16.9.17

Konspirasi Tai Kucing #14: Sehelai Rambut yang Juga Dihitung





Konon dalam menulis harus dilakukan terus menerus agar otot-otot menulis semakin terlatih dan juga agar pembaca budiman tidak pergi melupakan penulis. Tapi ah, sudahlah membuat segala sesuatu sesuai dengan tempatnya amatlah membosankan. Dan mungkin pekerjaan yang menyenangkan adalah segala hal yang spontan-spontan saja. Meski katanya jikalau sungguh-sungguh ingin menjadi profesional harus mengerjakannya terus menerus. Hingga akhirnya saya memutuskan bahwa menulis bukan lagi perkara profesional atau tidak tapi ya semacam kelenjar yang selalu ada. Menuliskannya dan dishare atau tidak hanyalah perkara pilihan si penulis. 

Daripada akhirnya saya menuliskan panjang lebar pembenaran mengapa sudah lama tidak menulis di sini (hehe!), untuk kesempatan ini saya baru mempunyai sedikit waktu lagi untuk berbagi ini itu. Gila berbagi waktu pun adalah hal-hal yang tidak mudah karena tiba-tiba saya jadi pelit berbagi waktu cuma-cuma dengan segala hal yang menurut saya tidak penting-penting amat. Sudahlah, akui saja semakin saya menginjak umur 20an ke atas, saya semakin selektif merelakan waktu istirahat saya. Hingga sebuah kegiatan makhluk sosial seperti bertemu teman, bermain, memperluas pergaulan saya pangkas dengan keji untuk sekedar leha-leha berguling-guling di tempat tidur setelah Senin-Sabtu bekerja rauwis-uwis. Begitulah.

Kemarin ini saya tiba-tiba terkena panas tinggi, demam, pusing yang tidak sembuh-sembuh sudah tiga hari, lalu akhirnya memutuskan tes darah, hasilnya kena demam berdarah. Gila, seumur hidup baru sekali ini rawat inap, diinfus dan makan makanan rumah sakit yang rasanya gak karuan itu. Lalu rasanya lemas, pusing setengah mati dan keluar bintik-bintik merah di permukaan kulit persis seperti yang ada di buku pelajaran PPKN SD dulu. Saya juga agak bingung kenapa harus kena demam berdarah, sejenis penyakit negara tropikal yang gak elit. Trombosit saya jatuh sampai 34,000 dari 200,000-400,000 trombosit orang normal. Bisa jadi ternyata saya ini juga adalah manusia yang sudah sampai pada batas-batas kekuatan tubuh. Bahwa saya ini manusia bukan mesin. Bukan melulu harus menghasilkan, cuan sana cuan sini.

Kemarin ini saya jadi berpikir, mungkin sudah waktunya istirahat dulu dan tidur yang benar-benar tidur. Lalu saya jadi berpikir sendirian di kamar rawat inap itu, betapa hidup itu berharga. Saya jadi ingat bahwa saya sering berbisik sendirian saat rasanya hidup sungguh menyebalkan dan menguji kesabaran setiap harinya, saya sering kali berpikir: Apakah mati saja akan lebih enak? 

Lalu kemarin di tempat tidur rumah sakit, dengan infus yang bikin tangan ngilu nyut-nyutan hingga telapak tangan saya sedikit membengkak, saya jadi berpikir betapa hidup ini sangatlah berharga. Betapa untuk survive sampai pada hari ini pun ada banyak sel-sel dan organ tubuh saya yang berkerja keras untuk tetap hidup. Betapa mati juga bukan state yang dapat menyelesaikan masalah dan segala persoalan hidup. Saya jadi merenungi bahwa bisa saja kemarin itu saya tiba-tiba lewat dengan trombosit yang hanya 34,000 itu namun ternyata Tuhan tetap menjagai jiwa dan tubuh saya. Bukankah terkadang kita menganggap enteng akan hidup dan nafas itu sendiri? Seperti semua itu cuma-cuma milik manusia. Padahal jiwa jelas bukan milik manusia.

Sempat saat saya sedang lemasnya di rumah sakit dan betapa inginnya saya ke toilet hingga akhirnya saya harus menggeret-geret tiang infus ke kamar kecil, lalu tiba-tiba darah di infus saya malah naik hingga saya panik sendiri dan terburu-buru memencet tombol darurat. Saat itu adalah hari-hari di mana saya berusaha sekuat tenaga hanya untuk bertahan hidup. Dan saya pun jadi merefleksikan bahwa mungkin benar kita dapat melihat ketulusan sebuah hubungan sahabat dan keluarga saat kita sedang terbaring sakit bukan pada saat badan masih sehat dan bersenang-senang. 

Barangkali demam berdarah ini memang adalah sebuah kesempatan untuk saya merefleksikan banyak hal dan melihat lebih dalam lagi akan banyak hal. Mengevaluasi hidup dan memutuskan beberapa hal yang krusial dan baik untuk hidup ke depannya. Kemudian di pagi hari saat saya beranjak ingin duduk mengambil minum, rambut saya terurai panjang. Hendak saya ikat, namun untuk mengikat rambut sendiri pun saya tidak bisa. Tangan kanan saya diinfus dan ketika bergerak sedikit rasanya ngilu sekali lalu darah mulai naik ke selang. Pada momen itu saya sungguh merasa, ketidakmampuan untuk melakukan hal remeh temeh. Mengikat rambut saja saya tidak bisa. Kemudian saya jadi teringat akan sebuah perikop Matius 10:30-31 yang berbunyi, Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, sebab kamu lebih berharga dari banyak burung pipit. Seketika saya menjadi tenang mengetahui ada yang Lebih Berkuasa di luar saya.

Dan tahun yang tidak mudah dan berganti untuk menyita kewarasan seseorang untuk sekedar berdiri tetap di garisnya masing-masing. Tanpa perlu mencong-mencong ke kanan kiri. Tanpa perlu membanding-bandingkan kebahagiaan sendiri dan kebahagiaan orang lain. Kalau ternyata banyaknya kita selalu mencatat ketidakbahagiaan. Kalau sebenarnya tidak apa-apa berusaha melangkah meski berat, meski akhirnya kamu harus menyeret langkah kaki satu dan lainnya. Hei, setidaknya kamu berpindah dan tidak statis. Seperti komedi putar yang bergerak naik turun saja, berputar tapi di situ-situ saja. Awas, nanti kamu muntah! Kamu butuh perpindahan yang nyata. Meski hanya selangkah.



1.6.17

Nenek


Cerita yang digulirkan akan menjadi itu-itu lagi namun kau tidak bosan. Kita meyakini semesta memiliki garisannya sendiri untuk setiap jeda dan awalan. Kita masih sama mesra seperti dulu. Menghitung bunga lili di belakang rumah. Memetik biji kopi di pekarangan. Menyangrai daun teh untuk kita hirup di ujung hari. Lalu kabut tipis akan turun perlahan ke lembah rumah kita. Anjing-anjing peliharaan kita akan berlarian dan mencari liang tidurnya sendiri. 

