Konspirasi Tai Kucing #6: Mesin Memandikan Anak


Sabtu dan Minggu ini Ibu sedang ada dinas luar sehingga akhirnya sayalah yang bertanggung jawab atas Abhimanyu adik saya yang paling kecil berumur lima tahun. Abhi atau Manyu, demikian kita memanggilnya. Biasanya saya sih memanggil dia Abhimanyu selengkap-lengkapnya, secara nama Abhimanyu adalah saya yang memberikannya. Tadinya saya ingin punya anak bernama Abhimanyu, namun berhubung itu masih membutuhkan waktu, akhirnya sudahlah saya relakan. Jadi nama anak saya kelak anonim gitu. Enggak deng haha. 

Abhimanyu bukan anak yang rewel atau bandel, masih dalam taraf wajar, makan juga mudah tidak sulit, pada intinya masih tergolong mudah diatur. Namun Abhimanyu ini cukup sensitif dan perasa, jadi kadang kalau ditegur alhasil doi mutung. Dia tipe-tipe anak bungsu yang semua harus dipenuhi sesuai keinginannya, mungkin karena masih kecil juga kali ya. Ngobrol seharian dengan Abhimanyu hari ini sangat menyenangkan karena pada umur-umur segini mereka sedang eksplor tanya ini itu hingga kadang saya bingung mau jawab apa. Pernah suatu hari saat sedang saya mandikan Abhimanyu, dia bertanya: 'Kapankah the end of the world itu, Kak? Apakah nanti yang akan datang adalah Tuhan Yesus palsu atau asli? Apakah iblis akan datang dan bunuh orang jahat? Nanti the end of the world-nya akan tiba di rumah kita atau di rumah Apin (tetangga)?' Ya, itulah Abhimanyu dengan begitu banyak pertanyaan. Saya mau menjelaskan dari awal pun bingung sendiri akhirnya saya jawab: Kamu tanya Ibu aja deh ya, Bhi. 

Untuk seusia Abhimanyu ini, sedang masa-masa aktifnya loncat ke sana ke mari sehingga dia pasti gembrobyos keringetan. Alhasil tentu saya harus saya mandikan berulang-ulang kali. Sampai saya berpikir, harusnya peneliti-peneliti itu buat mesin memandikan anak, karena itu juga penting, Toh mesin cuci sudah ada, mesin cuci piring ada, mesin cuci mobil juga ada, masa mesin cuci anak tidak ada? Itu pasti akan dibeli ramai-ramai oleh ibu-ibu praktis.

Saya jadi sedikit berefleksi, ternyata menjadi ibu bukan pekerjaan praktis. Itu akan menjadi pekerjaan rempong hingga akhir hayat bahkan ketika anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tetap hubungan orang tua dan anak adalah hubungan sampai akhir hayat dan sudah dijodohkan oleh Tuhan. Anak adalah titipan, begitu pula orang tua adalah titipan pada anak. Hingga terkadang sebagai anak, saya pun jadi tersadar kalau saya semakin dewasa dan orang tua kita pun semakin tua. Lalu nanti giliran kita yang menjadi orang tua, jika memang terpanggil dan mampu. 

Kadang saya terpikir juga, ada beberapa teman saya yang seumuran saya sudah punya anak. Lalu saya melihat diri saya sendiri lagi, asli saya saja masih pecicilan belum siap punya anak. Memang itu urusan siap atau tidak siap dan mau atau tidak sih. Mungkin untuk saat ini saya belum sanggup untuk punya anak, bahkan minggu kemarin saya beberapa kali mimpi hamil dan melahirkan, saya degdegan setengah mati. Jelas saya belum siap. Mempunyai anak di zaman ini, pelik, harga kebutuhan pokok makin tinggi, gaji naik hanya sesekali kalau dipikir akal sehat sukar dipahami. Tapi mungkin ya, perpanjangan tangan Tuhan pasti menyertai. Mungkin demikian, tidak tahu deh saya. 

Saya ingin menjadi seorang ibu suatu hari nanti, apabila memang sudah siap mental dan mapan materi. Tapi kayaknya sekarang mending cari cumbuan hatinya dulu aja gimana?


***

Menyadari bahwa menggodok jamu itu perlu ramuan yang tepat, mungkin begitu juga dengan menulis. Konspirasi Tai Kucing yang awalnya tidak seserius itu harus diseriusin karena menyadari saya macam karet kolor yang mudah kendor. Sudah begitu saya bosenan kalau tidak ada yang buat penasaran dan menantang. Hingga saya tadi sambil mandi ngomong sendiri dan memutuskan untuk menulis Konspirasi Tai Kucing ini setiap hari Selasa, Jumat dan Minggu. Eh Rabu dan Jumat saja deh ya. Saya butuh proyek pribadi ini sebagai bentuk penyaringan agar mendapat santan eh maksud saya ide yang segar. Lebih memperhatikan hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana itu. Gila lah, sudah pasti saya harus muter otak sampai beleleran otaknya. Tapi ya gimana dong harus dimulai dari kecil-kecil dulu untuk mempersiapkan yang besar bukan? Doakan saya ya! 



Comments

Popular Posts