1.6.16

Konspirasi Tai Kucing #9: Marriage 101


Hari Senin kemarin saat perjalanan menuju kantor, saya mendengarkan lagunya Chrisye berjudul Cintaku dan dengan impulsive saya berjanji, lagu ini adalah lagu wajib yang harus diputar saat  saya menikah. Tsah. Lalu saya jadi menoyor kepala saya sendiri menduga otak ini agak bergeser atau sedikit kejedot kemarin. Atau mungkin ini karena hari Senin pagi yang sedemikian boring dan tidak menggairahkannya dan lalu munculah lagu kasmaran seperti ini. Atau barangkali saya sedang ovulasi. Pasti gitu deh.

Jadi begini, saya ingin menikah suatu hari nanti namun tidak seburu-buru itu sih. Saya menghormati pernikahan karena menikah itu artinya berjanji pada Tuhan, pasangan, keluarga dan jemaat yang menyaksikan saat kata janji itu terucap. Menurut saya mengucap janji di altar itu sebegitu sakral dan romantisnya. Melihatnya, berbahagia sekali kedua mempelai dan lalu mereka terharu. Pernikahan yang amat sempurna, bahagia dengan teman-teman dan keluarga. Berhubung akhir-akhir ini saya menghadiri banyak pernikahan teman-teman saya, saya jadi memperhatikan bahwa arti ucapan itu bukan sekedar kata-kata belaka namun maknanya lebih dari itu. Lalu saya berpikir lagi, janji itu diucapkan saat sedang happy, keduanya gagah dan cantik, sehat dan subur, dalam keadaan bahagia, siapa yang akan  mengira apabila kenyataannya pernikahan akan tidak semudah itu dan janji itu mungkin saja bisa longsor oleh waktu? Saat segala rintangan, masalah datang, dan pasangan kita menjadi sesulit itu untuk dicintai, apa kita akan tetap mengingat janji itu beserta maknanya? Jawabannya: Mau gak mau harus iya! 

Kadang saya berpikir apakah pernikahan semacam sebuah goal dalam hidup manusia? Karena rasanya banyak orang yang mengukur kebahagiaan dari apakah sudah berpasangan, menikah dan punya anak atau belum. Rasanya itu adalah sebuah ketentuan yang ada di masyarakat. Saya kemarin sempat mengingat semua situasi kondangan dan lalu rentetan pertanyaan pada saya: Mana nih calonnya?  Kapan nyusul? Ayo jangan lama-lama lho! Ini calonnya mana nih kok gak diajak? Yang lalu saya jawab seenak udel sambil ketawa-ketawa cekikikan.

Apa mungkin karena saya sedang tidak ngedate dengan siapa-siapa, lalu saya jadi berpikir sejujurnya menikah bukan suatu keharusan. Seseorang seharusnya boleh memilih mau menikah atau tidak. Dan jikalah seseorang memilih tidak menikah dengan pasangannya saya pun merasa itu sah-sah saja. Menikah adalah panggilan hidup menurut saya dan buat saya menikah haruslah seserius itu, jika tidak yakin ya jangan. Bukan karena diburu-buru tante-tante cerewet, orang tua, teman atau usia. Ayolah, masa kamu menikah hanya karena alasan sudah diburu-buru bukan karena itu adalah kehendak bebasmu secara sadar dan waras. Dan apabila menikah hanya untuk melegalkan sex, saya kok tidak setuju ya. Sepertinya menikah lebih dari sekedar prokreasi dan kenikmatan saja. 

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol singkat dengan seorang perempuan berusia 30 tahun, dia sudah seperti kakak sendiri. Lalu bertukar cerita tentang banyak hal hingga akhirnya sampailah pada sebuah topik, pasangan. Dia berkata bahwa  hanya ada perbedaan tipis antara loving dan using. Terkadang itu nyaru menjadi satu tanpa kita sadari. Ternyata dalam cinta, bisa saja kita digunakan oleh orang lain. Seolah pernikahan hanyalah sebuah cara untuk lepas dari semua masalah dan belenggu seseorang misalnya belenggu ekonomi. Apabila salah satu pihak merasa 'digunakan' dan tidak lagi saling bahu membahu atas nama cinta, mungkin itu sudah menjadi egois dan timpang, baiknya putus saja. Atau misalnya si pria sedemikian mengatur urusan kehidupan perempuannya tanpa memberikan sedikit ruang, tipe-tipe pria yang harus diakui bahwa dia paling benar. Atau mungkin perempuan yang sedemikian bossy ngatur ini itu pasangannya, sedemikian cerewetnya dan kalau saya bayangkan malah saya jadi merinding sendiri. 

Sebenarnya saya merasa ada sedikit rasa khawatir jikalau pernikahan bisa sedemikian mengikatnya. Lalu sedemikian singupnya namun karena sudah terlanjur menikah jadi tidak ada pilihan lain selain  menjalani komitmen. Atau mungkin saya sedemikian egoisnya untuk menyerahkan kebebasan saya pada seseorang? Seharusnya pernikahan itu bukan suatu sangkar kan? Seharusnya dua orang bisa bertumbuh berdua dan berjuang bersama, meski dunia luar kadang tidak berpihak pada kita. Hingga saya terkadang bingung sendiri bagaimana caranya kedua orang tua saya sedemikian hebatnya bisa tetap bersama dan akur meski kadang suka ngomel-ngomel padahal mereka berasal dari keluarga yang berbeda, Ibu saya Sunda dan Ayah saya Jawa. Tapi mereka bisa tetap bersama meski dengan bahasa campur aduk. 

Mungkin benar, carilah orang yang tepat. Even somehow the right person, won't make it easier. Apalagi kalau tidak tepat udah ambyar semua. Lalu orang yang tepat seperti apa? Hmmm... saya juga tidak tahu sih. Tapi mungkin saya membayangkannya begini, seseorang yang bisa diajak argumentasi, debat heboh mempertahankan pendapatnya namun tetap bisa compromise. Seseorang yang kekurangannya bisa kamu tolerir dan bisa kamu lengkapi dengan kelebihan kamu. Seseorang yang menurutmu sexy sehingga sex life pun menyenangkan. Seseorang yang bisa mengingatkan dan menegur apabila kamu salah. Seseorang yang humoris karena menertawakan hidup adalah salah satu cara mudah menjadi bahagia. Seseorang yang membuat nyaman dan ketika bersamanya bisa menjadi diri sendiri. Dan adalah seseorang yang saat kamu pandangi dari jauh lalu dalam hati kamu berkata: Anjrit, this amazing guy kok mau ya sama gue? 


No comments:

Post a Comment