2.1.17

Perjalanan ke Ruang Angkasa


Serpong, 2017


Kamu tidak akan mengetahui apa yang ada di luar apabila tidak berani berjalan ke luar. Apabila tidak gigih keluar dari tempat nyamanmu. Setelah sekian lama tidak nampak dan menyembunyikan semua taring yang kamu miliki. Sayapmu tidak kau lebarkan meski rasanya sudah bosan mendekam terlalu lama. Leher dan pundakmu kencang berjaga-jaga dari berbagai serangan; entah kata entah tindakan. Kau memasang kuda-kuda terlalu lama karena kau tahu seranganmu belum cukup mengalahkan musuhmu. Amunisimu melempem terkena angin. Lalu kau menunggu kesempatan yang datang terlalu lama.

Hingga pertahananmu sedikit kendur, badanmu tidak lagi pejal, ototmu sedikit molor dan semua syarafmu rehat panjang. Tidak ada keinginan untuk merenggangkan persendian hingga yang kau rasa hanyalah rasa ngilu saat sedikit bergerak. Kau tahu ada yang salah namun dalam setiap uraian benangnya tidak sanggup kau temui ujungnya.

Kecintaanmu akan suatu hal tidak lagi semesra dulu karena kau kehilangan romantisme itu sekejap. Lalu kamu mulai mencari-cari hal lain yamg kiranya bisa menggantikan. Kau menemukan tapi bukan potongan puzzel yang pas untukmu. Masih sering kali salah pasang, salah sudut, tidak pas pada tempatnya. Bisa jadi kau mendapatkan semua yang kamu inginkan pada awalnya namun ternyata bukan itu tujuanmu. Hingga kau terus mencari ke sana ke mari. Pencariamu semu karena tujuanmu berada di luar sana dengan ribuan kilometer jarak yang harus kau tempuh.

Kau tidak lagi mempercayai mimpimu yang lama  dan mulai menggantikannya dengan sesuatu yang taktis, yang mudah, yang penting survive. Lalu segala kemilau material mulai menggoda dengan berbagai pintu kesempatan. Kau tergoda, kau ambil karena butuh. Ah, namanya juga manusia! Mereka tidak pernah putih dan tidak juga hitam. Mereka abu-abu dan serakah, banyak mau. Satu keinginan terpenuhi. Ternyata rasa puas tidak akan pernah ada di kamusnya. Hingga dibuatlah sebuah pepatah menghibur: “Tidak semua hal bisa terjadi sesuai dengan keinginan kita.” Kisah klasik, ya? Rasanya pernah dengar. Entah di mana.

Memilih sesuatu yang lebih taktis untuk tetap bertahan hidup, tidak salah. Semua juga dihadapkan dengan pilihan yang sama. Pada akhirnya kita memilih hal itu cepat atau lambat. Hingga cita-cita untuk menaklukan dunia dan membuat perubahan ini itu semakin dikerucutkan. Bukan, bukan menjadi pesimis hanya saja menjadi lebih realistis dengan kemampuan dan keadaan. Ada hal yang tidak lagi dikira pas untuk bisa masuk dan diaplikasikan dalam hidup.

Ada kalanya kadar mimpi bisa hangus menjadi abu. Ada kalanya semangat runtuh dalam rintik hujan. Namun tetap ada satu ruang dalam hati yang tersisa. Kau bisa menyebutnya ‘ruang angkasa’ karena dia luas. ‘Ruang angkasa’ ini mungkin terasa jauh namun tanpa kita sadari ruangan ini yang paling dekat dengan kita, semacam storage dan melindungi seluruh dirimu. Di sana terletak ribuan harapanmu, ribuan hancur lebur yang akan diobati, ribuan senyum yang kau simpan, ribuan wajah yang kau kenal dan kasihi, ribuan hati yang penuh kasih dan ribuan ingatan yang akan kau bawa terus. Ruang itu adalah milikmu sendiri, adalah suakamu sendiri. Tidak ada seseorang pun yang bisa masuk kecuali dirimu sendiri. Ruang ini adalah tempat di mana kau bisa menjadi diri sendiri dan menjadi waras sejenak. Setiap kita memilikinya. Tanpa kecuali.

Lalu kau akan melakukan perjalanan menuju ruang angkasamu. Meninggalkan rasa takutmu dan berjalan tanpa menunduk. Kau menikmati setiap arus derasmu, kau nikmati setiap terjalnya, kau pun mulai menyapa setiap peziarah lain yang bersisian denganmu, kau memulai perjalananmu ke ruang angkasa, kau siapkan setiap perbekalanmu dan kotak obat, kau mulai mahir dalam mengobati luka dan setiap rasa sakit sudah kau rasakan hingga kau kebas. Kau memilih untuk terus berjalan dan melebarkan sayapmu.

Karena kau tahu ke mana pun kau berlari menghindar, arus itu akan tetap membawamu kembali. Menarik ombaknya untuk surut, lalu menghempaskan pasangnya lagi. Kau akan terombang ambing sejenak dan melemparkan sauh kapalmu. Kau akan tertanam pada sebuah tanah, pada sebuah negri. Kau akan bekerja, melayani dan berkarya hingga saatnya nanti tiba dan daunmu berguguran dihembus angin.


Dan kini kau memilih untuk tidak tidur lagi. Kau mau tetap terjaga. Berjaga-jaga sampai tiba ke ruang angkasa. 



Catatan tahun baru 2017, untuk semua cita-cita dan harapan.  Selamat tahun baru!



No comments:

Post a Comment