi dinosaurus itu dipaksa punah dengan perubahan keadaan ataukah sebenarnya dia sudah berevolusi ya? hingga akhirnya berubah bentuk saja namun sebenarnya mereka beradaptasi dengan keadaan saat itu. nah kurang baca ini saya di bagian ini. lalu apabila penyakit males saya kumat maka saya akan menjawab semua pertanyaan mengapa di otak saya dengan jawaban: karena Tuhan tidak berkehendak. beres sudah.

karena hari-hari inilah saya sedemikian randomnya dan mencari apakah benar einstein yang genius itu hanya menggunakan 10% dari otaknya? padahal einstein sudah mampu jadi kiblat ilmu pengetahuan dan mengubah tatanan ilmu. lha bagaimana saya yang begitu-begitu saja dan hanya latah mengikuti sistem? prihatin kayaknya einstein pada saya. atau jangan-jangan sebenarnya ya otak kita cuman segitu-gitunya aja. 





21.2.17

amor fati #1


lama-lama jadi ajang sumpah serapah dalam hari-hari. tidak boleh cemberut. tidak boleh merengut. apalagi mengeluh. dan tubuh tidak juga mati-mati. pilihan terakhir adalah hidup. tapi ternyata passion juga tidak bisa menghidupi sih. ya gak sih? lalu melihat orang-orang yang bekerja karena passion dan tidak bisa membedakan dengan yang tidak punya pilihan. atau memang pada akhirnya pilihan itu tidak ada ya? 
lalu hujan seharian, mobil-mobil dengan kaca berembun, ac ruangan yang dingin. halu seharian karena seperti tinggal di sini namun sebenarnya di sana. sudahlah ada berbagai cara untuk dibuat mengerti dan menjadi ngeri kalau: bakat tidak selalu ada uangnya. 
bosan sekali harus membicarakan hal yang itu-itu lagi. seperti makelar dengan dagangan gak laku-laku. 



16.2.17

Merayakan Hari Hujan Tidak Harus Murung


Serpong, 2017


Tidak ada yang menarik akhir-akhir ini kecuali berita politik pilkada yang membuat gemas dan diskusi seru berbumbu di sana-sini. Tidak ada yang menarik akhir-akhir ini kecuali menemukan sebuah lagu yang ternyata sudah lama rilis namun saya baru menemukannya sekarang. Ternyata ada faedahnya juga tidak keluar-keluar kamar kemarin dan menulis sampai kepala ngebul. Saya menemukan lagu (atau lagu ini menemukan saya). Lagunya Coldplay-Magic. Coba deh dengarkan! Cocok didengarkan sambil bermalas-malasan di hari hujan. 
 
Ngomong-ngomong tentang cuaca, hujan seringkali datang di pagi hari ketika saya harus berangkat ke kantor. Padahal selimut dan kasur saya seratus kali lebih attractive (ya iyalah). Mungkin di situlah niat saya diuji dan berkali-kali pula luruh di guyur hujan. 

Pagi ini saya bangun lebih pagi dari biasanya karena saya mimpi membunuh zombie di kamar mandi saya. Oke iya tahu, kekanakkan ya? Tapi saya takut setengah mati. Jadi ceritanya begini, saya bermimpi kalau pada suatu ketika ada yang membunuh anak kecil gendut muka lucu dan menguburkannya di kamar mandi saya, lalu ditimbun dan ditutupi kramik. Tiba-tiba entah bagaimana Babeh membongkar keramik itu karena merasa harus menguburkannya dengan layak. Setelah dibongkar keramiknya ternyata mayat bayi yang penuh luka itu hidup dan menyergap Babeh. Saya reflek ambil pisau dapur dan menusuk mayat bayi hidup itu tepat di muka, di bagian pangkal hidungnya. Namun dia tidak mati-mati, saya tusuk lebih dalam. Saya takut dan akhirnya bangun. Pindah ke kamar Ibu. 