Dari sekian banyak cinta, kita akan memilih satu aroma yang dikenali dengan mata terpejam. Dengan garis wajah yang kita hafal telusuri, dengan kumis tipis bergerigi, dengan anak rambut di tengkuk, dengan garis tawa di sudut mata. Meski akhirnya harus ada masa gugur bunga merah jambu itu, percayalah kasihmu akan selalu setia seperti cinta teluk pada garis pantai. 

15.5.17

Mengalami Senin Sore




Hari Senin yang random adalah duduk memandangi layar komputer di kantor dan berpikir: Apa rasanya menjadi pelatih lumba-lumba? Pasti asyik kan! Meski saya tidak jago berenang dengan gaya yang itu-itu saja, peduli setan. Saya mau kok berenang dengan lumba-lumba. Bermain-main dan berenang ke kedalaman. Mencobai rasa takut diri sendiri, denyut rasa bahaya di otak. Saya suka. 

Ada  hal yang nampaknya sedikit mengganggu, sudah hampir tiga bulan lebih saya tidak menggunakan jam tangan di tangan kiri saya. Alasannya karena rusak, batrenya habis dan belum saya ganti. Sesungguhnya saya menggunakan jam tangan bukan untuk fungsi menunjukkan waktu. Saya menggunakan jam tangan  sebagai penanda mana kanan dan mana kiri dengan cepat. Kelemahan saya adalah saya sulit membedakan kanan dan kiri. Itu tidak sama dengan atas bawah, depan belakang. Saya membutuhkan beberapa detik untuk membuat gestur seperti menulis dengan tangan kanan saya, baru saya tahu  itu kanan. Saya selalu menyelamatkan diri saya dengan memakai jam tangan ke mana pun saya pergi. Itu adalah comfort zone saya. 

Saya jadi teringat kalau saya tidak mendaftarkan diri saya sebagai anggota paskibra saat SMA karena saya sulit membedakan kanan kiri dengan cepat. Saya akan deg-degan setengah mati dan gelisah. Akhirnya saya mengakali segalanya dengan menggunakan jam tangan. Tidak ada yang tahu kalau saya kesulitan karena saya tidak pernah bercerita. Ini menyebalkan sekali, saya sering diomeli karena tidak bisa memberi arahan jalan yang tepat. Menurut saya itu memalukan harus mengambil jeda sejenak untuk berpikir dan orang lain pasti tidak sabaran dengan hal ini. Maka itu saya menggunakan jam tangan sebagai pengingat. Mengenakkannya di tangan kiri, hingga semua lebih mudah. Tidak pakai drama kebingungan. 

Lalu beberapa bulan lalu jam tangan saya habis batrainya dan saya belum sempat menggantinya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak pakai dulu, saya harus bisa membedakan kanan kiri. Berlatih dan menjadi terbiasa. Memang masih lama dan sering reflek bertanya: Kiri yang mana sih? Kanan yang mana sih? Lalu akhirnya mengaku pada teman-teman dan orang lain kalau saya kesulitan membedakan kanan kiri dan meminta maaf karenanya. Sesekali akhirnya menjadi bahan bercandaan saya. 

Upaya menertawakan diri sendiri dan menerima kelemahan. Saya belajar bahwa tidak selamanya saya harus terlihat kuat dan pintar untuk disayangi orang lain, karena pada dasarnya manusia memiliki banyak hal yang vulnerable dan itu normal. Menerima kelemahan tidak berarti menyerah namun tetap mengusahakan yang terbaik dan memberikan andil untuk sekitar, sesuai kemampuan, sesuai porsi.

Di sore hari tadi, saya benar-benar menikmati secangkir teh manis hangat saya. Saya selalu merasa teh manis hangat terenak adalah teh manis di sore hari sepulang kantor. Ada yang magis di sana, perasaan-perasaan haru saya masih bertahan sampai hari ini, ketika penantian seharian berbalas. Seolah kau pun jadi sadar segala yang baik akan datang dan pengharapan itu nyata. Memaknai kata 'percaya' dan bergerak. Terus bergerak. Mengetahui bahwa segala niat dan bakti kemurniannya harus diuji. Ditempa waktu. Karena sekali lagi; segala milikku adalah kepunyaan-Mu. 


7.5.17

amor fati #5


Tadi Ibu bertanya, menurut kamu apa yang seharusnya dimiliki seseorang di zaman ini, terutama di Indonesia? Kami sedang duduk-duduk, Ibu membaca koran dan saya bermain hape. Sepertinya Ibu sengit betul melihat njelimetnya kasus-kasus-fanatik-agama. Pokoknya dia betul-betul rajin forwardin whatsapp berita-berita. Saya jujur jarang membacanya karena puanjaaaaang sekali harus scroll terus-terusan. Jadi, berakhirlah saya yang dungu dan tidak tahu berita di rumah. Diceng-cengin terus oleh Babeh.  

Kembali lagi ke pertanyaan tadi, apa yang penting dimiliki seseorang di zaman ini, terutama di Indonesia. Saya tadinya reflek dan mantap mau menjawab: iman. Namun tidak jadi, karena saya dengan sotoynya terlintas ayat "Iman tanpa perbuatan adalah mati." Jadi apa dong? Rasanya orang Indonesia sudah banyak orang berpendidikan, beragama, beriman, bahkan jadi fanatik. Lalu? 

Barangkali ya yang kita butuhkan adalah akal sehat, yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Eh lalu Ibu tanya lagi, kalau begitu apa itu kebenaran? Ya juga sih, kebenaran dari aspek mana karena ukuran nilainya pasti luas dan akan bertabrakkan arti kebenaran dari kacamata agama, iman, moral, budaya, aturan, dst, dst. Pokoknya irisannya banyak, ruwet, pusing, dan bikin mata jereng. 

Sudahlah untuk membuat lebih simpel otak saya yang cuman seuprit ini, bagaimana kalau kita mengambil irisan kebenaran yang tetap memihak pada kemanusiaan dan tidak merugikan orang lain. Tetap menghormati manusia sebagai individu yang mempunyai harkat dan derajat. 

Ah, udah gitu kali lah ya... hih saya sebal karena tidak tahu dan kurang baca. Baru sadar ya, kalau pekerjaan rumahnya sekuintal? 



6.5.17

amor fati #4

Gila apa nih. Duduk-duduk depan teras dari sore, membatalkan semua janji karena tidak ingin keluar rumah. Padahal seharusnya melakukan ini itu, berjanji untuk bertemu di sana sini. Namun pada akhirnya memilih untuk duduk depan teras, membaca, menulis setelah mandi sore dan berganti baju dengan celana tidur. Tidak ada yang lebih random kan?

Sedang berpikir sambil santai, kenapa ya konsep kesendirian di zaman ini seperti seseorang yang berjalan sendiri di pegunungan dan kedinginan. Sepertinya kita terlalu dicekokin oleh iklan-iklan bahwa hidup yang baik adalah yang hingar bingar, trendy, mall, dan berpesta. Padahal terkadang bosan juga apabila harus terus-terusan terekspos ini itu, banyak orang dan ruwet sana-sini. Mungkin itu saya saja kali ya, yang panik sendiri apabila melihat banyak orang. 

