30.7.16

Tulisan Tentang Perempuan Sekali Lagi


diambil dari pameran foto MRT Station Taipei


Akan menuliskan tentang perempuan dan akan sedemikian menyebalkannya karena banyak kealpaan di sana sini. Namun Dallas Clayton pernah menulis: Don't let the details be your undoing. Akhirnya memutuskan untuk menuliskannya karena merasa perlu. Sekali lagi.

Berita yang berkoar di media seminggu ini cukup menyita perhatian saya di tengah sibuknya pekerjaan dan urusan printilan ini itu. Atau mungkin mendengarkan berita jadi semacam hiburan sok sokkan ngerti padahal hanya berpartisipasi telinga dan mata namun absen otak. Berita dalam negeri yang menyita perhatian saya adalah reshuffle kabinet kerja dan diikuti kopi Mirna yang tidak kunjung selesai itu. 

Masih segar diingatan akan berita tentang Ibu Sri Mulyani beberapa tahun lalu dan kini beliau kembali menjadi Menteri Keuangan. Saat itu saya sedang di kantor dan mendapatkan pesan dari teman baik saya, Thesa. Saya membaca pesan viral berbahasa Inggris ini dengan isi bahwa beliau telah bersedia untuk menjadi menteri keuangan. Oh saya terhenti sebentar dan merinding sekali di tengah kesibukan kantor yang bising itu. Sedikit terharu karena seseorang yang sedemikian berdedikasinya pada negaranya meski pernah dikecewakan dulu. Namun ketika tanah airnya memanggil kembali dan membutuhkan bantuannya, beliau berani berkata: Ya, saya sanggup. 

Berapa banyak orang yang berani pulang ke tanah air untuk Indonesia? Tanpa seegois itu akan kenyamanannya.  namanya yang telah besar di dunia, dan kembali dengan dengan komitmen untuk membangun tanah airnya sendiri? Saya sedikit sentimentil  dengan orang-orang yang kembali ke tanah air for good. Betapa ada perasaan tidak yakin, tidak tahu hari depan, ketakutan sedikit akan tanah air, perlunya beradaptasi lagi, meninggalkan kenyamanan induk semang negara sebelumnya, dst, dll, dsb. Namun diluar perasaan itu semua ada rindu tanah air.

Beberapa hari lalu saya sempat kesal sendiri karena membaca artikel menjelang hari kemerdekaan. Pendek kata artikel ini adalah artikel dengan topik tahunan yang bikin tepok jidat berkali-kali. Isinya adalah di umur Indonesia yang sudah sekian tua merdekanya namun baginya belum merdeka sama sekali karena masih banyak kemiskinan, ekonomi yang tidak stabil, lalalala. Yak, kalian pasti sudah bisa membayangkan isi artikel ini yang membosankan ini, tapi saya kok baca juga. Saya jadi ngomel-ngomel sendiri karena sedemikian miskin research hingga penulis lupa mencari definisi merdeka itu sendiri dan tentu tidak bisa disandingkan dengan Amerika dan Eropa. Dan saat saya baca artikel ini eh ternyata yang nulis saya sendiri saat masih kuliah semester 2 (hehehe). Kan saya jadi tambah sebel dan semakin tepok jidat berkali-kali ya kan? 

Dengan membandingkan tulisan saya ribuan waktu silam itu saya jadi sedikit tersentil jangan-jangan pikiran itulah yang dimiliki sebagian besar orang Indonesia ya? Semoga tidak. Semoga kita bukan orang yang mudah menyimpulkan tanpa research, tanpa kembali ke akar. Semoga jika tanah air membutuhkan kita berani menjawab: Ya, saya sanggup. 

