26.6.16

Konspirasi Tai Kucing #11: Unlearning


Hai, sahabat! Apa kabar ya? Apakah masih ada sukacita di antara kalian semua? Ya, semoga apa pun yang sedang dihadapi dapat segera menemukan pencerahan, apabila belum menemukan saya sarankan banyak-banyaklah mandi air dingin agar otak segar kembali. Jangan malas mandi. Ini saya serius.

Lama juga ya saya tidak menulis di sini. Ya begitulah terkadang pasang surut itu ada. Namun yang terpenting adalah jangan lupa kembali. Jangan lupa pulang. Ke mana pun itu. Beberapa lama ini saya sedang refreshing dengan diri saya sendiri karena merasa keseharian benar-benar membosankan hingga akhirnya yang menarik diri sejenak dan berpikir.

Pernah tidak merasa kalau di luar diri kita banyak sekali yang bertubrukan dengan system dalam diri kita? Lalu akhirnya membutuhkan sedikit waktu untuk mengosongkan diri dan mereview ulang semua. Mengkaji ulang lagi dan menyelaraskan dengan system dalam diri masing-masing. Saya mengakui kalau saya memang agak menyebalkan karena untuk beberapa hal saya sangat saklek dan perfeksionis. Hingga jika beberapa hal tidak selaras dengan system saya, harus diperbaiki dan ditelusuri dulu hingga akhirnya bisa masuk ke logika dan pemahaman saya. Iya, saya sedemikian ribet dan rewelnya. Saya akan butuh waktu untuk berpikir dan riset sana sini. 

Hal yang menggelisahkan akhir-akhir ini adalah saat saya merasa betapa membosankannya rutinitas. Ketika tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dan menarik untuk dipelajari dan membuat penasaran. Dan saya cukup sering merasa bosan, jenuh dan selalu butuh hal-hal segar. Semacam keserakahan dan tidak pernah cepat puas. Yak, dengan sedemikian sadarnya saya mengaku. Setiap orang mempunyai parameternya masing-masing akan kepuasannya akan suatu hal. Barangkali inilah penyakit orang macam saya, lupa bersyukur. 

Menariknya dari kebosanan ini saya semakin mengenal diri saya, kalau saya ini 'mengalir'. Perasaan saya mengalir. Hidup itu mengalir. Tidak tetap. Mengingat betapa frustasinya saya ketika menyadari ada banyak hal di luar diri ini yang sudah ada sejak lama namun tidak saya ketahui. Namun untuk memulai keluar dari dalam diri sedemikian sulitnya, biasanya mungkin takut atau merasa sudah nyaman. Padahal menjadi nyaman, tidaklah nyaman sama sekali. Lalu tiba-tiba perasaan kembali menuntut untuk liburan, padahal mungkin sebenarnya yang dibutuhkan adalah liburan dari perasaan ingin liburan. 

Mungkin ya, saya ini harus belajar hal yang baru dan kembali mengosongkan gelas saya sendiri untuk siap-siap dipenuhi lagi. Banyak hal yang tidak kita ketahui dan itu menggelisahkan sekali. Saya jadi tersadar bahwa saya akan terus menerus belajar dan menjadi murid karena sungguh sedikit yang diketahui dan sebenarnya seperti yang Socrates pernah bilang: Hal yang saya tahu adalah saya tidak tahu apa-apa. Menyadari hal itu sebagai titik awal agar tidak menjadi lembam.

Proses yang sedari kemarin cocok untuk saya adalah unlearning, yakni proses menghapus, mereview, mengkaji ulang dan mempertanyakan lagi. Ini sungguh-sungguh proses yang penting dalam belajar. Kenapa? Karena tidak semua hal bisa selaras dan diperlukan kita lagi. Jikalau sudah kadaluarsa baiknya dihapus dan diganti yang baru. Seiring dengan bertumbuhnya kita, akan banyak hal yang harus ditinggalkan atau mungkin didalami lagi. Sehingga yang namanya pribahasa menjilat ludah sendiri, mungkin sudah tidak relevan. Saya rasa akan banyak pemahaman saya yang berganti dan berkembang. Ingat, kita ini mengalir dalam proses belajar. 

Dalam belajar baiknya kita banyak bertanya dan bisa menerima pandangan orang lain karena tidak ada salahnya mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan lain. Jangan takut untuk berdiskusi dan menjadi sedikit bego karena tersesat di pertanyaan. Itu akan menjadi salah apabila kita tidak cukup banyak mempertanyakan? Coba sesekali tanyakan pada diri sendiri: Am I enough questioning something? Dan pentingnya belajar bertanya dengan pertanyaan yang tepat. Itu sih. Sebab pemahaman yang sejati harus timbul dalam diri sendiri, ia tidak bisa ditanamkan oleh orang lain dan hanya wawasan yang timbul dalam diri sendirilah yang menghasilkan wawasan yang tepat. Itu kata Socrates. 

Lalu dengan sangat random kemarin saya membeli buku soal matematika SMP kelas VII karena saya bosan dan saya menyadari keterbelakangan saya akan matematika. Saya tidak suka matematika sebegitunya, namun kemarin pasti saya agak sengklek otaknya hingga dengan impulsive saya membeli buku bank soal itu. Dan kemarin teringat ada foto instagram kakak kelas saya yang keren, Syafitudina. Beliau foto sebuah quote mahakeren, begini bunyinya:

Unlearning is not forgetting. It is neither deletion, cancellation nor burning off. It is writing bolder and writing anew. It is commenting ans questioning. It is giving new footnotes to old and other narratives. It is wiping off the dust, clearing the grass and cracking off the plaster that lays above the erased. Unlearning is flipping the coin and awakening the ghost. Unlearning is looking in the mirror and seeing the world. 


Atau saya sudah sedemikian perlunya dengan bulat hati dan berani ikut program master. Ya ampun tapi universitas ini isinya orang pinter semua, heran saya orang-orang pinter ini kira-kira mereka belajarnya gimana sih? *garuk-garuk kepala*


No comments:

Post a Comment