2.7.16

Nenek Napti


pic: Ilham Sidartha
Liburan ini Nenek sempat menginap tiga hari di rumah karena saya dan Aga tidak pulang kampung ke Ciamis lebaran ini. Ada beberapa rutinitas yang tidak bisa diganggu gugat atau mungkin kami berdua yang seegois itu memilih tidak menyempatkan waktu. Di sepanjang ingatan saya Ciamis adalah kampung halaman yang memiliki segala hal yang didambakan untuk menjadi kampung halaman. Sesungguhnya Ciamis adalah kampung halaman Ibu saya, si gadis Sunda asli dari gunung. Letaknya di pegunungan, jauh dari bising kota, jalan darat yang berkelok dan curam, sawah dan hutan di sisi kanan kiri, serta wangi masam aci yang akan khas tercium apabila mendekati pasar Panawangan. Lalu pasti kami sekeluarga akan mampir makan bakso di pasar Panawangan karena sudah mampus setengah mati dikocok-kocok di jalan. Dan pasti Nenek menunggu di teras rumahnya sambil minum teh. 

Nenek adalah seorang petani. Memiliki rumah luas dengan pekarangan sekebon sendiri seperti orang desa pada umumnya. Dia memiliki sawah, kebun, ladang, kolam ikan, kambing dan beberapa ekor anjing. Lalu wangi rumah Nenek sangat khas dengan udara sejuk dan dingin khas pegunungan. Apabila berjalan ke jalan raya sisi kanan kiri sekitar rumahnya adalah pepohonan tinggi yang menurut saya adalah hutan karena cukup lebat dan gelap. Menariknya ketika pagi hari, saat berbicara nafas kita akan ngepul asap seperti di film-film Korea itu. Was wes wos gitu.

Sosok Nenek bagi saya adalah sosok perempuan yang kuat dan pekerja keras. Dia adalah pelindung keluarga, motivator yang handal dan mencintai Yesus sepenuh hati. Sepertinya Nenek baru memeluk agama Katolik saat orang Indonesia harus memilih agama masing-masing karena Kepercayaan Sunda tidak diperbolehkan dipeluk lagi pada masa itu. Nenek memilih Katolik dan beberapa kakak dan adiknya memilih Muslim. Menariknya Nenek sangat suka menggunakan jilbab saat berpergian atau acara-acara besar, takut masuk angin katanya. Saya rasa Ibu sudah belajar pluralisme dari Nenek sedari usia dini. 

Hidup di desa sebagai petani dengan segala kesederhanaannya membuat pencarian uang untuk sekolah anak-anaknya jauh lebih sulit. Saat itu sawah dan ladang belum dimiliki sebanyak sekarang hingga akhirnya tenaga menjadi alat tukar yang utama. Biasanya akan menawarkan tenaga saat mencangkul sawah, membantu panen raya dan menyemai bibit. Apabila sedang tidak ada tawaran kerja, maka Nenek akan mencari daun sereh dan menjualnya berkeliling setiap hari. Dia perempuan kuat hingga saya dan Ibu adalah fans setia Nenek.

Kini Nenek sudah berumur 78 tahun, tubuhnya kian kurus, jalannya sedikit diseret dan perlahan, lututnya sering sakit tua dan rematik sering kambuh. Kini Nenek sudah pelupa dan sering melamun. Sering bercerita berulang-ulang dan bertanya berulang-ulang karena lupa. Kadang menangis karena ingat masa lalu dan mengira itu nyata. Sudah seperti anak kecil yang keinginannya harus dipenuhi. Saya sedikit terkejut karena pada bulan Desember saya pulang, Nenek belum seperti itu. Sudah berkali-kali diajak tinggal di rumah anak-anaknya namun tidak mau. Dan sangat bisa dimengerti. Rumahnya sudah menjadi bagian dari nafasnya. Pekarangan rumahnya yang luas sudah menjadi bagian dari hidupnya. Pekerjaan sehari-harinya, sawahnya, ladangnya, kambingnya dan anjingnya sudah menjadi bagian dari Nenek dan tidak bisa dipisahkan. Hidupnya sudah terabadikan di sana dan tidak bisa dicabut begitu saja hanya karena Nenek sudah tua dan anak-anaknya ingin merawat dia.

