18.5.16

Konspirasi Tai Kucing #6: Hidup Seperti Minggu Sore


Saya sedang sedikit canggung untuk menulis karena rasanya hari ini bukan hari yang tepat untuk menulis karena mood saya sedang tidak untuk itu. Namun saya ingat kalau saya janji mau sok-sok serius menulis rutin yang tadinya mau hari Selasa, Jumat dan Minggu saya sunat seenak hati menjadi Rabu dan Jumat karena saya merasa berat. Gila. Lalu sekarang saya menemukan diri saya tidak dalam kondisi sebegitu bergairahnya untuk menulis karena banyak rasa-rasa yang seharusnya tidak dirasa-rasa, semelankolis itu. Kan saya jadi malu kalau saya menulis layaknya orang curhat. Tapi sudahlah, saya sudah rela ditelanjangi dan berbagi perasaan, mengingat pasti yang membaca blog saya adalah kalian yang 'dekat' di hati baik sahabat atau orang tidak saya kenal namun memiliki kembaran rasa. Hai!

Saya sangat ingin memulai tulisan ini dengan keceriaan yang sama seperti tulisan sebelumnya namun nyatanya saya sedang tidak seceria biasanya hari ini. Manusiawi sekali saya rasa ketika seseorang bersedih akan sesuatu dan bersuka ria akan sesuatu. Mungkin porsinya saja harus seimbang dan bersedia untuk bisa kembali ke titik nol. Zero, seperti di zen. 

Pagi ini saya mendapat kabar bahwa Om saya, kakaknya ayah saya, sebut saja Pak Harto, ternyata menderita sakit kanker paru-paru stadium empat, setelah selama ini didiagnosa sakit jantung. Lalu saya jadi kepikiran seharian. Kami tidak sedekat itu memang, namun mengingat dia adalah sosok yang lucu, jenaka, ceria dan rupawan lalu harus terbaring sakit cukup berat, rasanya kok tidak cocok ya? Meski saya tahu sakit kanker paru-paru itu bukan masalah cocok atau tidak cocok. Mungkin karena beliau adalah perokok yang cukup aktif, namun setelah saya pikir-pikir lagi rasanya banyak perokok aktif yang tidak sakit juga, ya rokok salah satu faktor pemicu juga tapi bukan inti. Duh pokoknya saya tidak tahu. Saya hanya berdoa semoga semua baik-baik saja sesuai dengan rencana Allah. Sudah. 

Kalian tahu kan, apabila memulai hari dengan suatu perasaan negatif maka rasanya semua energi negatif jadi ikutan merasa diundang, nah itu yang terjadi hari ini. Rasanya saya seperti membawa satu kaca pembesar dan men-zoom-in semua pandangan saya, sehingga melihat semua serba detail. Ada baiknya hingga akhirnya saya aware dengan keadaan sekitar, namun akhirnya saya jadi kewalahan karena capek semua terlihat buruk. Kembali lagi ini masalah jarak pandang dan cara memandang sih, ya ya saya tahu. Saya serta merta menyadari beberapa hal yang sengaja tidak saya kulik lebih dalam karena takut. Padahal bukankah ketakutan itu seharusnya semakin didekati hingga semua jelas sebenarnya apa yang membuat takut? Saya sedikit tersentak kaget dengan keadaan kalau saya sudah tidak lagi bertumbuh karena merasa inilah comfort zone saya. Padahal setelah saya telaah, comfort zone ini bukanlah kenyamanan yang sedemikian nyamannya bagai rahim Ibu namun segala hal yang sudah saya kenal dan familiar saja. Ketakutan-ketakutan saya akan perubahan karena harus beradaptasi lagi dan pasti harus belajar dari awal lagi. Kenyamanan yang kita kira nyaman namun sebenarnya ini hanyalah persoalan terbiasa dan kebiasaan. Saya tidak tahu sih dengan pemikiran ini apakah saya menjadi tidak bersyukur?