Hujan Februari, 2017


Aneh juga sih kenapa ya sudah sebesar ini masih mimpi zombie ala-ala gitu. Ya terkadang banyak hal di bawah alam sadar kita yang sebenarnya mengganggu diri atau ketakutan-ketakutan masa kecil. Atau mungkin maksudnya saya ingin membunuh sifat anak-anak yang needy di dalam diri saya namun belum 'mati-mati'? Ya barangkali. 

Kemudian saya bercerita pada adik saya, Aga kalau mimpi ini rasanya lama sekali. Dan ditanggapi dengan pertanyaan memang lo yakin mimpi ini lama? Memang bisa mengukur lama mimpi dengan lamanya waktu? 

Ih mana saya tahu berapa satuan waktu yang dipakai di dalam mimpi. Rasanya itu seperti masuk ke lorong waktu dan trigger untuk keluar dari tempat itu hanya dengan kesadaran penuh bahwa itu adalah mimpi. Ya ga sih? Dan anehnya ya saat kita bermimpi ada semacam cara yang mampu melumpuhkan logika dan bekerjalah alam bawah sadar kita. Saya juga kurang paham mekanismenya bagaimana. Menarik untuk ditelusuri lain hari. 

Hari-hari hujan ini kerap kali membuat saya jadi senggol dikit murung. Jelas ada hubungannya antara perasaan dan cuaca. Semua berbagi porsi untuk hadir dan menempati tempat utama. Mungkin yang riang di hari hujan hanya Mary Poppin saja dengan lagunya Singing in the Rain. Perasaan manusia dan cuaca sepertinya berjalan linier, beriringan. Padahal mungkin ya, mungkin, manusia masih bisa memilih dan memutuskan ingin merasakan apa. Model-model quote estetik yang berkata: Don't let your feelings cloud your judgement gitu deh. Ya susah sih penerapannya.


1/2 Pelangi di Tol Serang, 2016


Hingga barusan ini saya membaca jurnal harian saya kembali dan menemukan tulisan yang saya aneh tidak masuk akal sekali. Saya menulis kalau saya mimpi bertemu dengan Oma Dien (Oma sudah meninggal saat saya duduk di 6 SD). Di mimpi itu saya sedang asyik ngobrol dengan Oma.

"Metta, kamu tahu gak kalau Bob (ayah saya) suka makan babi. Dan aku pernah liat babi besar sekali pahanya sebesar lengan tanganku. Kamu pernah liat gak?"

"Iya pernah, di Taiwan ada babi gendut banget dipelihara dekat Uni aku."

"Dan Si Bob juga bilang, kalau babi itu bisa terbang, menurutmu bisa gak? Itu bisa buat orang-orang kaget, coba bayangin kamu lagi belajar tiba-tiba babi terbang di sampingmu. Iya, bahaya itu."

"Tapi kamu percaya babi bisa terbang kan, Met?"

Saya juga bingung kenapa saya harus mimpi itu. Mungkin Oma berkunjung ke cucunya dan mengabarkan, bahwa banyak hal di dunia ini yang sepertinya tidak mungkin namun bisa menjadi mungkin. Asal diusahakan. Asal kita percaya. 

Jadi sial betul kalau kamu sia-sia murung di hari hujan dan tidak percaya semua bisa terjadi. Dengan usaha dan doa-doa. 


Bandung, 2016


9.2.17

26


Ada satu keahlian yang tidak akan kamu punyai yakni berkompromi dengan waktu. Dia mengalir dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.  Dari sekian banyak pribadi yang berubah umurnya menjadi 26 semoga bisa semakin memahami bahwa saya dan kamu harus mampu merangkul realita, kegagalan, kekecewaan dan mimpi-mimpi yang masih berserakkan. Mencari dan memilah diri sekali lagi. Meninggalkan yang tidak cocok dan merawat ke-aku-an kita. 