Kemudian saya perhatikan kini perempuan cukup menjadi media darling entah karena kekuatannya, entah karena tubuhnya, entah karena karyanya dan banyak hal. Namun banyak hal juga yang timpang seperti misalnya saat ada celebrity sex tape yang mencuat di media terutama di Indonesia, si perempuan ini pamornya menurun dan si laki-laki malah jadi bintang iklan shampoo. Lalu saya jadi teringat akan pandangan Aristoteles tentang perempuan. Setelah membaca lebih jauh, saya jadi ilfil pada beliau. Beliau berpandangan bahwa perempuan adalah "pria yang belum lengkap". Dalam hal reproduksi, perempuan bersikap pasif dan reseptif, sementara pria aktif dan produktif. Beliau percaya bahwa anak hanya mewarisi sifat bawaan laki-laki. Aristoteles menyimpulkan bahwa perempuan adalah ladang yang siap menerima dan ditanam benih, dalam bahasanya  pria menyediakan "bentuk" sedangkan perempuan menyediakan "substansi". Dan gawatnya pandangan Aristoteles ini justru yang berpengaruh dan diadaptasi hingga kini. 

Kira-kira ada berapa banyak laki-laki di dunia ini yang sedemikian yakin akan dirinya sendiri hingga mereka tidak takut akan gerakkan feminism atau riot grrrl? Lalu mereka mendukung karena melihat ada ketimpangan nilai di sana sini? Atau contoh kecilnya ada berapa banyak laki-laki yang bersedia melakukan pekerjaan domestik dan tidak melulu harus merasa itu adalah pekerjaan perempuan?  Menurut Simone de Beauvoir, upaya penyetaraan perempuan dan laki-laki tidak akan berhasil apabila tidak ada dukungan dari masyarakat. Karena menurutnya manusia tidak dilahirkan sebagai perempuan, namun menjadi perempuan. Mendefinisikan perempuan sebagai manusia utuh bukan hanya karena kepemilikan ovarium dan uterus saja. Dan sudah seharusnya perempuan sendiri tidak bergantung dan mandiri karena eksistensinya sebagai manusia utuh yang memiliki kebebasan. 

Pentingnya mengkaji ulang bahwa tubuh adalah bagian dari manusia namun manusia tidak hanya sekedar tubuh saja, begitu pun perempuan dan laki-laki. Sempat melihat perdebatan akan peranan perempuan yang dikatakan bahwa kesetaraan gender adalah ketika perempuan bisa bekerja di luar tidak melakukan pekerjaan domestik saja dan menyalahkan perempuan yang misalnya ingin menjadi ibu rumah tangga. Menurut saya bukan kesetaraan gender yang demikian, melainkan kemampuan perempuan untuk memilih hidupnya sendiri tanpa harus ada paksaan dari pihak luar. Entah mau menjadi wanita karir, pilot, tentara, atau ibu rumah tangga, itu merupakan pilihan perempuan sebebas-bebasnya sebagai individu. 

Perlunya menanggalkan berbagai macam label untuk perempuan karena sebenarnya definisi itu hanya melimitkan perempuan sendiri. Mengapa tidak perempuan dibiarkan menjadi perempuan? Tanpa embel apa-apa terutama lepas dari tubuh itu sendiri. Bahwa perempuan cantik, dandan apik, sexy, make up genah bukan berarti mereka hanya mengurus dandanan saja dan bukan berarti mereka tidak punya otak. Dan begitu pula sebaliknya. 

Perempuan berhak memilih hidupnya. Ingin atau tidak menikah, ingin atau tidak punya anak, ingin atau tidak berpasangan, ingin atau tidak menjadi ibu rumah tangga, ingin atau tidak menjadi wanita karir, ingin atau tidak berdandan, ingin atau tidak menjadi seorang ibu, ingin atau tidak menjadi istri, ingin atau tidak bekerja domestik, ingin atau tidak berhubungan seks, ingin atau tidak memeluk agamanya, ingin atau tidak memilih ideologinya. 

Dan mengutip Simone de Beauvoir, "Bahwa hal pertama yang harus aku katakan adalah: Aku seorang perempuan."



