21.5.16

Sebuah Aphrodisiac


Terbangun di satu sisi tempat tidur. Serta merta membutuhkan kehangatan hingga mencari selimut yang terjatuh di mana entah, kedua pucuk payudara yang mengeras kedinginan, kaca mata yang masih bersandar di hidung dan buku yang tergeletak di samping badan. Semalam tertidur dengan lampu menyala dan kembali bermimpi meniduri laut, menciumi tengkuknya dengan bibir berpasir, membelai lekuk punggung ombaknya dan mengecup sepi di matanya. Tiada lagi yang dibutuhkan, ketika sejumlah puisi wangi runtuh dingin di sudut kamar dan aksara sia-sia tentang cinta yang tidak lagi dipertanyakan. Mengawini laut tanpa ketakutan dan mencintai menjadi sebebas-bebasnya. Bukankah itu yang kita butuhkan?

Hiruk pikuk di sebuah kota yang bising, menyusuri jalan dengan lampu yang kekuningan dan bunyi klakson kendaraan yang memekakkan telinga. Pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung usai dan kecemasan di setiap kening orang yang dijumpai. Mungkin kita manusia hanya bisa sedikit-sedikit cemas lalu menelusup di malam hari mencari tuhan, entah dengan wujud t kecil atau T besar. Kesendirian yang tidak sebegitu menakutkan karena masih mengalun lagu Tiny Dancer-nya Elton John dari kejauhan "Hold me closer tiny dancer, counts the headlights on the highway, lay me down in the sheets of linen, you had a busy day today." 

Perempuan yang menulis pukul setengah empat pagi tidak akan mampu lagi menyangkal ritualnya yang diam-diam dicintai dan dinikmati. Pagi yang awal tanpa riuh: ayam berkokok, bayi yang menangis minta susu, bunyi air yang gemericik, wangi masakan di dapur, cengkrama singkat dan ketergesaan yang lompat meminta perhatian. Semuanya dijalani pelan-pelan-lalu-detik---mengalir---lambat----lambat---sekali.

Menyibukkan diri dengan tuts-tuts keyboard yang berbunyi tik-tik-tik-tik dan suara diri sendiri yang menggaung di kepala. Meyakini akan tiba saatnya seseorang yang sungguh mengerti ritual singkatnya tanpa banyak bicara dan si perempuan akan memandanginya sesekali ketika ia sedang tertidur lalu akhirnya mengecup keningnya, meski si laki-laki tidak terbangun dan menyadarinya. Ketika menelusup jemari di tubuh laki-laki itu adalah kenyamanan itu sendiri dan memeluknya menjadi energi ratusan watt untuk menjalani hari. Dan laki-laki itu kini belum datang, belum datang. 

Apakah akan ada seseorang yang sedemikian lelahnya mencari dan lalu berhenti mencari hingga akhirnya duduk di sisi perempuan karena sudah merasa cukup? Karena si perempuan sudah lelah mencari dan tidak membutuhkan pertemuan mubazir yang hanya mengunci ketertarikan dari pandangan mata dan tubuh saja, ia sudah selesai membicarakan tubuh. Ketika ciuman-ciuman sudah selesai di malam yang lampau dan tidak lagi menjadi hangat lalu. Pengalaman seketika menjadi guru killer yang mencoret seluruh kertas ulangan matematikanya dengan tinta merah dan melingkari semua jawabannya yang salah. Perhitunganmu salah, Perempuan! Logikamu amburadul, Perempuan! Dan si perempuan tahu dia bukan seseorang yang dianugerahi otak secemerlang itu hingga terus menerus penasaran dan bertanya menjadi keahliannya.

Apakah masih ada seseorang yang sudah usai dengan kesombongan alpha male-nya yang harus memenangkan segala hal dari si perempuan termasuk sedikit nalar dan otaknya? Lalu akhirnya mencintai bukan alasan sebuah karena namun diri itu sendiri. Lalu ketika ciuman-ciuman gairah selesai, kecupan di tengkuk sudah luruh, pelukan tidak lagi diketatkan dan persenggamaan sudah membosankan. Apalagi yang tersisa? Percakapan-percakapan yang lahir dari cerebrum, otak besar kita. 

Mungkinkah ada seseorang yang sederhana saja, biasa saja, dengan segala penziarahan hidupnya, duduk di sini sejajar. Di samping. Tidak duduk di depan dan tidak di belakang. Berbagi sedih dan tawa di ujung hari, membicarakan hal-hal yang sederhana namun tidak sesederhana itu, bergandengan tangan lalu sesekali berpandangan tersenyum, mengetatkan peluk dari jarak dan mengakhiri segala tanya yang tidak perlu. Dan memulai. Karena rasanya si perempuan tidak seromantis itu untuk segala banyak tetek bengek sia-sia candle light dinner yang canggung, hadiah-hadiah berkilau dan bouquet mawar. 

Hadirilah dengan realitas dan mimpi yang getir karena cuka asam sudah biasa di mulutnya, pemandangan kota yang biasa saja, tukang soto ceker di pinggiran jalan, temaram lampu kota, kedai kopi kecil, pasar, atau perpustakaan yang penuh buku lalu pemikiran-pemikiran yang menjadi keingintauan untuk dijelajahi dan dipertanyakan. 

Adakah seseorang yang sedemikian bisa diajak bercakap-cakap tanpa ada prasangka dan meyakinkan diri bahwa dia paling benar dan pintar? Dan adakah seseorang yang mampu menawarkan si perempuan aphrodisiac yang memberikan getaran pertama pada sanggurdinya akan pembicaraan panjang tentang: Tuhan, manusia, mimpi. manifestasi cinta, berita-berita yang berkoar-koar di tivi lalu menertawakannya, artikel panjang tentang nalar ketuhanan dan keyakinan yang banal, kapitalisme yang tentu akan berbicara tentang Karl Marx dengan: 'Derita termasuk kenikmatan manusia', berbicara tentang humanisme, berbicara tentang idealisme, berbicara tentang filsafat yang tidak kunjung dimengerti namun dinikmati dengan sisa-sisa otak si perempuan. Dan jikalau sudah selesai marilah kita berbicara tentang hidup. 

Hingga akhirnya mengerti, bahwa si perempuan membutuhkan laki-laki yang bisa bersenggama dengan pikirannya. Sebuah aphrodisiac


Serpong, 2016

gadispayungkuning



No comments:

Post a Comment