24.1.17

Barangkali Kamu Harus Membeli Bunga Untuk Dirimu Sendiri Hari Ini


Ini pasti adalah kegilaan yang tidak bisa lagi dipendam terlalu lama. Seperti penyakitan yang tidak sembuh-sembuh, seperti kesedihan yang berminggu-minggu, seperti tersesat di sebuah hutan lebat, seperti musiman penantian, seperti patah hati yang berulang-ulang, seperti meminta ditahirkan hanya untuk bisa menjadi pulih. Namun tidak bisa. Abnormal. Layaknya mutan, layaknya alien, layaknya metamorfosis yang tidak selesai. Teralienasi dari sekitarnya.

Berjalan bersisian dalam kabut, memaksakan diri untuk terjaga, untuk melihat dan tidak terjatuh. Berjalan dengan amarah pada diri sendiri karena kerap salah jalan dan salah tikungan. Membenci diri sendiri karena sedemikian tidak dewasanya dan selalu melakukan banyak kesalahan di sana sini. Lalu kealpaan untuk bisa bersyukur. Mengapa kamu tidak bisa menjalani hidup yang biasa-biasa saja seperti orang lain. Ya, seperti orang normal biasanya yang bekerja kantoran, lalu menikah, lalu kawin, lalu beranak, lalu tua, lalu pesan tanah untuk kuburan diri sendiri. Seharusnya bisa sesimple itu alurnya. Cukup dengan bersyukur di sisi waktu dan dijalani sampai selesai. Sudahlah tidak usah tengok sana-sini, bermain angin di sisi jalan dan berbelok ke tikungan jalan lain melihat pemandangan di kanan kiri. Seharusnya kamu berjalan lurus saja seperti orang lain biasanya. Seperti apa yang digariskan oleh tuhanmu.  Tidak perlu keseringan marah-marah dan bersedih karena kamu sendiri yang memilih jalan berkelok ke sana. Kamu sendiri yang memilih untuk mencari jalan lain, jalan lain yang penuh liku. Salahkan dirimu sendiri yang sebegitu keras kepalanya tidak mengambil jalan biasa saja seperti orang kebanyakan. Salahkan dirimu yang tidak ingin bermain di garis aman. Salahkan dirimu yang sedemikian tololnya untuk bermain bahaya. Menjawab semua panggilan.  

Seharusnya kamu menyerah saja untuk menjadi apapun dalam hidup ini karena katanya pada akhirnya kamu hanya akan bisa berbuat sedikit dan katanya juga hanya beberapa orang saja yang bisa mengubah dunia. Dan tentu bukan kamu salah satunya. Ide itu terlalu besar untuk kamu.

Seharusnya kamu menyerah saja menjadi idealis, malu dengan umur dan masih saja tinggal dalam duniamu sendiri. Asyik merancang ini itu. Sudahlah, segala yang kamu pikirkan idealnya tidak akan terwujud karena kita haruslah hidup realistis dengan segala terukur dengan jelas.

Seharusnya kamu menyerah saja menjadi pekerja sosial. Hari gini jadi pekerja sosial, menolong diri saja tidak bisa. Dunia ini diperlukan uang bahkan dalam menolong orang lain, mereka lebih membutuhkan ‘mentahnya’ saja. Sudahlah kau buang-buang tenaga membuat dunia ini menjadi lebih baik lagi. Kau lebih baik memikirkan diri sendiri dan mencoba bertahan untuk hidup. Beli rumah yang besar kek, beli mobil lima kek, beli villa di mana kek, bekerja yang normal saja seperti orang kebanyakan. Sudahlah.

Seharusnya kamu menyerah saja membuka usaha sendiri. Tidak balik modal. Daganganmu tak laku, lihat berapa pengunjung yang datang hari ini? Kamu sudah kalah dari segi apapun. Sudahlah tutup saja dan bekerja yang normal saja seperti orang kebanyakan. Dapat gaji pasti setiap bulan tidak perlu khawatir hari ini ada pengunjung atau tidak,  pasaran bagaimana, sudahlah. Lihat kau sudah banyak merugi menggunakan tabunganmu sendiri.

Seharusnya kamu menyerah saja menjadi penulis. Idemu habis kempis dimakan ngengat. Inspirasimu itu-itu lagi. Dan lihat haduh, siapa juga yang membaca tulisanmu? Oh kamu punya blog? Oh ya? Memang ada yang berkunjung dan membaca? Tidak ada kan? Sudahlah lebih baik kamu menyerah saja. Tulisanmu tidak ada yang baca, alur ceritamu membosankan, gaya penulisanmu tidak menarik dan keseringan kalah lomba menulis sudah menjawab semuanya kan? Sudahlah buat apa lagi kamu mencoba membuat buku? Hanya akan menjadi buku diskonan lima rebuan di akhir tahun dan ditumpuk menjadi susunan rak paling bawah ditutupi buku penulis lain. Sudahlah buat apa jadi penulis? Membuang-buang waktumu saja.

