Daisy


Saya merasa beruntung sekali karena dikelilingi oleh orang-orang yang mengetahui passion dan mimpinya. Mungkin memang belum gamblang bagaimana untuk bisa meraihnya, namun merekalah orang-orang gelisah yang memenuhi aplikasi komunikasi saya setiap hari. Merekalah orang-orang terkasih yang ingin mewujudkan impian mereka dan mengikuti kata hati. Saya sangat bersyukur sekali. Dengan begitu maka saya memiliki reminder hidup yang akan mengingatkan saya untuk terus berada di track saya. Tidak mencong sana sini. 

Orang-orang terdekat dan juga saya sendiri nampaknya seperti orang bingung yang mencari-cari celah untuk bisa mewujudkan mimpi masing-masing. Dan lalu gemetar sendiri dengan mimpinya. Terkadang sesekali rembeslah air matanya karena ada rasa ketidakberdayaan untuk sampai ke sana. Segar betul di ingatan, Thesa sahabat saya pernah mengutip opini pacarnya begini: Kamu berada di jalan yang benar: meraih mimpimu, ketika begitu banyak halangan dan masalah menghadang, namun tetap kamu lakukan dengan sukacita. Iya.

Akan banyak hambatan dan halangan namun kamu akan berkata pada diri sendiri: Tenang, yang ini pasti berhasil, yang ini pasti bisa. Dan kamu akan memberikan diri sendiri satu kesempatan lagi dan tidak putus-putus berdoa. Saya tidak pernah mempunyai keinginan untuk seserius itu dalam menulis. Sedari dulu saya merasa menulis adalah hobi asyik yang saya tekuni lama. Namun pandangan berubah dan pengalaman bertambah, saya menjadikan hobi ini menjadi alter ego saya. Saya sibuk bekerja di siang hari dan saya sibuk menulis dan membaca di malam hari. Itu yang membuat saya hidup. 

Kembali lagi, menjalaninya bukan tanpa hambatan dan tantangan. Dari jam tubuh saya yang membutuhkan tidur tujuh-delapan jam hingga terkadang jam sembilan malam saya sudah seperti mumi. Memandangi layar laptop atau menekuni buku namun sumpah setengah mati saya ngantuk. Akhirnya lebih memilih waktu lain entah di jalan menuju kantor atau di pagi hari. Demikian juga dengan membaca, apabila tidak diselipkan, tidak akan ada waktu. Jadi membawa buku bacaan ke mana-mana dan duduk membaca seperti kutu buku adalah nama tengah saya. Itu tidak bisa ditawar lagi. 

Tiba-tiba akibat saya super kepo dan kejemawaan diri, sempat kemarin saya sedikit google diri saya sendiri dan menemukan ada karya saya di blog yang dicontek orang entah satu paragraf entah seluruh tulisan. Ini bukan yang pertama kalinya memang karena saya pernah merasakan tulisan liputan saya naik cetak namun yang ditulis bukan atas nama saya. Di tulisan itu saya seolah menjadi narasumber. Semua kata 'saya' diganti menjadi nama saya, seolah beliau yang menuliskan. Lalu beliau memberikan honor naik cetak pada saya. Dan beliau adalah wartawan suatu majalah besar, guru menulis saya. Sempat saya tidak mau menulis lama, tidak ingin menjadi penulis, tidak ingin menerbitkan karya sama sekali dan benar-benar berhenti menulis. Namun, suatu hari yang biasa tahun 2009 saya dikenalkan dunia blog dan saya kembali menulis. Inilah blog gadis payung kuning saya, yang dibuat dengan drama dan tangis haha. Mungkin kini saya ingin berterima kasih kepada beliau karena berkat beliau saya bisa memurnikan ketertarikan saya akan menulis. Kalau ini bukan sekedar menulis namun menelanjangi diri sendiri, membagikan perasaan, pengalaman, pemikiran pada pembaca tulisan.

Menemukan tulisan yang dicontek orang lain membuat saya berpikir, benar tidak ya menulis di blog ini sebagai medium menulis saya? Karena saya sebal sekali dicontek sana sini. Seolah mereka tidak mempunyai pabrik ide dalam otaknya. Seminggu ini saya berpikir banyak hal, hingga lelah sendiri dan tergerak untuk bertanya penulis lain yang memiliki jam terbang lebih tinggi. Namun saya kelewat malu dan tidak enak hati. Saya tidak punya kenalan baik penulis untuk dimintai pendapat dan diskusi. Sedih.