Memang kesendirian itu sendiri mungkin hanya untuk beberapa orang. Ternyata berhadapan dengan diri sendiri terbukti tidak mudah kan? Hingga kita akhirnya sibuk bermain dengan smart phone kita, berduyun-duyun ke sana sini dan memutuskan untuk terus menerus mengalihkan perhatian. 

Lalu jadi semakin sadar saja kalau ternyata dibalik ke-ekstrovert-an seseorang tersimpan sosok pribadi lain yang introvert dan malas berduyun-duyun bersama-sama dengan kelompok terus menerus. Hingga akhirnya tipe-tipe macam ini akhirnya adalah mereka yang kau jumpai sedang duduk sendirian di sudut perpustakaan asyik sendiri membaca. 

Kemarin saya juga sempat berpikir, sepertinya saya salah satunya deh.




21.4.17

Narasi Renta


pic: metta 2017


Aku tidak lagi meminjamkan ruang tamuku untuk siapa pun singgah. Tidak ada lagi dengkuran malas yang susah dibangunkan ataupun derit kursi yang bergeser. Gelas-gelas kopi dan teh yang telah diseduh berulang-ulang. Layar televisi yang terus menyala sedangkan berita hanyalah itu-itu saja, semacam udara kosong dengan alur yang sudah kita mengerti. Setiap helaan nafas adalah kemerdekaanku karena kumiliki seluruh oksigen untukku sendiri. Bergulat dengan ke-aku-an dan buku bertumpuk tempelan post it ramai warna warni. Kuyakin ada beribu diriku di dunia ini yang juga mengulangi kebiasaan di waktu yang sama. Tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang membedakanku. 

Hallo, ini aku tetap sama melipati baju kering dan menyetrika agar garis kemeja kerjaku lurus meski sebentar lagi aus. Menggosokkannya berulang-ulang hingga licin dan tidak ada keriput, meski saat dimasukkan ke lemari akhirnya kusut lagi. Mungkin keahlianku hanyalah menghabiskan waktu dengan sia-sia dan menerka-nerka cerita. Janggal ganjil karena tidak lagi ingin tinggal, tidak lagi ingin menetap karena akhirnya banyak ubah sewaktu-waktu. 

Lalu sedikit terkejut karena seseorang berkata dia ingin hidup lama seribu tahun lagi. Mungkin dia bukan kelas pekerja dan terus menerus komplain dengan aksi buruh yang meminta kenaikkan upah. Seharusnya mereka bisa merasakan apa rasanya orang bayaran agar jalan cerita hidupnya lebih teatrikal. Bingung sekali melihat dia yang ingin abadi dan imortal, hidup selamanya (meski kematian pun sangat kikuk karena tidak bisa diromantisasi).

Apakah masih ada yang masih memetakan masa depan dan mengumpulkan remah-remah waktunya untuk merencanakan sesuatu? Seperti semut pekerja yang bekerja siang malam menambah perbekalan dan mengisi gudang-gudang di sarang. Karena musim-musim kini berubah dan tidak bisa diprediksi. Segalanya molor dari waktu dan memiliki waktu tampil yang berbeda. Mencoba memahami yang namanya tiba-tiba dan perubahan. Bahwa ternyata sepi kita miliki akan terus mengikuti ,menunggu untuk ditemui. Empat mata.

Kamu tidak akan mampu membayar sebuah kecukupan dan bergegas berkemas untuk pergi. Tidak ada tempat lain selain di sini. Kelelahanku sudah menguap dan hanya pertahanan yang tersisa. Tidak lagi mendamba sebuah titik temu. Barangkali inilah harga yang harus dibayar untuk segala laku yang enggan untuk diikat. Selalu berlarian dan tidak ingin menetap. Apakah ada kebebasan yang betul-betul bebas tanpa ada belenggu yang mengikutinya?






18.4.17

Persuasi


Mari kita pergi menjual khawatir, barangkali menukarnya dengan teduh rumpun bambu yang dihembus angin. Hingga tidak lagi memberatkan langkah kita. Agar kita bisa merawat sayap yang tumbuh di punggung kita. Mempersiapkan perbekalan untuk terbang ke tanah asing nenek moyang kita. Lalu tidak akan ada lagi persembunyian yang membosankan serta pagar yang menghalangi pandangan kita. Ayo kita menggadaikan kecemasan kita hingga habis dan tidak menjemputnya kembali. Berlarian dan memerdekakan diri. Menculik kebebasan dan merebutnya untuk kita. Hingga tarian kita bersatu dengan semesta. 
Hingga bunga matahari mekar di hati kita.

25.3.17

Ingatan yang Tinggal dan Cerita Pencarian



Kaohsiung, 2012


Beberapa hari lalu saya terbangun pagi dan teringat akan lagunya Diana Krall - The Look of Love yang sering saya dengarkan berhari-hari saat winter di Taiwan. Akhirnya saya setel keras-keras di pagi hari yang mendung itu menemani saya mandi, berdandan, sarapan dan bersiap-siap berangkat ke kantor. Rasanya rindu setengah mati dengan Kaohsiung, Taiwan. 

Masih bisa saya rasakan ubin dingin di saat winter pada saat pagi hari saya terbangun. Terhuyung dengan kepala nyut-nyutan karena semalaman begadang menulis thesis. Dari mulai Miles Davis, Diana Krall, Stevie Wonder, hingga Efek Rumah Kaca menemani saya terjaga. Betapa saya mengingat episode saya keluar kamar melewati lorong dorm yang gelap dan dingin menuju ruang jemur pakaian untuk mengambil air minum hangat. Teringat jelas bunyi mesin dispenser yang naik turun atau terkadang sering kesetrum karena dispensernya dari alumunium. Lalu tangan sedikit ketumpahan air super panas hingga mau tak mau kantuk pun hilang. Lalu buru-buru menutup jendela karena udara dingin yang menyusup kencang. Beranjak ke ruang TV dan menonton ditemani teh hijau hangat. Duduk bengong melihat layar TV, hingga satu persatu anak dorm bangun karena matahari semakin tinggi dan angin dingin yang masih berseliweran. Rasa-rasa gamang akan kegelisahan thesis dan masa depan yang bagaimana entah. Serta cinta yang datang dan dinikmati diam-diam. Kembali menyadari bahwa perasaan seperti buku lama yang saat dibaca kembali kita akan tetap mengingat rasanya. Bahwa banyak kejadian yang terlupakan namun ada juga ingatan yang tetap tinggal. 

Diri kita ini pasti berubah sekaligus tetap sama, saya tetap adalah gadis kecil yang selalu gelisah apabila merek bajunya tidak digunting sebelum digunakan. Saya tetap adalah gadis kecil yang tidak bisa tidur nyenyak apabila tidak ada bantal kesayangan saya. Seolah banyak major minor details yang memang membangun dan membentuk diri kita. Satu persatu sekecil apapun itu. Tentang ingatan-ingatan yang tinggal, akan pengalaman yang membekas, akan perasaan-perasaan dan ketakutan-ketakutan.