Lihatlah seberapa banyak bisikkan kanan kirimu atau bahkan kepalamu sendiri. Seolah tidak ada yang mampu untuk meraih keinginannya apapun itu. Lalu kamu terus berjuang, terus berjuang, terus berjuang namun tidak menemukan pintu yang memang khusus dibukakan untukmu sendiri. Lalu kamu berusaha, terus berusaha, terus berusaha, bertahan, bertahan namun ada saatnya kau lepas pegangan. Seberapa banyak keteguhan hati yang harus kita investasikan untuk sebuah keinginan dan mimpi? Kapan pada akhirnya kita harus tahu diri untuk menjadi cukup dan memutuskan untuk tidak lagi mengejar mimpi kita? Karena barang kali memang Tuhan tidak menciptakan kamu untuk menjadi apa yang kamu mau. Mungkin kamu adalah seorang pengejar mimpi seumur hidupmu, tanpa pernah bisa mencapainya?

Sampai di titik mana kamu akan berhenti dan menjadi menyerah pada keadaan? Karena kamu kini merasa sudah terlalu terlambat untuk melakukan ini itu. Memang hal yang tersulit adalah untuk memutuskan berhenti dan tidak lagi mencoba. Adalah posisi di mana melepaskan dan meninggalkan suatu hal menjadi sebuah awal dan akhir dalam sebuah perjalanan seseorang.
Kamu tidak akan mati apabila melepaskan mimpimu namun kamu tidak akan hidup. Mungkin kamu berada di ketiadaan. Kamu tidak mati dan tidak hidup. Kamu di tengah-tengah saja, suam-suam kuku, tidak panas tidak dingin. Dan kamu akan mulai kehilangan makna sendiri.

Pencarianmu tidaklah benar-benar selesai, pekerjaanmu tidak akan pernah rampung, pergulatanmu tidak akan pernah berakhir, ketakutanmu tidak akan pernah pudar, cintamu tidaklah terus menerus manis gula-gula kapas, penantianmu akan berganti menjadi sebuah kebiasaan menanti. Namun kau terus berjalan. Kau terus berusaha. Kau terus berjuang. Kau terus bertahan. Hingga hatimu teruji.
Ketika malam hari menjadi sebuah ruang dirimu untuk merancang, merencanakan, menulis hari depan. Ketika malammu menjadi sebuah teman dan monster yang mengintai ketakutanmu di pagi hari. Ketika menjadi dewasa artinya adalah bertanggung jawab atas hidupmu, atas segala pilihan hidupmu, atas segala konsekuensi yang ada, atas segala nafas hidupmu. Di suatu malam yang kesekian, kembali berhadapan dengan diri sendiri, apa lagi yang mau kamu sangkal? Ke mana lagi bisa kamu melarikan diri dari isi kepalamu sendiri yang riuh? Bagaimana lagi bisa kau selipkan kelegaan di sana? Kecuali kamu pada akhirnya mengikuti kata hati dan menjawab semua pertanyaanmu sendiri. Lalu kau pun bertumbuh lebih kuat dari hari kemarin. Lebih rindang dari musim sebelumnya. Hingga yang ada hanyalah waktu yang bergulir. Dan tanpa kau sadari kau mulai mampu menyelam ke kedalaman.

Hingga kini,  barangkali ada baiknya kamu membeli bunga untuk dirimu sendiri hari ini. Sebagai hadiah karena dirimu pantas mendapatkannya. 







2.1.17

Perjalanan ke Ruang Angkasa


Serpong, 2017


Kamu tidak akan mengetahui apa yang ada di luar apabila tidak berani berjalan ke luar. Apabila tidak gigih keluar dari tempat nyamanmu. Setelah sekian lama tidak nampak dan menyembunyikan semua taring yang kamu miliki. Sayapmu tidak kau lebarkan meski rasanya sudah bosan mendekam terlalu lama. Leher dan pundakmu kencang berjaga-jaga dari berbagai serangan; entah kata entah tindakan. Kau memasang kuda-kuda terlalu lama karena kau tahu seranganmu belum cukup mengalahkan musuhmu. Amunisimu melempem terkena angin. Lalu kau menunggu kesempatan yang datang terlalu lama.