23.7.16

Daisy


Saya merasa beruntung sekali karena dikelilingi oleh orang-orang yang mengetahui passion dan mimpinya. Mungkin memang belum gamblang bagaimana untuk bisa meraihnya, namun merekalah orang-orang gelisah yang memenuhi aplikasi komunikasi saya setiap hari. Merekalah orang-orang terkasih yang ingin mewujudkan impian mereka dan mengikuti kata hati. Saya sangat bersyukur sekali. Dengan begitu maka saya memiliki reminder hidup yang akan mengingatkan saya untuk terus berada di track saya. Tidak mencong sana sini. 

Orang-orang terdekat dan juga saya sendiri nampaknya seperti orang bingung yang mencari-cari celah untuk bisa mewujudkan mimpi masing-masing. Dan lalu gemetar sendiri dengan mimpinya. Terkadang sesekali rembeslah air matanya karena ada rasa ketidakberdayaan untuk sampai ke sana. Segar betul di ingatan, Thesa sahabat saya pernah mengutip opini pacarnya begini: Kamu berada di jalan yang benar: meraih mimpimu, ketika begitu banyak halangan dan masalah menghadang, namun tetap kamu lakukan dengan sukacita. Iya.

Akan banyak hambatan dan halangan namun kamu akan berkata pada diri sendiri: Tenang, yang ini pasti berhasil, yang ini pasti bisa. Dan kamu akan memberikan diri sendiri satu kesempatan lagi dan tidak putus-putus berdoa. Saya tidak pernah mempunyai keinginan untuk seserius itu dalam menulis. Sedari dulu saya merasa menulis adalah hobi asyik yang saya tekuni lama. Namun pandangan berubah dan pengalaman bertambah, saya menjadikan hobi ini menjadi alter ego saya. Saya sibuk bekerja di siang hari dan saya sibuk menulis dan membaca di malam hari. Itu yang membuat saya hidup. 

Kembali lagi, menjalaninya bukan tanpa hambatan dan tantangan. Dari jam tubuh saya yang membutuhkan tidur tujuh-delapan jam hingga terkadang jam sembilan malam saya sudah seperti mumi. Memandangi layar laptop atau menekuni buku namun sumpah setengah mati saya ngantuk. Akhirnya lebih memilih waktu lain entah di jalan menuju kantor atau di pagi hari. Demikian juga dengan membaca, apabila tidak diselipkan, tidak akan ada waktu. Jadi membawa buku bacaan ke mana-mana dan duduk membaca seperti kutu buku adalah nama tengah saya. Itu tidak bisa ditawar lagi. 

Tiba-tiba akibat saya super kepo dan kejemawaan diri, sempat kemarin saya sedikit google diri saya sendiri dan menemukan ada karya saya di blog yang dicontek orang entah satu paragraf entah seluruh tulisan. Ini bukan yang pertama kalinya memang karena saya pernah merasakan tulisan liputan saya naik cetak namun yang ditulis bukan atas nama saya. Di tulisan itu saya seolah menjadi narasumber. Semua kata 'saya' diganti menjadi nama saya, seolah beliau yang menuliskan. Lalu beliau memberikan honor naik cetak pada saya. Dan beliau adalah wartawan suatu majalah besar, guru menulis saya. Sempat saya tidak mau menulis lama, tidak ingin menjadi penulis, tidak ingin menerbitkan karya sama sekali dan benar-benar berhenti menulis. Namun, suatu hari yang biasa tahun 2009 saya dikenalkan dunia blog dan saya kembali menulis. Inilah blog gadis payung kuning saya, yang dibuat dengan drama dan tangis haha. Mungkin kini saya ingin berterima kasih kepada beliau karena berkat beliau saya bisa memurnikan ketertarikan saya akan menulis. Kalau ini bukan sekedar menulis namun menelanjangi diri sendiri, membagikan perasaan, pengalaman, pemikiran pada pembaca tulisan.