Seminyak,2015

Tidak akan ada yang diambil dari diri ini, dia akan tetap tersimpan di sebuah labirin. Seperti cinta yang melelahkan, perjuangan yang dimulai dan diakhiri dengan tanda tanya, keremukkan sana sini yang harus dibereskan, luka-luka yang harus diperban dan berbagai perubahan bentuk hingga berubah wujud. Terpindah ke container yang berbeda dan sebuah kata "capek" yang bukan sekedar cuma-cuma. Lalu kelopaknya berguguran mengikuti musim dan menunggu dengan setia akan datangnya musim semi.

Membaca setiap pertanda di persimpangan jalan dan tetap maju di jalan yang sepi tanpa ada pejalan kaki. Melewati berbagai tempat dan musim. Mengunjungi tempat asing dan wajah baru dengan berbagai nama. Nyatanya kita tetap menunggu meski waktu melambat mempermainkan kita. Menguji tiap sabar dan ketulusan. Atau mencari arus baru meski pasang laut kian meninggi. Namun saya akan tetap keras kepala berenang-renang dan mengasihi lautan. Mencari dan menunggu di saat yang bersamaan. Seperti mencari kaos kaki hilang sebelah dan menemukannya di tempat tak terduga. 





4.3.17

amor fati #3


Aneh juga ya kalau dipikir-pikir mengapa untuk menarik sebuah kesimpulan panjang kita harus mengambil jalan memutar lalu baru dapat pelajarannya apa. Memperhatikan lebih dalam lagi, mengecek ulang dan mencari jalan keluar. Kalau sebuah usaha baiknya dilakukan berulang-ulang sampai akhirnya menemukan. Cara yang tepat untuk diri sendiri. 

Ternyata suatu mimpi tidak akan bisa diwujudkan dalam semalam diperlukan latihan, latihan, latihan, belajar, belajar, belajar, coba, coba, coba dan dilakukan berulang. Ada sebuh keras kepala yang harus dimiliki dalam diri. Meski tidak kunjung berhasil, meski nyatanya harus melakukan banyak cara untuk bisa menjadi hal yang diinginkan. 

Tidak ada jalan pintas yang cepat untuk ke sana. Tidak ada cara cepat yang abadi. Lakukan satu-satu dengan segala keringat. Tidak ada yang instan. Dan tidak sedikit juga yang akhirnya menjadi sia-sia. Bukan berarti menyerah hanya saja tidak melanjutkan panggilan. 

Memang tidak mudah dan kesabaran teruji berkali-kali. Namun marilah menjadi rebel dengan tidak mudah menyerah, menjadi keras kepala untuk suatu hal yang benar-benar kamu inginkan. Menjadi pejuang dan petarung sejati. Bahwa sebenarnya segala yang kamu lakukan adalah sebuah doa. Kau melakukannyaa dengan doa, kau memberinya energi agar bisa terwujud. 

Bahwa hati yang tegar adalah sebuah kunci dalam segala situasi, yang menjawab tantangan meski jalanan berlubang dan berkelok. Meski banyak hal yang harus ditukar untuk sebuah hari depan. Bertekunlah dalam doa dan usaha. Kau akan menuainya dengan harga mahal. 




Lihat juga: Perjalanan ke Luar Angkasa

22.2.17

amor fati #2


butuh sebuah sober yang se-sober-sober-nya (meski saya tahu sih ini bukan bahasa indonesia yang baik dengan huruf yang tabrak semua huruf kecil. yaaaa bagoos! semoga Ibu tidak baca karena eyd amburadul ke mana-mana. amin.) kembali lagi, saya butuh sober yang absolut dan tidak setengah-setengah. maka saya minum teh hijau. tidak kopi untuk saat ini, karena kopi bisa membuat saya ngantuk dan nyaman. 

lalu saya jadi penasaran, sebenarnya kita bisa mencelupkan kantong teh untuk berapa kali seduh ya? dua kali? tiga kali? atau sampai air seduhannya berubah putih? akhirnya saya memutuskan untuk melakukannya tiga kali seduh. karena Tuhan Yesus bangkit di hari ketiga. hahaha gak lucu ya? sudahlah banyak hal yang tidak kita mengerti dan tahu jawabannya kan?

di suatu hari yang biasa, teman dekat saya bertanya: apa kabarmu hari ini? dan saya menjawab seharusnya seperti orang normal biasanya saya baik. lalu dia bertanya: apakah ada yang menarik dan membuatmu excited? yang saya jawab dengan: biasa-biasa aja sih. dan lalu dijawab teman saya bertanya lagi : tapi kadang lu suka berasa, ini gue idup sampai kapan yaa? begini-begini aja terus nih. dan pastinya saya jawab: iya sih cuy bener biasa-biasa aja. 

mungkin semua orang berasa hidupnya biasa-biasa aja gak sih? bahkan vlogger terkenal pasti ada aja pasti bilang gini: duh, gue bingung mau nge-vlog apa secara idup gue ya gini-gini aja. padahal mungkin kita menyangka hidup sang vlogger itu gak gini-gini aja. tapi dia put effort lebih untuk membuat hidupnya nampak asyik di kamera. bisa jadi. atau saya cuman sotoy haha.

pernah suatu kali saya baca kalau ada orang bunuh diri karena hidupnya lempeng lurus-lurus aja,biasa-biasa aja. ternyata mundane activity bisa bikin orang stress juga. terus saya jadi membayangkan jikalau seandainya punya cucu nanti cerita-cerita saya juga akan klise-klise. lalu saya bayangkan saya akan menjelaskan sesuatu yang klise dengan cara yang menarik, ya semacam meromantiskan yang klise-klise itu. gila musti latihan dari sekarang ya. ih tapi setelah saya pikir-pikir kenapa saya malah mempersiapkan cerita hidup yang lempeng-lempeng aja yaa. dan tiba-tiba saya mau mengubah life story saya jadi: perempuan yang sedemikian nekatnya dan kabur ke negeri orang.

saya jadi ingat sebuah summed up dari Heraclitus yang berkata ever-newer waters flow on those who step into the same rivers.  semua berubah dan tidak ada yang bisa menjejakkan kaki di tempat yang persis sama. dengan intinya bahwa perubahan tidak bisa dielakkan dan kita terpaksa berubah untuk kelangsungan hidup. demi tidak menjadi punah seperti dinosaurus. eh tapi dinosaurus itu dipaksa punah dengan perubahan keadaan ataukah sebenarnya dia sudah berevolusi ya? hingga akhirnya berubah bentuk saja namun sebenarnya mereka beradaptasi dengan keadaan saat itu. nah kurang baca ini saya di bagian ini. lalu apabila penyakit males saya kumat maka saya akan menjawab semua pertanyaan mengapa di otak saya dengan jawaban: karena Tuhan tidak berkehendak. beres sudah.

karena hari-hari inilah saya sedemikian randomnya dan mencari apakah benar einstein yang genius itu hanya menggunakan 10% dari otaknya? padahal einstein sudah mampu jadi kiblat ilmu pengetahuan dan mengubah tatanan ilmu. lha bagaimana saya yang begitu-begitu saja dan hanya latah mengikuti sistem? prihatin kayaknya einstein pada saya. atau jangan-jangan sebenarnya ya otak kita cuman segitu-gitunya aja. 