Hingga pertahananmu sedikit kendur, badanmu tidak lagi pejal, ototmu sedikit molor dan semua syarafmu rehat panjang. Tidak ada keinginan untuk merenggangkan persendian hingga yang kau rasa hanyalah rasa ngilu saat sedikit bergerak. Kau tahu ada yang salah namun dalam setiap uraian benangnya tidak sanggup kau temui ujungnya.

Kecintaanmu akan suatu hal tidak lagi semesra dulu karena kau kehilangan romantisme itu sekejap. Lalu kamu mulai mencari-cari hal lain yamg kiranya bisa menggantikan. Kau menemukan tapi bukan potongan puzzel yang pas untukmu. Masih sering kali salah pasang, salah sudut, tidak pas pada tempatnya. Bisa jadi kau mendapatkan semua yang kamu inginkan pada awalnya namun ternyata bukan itu tujuanmu. Hingga kau terus mencari ke sana ke mari. Pencariamu semu karena tujuanmu berada di luar sana dengan ribuan kilometer jarak yang harus kau tempuh.

Kau tidak lagi mempercayai mimpimu yang lama  dan mulai menggantikannya dengan sesuatu yang taktis, yang mudah, yang penting survive. Lalu segala kemilau material mulai menggoda dengan berbagai pintu kesempatan. Kau tergoda, kau ambil karena butuh. Ah, namanya juga manusia! Mereka tidak pernah putih dan tidak juga hitam. Mereka abu-abu dan serakah, banyak mau. Satu keinginan terpenuhi. Ternyata rasa puas tidak akan pernah ada di kamusnya. Hingga dibuatlah sebuah pepatah menghibur: “Tidak semua hal bisa terjadi sesuai dengan keinginan kita.” Kisah klasik, ya? Rasanya pernah dengar. Entah di mana.

Memilih sesuatu yang lebih taktis untuk tetap bertahan hidup, tidak salah. Semua juga dihadapkan dengan pilihan yang sama. Pada akhirnya kita memilih hal itu cepat atau lambat. Hingga cita-cita untuk menaklukan dunia dan membuat perubahan ini itu semakin dikerucutkan. Bukan, bukan menjadi pesimis hanya saja menjadi lebih realistis dengan kemampuan dan keadaan. Ada hal yang tidak lagi dikira pas untuk bisa masuk dan diaplikasikan dalam hidup.

Ada kalanya kadar mimpi bisa hangus menjadi abu. Ada kalanya semangat runtuh dalam rintik hujan. Namun tetap ada satu ruang dalam hati yang tersisa. Kau bisa menyebutnya ‘ruang angkasa’ karena dia luas. ‘Ruang angkasa’ ini mungkin terasa jauh namun tanpa kita sadari ruangan ini yang paling dekat dengan kita, semacam storage dan melindungi seluruh dirimu. Di sana terletak ribuan harapanmu, ribuan hancur lebur yang akan diobati, ribuan senyum yang kau simpan, ribuan wajah yang kau kenal dan kasihi, ribuan hati yang penuh kasih dan ribuan ingatan yang akan kau bawa terus. Ruang itu adalah milikmu sendiri, adalah suakamu sendiri. Tidak ada seseorang pun yang bisa masuk kecuali dirimu sendiri. Ruang ini adalah tempat di mana kau bisa menjadi diri sendiri dan menjadi waras sejenak. Setiap kita memilikinya. Tanpa kecuali.

Lalu kau akan melakukan perjalanan menuju ruang angkasamu. Meninggalkan rasa takutmu dan berjalan tanpa menunduk. Kau menikmati setiap arus derasmu, kau nikmati setiap terjalnya, kau pun mulai menyapa setiap peziarah lain yang bersisian denganmu, kau memulai perjalananmu ke ruang angkasa, kau siapkan setiap perbekalanmu dan kotak obat, kau mulai mahir dalam mengobati luka dan setiap rasa sakit sudah kau rasakan hingga kau kebas. Kau memilih untuk terus berjalan dan melebarkan sayapmu.

Karena kau tahu ke mana pun kau berlari menghindar, arus itu akan tetap membawamu kembali. Menarik ombaknya untuk surut, lalu menghempaskan pasangnya lagi. Kau akan terombang ambing sejenak dan melemparkan sauh kapalmu. Kau akan tertanam pada sebuah tanah, pada sebuah negri. Kau akan bekerja, melayani dan berkarya hingga saatnya nanti tiba dan daunmu berguguran dihembus angin.


Dan kini kau memilih untuk tidak tidur lagi. Kau mau tetap terjaga. Berjaga-jaga sampai tiba ke ruang angkasa. 



Catatan tahun baru 2017, untuk semua cita-cita dan harapan.  Selamat tahun baru!



Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...