Menemukan tulisan yang dicontek orang lain membuat saya berpikir, benar tidak ya menulis di blog ini sebagai medium menulis saya? Karena saya sebal sekali dicontek sana sini. Seolah mereka tidak mempunyai pabrik ide dalam otaknya. Seminggu ini saya berpikir banyak hal, hingga lelah sendiri dan tergerak untuk bertanya penulis lain yang memiliki jam terbang lebih tinggi. Namun saya kelewat malu dan tidak enak hati. Saya tidak punya kenalan baik penulis untuk dimintai pendapat dan diskusi. Sedih.

Hal yang saya pelajari beberapa hari ini adalah pentingnya menyelami segala hal hingga tuntas. Tidak bisa kita menemukan sesuatu tanpa terjun lebih dalam mencari ke akarnya yang terujung. Mencari permulaan untuk bisa mengenali hasil. Bergerak masuk ke dalam dan mengenali semua sisi. Menurut saya ketika kita merasa penasaran akan satu hal upaya mengenal tidak hanya melulu mencari hal tersebut. Kita juga perlu melihat dari seberang pandang dan arah sebaliknya. Jadi tidak hanya satu sisi saja yang menjadi perhatian namun sisi sebaliknya pun bisa kita lihat dengan objektif.

Seminggu ini saya sedang merenung kalau manusia adalah pencipta. Dia pasti akan menciptakan hal-hal baru dan karya baru. Saya kembali meluncur ke akar untuk apa saya menulis? Saya ingin berbagi pada orang lain. Lalu saya tersadar bukankah ini yang sudah saya lakukan, berbagi? Meski misalnya tulisan dicontek. Bukankah itu sebuh resiko ketika karya diberikan ke publik maka dia akan menjadi milik publik. Mungkin ini salah satu wajah dari berbagi. Semoga saja tulisan saya tetap berjiwa yang sama sebagaimana saya hembuskan di setiap katanya, semoga saja tulisan itu berguna bagi orang lain. Semoga saja tulisan saya tumbuh subur meski di ladang yang berbeda. 

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah foto bunga di instagram milik teman SMA saya yang lembut, Vina namanya. Gambarnya adalah bunga daisy. Menurutnya bunga daisy adalah bunga yang tumbuh di tengah-tengah rumput dan sebagai penanda musim semi akan tiba. Saya suka bunga daisy dan arti dibaliknya. Mungkin dia tergolong bunga liar yang tumbuh dengan cerianya ditengah-tengah rumput hijau. Berkarya dalam dirinya semaksimal mungkin dengan segala keapaan dia yang bermakna. 

Bukankah kita juga adalah bunga-bunga liar dengan keinginan untuk bertumbuh? Yang mungkin mati diinjak atau dipetik, namun keesokan harinya akan keluar tunas muda sebagai harapan hidup? Bunga liar yang tidak takut tumbuh meski sekelilingnya adalah rerumputan,  meski banyak tangan jahil yang gemas, ingin petik lalu akhirnya dibuang. Namun dia tetap tumbuh secantik-cantiknya, memberikan semua yang dia punya, memaknai hidupnya dengan seluruh daya menjadi: bunga liar.

Saya dan kamu pasti memiliki mimpi dan passion masing-masing. Memiliki hal-hal yang disukai dan ingin digeluti. Lakukanlah. Apapun yang membuatmu sedih dan putus asa akan kamu lupa di beberapa tahun mendatang. Percayalah. Kamu hanya ingat pernah melewatinya dan mengingat rasanya, namun hatimu sudah bertumbuh lebih kuat lagi. Keputusasaan yang dirasakan di setiap jalannya atau mungkin orang-orang sekitar yang tidak mendukung pasti akan selalu ada. Itu tidak bisa dicegah. Semua kembali lagi pada diri sendiri yang menentukan. Kamu tidak akan pernah terlepas dari usaha dan perjuangan apapun itu.