21.2.17

amor fati #1


lama-lama jadi ajang sumpah serapah dalam hari-hari. tidak boleh cemberut. tidak boleh merengut. apalagi mengeluh. dan tubuh tidak juga mati-mati. pilihan terakhir adalah hidup. tapi ternyata passion juga tidak bisa menghidupi sih. ya gak sih? lalu melihat orang-orang yang bekerja karena passion dan tidak bisa membedakan dengan yang tidak punya pilihan. atau memang pada akhirnya pilihan itu tidak ada ya? 
lalu hujan seharian, mobil-mobil dengan kaca berembun, ac ruangan yang dingin. halu seharian karena seperti tinggal di sini namun sebenarnya di sana. sudahlah ada berbagai cara untuk dibuat mengerti dan menjadi ngeri kalau: bakat tidak selalu ada uangnya. 
bosan sekali harus membicarakan hal yang itu-itu lagi. seperti makelar dengan dagangan gak laku-laku. 



16.2.17

Merayakan Hari Hujan Tidak Harus Murung


Serpong, 2017


Tidak ada yang menarik akhir-akhir ini kecuali berita politik pilkada yang membuat gemas dan diskusi seru berbumbu di sana-sini. Tidak ada yang menarik akhir-akhir ini kecuali menemukan sebuah lagu yang ternyata sudah lama rilis namun saya baru menemukannya sekarang. Ternyata ada faedahnya juga tidak keluar-keluar kamar kemarin dan menulis sampai kepala ngebul. Saya menemukan lagu (atau lagu ini menemukan saya). Lagunya Coldplay-Magic. Coba deh dengarkan! Cocok didengarkan sambil bermalas-malasan di hari hujan. 
 
Ngomong-ngomong tentang cuaca, hujan seringkali datang di pagi hari ketika saya harus berangkat ke kantor. Padahal selimut dan kasur saya seratus kali lebih attractive (ya iyalah). Mungkin di situlah niat saya diuji dan berkali-kali pula luruh di guyur hujan. 

Pagi ini saya bangun lebih pagi dari biasanya karena saya mimpi membunuh zombie di kamar mandi saya. Oke iya tahu, kekanakkan ya? Tapi saya takut setengah mati. Jadi ceritanya begini, saya bermimpi kalau pada suatu ketika ada yang membunuh anak kecil gendut muka lucu dan menguburkannya di kamar mandi saya, lalu ditimbun dan ditutupi kramik. Tiba-tiba entah bagaimana Babeh membongkar keramik itu karena merasa harus menguburkannya dengan layak. Setelah dibongkar keramiknya ternyata mayat bayi yang penuh luka itu hidup dan menyergap Babeh. Saya reflek ambil pisau dapur dan menusuk mayat bayi hidup itu tepat di muka, di bagian pangkal hidungnya. Namun dia tidak mati-mati, saya tusuk lebih dalam. Saya takut dan akhirnya bangun. Pindah ke kamar Ibu. 


Hujan Februari, 2017


Aneh juga sih kenapa ya sudah sebesar ini masih mimpi zombie ala-ala gitu. Ya terkadang banyak hal di bawah alam sadar kita yang sebenarnya mengganggu diri atau ketakutan-ketakutan masa kecil. Atau mungkin maksudnya saya ingin membunuh sifat anak-anak yang needy di dalam diri saya namun belum 'mati-mati'? Ya barangkali. 

Kemudian saya bercerita pada adik saya, Aga kalau mimpi ini rasanya lama sekali. Dan ditanggapi dengan pertanyaan memang lo yakin mimpi ini lama? Memang bisa mengukur lama mimpi dengan lamanya waktu? 

Ih mana saya tahu berapa satuan waktu yang dipakai di dalam mimpi. Rasanya itu seperti masuk ke lorong waktu dan trigger untuk keluar dari tempat itu hanya dengan kesadaran penuh bahwa itu adalah mimpi. Ya ga sih? Dan anehnya ya saat kita bermimpi ada semacam cara yang mampu melumpuhkan logika dan bekerjalah alam bawah sadar kita. Saya juga kurang paham mekanismenya bagaimana. Menarik untuk ditelusuri lain hari. 

Hari-hari hujan ini kerap kali membuat saya jadi senggol dikit murung. Jelas ada hubungannya antara perasaan dan cuaca. Semua berbagi porsi untuk hadir dan menempati tempat utama. Mungkin yang riang di hari hujan hanya Mary Poppin saja dengan lagunya Singing in the Rain. Perasaan manusia dan cuaca sepertinya berjalan linier, beriringan. Padahal mungkin ya, mungkin, manusia masih bisa memilih dan memutuskan ingin merasakan apa. Model-model quote estetik yang berkata: Don't let your feelings cloud your judgement gitu deh. Ya susah sih penerapannya.


1/2 Pelangi di Tol Serang, 2016


Hingga barusan ini saya membaca jurnal harian saya kembali dan menemukan tulisan yang saya aneh tidak masuk akal sekali. Saya menulis kalau saya mimpi bertemu dengan Oma Dien (Oma sudah meninggal saat saya duduk di 6 SD). Di mimpi itu saya sedang asyik ngobrol dengan Oma.

"Metta, kamu tahu gak kalau Bob (ayah saya) suka makan babi. Dan aku pernah liat babi besar sekali pahanya sebesar lengan tanganku. Kamu pernah liat gak?"

"Iya pernah, di Taiwan ada babi gendut banget dipelihara dekat Uni aku."

"Dan Si Bob juga bilang, kalau babi itu bisa terbang, menurutmu bisa gak? Itu bisa buat orang-orang kaget, coba bayangin kamu lagi belajar tiba-tiba babi terbang di sampingmu. Iya, bahaya itu."

"Tapi kamu percaya babi bisa terbang kan, Met?"

Saya juga bingung kenapa saya harus mimpi itu. Mungkin Oma berkunjung ke cucunya dan mengabarkan, bahwa banyak hal di dunia ini yang sepertinya tidak mungkin namun bisa menjadi mungkin. Asal diusahakan. Asal kita percaya. 

Jadi sial betul kalau kamu sia-sia murung di hari hujan dan tidak percaya semua bisa terjadi. Dengan usaha dan doa-doa. 


Bandung, 2016


9.2.17

26


Ada satu keahlian yang tidak akan kamu punyai yakni berkompromi dengan waktu. Dia mengalir dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.  Dari sekian banyak pribadi yang berubah umurnya menjadi 26 semoga bisa semakin memahami bahwa saya dan kamu harus mampu merangkul realita, kegagalan, kekecewaan dan mimpi-mimpi yang masih berserakkan. Mencari dan memilah diri sekali lagi. Meninggalkan yang tidak cocok dan merawat ke-aku-an kita. 


Bandung, 2017


Pencapaian-pencapaian yang masih harus disabarkan dan diteguhkan dengan proses. Agar matang. Agar berakar. Agar berbuah berlimpah-limpah. Meski terkadang tidak semua yang kita tanam bisa kita tuai. Namun tenanglah, karena tidak ada satu pun yang luput dari catatan sejarah. Semesta mencatat setiap upaya dan keringat untuk dibayarkan di lain waktu. Setuntas-tuntasnya. Lunas. Di hari depan. Bahkan sungai pun terus menerus mengalir tanpa peduli berapa lama. Bahkan laut pun tidak pernah bosan kepenuhan air. Dia menjadi asin tanpa kita tahu bagaimana caranya dia menjadi tawar. Mengapa kamu menjadi bosan dan tawar, kawan?

