Konspirasi Tai Kucing #5: Apakah Cinta Bisa Habis?


Tulisan yang ditulis bukan karena sudah nonton AADC2 karena saya belum ingin nonton,  sepertinya masih ramai sekali jadi memilih nanti saja. Mungkin sudah masuk geng oma-oma yang tidak suka keramaian.  Jadi saya mau menikmatinya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Beberapa waktu lalu saya melihat ada satu pasangan unyu sweet memasang video. Lalu saya merasa sepertinya saya beneran sudah oma-oma karena merasa video itu harusnya tidak untuk dipublikasi. Atau saya jadi curiga saya kelamaan sendiri jadi rewel. Tapi sebenarnya menurut saya tetap video itu sebenarnya adalah koleksi pribadi karena dengan melihatnya saya jadi mules. Lalu saya berpikir mungkinkah karena mereka sedang kasmaran hingga mabuk kepayang hingga akhirnya demikian? Hingga akhirnya lupa ada beberapa yang sebenarnya adalah sesuatu yang intimate untuk dinikmati berdua saja karena pasti lebih enak. Ataukah kita sudah masuk zaman semua orang harus tahu hingga urusan daleman sekalipun? Ataukah sepenting itukah harga aktualisasi seseorang dan kebutuhan seseorang untuk diakui? Ya, itu juga benar. Saya dan kamu pasti membutuhkaan rasa diakui oleh orang lain kan?

Namun keresahan saya bukan itu, melihat pasangan itu sedemikian sweet dan manisnya saya jadi gelisah sendiri bagaimana jikalau cinta itu sudah habis? Berakhir sudahkah video dan foto itu jadi artefak di internet? Ataukah saya yang sedang terlalu sinis dengan cinta? Mungkin iya. Sesungguhnya saya sedang berpikir realistis kalau saya merasa cinta akan habis. Selesai. Demikian. Bye. Karena saya merasa kerap kali cinta saya habis karena bosan, karena tidak tahu harus bagaimana memeliharanya dengan baik dan saya pun khawatir dia pun pasti bosan setengah mati dengan saya. Hingga akhirnya kita menyerah dan selesai. Cinta sudah selesai mari kita bebenah dan berakhir dengan hati yang kosong tak berisi. Jikalau misalnya definisi kebahagiaan berakhir dengan jatuh cinta dan menemukan pasangan yang pas, rasanya kita menyempitkan definisi bahagia itu sendiri. Jikalau misalnya dengan menemukan laki-laki yang pas sebagai tujuan akhir, saya rasa pasti saya akan nelangsa. Saya yakin sebenarnya hidup kita ini tidak hanya untuk menikah dan berkeluarga saja kan? Lebih dari itu. Itu hanya diantaranya.

Kembali lagi ke pertanyaan saya, apakah itu hanya menjadi ketakutan saya saja jikalau cinta itu akan habis dan pudar pada akhirnya dan berakhir dengan komitmen saja. Menjalani sesuatu karena saya sudah komit untuk menjalani ini. Saya rasa jikalau dijalani tidak dengan cinta dan hanya komit saja, yang ada saya pasti koit. Coba deh bayangkan, ketika kecantikan, ketampanan,kemudaan, kegairahan, keseksian, kecerdasan, kepintaran, keperkasaan itu sudah lenyap begitu saja dan lalu apabila seandainya dua pasangan ini saling jatuh cinta karena alasan di atas, akan habiskah cinta? Apakah cinta masih akan ada di sana? Namun bagaimana mekanismenya bisa tetap ada? Pernah saya membaca tentang tingkatan cinta yakni eros, philia dan yang tertinggi agape. Cinta eros adalah cinta yang menginginkan, philia adalah cinta pada teman, saudara, sahabat dan cinta agape adalah cinta tak bersyarat. Cinta pada kekasih dimulai dari cinta eros yang saling menginginkan dan cinta itu seharusnya makin bertumbuh menjadi cinta agape, tak bersyarat.

Gila, saya tahu saya teoritis sekali dan sudah mulai nyebelin. Namun jika benar tidak ada mekanismenya dengan dalih  cinta itu ‘mengalami’, berarti sekarang salah sayalah yang belum genap mencintai. Saya masih mencintai dengan karena. Karena dia pintar, karena dia seniman, karena dia kumisan, karena dia menawan, karena dia seksi, karena, karena, karena. Saya kini merasa tiba-tiba kata-kata saya menguap di udara apabila mendefinisikan cinta itu sendiri. Seperti tukang jualan obat di pasar yang teriak-teriak obat ini paling manjur bla bla bla. Apakah selama ini tolak ukur saya mencintai seseorang bukan karena dia namun karena embel-embel dia di belakangnya. Bahwa yang saya cintai adalah pelengkapnya bukan jiwanya hingga saya seringkali bosan lalu habis cinta saya.

Rasanya saya tolol sekali ya dan mencintai dengan tulus-tulus saja adalah kesulitan kedua setelah tantangan menjilat sikut sendiri. Bukan berarti tidak bisa, itu bisa dengan catatan diperlukan hati yang tiada duanya untuk menerima. Menerima dan berpasrah mengikuti. Semoga kelak jikalau memutuskan untuk menikah dengan seseorang bukan karena embel-embel tetek bengek namun karena jiwanya dan semoga menjalani pernikahan bukan karena komitmen saja namun ada cinta kasih di dalamnya.

Duh setelah saya pikir-pikir betapa  saya ini cupu karena tidak berenang ke tempat dalam namun hanya main di pinggiran takut tenggelam. Sebegitu egoisnya saya di cinta-cinta lama namun ternyata menyadarkan kesalahan. Lalu tersadar dan merasa tolol sendiri. Baiknya sih sadar, daripada tidak. Karena akan ada cinta baru entah kapan. Ya kan?

Comments

  1. Wah analogi yang baik ka :) cinta punya interpretasi yang berbeda-beda bagi setiap kita.

    Btw ini Canty ka yg di writing table hr minggu. Selamat berkarya, kita, ka.

    Http://kisahsajak.tumblr.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Canty :)) terima kasih sudah blogwalking, karyamu juga bagus dan menyentuh sekali. Akan dikunjungi sering-sering!! Ayo berkarya ya! Nyalakan apinya!

      Delete

Post a Comment

Popular Posts