Mimpi dan berkarya berjalan berdampingan. Membuat sesuatu artinya kamu telah melewati proses yang banyak untuk sampai pada penemuan. Salah satunya adalah pengalaman pribadi dan pemahamanmu akan suatu hal. Pengalaman yang mendewasakan. Semua bisa dicuri, namun segala kedalaman dan pemahaman tidak. Karya yang dibuat adalah kekasih hati, mungkin bukan yang terbagus dan terhebat. Tapi kamu sudah mengirim pesan kasih untuk hati lainnya yang membutuhkan. Karena kita semua terhubung.


pic: Vina. IG: jsvnw



16.7.16

Yang Terdekat dan Diakrabi

Dalam draft ketikan yang tak kunjung selesai ditulis, lalu cangkir kopi kedua yang telah diseduh dan dingin diam-diam tanpa izin. Berubah masam dengan sisa ampas di sekeliling cangkirnya. Selapis lipstik merah muda kemerahan mengecupi bibir cangkir yang disesapi perlahan. Terlihat tumpukkan buku di kiri kanan tergeletak setelah beberapa kali dibaca dan diusap-usap dengan belaian yang berbeda. Sesekali menciumi baunya, membenamkan hidung ke dalam dan menghirupnya dalam satu hisap nafas. Setiap orang memiliki fetish-nya masing-masing dan bagi perempuan ini fetish-nya adalah mencium buku, terutama buku yang baru dibeli.

Tujuh ratus tiga puluh hari telah dilewati sedari keterpisahan dengan lelaki sudah lampau. Sudah lampau. Sudah berdebu di ingatan. Lalu sangat mengerti bahwa perempuan suatu hari akan mencintai seorang laki-laki harum laut yang sebebas-bebasnya demi apa pun dan tidak akan bisa dimiliki. Cocoklah untuk si perempuan yang terus berlari dan tertarik akan bahaya-bahaya yang merangsang otak korteksnya. Sebegitu membutuhkan aliran adrenalin yang berdesir di sum-sum tulang belakang lalu kegelian sampai batang otak. Si perempuan bukan definisi cantik milik society dan bukan kebutuhannya untuk menjadi pemanis atau pelengkap kecantikan yang bergelayut manja di lengan prianya. Rasanya dia tidak seperti itu, jikalau menggambarkannya si perempuan adalah humor sarkasme gelap di labirin otak. Dia tidak akan menyuguhkan romantisme legit kemanisan karena dia khawatir lelakinya akan sakit gula karenanya.

Si perempuan dan lelakinya yang harum laut itu sedang duduk bersamping-sampingan di kereta menuju kota yang memiliki banyak pantai dan mereka akan menziarahinya satu-persatu. Ngobrol santai tidak penting dan lalu memandangi wajahnya lekat-lekat dengan kumis tipis yang alurnya sudah dihafal mati si perempuan lewat ujung jari dan bibirnya, kemudian sesekali bergidik kegelian setiap kali bertukar kecupan yang harus dicukupkan.

Pantai yang ditunggu-tunggu hadir di depan hidung dan langit sore sudah turun mengisi ruang-ruang dekap mereka berdua. Duduk- duduk dengan pantat lembab karena duduk di pasir pantai dan membenamkan kaki mereka di pasir yang basah dan dingin namun rasa nyaman tetap hadir lugu.

“Saya di kehidupan selanjutnya rasanya akan menjadi semut hitam pekerja, yang bekerja sedemikian rajinnya untuk koloni dan Ratu. Terkadang saya merasa sedikit ada perasaan bersalah jikalau tidak sibuk, tidak hectic, tidak produktif atau hanya santai-santai saja. Rasanya tubuh saya ketagihan untuk kerja. Bagaimana ya?”tanya si perempuan sambil menggulung rambutnya menjadi konde kasual.

“Memangnya kamu menghindari diri dari apa? Ada yang kamu takutkan?”tanya laki-laki itu.

“Ketakutan? Oh tentu banyak! Rasanya dia mengintai dan selalu ada di samping saya seperti bayangan lekat-lekat lalu akan merasuki dan menyatu dengan tubuh saya, kamu tahu kan rasanya?”ujar si perempuan sambil menatap mata laki-laki itu. Tidak. Rasanya laki-laki ini tidak pernah takut apapun.