Tidakkah kamu melihat segalanya bergerak, segalanya maju, segalanya berubah. Tidakkah kamu melihat, 26 adalah pergerakkan usiamu yang bukan kanak lagi. Kamu memutuskan hidupmu, kamu merencanakan, kamu berlari, kamu terjatuh, kamu terluka, kamu berjuang dan merayakan keberhasilan kecilmu.  Jantungmu dengan setia memompa darahmu, tubuhmu dengan tabah menampung jiwamu, kaki tanganmu terus berupaya mendengarkan perintah otakmu. Kamu bilang kamu tidak berdaya? Padahal kau memiliki segalanya. 

Semoga di usia 26 ini, kita bisa terus memilih hidup dan berbahagia. Semoga kau terus mempunyai alasan untuk sukacita dan tidak menjadi lemah dan putus asa. Semoga kau tetap menguatkan tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh. 

5.2.17

Konspirasi Tai Kucing #13: Terus Bergerak Hingga Menjadi Buih



Desa Panawangan, Ciamis Jawa Barat

Hal yang paling menarik dari sebuah persimpangan jalan adalah kebingungan untuk transisi itu sendiri. Kenyamanan yang lama berganti, kekhawatiran yang lama hilang, bertukar dengan kekhawatiran lainnya. Berarti memang benar selama hidup manusia ditakdirkan 'dikit-dikit' khawatir. Lalu ternyata untuk sampai pada titik normal pun, akhirnya diperlukan waktu yang lama untuk beradaptasi. Sempat terjadi dari pada pusing-pusing memikirkan hal yang di luar dari kemampuan diri, akhirnya saya rehat dengan melakukan kegiatan yang lain seperti: nonton drama korea. Itu bagaikan sebuah permen mint yang melegakan tenggorokan saat batuk, namun dengan kondisi harus terus menerus dimakan. Lama-lama ketagihan. Lama-lama candu. Menyenangkan sih. 

Dari sekian banyak pelarian dan eskapisme akhirnya saya menemukan titik di mana ternyata ada beberapa yang tidak bisa dihindari terus menerus. Seperti misalnya: melihat ulang tentang rencana hidup dan tujuan, yang kalau dipikir-pikir lebih baik berakhir dengan perkataan Ah, sudahlah ga usah dipikirin sih. Tapi ujung-ujungnya pun kepikiran juga. Hingga mau tidak mau harus dihadapi dan diterima saja. Betapa depresinya, bagaimana pusingnya, bagaimana hilang arahnya, bagaimana caranya mencari jalan keluar yang benar-benar adalah solusi; bukan hanya fatamorgana pelarian. Asli ya itu suliiiit sekali. Ternyata semua perencanaan harus dikalkulasi ulang agar semakin mengerti keinginan dan kian realistis. Melewati berbagai panjang curhatan berbusa ke sana sini, lalu kelelahan sendiri. Berganti stage jadi menyimpan komplain dalam diri dan dijalani saja. Mungkin hal itu jauh lebih mudah dibanding melakukan obrolan sono sini yang isinya komplain semua. Sampai pada titik jenuh menemukan: yang paling penting dilakukan adalah mengambil keputusan untuk menghadapi dan memulai apa yang bisa dilakukan secara berkelanjutan. Itu sih kuncinya. 

Kemudian saya jadi semacam kepo juga dengan membaca, mendengarkan orang lain, mendengarkan podcast dan sebagainya.  Saya bisa bernafas lega bahwa stage yang sedang saya lalui ini normal kok. Manusiawi sekali memiliki perasaan rungsing seperti ini dan semua orang juga pernah merasa yang serupa. Sambil menyetrika hari ini, lalu saya tiba-tiba mendengar bunyi pukulan yang keras sekali. Dhuarrr! Lalu terdengar orang berteriak: Baskom-baskom-anti-pecah-baskom-baskom! Men, bahkan baskom saja untuk laku dijual harus diuji terlebih dahulu. Ibarat baskom yang harus dipukul kencang-kencang untuk memastikan pembeli bahwa baskomnya anti pecah, dia harus diadu dan dipukul keras. 

Saya jadi tersadar dan senyum-senyum sendiri kalau sekitar kita memang menuntut manusia dan segalanya melakukan pembuktian untuk eksistensi. Proses melakukan pembuktian ini pula bukan perkara mudah karena kredibilitas seseorang jadi dipertaruhkan. Keinginan kita untuk melakukan uji coba yang sekali jadi langsung berhasil. Ini membuat saya gemas setengah mati pada diri sendiri karena pola pikir instan yang berkerak lama.  Sekali rebus, langsung jadi mie rebus. Sekali masak, langsung jadi mie goreng. Mungkin karena banyak kemudahan di abad modern ini jadi 'kecepatan' akhirnya ibarat komoditi yang laku dijual. Siapa juga yang hari gini mau menunggu dan menanti lama untuk mendapatkan hal yang dia mau?  

Setelah saya (akhirnya) lelah dengan diri sendiri,  saya kembali lagi mencari hal-hal yang menantang yakni kembali riset dan membaca buku. Salah satu hobi saya membaca buku namun kini menjadi lebih berat rasanya karena bermain social media lebih menyenangkan dari pada baca buku. Nonton drama korea lebih lagi, itu adalah kebahagiaan hakiki. Sayang serial drama korea sudah habis saya tonton, jadi saya sudah bosan tidak ada serial bagus lagi. Ya, akhirnya kembalilah saya membaca buku. Kemarin ini saya sedang tertarik dan iseng penasaran kenapa Soe Hok Gie meninggal, akhirnya saya baca Soe Hok-Gie ... sekali lagi. Lalu saya jadi berpikir memang ada beberapa orang yang dilahirkan untuk menjadi orang-orang yang sedemikian hebat dan concern untuk negaranya, kemanusiaan, sastra, alam seperti Soe Hok-Gie. Ya saya sebenarnya jadi agak malu karena dalam usianya saat itu Soe Hok-Gie sudah melakukan ini dan itu. Lha saya? Belum begini dan begitu. Tidak harus menjadi seperti Soe Hok Gie namun setidaknya menjadi seseorang yang bergerak dan berkarya di kolam masing-masing itu penting. Dan terkadang ya, terjun ke dalam dan bergerak adalah pembuktian diri. Pengakuan akan eksistensinya kalau dia benar ada. 






2.2.17



Teruntuk mereka yang mencari apapun itu. 

Kau gelisah dalam setiap sisi tepi hari yang kau temui. 

Perasaan bersalah dan ketergesaan yang kau rasakan karena semata-mata kau ingin segera sampai tujuan. 

Di mana entah. 

Kau buntu dan terantuk dalam setiap tulisan. 

Seperti seseorang yang minum teh kemanisan, seperti mengenakan celana kedodoran, seperti menulis dengan pensil berujung tumpul, seperti menyesap kopi dingin, seperti menggunakan earphone yang hanya berfungsi sebelah, seperti menggunakan kaca mata beda minus, seperti hidung gatal namun tidak bisa bersin, seperti tidak menemukan toilet saat sedang kebelet pipis. 