Betapa saya merenungi bahwa ternyata kita masih tergagap-gagap dengan fase 'menjadi tua'. Padahal itu adalah hal yang alamiah dan kita akan melewatinya suatu hari nanti apabila diberikan kesempatan umur panjang. Saya melihat bahwa ada ketakutan untuk menjadi lemah dan tidak berdaya karena selama ini dunia sudah sebegitu berisiknya meneriakkan untuk menjadi yang superior dan paling kuat mengalahkan manusia yang lainnya. Nietzsche memperkenalkannya menjadi Übermensch , super human. Hingga akhirnya kita tidak terbiasa dengan kelemahan itu sendiri dan ditutup-tutupi sekuat tenaga.

Saya sedikit kebingungan melihat fase penuaan Nenek. Seolah merasa dia sudah perlahan menghilang dan tidak berada di sini. Sosok kuat itu kini pudar berganti dengan cara berjalan yang terseret. Saya tidak tahu bagaimana menyikapinya dan sedikit ketakutan menyelinap bahwa saya dan kamu suatu hari nanti pun akan mengalami hal yang sama. Betapa saya sedikit terusik mencari-cari jembatan pemahaman saya dan Nenek. Meraba-raba untuk bisa meraih sampai ke sana dan saya merasa seolah menjadi karbitan dan melompat banyak anak tangga. Saya tahu jelas beliau sudah berada di level sekian dengan kebijaksanaan yang dia miliki yang sudah teruji oleh zaman sedangkan saya masih mengintip takut-takut dari kejauhan. Mengamati dari jauh fase yang baru ini bagi saya.

Kita tinggal di timeline kita masing-masing, bisa saja timeline saya dan kamu bersinggungan suatu hari nanti namun bisa saja itu menjauh. Mungkin ini yang dialami saya dan Nenek. Namun bukan berarti saya tidak bisa menjangkau timeline Nenek, tetap bisa dengan saya ‘nyebrang’ ke sana sesekali dan belajar mengalami. Melihat dunia dari sudut pandangnya dan pemahamannya. Mengenal arti Tuhan dan iman dari lensanya dan kembali mengalami dan merasakan ziarah hidup dia. Hingga mengingatkan saya bahwa untuk sebuah kehidupan manusia berjuang mati-matian dan betapa hidup itu berharga meski sulit. Meski pada akhirnya kita hidup untuk mati di suatu waktu yang telah ditentukan namun ternyata manusia tetap sedemikian takut akan kematian padahal itu adalah sesuatu yang pasti. Kita menghindar dan sedikit ngeri karenanya. Menunda penuaan dan menunda kematian. Sedikit lagi. Selalu sedikit lagi. Padahal segala sesuatu di bawah langit ini ada waktunya.

Saya sampai pada sebuah kesimpulan sendiri, ya memang benar kita sudah pasti akan mati. Suatu hari nanti tanpa kecuali dan mungkin memang sifat dasar manusia adalah untuk bertahan dan berjuang hidup. Seputus asa apapun orang itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ia tetap berusaha dan bertahan untuk hidup dengan cara yang berbeda, mengakiri penderitaan dalam arti harafiah. Mungkin kita sering kali lupa, bahwa untuk kita hidup sampai hembusan nafas ini ada keajaiban dan kinerja ribuan sel dalam tubuh yang berkerja keras agar kita tetap hidup dan kita tidak tahu bagaimana cara kerja ajaib itu. 

Sampai suatu ketika di suatu malam saat sedang berdoa malam dengan Abhimanyu. Dia berdoa seperti biasanya agar tidak mimpi buruk atau dinakali temannya saat bermain. Lalu di akhir doanya dia berkata, “Oh iya, lupa berdoa untuk Nenek.Ya Tuhan, juga berdoa untuk Nenek karena dia sudah tua semoga bisa tidur nyenyak dan sehat selalu. Amin.”

Mungkin dengan mengirimkan doa untuk Nenek menjadi jembatan yang kokoh. Dan tanpa kita sadari sampai hari ini pun kita tetap bertahan dan berjuang karena doa-doa dari orang lain.


2 comments:

  1. Bagus sekali mettaaa 😍 Aku suka tulisanmu. Semoga nenek sehat selalu, senantiasa dalam penyertaanNya dan terus diberi kesempatan utk membimbing anak cucunya dgn kebijasanaan dan cerita hidupnya yang super kece ya met. Amin!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai thesaaa terima kasih ya :) Semoga kita selalu dilindungi Tuhan karena penyertaan-Nya tetap. Amin!

      Delete