“ Oh tentu, saya tahu, rasa seperti takut menyerah pada ketakutan itu sendiri. Seperti tersedot masuk ke ruang tertutup sempit tanpa jendela dan pintu lalu waktu rasanya tidak bisa diukur. Ya kan?  Jadi kamu sebenarnya menghindari apa?”

“Bukan menghindari hanya saja rasanya, diri sendiri adalah seorang sahabat sekaligus musuh yang erat di kulit saya. Saya tidak suka membiarkan diri saya sekosong itu tanpa melakukan apa-apa rasanya saya sudah terbentuk demikian. Seperti work ethic saya mengharuskan fokus, detail, dan kerja keras. Saya terdengar seperti perfectionist bitch ya?”

“Iya sih haha. Tapi jikalau kamu nyaman demikian kenapa tidak?”tanya laki-laki itu diplomatis.

“Atau jangan-jangan saya bukan seseorang yang mencari aman. Saya kadang sebal dengan diri saya sendiri yang selalu mencari tantangan, rasa penasaran dan rasa takut itu sendiri. Saya mencari rasa takut dan ingin dekat-dekat dengannya. Kamu percaya ?”

“Ya, bisa saya lihat dari matamu. Kamu bukan pemain di garis aman mungkin kau ingin menjadi tuan atas rasa takutmu dan menjadi manusia bebas sebebas-bebasnya. Tidak tanpa rasa takut, namun melakukannya dengan rasa takut dan memerdekakannya. Dengan cara itu kamu merasa hidup” kata laki-laki itu lagi.

“Eh kamu suka serial BBC Sherlock Holmes gak, yang episode istrinya John Watson bohong habis-habisan ke dia? Lalu menariknya ya ada satu dialog Sherlock ke John begini : John, you are addicted to a certain lifestyle. You’re abnormally attracted to dangerous situations and people…so is it truly such a surprise that the woman you’ve fallen in love with conforms to that pattern. Gila, saat mendengarnya rasanya saya mau jedotin kepala sambil teriak: Yo mamen itu gue banget!”ujar si perempuan sambil tertawa.

“Ya, mungkin ada benarnya kamu demikian” kata laki-laki itu lagi sambil ikut tertawa.

***

Gurat wajah dan tubuh laki-laki yang dikenal perempuan itu setiap inchinya; gelung rambutnya yang terurai sesekali; nafasnya yang harum cengkeh dan tembakau, punggungnya yang melekuk ke dalam dan pinggangnya tempat si perempuan menyelipkan tangannya sesekali.  Mereka berdua selalu berlekatan tak terpisahkan dan saling mengisi. Bertukar pagut dan berpegangan tangan. Berbagi cerita dan senyum. Laki-laki ini selalu hadir di mana pun perempuan itu berada tanpa kecuali. Kehadirannya adalah puncak tersepi di selat mata si perempuan. Kenyamanan yang dibagikan sebagai bentuk pertahanan diri, semata-mata hanya untuk menjadi waras. Memelihara apapun itu yang menghidupi hangat tubuhnya dan kerling matanya.

Di satu senja itu, di ceruk sebuah pantai terujung, si laki-laki meretas kancing kemeja perempuan satu persatu, mengeja jemari di kedua payudaranya, menggenggam jantungnya dan mendikte ritme di setiap degupnya. Bersisi-sisian dan menyatu. Dan laki-laki itu bernama : Fear.