Segalanya ada saatnya, katanya. 


Namun kita pun tidak tahu bagaimana cara menunggu lebih sabar dari hari kemarin. Ya kan?

24.1.17

Barangkali Kamu Harus Membeli Bunga Untuk Dirimu Sendiri Hari Ini


Ini pasti adalah kegilaan yang tidak bisa lagi dipendam terlalu lama. Seperti penyakitan yang tidak sembuh-sembuh, seperti kesedihan yang berminggu-minggu, seperti tersesat di sebuah hutan lebat, seperti musiman penantian, seperti patah hati yang berulang-ulang, seperti meminta ditahirkan hanya untuk bisa menjadi pulih. Namun tidak bisa. Abnormal. Layaknya mutan, layaknya alien, layaknya metamorfosis yang tidak selesai. Teralienasi dari sekitarnya.

Berjalan bersisian dalam kabut, memaksakan diri untuk terjaga, untuk melihat dan tidak terjatuh. Berjalan dengan amarah pada diri sendiri karena kerap salah jalan dan salah tikungan. Membenci diri sendiri karena sedemikian tidak dewasanya dan selalu melakukan banyak kesalahan di sana sini. Lalu kealpaan untuk bisa bersyukur. Mengapa kamu tidak bisa menjalani hidup yang biasa-biasa saja seperti orang lain. Ya, seperti orang normal biasanya yang bekerja kantoran, lalu menikah, lalu kawin, lalu beranak, lalu tua, lalu pesan tanah untuk kuburan diri sendiri. Seharusnya bisa sesimple itu alurnya. Cukup dengan bersyukur di sisi waktu dan dijalani sampai selesai. Sudahlah tidak usah tengok sana-sini, bermain angin di sisi jalan dan berbelok ke tikungan jalan lain melihat pemandangan di kanan kiri. Seharusnya kamu berjalan lurus saja seperti orang lain biasanya. Seperti apa yang digariskan oleh tuhanmu.  Tidak perlu keseringan marah-marah dan bersedih karena kamu sendiri yang memilih jalan berkelok ke sana. Kamu sendiri yang memilih untuk mencari jalan lain, jalan lain yang penuh liku. Salahkan dirimu sendiri yang sebegitu keras kepalanya tidak mengambil jalan biasa saja seperti orang kebanyakan. Salahkan dirimu yang tidak ingin bermain di garis aman. Salahkan dirimu yang sedemikian tololnya untuk bermain bahaya. Menjawab semua panggilan.  

Seharusnya kamu menyerah saja untuk menjadi apapun dalam hidup ini karena katanya pada akhirnya kamu hanya akan bisa berbuat sedikit dan katanya juga hanya beberapa orang saja yang bisa mengubah dunia. Dan tentu bukan kamu salah satunya. Ide itu terlalu besar untuk kamu.

Seharusnya kamu menyerah saja menjadi idealis, malu dengan umur dan masih saja tinggal dalam duniamu sendiri. Asyik merancang ini itu. Sudahlah, segala yang kamu pikirkan idealnya tidak akan terwujud karena kita haruslah hidup realistis dengan segala terukur dengan jelas.

Seharusnya kamu menyerah saja menjadi pekerja sosial. Hari gini jadi pekerja sosial, menolong diri saja tidak bisa. Dunia ini diperlukan uang bahkan dalam menolong orang lain, mereka lebih membutuhkan ‘mentahnya’ saja. Sudahlah kau buang-buang tenaga membuat dunia ini menjadi lebih baik lagi. Kau lebih baik memikirkan diri sendiri dan mencoba bertahan untuk hidup. Beli rumah yang besar kek, beli mobil lima kek, beli villa di mana kek, bekerja yang normal saja seperti orang kebanyakan. Sudahlah.

Seharusnya kamu menyerah saja membuka usaha sendiri. Tidak balik modal. Daganganmu tak laku, lihat berapa pengunjung yang datang hari ini? Kamu sudah kalah dari segi apapun. Sudahlah tutup saja dan bekerja yang normal saja seperti orang kebanyakan. Dapat gaji pasti setiap bulan tidak perlu khawatir hari ini ada pengunjung atau tidak,  pasaran bagaimana, sudahlah. Lihat kau sudah banyak merugi menggunakan tabunganmu sendiri.

Seharusnya kamu menyerah saja menjadi penulis. Idemu habis kempis dimakan ngengat. Inspirasimu itu-itu lagi. Dan lihat haduh, siapa juga yang membaca tulisanmu? Oh kamu punya blog? Oh ya? Memang ada yang berkunjung dan membaca? Tidak ada kan? Sudahlah lebih baik kamu menyerah saja. Tulisanmu tidak ada yang baca, alur ceritamu membosankan, gaya penulisanmu tidak menarik dan keseringan kalah lomba menulis sudah menjawab semuanya kan? Sudahlah buat apa lagi kamu mencoba membuat buku? Hanya akan menjadi buku diskonan lima rebuan di akhir tahun dan ditumpuk menjadi susunan rak paling bawah ditutupi buku penulis lain. Sudahlah buat apa jadi penulis? Membuang-buang waktumu saja.

Lihatlah seberapa banyak bisikkan kanan kirimu atau bahkan kepalamu sendiri. Seolah tidak ada yang mampu untuk meraih keinginannya apapun itu. Lalu kamu terus berjuang, terus berjuang, terus berjuang namun tidak menemukan pintu yang memang khusus dibukakan untukmu sendiri. Lalu kamu berusaha, terus berusaha, terus berusaha, bertahan, bertahan namun ada saatnya kau lepas pegangan. Seberapa banyak keteguhan hati yang harus kita investasikan untuk sebuah keinginan dan mimpi? Kapan pada akhirnya kita harus tahu diri untuk menjadi cukup dan memutuskan untuk tidak lagi mengejar mimpi kita? Karena barang kali memang Tuhan tidak menciptakan kamu untuk menjadi apa yang kamu mau. Mungkin kamu adalah seorang pengejar mimpi seumur hidupmu, tanpa pernah bisa mencapainya?

Sampai di titik mana kamu akan berhenti dan menjadi menyerah pada keadaan? Karena kamu kini merasa sudah terlalu terlambat untuk melakukan ini itu. Memang hal yang tersulit adalah untuk memutuskan berhenti dan tidak lagi mencoba. Adalah posisi di mana melepaskan dan meninggalkan suatu hal menjadi sebuah awal dan akhir dalam sebuah perjalanan seseorang.
Kamu tidak akan mati apabila melepaskan mimpimu namun kamu tidak akan hidup. Mungkin kamu berada di ketiadaan. Kamu tidak mati dan tidak hidup. Kamu di tengah-tengah saja, suam-suam kuku, tidak panas tidak dingin. Dan kamu akan mulai kehilangan makna sendiri.