Hal yang saya pelajari beberapa hari ini adalah pentingnya menyelami segala hal hingga tuntas. Tidak bisa kita menemukan sesuatu tanpa terjun lebih dalam mencari ke akarnya yang terujung. Mencari permulaan untuk bisa mengenali hasil. Bergerak masuk ke dalam dan mengenali semua sisi. Menurut saya ketika kita merasa penasaran akan satu hal upaya mengenal tidak hanya melulu mencari hal tersebut. Kita juga perlu melihat dari seberang pandang dan arah sebaliknya. Jadi tidak hanya satu sisi saja yang menjadi perhatian namun sisi sebaliknya pun bisa kita lihat dengan objektif.

Seminggu ini saya sedang merenung kalau manusia adalah pencipta. Dia pasti akan menciptakan hal-hal baru dan karya baru. Saya kembali meluncur ke akar untuk apa saya menulis? Saya ingin berbagi pada orang lain. Lalu saya tersadar bukankah ini yang sudah saya lakukan, berbagi? Meski misalnya tulisan dicontek. Bukankah itu sebuh resiko ketika karya diberikan ke publik maka dia akan menjadi milik publik. Mungkin ini salah satu wajah dari berbagi. Semoga saja tulisan saya tetap berjiwa yang sama sebagaimana saya hembuskan di setiap katanya, semoga saja tulisan itu berguna bagi orang lain. Semoga saja tulisan saya tumbuh subur meski di ladang yang berbeda. 

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah foto bunga di instagram milik teman SMA saya yang lembut, Vina namanya. Gambarnya adalah bunga daisy. Menurutnya bunga daisy adalah bunga yang tumbuh di tengah-tengah rumput dan sebagai penanda musim semi akan tiba. Saya suka bunga daisy dan arti dibaliknya. Mungkin dia tergolong bunga liar yang tumbuh dengan cerianya ditengah-tengah rumput hijau. Berkarya dalam dirinya semaksimal mungkin dengan segala keapaan dia yang bermakna. 

Bukankah kita juga adalah bunga-bunga liar dengan keinginan untuk bertumbuh? Yang mungkin mati diinjak atau dipetik, namun keesokan harinya akan keluar tunas muda sebagai harapan hidup? Bunga liar yang tidak takut tumbuh meski sekelilingnya adalah rerumputan,  meski banyak tangan jahil yang gemas, ingin petik lalu akhirnya dibuang. Namun dia tetap tumbuh secantik-cantiknya, memberikan semua yang dia punya, memaknai hidupnya dengan seluruh daya menjadi: bunga liar.

Saya dan kamu pasti memiliki mimpi dan passion masing-masing. Memiliki hal-hal yang disukai dan ingin digeluti. Lakukanlah. Apapun yang membuatmu sedih dan putus asa akan kamu lupa di beberapa tahun mendatang. Percayalah. Kamu hanya ingat pernah melewatinya dan mengingat rasanya, namun hatimu sudah bertumbuh lebih kuat lagi. Keputusasaan yang dirasakan di setiap jalannya atau mungkin orang-orang sekitar yang tidak mendukung pasti akan selalu ada. Itu tidak bisa dicegah. Semua kembali lagi pada diri sendiri yang menentukan. Kamu tidak akan pernah terlepas dari usaha dan perjuangan apapun itu.

Mimpi dan berkarya berjalan berdampingan. Membuat sesuatu artinya kamu telah melewati proses yang banyak untuk sampai pada penemuan. Salah satunya adalah pengalaman pribadi dan pemahamanmu akan suatu hal. Pengalaman yang mendewasakan. Semua bisa dicuri, namun segala kedalaman dan pemahaman tidak. Karya yang dibuat adalah kekasih hati, mungkin bukan yang terbagus dan terhebat. Tapi kamu sudah mengirim pesan kasih untuk hati lainnya yang membutuhkan. Karena kita semua terhubung.


pic: Vina. IG: jsvnw



Comments

Popular Posts