2.7.16

Nenek Napti


pic: Ilham Sidartha
Liburan ini Nenek sempat menginap tiga hari di rumah karena saya dan Aga tidak pulang kampung ke Ciamis lebaran ini. Ada beberapa rutinitas yang tidak bisa diganggu gugat atau mungkin kami berdua yang seegois itu memilih tidak menyempatkan waktu. Di sepanjang ingatan saya Ciamis adalah kampung halaman yang memiliki segala hal yang didambakan untuk menjadi kampung halaman. Sesungguhnya Ciamis adalah kampung halaman Ibu saya, si gadis Sunda asli dari gunung. Letaknya di pegunungan, jauh dari bising kota, jalan darat yang berkelok dan curam, sawah dan hutan di sisi kanan kiri, serta wangi masam aci yang akan khas tercium apabila mendekati pasar Panawangan. Lalu pasti kami sekeluarga akan mampir makan bakso di pasar Panawangan karena sudah mampus setengah mati dikocok-kocok di jalan. Dan pasti Nenek menunggu di teras rumahnya sambil minum teh. 

Nenek adalah seorang petani. Memiliki rumah luas dengan pekarangan sekebon sendiri seperti orang desa pada umumnya. Dia memiliki sawah, kebun, ladang, kolam ikan, kambing dan beberapa ekor anjing. Lalu wangi rumah Nenek sangat khas dengan udara sejuk dan dingin khas pegunungan. Apabila berjalan ke jalan raya sisi kanan kiri sekitar rumahnya adalah pepohonan tinggi yang menurut saya adalah hutan karena cukup lebat dan gelap. Menariknya ketika pagi hari, saat berbicara nafas kita akan ngepul asap seperti di film-film Korea itu. Was wes wos gitu.

Sosok Nenek bagi saya adalah sosok perempuan yang kuat dan pekerja keras. Dia adalah pelindung keluarga, motivator yang handal dan mencintai Yesus sepenuh hati. Sepertinya Nenek baru memeluk agama Katolik saat orang Indonesia harus memilih agama masing-masing karena Kepercayaan Sunda tidak diperbolehkan dipeluk lagi pada masa itu. Nenek memilih Katolik dan beberapa kakak dan adiknya memilih Muslim. Menariknya Nenek sangat suka menggunakan jilbab saat berpergian atau acara-acara besar, takut masuk angin katanya. Saya rasa Ibu sudah belajar pluralisme dari Nenek sedari usia dini. 

Hidup di desa sebagai petani dengan segala kesederhanaannya membuat pencarian uang untuk sekolah anak-anaknya jauh lebih sulit. Saat itu sawah dan ladang belum dimiliki sebanyak sekarang hingga akhirnya tenaga menjadi alat tukar yang utama. Biasanya akan menawarkan tenaga saat mencangkul sawah, membantu panen raya dan menyemai bibit. Apabila sedang tidak ada tawaran kerja, maka Nenek akan mencari daun sereh dan menjualnya berkeliling setiap hari. Dia perempuan kuat hingga saya dan Ibu adalah fans setia Nenek.

Kini Nenek sudah berumur 78 tahun, tubuhnya kian kurus, jalannya sedikit diseret dan perlahan, lututnya sering sakit tua dan rematik sering kambuh. Kini Nenek sudah pelupa dan sering melamun. Sering bercerita berulang-ulang dan bertanya berulang-ulang karena lupa. Kadang menangis karena ingat masa lalu dan mengira itu nyata. Sudah seperti anak kecil yang keinginannya harus dipenuhi. Saya sedikit terkejut karena pada bulan Desember saya pulang, Nenek belum seperti itu. Sudah berkali-kali diajak tinggal di rumah anak-anaknya namun tidak mau. Dan sangat bisa dimengerti. Rumahnya sudah menjadi bagian dari nafasnya. Pekarangan rumahnya yang luas sudah menjadi bagian dari hidupnya. Pekerjaan sehari-harinya, sawahnya, ladangnya, kambingnya dan anjingnya sudah menjadi bagian dari Nenek dan tidak bisa dipisahkan. Hidupnya sudah terabadikan di sana dan tidak bisa dicabut begitu saja hanya karena Nenek sudah tua dan anak-anaknya ingin merawat dia.