Pencarianmu tidaklah benar-benar selesai, pekerjaanmu tidak akan pernah rampung, pergulatanmu tidak akan pernah berakhir, ketakutanmu tidak akan pernah pudar, cintamu tidaklah terus menerus manis gula-gula kapas, penantianmu akan berganti menjadi sebuah kebiasaan menanti. Namun kau terus berjalan. Kau terus berusaha. Kau terus berjuang. Kau terus bertahan. Hingga hatimu teruji.
Ketika malam hari menjadi sebuah ruang dirimu untuk merancang, merencanakan, menulis hari depan. Ketika malammu menjadi sebuah teman dan monster yang mengintai ketakutanmu di pagi hari. Ketika menjadi dewasa artinya adalah bertanggung jawab atas hidupmu, atas segala pilihan hidupmu, atas segala konsekuensi yang ada, atas segala nafas hidupmu. Di suatu malam yang kesekian, kembali berhadapan dengan diri sendiri, apa lagi yang mau kamu sangkal? Ke mana lagi bisa kamu melarikan diri dari isi kepalamu sendiri yang riuh? Bagaimana lagi bisa kau selipkan kelegaan di sana? Kecuali kamu pada akhirnya mengikuti kata hati dan menjawab semua pertanyaanmu sendiri. Lalu kau pun bertumbuh lebih kuat dari hari kemarin. Lebih rindang dari musim sebelumnya. Hingga yang ada hanyalah waktu yang bergulir. Dan tanpa kau sadari kau mulai mampu menyelam ke kedalaman.

Hingga kini,  barangkali ada baiknya kamu membeli bunga untuk dirimu sendiri hari ini. Sebagai hadiah karena dirimu pantas mendapatkannya. 







2.1.17

Perjalanan ke Ruang Angkasa


Serpong, 2017


Kamu tidak akan mengetahui apa yang ada di luar apabila tidak berani berjalan ke luar. Apabila tidak gigih keluar dari tempat nyamanmu. Setelah sekian lama tidak nampak dan menyembunyikan semua taring yang kamu miliki. Sayapmu tidak kau lebarkan meski rasanya sudah bosan mendekam terlalu lama. Leher dan pundakmu kencang berjaga-jaga dari berbagai serangan; entah kata entah tindakan. Kau memasang kuda-kuda terlalu lama karena kau tahu seranganmu belum cukup mengalahkan musuhmu. Amunisimu melempem terkena angin. Lalu kau menunggu kesempatan yang datang terlalu lama.

Hingga pertahananmu sedikit kendur, badanmu tidak lagi pejal, ototmu sedikit molor dan semua syarafmu rehat panjang. Tidak ada keinginan untuk merenggangkan persendian hingga yang kau rasa hanyalah rasa ngilu saat sedikit bergerak. Kau tahu ada yang salah namun dalam setiap uraian benangnya tidak sanggup kau temui ujungnya.

Kecintaanmu akan suatu hal tidak lagi semesra dulu karena kau kehilangan romantisme itu sekejap. Lalu kamu mulai mencari-cari hal lain yamg kiranya bisa menggantikan. Kau menemukan tapi bukan potongan puzzel yang pas untukmu. Masih sering kali salah pasang, salah sudut, tidak pas pada tempatnya. Bisa jadi kau mendapatkan semua yang kamu inginkan pada awalnya namun ternyata bukan itu tujuanmu. Hingga kau terus mencari ke sana ke mari. Pencariamu semu karena tujuanmu berada di luar sana dengan ribuan kilometer jarak yang harus kau tempuh.

Kau tidak lagi mempercayai mimpimu yang lama  dan mulai menggantikannya dengan sesuatu yang taktis, yang mudah, yang penting survive. Lalu segala kemilau material mulai menggoda dengan berbagai pintu kesempatan. Kau tergoda, kau ambil karena butuh. Ah, namanya juga manusia! Mereka tidak pernah putih dan tidak juga hitam. Mereka abu-abu dan serakah, banyak mau. Satu keinginan terpenuhi. Ternyata rasa puas tidak akan pernah ada di kamusnya. Hingga dibuatlah sebuah pepatah menghibur: “Tidak semua hal bisa terjadi sesuai dengan keinginan kita.” Kisah klasik, ya? Rasanya pernah dengar. Entah di mana.

Memilih sesuatu yang lebih taktis untuk tetap bertahan hidup, tidak salah. Semua juga dihadapkan dengan pilihan yang sama. Pada akhirnya kita memilih hal itu cepat atau lambat. Hingga cita-cita untuk menaklukan dunia dan membuat perubahan ini itu semakin dikerucutkan. Bukan, bukan menjadi pesimis hanya saja menjadi lebih realistis dengan kemampuan dan keadaan. Ada hal yang tidak lagi dikira pas untuk bisa masuk dan diaplikasikan dalam hidup.

Ada kalanya kadar mimpi bisa hangus menjadi abu. Ada kalanya semangat runtuh dalam rintik hujan. Namun tetap ada satu ruang dalam hati yang tersisa. Kau bisa menyebutnya ‘ruang angkasa’ karena dia luas. ‘Ruang angkasa’ ini mungkin terasa jauh namun tanpa kita sadari ruangan ini yang paling dekat dengan kita, semacam storage dan melindungi seluruh dirimu. Di sana terletak ribuan harapanmu, ribuan hancur lebur yang akan diobati, ribuan senyum yang kau simpan, ribuan wajah yang kau kenal dan kasihi, ribuan hati yang penuh kasih dan ribuan ingatan yang akan kau bawa terus. Ruang itu adalah milikmu sendiri, adalah suakamu sendiri. Tidak ada seseorang pun yang bisa masuk kecuali dirimu sendiri. Ruang ini adalah tempat di mana kau bisa menjadi diri sendiri dan menjadi waras sejenak. Setiap kita memilikinya. Tanpa kecuali.

Lalu kau akan melakukan perjalanan menuju ruang angkasamu. Meninggalkan rasa takutmu dan berjalan tanpa menunduk. Kau menikmati setiap arus derasmu, kau nikmati setiap terjalnya, kau pun mulai menyapa setiap peziarah lain yang bersisian denganmu, kau memulai perjalananmu ke ruang angkasa, kau siapkan setiap perbekalanmu dan kotak obat, kau mulai mahir dalam mengobati luka dan setiap rasa sakit sudah kau rasakan hingga kau kebas. Kau memilih untuk terus berjalan dan melebarkan sayapmu.

Karena kau tahu ke mana pun kau berlari menghindar, arus itu akan tetap membawamu kembali. Menarik ombaknya untuk surut, lalu menghempaskan pasangnya lagi. Kau akan terombang ambing sejenak dan melemparkan sauh kapalmu. Kau akan tertanam pada sebuah tanah, pada sebuah negri. Kau akan bekerja, melayani dan berkarya hingga saatnya nanti tiba dan daunmu berguguran dihembus angin.


Dan kini kau memilih untuk tidak tidur lagi. Kau mau tetap terjaga. Berjaga-jaga sampai tiba ke ruang angkasa. 



Catatan tahun baru 2017, untuk semua cita-cita dan harapan.  Selamat tahun baru!



new post

Retret

  Kurasa aku kini jauh lebih legowo dan suwung dalam menjalani beberapa hal yang membuatku tertatih-tatih. Rasanya melegakan juga melepaskan...