4.6.16

Konspirasi Tai Kucing #10: Idealisme kita adalah sisa dari yang tersisa


Hai. Apa kabar? Semoga damai sejahtera selalu ada di hati dan kebaikan selalu ada padamu. Tidak terasa kita sudah melewati setengah tahun dari tahun 2016 ini. Gimana resolusi atau cita-cita sudah terwujud? Jikalau sudah selamat ya dan jikalau belum mari kita tos bareng dulu. Saya juga. Heu.
 
Pasti ada stage dalam hidup kita yang sebegini dan sebegitu perlunya untuk memperjuangkan sesuatu yang menurut kita berharga. Tantangannya banyak namun yang paling berat adalah diri sendiri. Meyakinkan bahwa kamu mampu, kamu sekuat itu dan kamu deserve to get what you want. Itu semacam PR saya yang seringnya failed berkali-kali. Sepertinya ya, saya ini rada-rada penakut dan omong doang deh, tapi apa sih yang kita harapkan kalau seandainya kita takut melulu dalam segala hal dan tidak yakin dengan kemampuan sendiri? Lalu ada lagi, saya banyak komplain inilah itulah hingga akhirnya saya merasa sudahlah mungkin memang seharusnya saya mencukupkan diri dengan ini saja. Jangan diikuti ya tidak baik untuk kesehatan! 

Setiap dari kita pasti menginginkan suatu hal dan sebenarnya kita tahu seharusnya berjalan ke arah sana dan memperjuangkannya sekuat tenaga. Namun, memang perjalanan pasti berliku dan berputar ke sana ke mari rempong muter-muter belum lagi kalau gagal. Kegagalan dan penolakkan itu biasa. Kita harus membiasakan diri dengan hal itu karena akan banyak  penolakkan dan kegagalan akan terjadi selama kita masih hidup. Kemarin ini saya baru ditolak oleh suatu hal yang saya inginkan. Padahal saya sudah yakin 100% saya pasti bisa dan inilah suatu kesempatan untuk memulai hal yang baru dan pasti lebih mudah. Namun ternyata rencana saya dan rencana Tuhan tidak sejalan. Untuk keinginan ini bisa jadi menurut Tuhan akan membuat saya manja karena bermain-main di comfort zone. Saya kecewa sih sesungguhnya. 

Kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita mau. Itu satu. Yang kedua ingatlah, jikalau kamu ditolak bukan berarti kamu tidak mampu dan tidak berkualitas namun tempat kamu bukan di sana. Dan penolakkan ini biasanya akan mengantar kamu ke jalan yang seharusnya ditempuh. Coba digali lagi sebenarnya keinginan kamu apa? Keinginan yang murni dari dalam bukan karena pertimbangan keinginan tersebut sesuai dengan comfort zone kamu. Sayang, comfort zone adalah tempat yang buruk untuk bertumbuh dan berkembang. Percaya deh!

Saya merenungi kegagalan dan penolakkan ini bagaikan godam besar tapi inilah...inilah sebuah alarm untuk saya kalau jalan saya bukan ke sana. Selesai. Lalu saya tersadar kalau ada satu hal yang terselip dan sudah lama tidak saya otak-atik karena merasa saya tidak akan mampu melakukannya karena ini sungguh-sungguh diluar batas nalar dan kemampuan saya. Pernah dengar kan sebuah quotes : If it's still in your mind, it is worth taking the risk . Jika kamu ingin sesuatu sebegitunya hingga setiap hari terus kepikiran setiap saat, seharusnya kamu berjuang untuk mendapatkannya.

Jangan takut berjuang. Jangan takut untuk kerja keras sekuat tenaga. Jangan takut menjadi ambisius. Lakukanlah bagianmu dan serahkan sisanya pada Tuhan. Dan jikalau masih gagal, lakukan terus menerus hingga Tuhan akhirnya berubah pikiran. Kadang kamu harus bergulat dengan Tuhan untuk mendapatkan apa yang kamu mau, yang kamu punya adalah upaya dan doa. Satu lagi, kita tidak bisa terus menerus lembek pada diri sendiri dan mengikuti semua keinginan hati cengeng kita. Menjadi kuat adalah pilihan terakhir yang harus diambil untuk pertanggung jawaban kita pada diri sendiri karena pada akhirnya hanya diri sendiri yang bisa menolong kita. Terdengar arogan? Ya memang, tapi di sisi lain kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Mengasihani diri sendiri sebagai korban dari hidup adalah kegagalan awal kita. Ini saya serius. Dan hal yang paling menakutkan menurut saya adalah merasa bersalah pada diri sendiri. Menyesali mengapa tidak mengupayakan sesuatu hingga akhir rasanya tidak enak.

Di sebuah teguk kopi di hari Sabtu ini, saya sedang menjaga api dalam diri saya. Jangan sampai padam. Jadilah radikal, jadilah liar, jadilah nyala itu. Suatu hari nanti kamu akan tua lalu mati. Dan adalah kesalahan terbesar jikalau kamu mengetahui suatu hari kamu akan mati tapi tidak bisa benar-benar hidup. Aroma kerja keras, tangis dan keringat sudah kita hafal, kenapa harus ditiadakan? Idealisme kita ini adalah sisa dari yang tersisa. Kadang terasa perih dan sewaktu-waktu menyakitkan. Tapi kadang alasan manusia mencintai karena ada rasa sakit itu sendiri kan? Pesan saya hanya satu: Kejar dan jangan menyerah kalah, masih ada sisa darah di nadi yang belum mengering.    



Clean Bandit- Stronger

And I think I don't really get it
I think it's all just a peculiar game
And soon I'll wake up and I'll forget it
And everyone will know me by a different name

I wanted to be stronger!

No comments:

Post a Comment