Betapa saya merenungi bahwa ternyata kita masih tergagap-gagap dengan fase 'menjadi tua'. Padahal itu adalah hal yang alamiah dan kita akan melewatinya suatu hari nanti apabila diberikan kesempatan umur panjang. Saya melihat bahwa ada ketakutan untuk menjadi lemah dan tidak berdaya karena selama ini dunia sudah sebegitu berisiknya meneriakkan untuk menjadi yang superior dan paling kuat mengalahkan manusia yang lainnya. Nietzsche memperkenalkannya menjadi √úbermensch , super human. Hingga akhirnya kita tidak terbiasa dengan kelemahan itu sendiri dan ditutup-tutupi sekuat tenaga.

Saya sedikit kebingungan melihat fase penuaan Nenek. Seolah merasa dia sudah perlahan menghilang dan tidak berada di sini. Sosok kuat itu kini pudar berganti dengan cara berjalan yang terseret. Saya tidak tahu bagaimana menyikapinya dan sedikit ketakutan menyelinap bahwa saya dan kamu suatu hari nanti pun akan mengalami hal yang sama. Betapa saya sedikit terusik mencari-cari jembatan pemahaman saya dan Nenek. Meraba-raba untuk bisa meraih sampai ke sana dan saya merasa seolah menjadi karbitan dan melompat banyak anak tangga. Saya tahu jelas beliau sudah berada di level sekian dengan kebijaksanaan yang dia miliki yang sudah teruji oleh zaman sedangkan saya masih mengintip takut-takut dari kejauhan. Mengamati dari jauh fase yang baru ini bagi saya.

Kita tinggal di timeline kita masing-masing, bisa saja timeline saya dan kamu bersinggungan suatu hari nanti namun bisa saja itu menjauh. Mungkin ini yang dialami saya dan Nenek. Namun bukan berarti saya tidak bisa menjangkau timeline Nenek, tetap bisa dengan saya ‘nyebrang’ ke sana sesekali dan belajar mengalami. Melihat dunia dari sudut pandangnya dan pemahamannya. Mengenal arti Tuhan dan iman dari lensanya dan kembali mengalami dan merasakan ziarah hidup dia. Hingga mengingatkan saya bahwa untuk sebuah kehidupan manusia berjuang mati-matian dan betapa hidup itu berharga meski sulit. Meski pada akhirnya kita hidup untuk mati di suatu waktu yang telah ditentukan namun ternyata manusia tetap sedemikian takut akan kematian padahal itu adalah sesuatu yang pasti. Kita menghindar dan sedikit ngeri karenanya. Menunda penuaan dan menunda kematian. Sedikit lagi. Selalu sedikit lagi. Padahal segala sesuatu di bawah langit ini ada waktunya.

Saya sampai pada sebuah kesimpulan sendiri, ya memang benar kita sudah pasti akan mati. Suatu hari nanti tanpa kecuali dan mungkin memang sifat dasar manusia adalah untuk bertahan dan berjuang hidup. Seputus asa apapun orang itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ia tetap berusaha dan bertahan untuk hidup dengan cara yang berbeda, mengakiri penderitaan dalam arti harafiah. Mungkin kita sering kali lupa, bahwa untuk kita hidup sampai hembusan nafas ini ada keajaiban dan kinerja ribuan sel dalam tubuh yang berkerja keras agar kita tetap hidup dan kita tidak tahu bagaimana cara kerja ajaib itu. 

Sampai suatu ketika di suatu malam saat sedang berdoa malam dengan Abhimanyu. Dia berdoa seperti biasanya agar tidak mimpi buruk atau dinakali temannya saat bermain. Lalu di akhir doanya dia berkata, “Oh iya, lupa berdoa untuk Nenek.Ya Tuhan, juga berdoa untuk Nenek karena dia sudah tua semoga bisa tidur nyenyak dan sehat selalu. Amin.”

Mungkin dengan mengirimkan doa untuk Nenek menjadi jembatan yang kokoh. Dan tanpa kita sadari sampai hari ini pun kita tetap bertahan dan berjuang karena doa-doa dari orang lain.


Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...