Bandung, 2017


Pencapaian-pencapaian yang masih harus disabarkan dan diteguhkan dengan proses. Agar matang. Agar berakar. Agar berbuah berlimpah-limpah. Meski terkadang tidak semua yang kita tanam bisa kita tuai. Namun tenanglah, karena tidak ada satu pun yang luput dari catatan sejarah. Semesta mencatat setiap upaya dan keringat untuk dibayarkan di lain waktu. Setuntas-tuntasnya. Lunas. Di hari depan. Bahkan sungai pun terus menerus mengalir tanpa peduli berapa lama. Bahkan laut pun tidak pernah bosan kepenuhan air. Dia menjadi asin tanpa kita tahu bagaimana caranya dia menjadi tawar. Mengapa kamu menjadi bosan dan tawar, kawan?

Tidakkah kamu melihat segalanya bergerak, segalanya maju, segalanya berubah. Tidakkah kamu melihat, 26 adalah pergerakkan usiamu yang bukan kanak lagi. Kamu memutuskan hidupmu, kamu merencanakan, kamu berlari, kamu terjatuh, kamu terluka, kamu berjuang dan merayakan keberhasilan kecilmu.  Jantungmu dengan setia memompa darahmu, tubuhmu dengan tabah menampung jiwamu, kaki tanganmu terus berupaya mendengarkan perintah otakmu. Kamu bilang kamu tidak berdaya? Padahal kau memiliki segalanya. 

Semoga di usia 26 ini, kita bisa terus memilih hidup dan berbahagia. Semoga kau terus mempunyai alasan untuk sukacita dan tidak menjadi lemah dan putus asa. Semoga kau tetap menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. 

5.2.17

Konspirasi Tai Kucing #13: Terus Bergerak Hingga Menjadi Buih



Desa Panawangan, Ciamis Jawa Barat

Hal yang paling menarik dari sebuah persimpangan jalan adalah kebingungan untuk transisi itu sendiri. Kenyamanan yang lama berganti, kekhawatiran yang lama hilang, bertukar dengan kekhawatiran lainnya. Berarti memang benar selama hidup manusia ditakdirkan 'dikit-dikit' khawatir. Lalu ternyata untuk sampai pada titik normal pun, akhirnya diperlukan waktu yang lama untuk beradaptasi. Sempat terjadi dari pada pusing-pusing memikirkan hal yang di luar dari kemampuan diri, akhirnya saya rehat dengan melakukan kegiatan yang lain seperti: nonton drama korea. Itu bagaikan sebuah permen mint yang melegakan tenggorokan saat batuk, namun dengan kondisi harus terus menerus dimakan. Lama-lama ketagihan. Lama-lama candu. Menyenangkan sih. 

Dari sekian banyak pelarian dan eskapisme akhirnya saya menemukan titik di mana ternyata ada beberapa yang tidak bisa dihindari terus menerus. Seperti misalnya: melihat ulang tentang rencana hidup dan tujuan, yang kalau dipikir-pikir lebih baik berakhir dengan perkataan Ah, sudahlah ga usah dipikirin sih. Tapi ujung-ujungnya pun kepikiran juga. Hingga mau tidak mau harus dihadapi dan diterima saja. Betapa depresinya, bagaimana pusingnya, bagaimana hilang arahnya, bagaimana caranya mencari jalan keluar yang benar-benar adalah solusi; bukan hanya fatamorgana pelarian. Asli ya itu suliiiit sekali. Ternyata semua perencanaan harus dikalkulasi ulang agar semakin mengerti keinginan dan kian realistis. Melewati berbagai panjang curhatan berbusa ke sana sini, lalu kelelahan sendiri. Berganti stage jadi menyimpan komplain dalam diri dan dijalani saja. Mungkin hal itu jauh lebih mudah dibanding melakukan obrolan sono sini yang isinya komplain semua. Sampai pada titik jenuh menemukan: yang paling penting dilakukan adalah mengambil keputusan untuk menghadapi dan memulai apa yang bisa dilakukan secara berkelanjutan. Itu sih kuncinya. 