Hal kedua adalah saya sedang dalam stage berusaha melihat segalanya realistis namun pandangan saya malah bias, kabur dan tidak lagi menemukan garis pemisah tipis antara realita dan mimpi. Seperti berlari-lari menuju mimpi namun realitanya harus sedemikian adanya, hingga agar tetap waras saya harus menjaga diri agar tetap realistis. Duh saya tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya dengan mudah. Mungkin begini momennya ketika saya berkata pada diri saya: “Anjing, mamam deh tuh mimpi!” 

Kata orang, kenikmatan terakhir yang dimiliki oleh anak muda adalah idealisme, lalu serta merta saya merasa pahit sendiri karena idealisme itu hanya akan menjadi 'ideal' saja tanpa bisa kita raih, mungkin hanya mendekati. Kemarin tiba-tiba saya tersadar dari seorang teman yang sedang bekerja di Taiwan bahwa dia pun memiliki pergulatan sendiri yang kurang lebih tidak jauh beda. Mungkinkah usia-usia saya ini adalah usia berdarah-darah menyelaraskan idealisme dan realitas? Karena itu sungguh bertolak belakang dan saya tidak tahu bagaimana mendamaikan keduanya dalam diri saya. Pergolakan yang pasti dimiliki karena ada masanya menjadi sedemikian riuhnya pertanyaan kita dan harus disederhanakan dengan berpikir setuntas-tuntasnya. Lalu datanglah sebuah pencerahan di suatu garis waktu tertentu, entah datangnya terlambat, lebih awal atau malah tidak sama sekali dan memulai suatu perubahan adalah kesulitan yang nyata. Di setiap mimpi pasti ada rasa-rasa tolol karena merasakan aliran penggerak yang tak disangka-sangka hingga akhirnya yang terbaik adalah mengikuti arusnya dan menjalani jalan-jalan yang sudah ditetapkan.

Hari ini saya menemukan sebuah ayat kecil Yakobus 4:14b-15, begini bunyinya: Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

Sedikit bengong karena menemukan ayat ajaib ini, kok bisa sekebetulan itu. Mungkin ini bukan kebetulan tapi wahyu. Tsah. Uap itu sesuatu yang bisa dilihat namun cepat menghilang juga. Lalu hidup disamakan dengan uap yang bisa hilang cepat hingga semua kembali lagi pada Tuhan. Aduh kepala saya pening sekali. Dalam hidup ini banyak sekali yang tidak bertahan lama, kita tahu itu. Lalu bisa saja seseorang merasa bahagia dengan hanya mendapatkan sedikit dari hidup karena sudah merasa terbiasa dan takut keluar dari zona nyaman. Entah itu bersyukur dengan keadaan atau semata-mata bodoh saja. Bukankah Tuhan juga menginginkan kita bahagia dan menjadi penuh dalam hidup? Entahlah. Saya tidak bisa membedakannya.

Lalu kata penulis favorite saya Paulo Coelho, melepaskan mimpi adalah kedamaian. Hidup seperti Minggu sore, ketika kita tidak menginginkan sesuatu yang luar biasa. Saat itu kita merasa inilah menjadi dewasa meninggalkan impian masa muda dan mengejar pencapaian pribadi dan profesional. Kita sudah merasa cukup meski di nurani kita telah menyerah pada impian kita. Lalu impian malah mati dan merusak jiwa dan hanya kematian yang dapat membebaskan kita dari segalanya, mendamaikan segalanya. Hingga sebenarnya yang membunuh mimpi kita adalah diri kita sendiri yang takut berjuang sekuat tenaga. Seperti Minggu sore, suasana tenang nyaman namun besok pada akhirnya harus terus berjuang. Keindahan yang terselubung dan jangan kira perjuangan bukanlah sebuah keindahan. 

Baiknya saya catat dan saya ingat baik-baik bahwa: Janganlah berhenti bermimpi. Dan berjuanglah untuk mendapatkannya karena itu adalah upaya mengasihi diri sendiri. Dan baiknya juga besok saya ke kantor pakai sedikit make up dan eyeliner karena mata saya sudah sembab luar biasa.

No comments:

Post a Comment