Kemudian saya jadi semacam kepo juga dengan membaca, mendengarkan orang lain, mendengarkan podcast dan sebagainya.  Saya bisa bernafas lega bahwa stage yang sedang saya lalui ini normal kok. Manusiawi sekali memiliki perasaan rungsing seperti ini dan semua orang juga pernah merasa yang serupa. Sambil menyetrika hari ini, lalu saya tiba-tiba mendengar bunyi pukulan yang keras sekali. Dhuarrr! Lalu terdengar orang berteriak: Baskom-baskom-anti-pecah-baskom-baskom! Men, bahkan baskom saja untuk laku dijual harus diuji terlebih dahulu. Ibarat baskom yang harus dipukul kencang-kencang untuk memastikan pembeli bahwa baskomnya anti pecah, dia harus diadu dan dipukul keras. 

Saya jadi tersadar dan senyum-senyum sendiri kalau sekitar kita memang menuntut manusia dan segalanya melakukan pembuktian untuk eksistensi. Proses melakukan pembuktian ini pula bukan perkara mudah karena kredibilitas seseorang jadi dipertaruhkan. Keinginan kita untuk melakukan uji coba yang sekali jadi langsung berhasil. Ini membuat saya gemas setengah mati pada diri sendiri karena pola pikir instan yang berkerak lama.  Sekali rebus, langsung jadi mie rebus. Sekali masak, langsung jadi mie goreng. Mungkin karena banyak kemudahan di abad modern ini jadi 'kecepatan' akhirnya ibarat komoditi yang laku dijual. Siapa juga yang hari gini mau menunggu dan menanti lama untuk mendapatkan hal yang dia mau?  

Setelah saya (akhirnya) lelah dengan diri sendiri,  saya kembali lagi mencari hal-hal yang menantang yakni kembali riset dan membaca buku. Salah satu hobi saya membaca buku namun kini menjadi lebih berat rasanya karena bermain social media lebih menyenangkan dari pada baca buku. Nonton drama korea lebih lagi, itu adalah kebahagiaan hakiki. Sayang serial drama korea sudah habis saya tonton, jadi saya sudah bosan tidak ada serial bagus lagi. Ya, akhirnya kembalilah saya membaca buku. Kemarin ini saya sedang tertarik dan iseng penasaran kenapa Soe Hok Gie meninggal, akhirnya saya baca Soe Hok-Gie ... sekali lagi. Lalu saya jadi berpikir memang ada beberapa orang yang dilahirkan untuk menjadi orang-orang yang sedemikian hebat dan concern untuk negaranya, kemanusiaan, sastra, alam seperti Soe Hok-Gie. Ya saya sebenarnya jadi agak malu karena dalam usianya saat itu Soe Hok-Gie sudah melakukan ini dan itu. Lha saya? Belum begini dan begitu. Tidak harus menjadi seperti Soe Hok Gie namun setidaknya menjadi seseorang yang bergerak dan berkarya di kolam masing-masing itu penting. Dan terkadang ya, terjun ke dalam dan bergerak adalah pembuktian diri. Pengakuan akan eksistensinya kalau dia benar ada. 






2.2.17



Teruntuk mereka yang mencari apapun itu. 

Kau gelisah dalam setiap sisi tepi hari yang kau temui. 

Perasaan bersalah dan ketergesaan yang kau rasakan karena semata-mata kau ingin segera sampai tujuan. 

Di mana entah. 

Kau buntu dan terantuk dalam setiap tulisan. 

Seperti seseorang yang minum teh kemanisan, seperti mengenakan celana kedodoran, seperti menulis dengan pensil berujung tumpul, seperti menyesap kopi dingin, seperti menggunakan earphone yang hanya berfungsi sebelah, seperti menggunakan kaca mata beda minus, seperti hidung gatal namun tidak bisa bersin, seperti tidak menemukan toilet saat sedang kebelet pipis. 

Segalanya ada saatnya, katanya. 


Namun kita pun tidak tahu bagaimana cara menunggu lebih sabar dari hari kemarin. Ya kan?

Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...