28.5.16

Konspirasi Tai Kucing #8: Pilek di akhir pekan dan selipan pikiran


Saya pikir saya akan menyimpan sedikit rasa kecewa karena belum bisa kunjung menetap di Bandung, kota kelahiran saya yang romantis itu. Mimpi untuk bisa tinggal di sana, bekerja, punya rumah, menikah, kawin, beranak dan duduk-duduk di terasnya yang adem saat sudah lansia rasanya harus dikunci dalam-dalam karena ketidakberjodohan saya dengan kota Bandung. Mungkin Aga, adik saya lebih berjodoh dengan Bandung. Saya pikir saya akan kecewa, ternyata tidak. Mungkin pada akhirnya BSD sudah menjadi saksi mata sedari kecil saya bertumbuh dan sudahlah, biarkan kota Bandung menjadi tempat yang romantis dan sendu-sendu hujan enak berpelukan di sepanjang ingatan saya dan sebagai kota di mana ari-ari saya ditanam. Saya harus mencari pengembaraan makna sendiri di sini. Sayang, kita tidak akan pernah tahu untuk apa kita di sini kan? Namun ternyata dengan menjalani hari ke hari pun rasanya saya sudah senang sendiri dan lalu menjumpai akhir pekan lagi meski pada akhirnya saya menjadi manusia penunggu hari Sabtu-Minggu. Kita semua ini sedang menunggu, meski menunggu hal yang berbeda-beda. Lalu kita semua harus bersabar dan bersabar. 

Semenjak kemarin saya rasanya nge-fly terus-terusan karena minum obat pilek dan radang tenggorokan namun malah membuat saya jadi manusia beler seharian. Hidung mampet, meriang dan panas tubuh yang semelenget. Akhirnya sepulang kantor saya ketiduran hingga pagi menjadi suatu harga yang tidak bisa saya tawar-tawar karena tubuh saya sedemikian remuk redamnya, barangkali. Ada masanya memang sebuah siklus pilek berulang agar mengingatkan saya jangan kebanyakan minum es atau kecapekkan sana sini. Etos kerja yang harus dimiliki setiap harinya agar setidaknya dianggap orang genah sedikit saja lalu menyembunyikan serangkaian alter ego. Saya rasa tidak apa-apa demikian karena realitasnya terkadang kita harus sedikit berpikir menjadi mereka si penanam modal dan lalu berjuang sendiri untuk hidup yang menghidupi. Maafkanlah saya, yang kian realistis setiap harinya dan mungkin bisa menyakiti hati kalian karena saya jadi menyadari untuk membangun rumah di dunia harus menggunakan batu, fondasi yang kuat. Dan untuk menuju ke sana saya harus jadi serombongan kelas pekerja nguli terlebih dahulu. Bekerja adalah ibadah, kamu ingat kan? Sampai di sini saya jadi semakin mengenal diri saya, kalau ternyata endurance saya terhadap rasa sakit, ketidaknyamanan dan kecewa bisa setinggi itu. Lalu saya jadi merasa itu adalah kekuatan saya. Kelemahan-kelemahan picisan yang kelewat sensitif hingga banyak perasaan atau saya yang memperhatikan kelewat detail hingga sampai detik ini menyadari itu tidak bisa di-uninstall atau merestorasinya kembali. Manusia terdiri dari serangkaian pengalaman, kemampuan dari otak reptilnya untuk terus bisa survive dan lalu menariknya ya, output pada setiap manusia bisa berbeda-beda. Mungkin ini yang membuat Tuhan asyik melihat dari atas. 

Tidak tahu, saya rasanya tidak bisa berpikir melampaui apabila bicara  Tuhan karena pada akhirnya saya hanya mampu menulis Tuhan, itu pun sifatnya fluktuatif, tidak mantap. Mungkin Tuhan itu seistimewa itu ya hingga saya tidak habis-habis menuliskannya dan menyangsikannya. Saya kadang merasa konyol sendiri karena saya sedemikian penasarannya dengan Sang Pencipta dan ini mungkin karena manusia juga adalah maha pencipta sehingga ada kebutuhan dalam diri saya untuk menyelami Dia yang terlalu dalam lalu akhirnya saya berakhir dengan mentok dan berpikir sendiri siapalah saya. Akhir-akhir ini saya sedang sok-sok serius mencari-cari jawaban yang tidak saya membuat saya menyimpulkan ini dan itu, begini ada beberapa orang yang meniadakan Tuhan dan ada yang percaya Tuhan itu ada. Dengan berbagai teori di antara keduanya dan berbagai pertanyaan dan fakta yang dijabarkan, namun tetap Tuhan tidak terdefinisi. Tidak ada yang bisa menjelaskan kalau Tuhan itu tidak ada dan tidak ada juga yang bisa menjelaskan dengan fakta keberadaan Tuhan. Seberapa istimewanya Dia hingga keberadaan-Nya pun tidak diketahui namun tidak membuat Dia menjadi ada dan tidak membuat Dia menjadi tidak ada. Ini konspirasi macam apa pula?

Saya akhirnya tidak tahu lagi mau cari ke mana dan menyudahi sejenak kalau keberadaan Dia tidak karena ada yang percaya dan tidak. Keberadannya tidak melalui batas-batasan jikalau seseorang tidak percaya, lalu Tuhan menjadi tidak ada dan sebaliknya jikalau seseorang percaya maka Dia jadi nyata. Dia sesungguhnya mungkin sedemikian rumitnya. Lalu kenapa saya percaya Tuhan ya? Mungkin karena saya merasa pada dasarnya manusia mendambakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri tempat dia bergantung, mungkin sebagian orang menyebutnya Semesta. Tapi kalau saya, mengimaninya Tuhan. Saya jadi gemas sendiri. Kebenaran-kebenaran yang kita anut juga tidak valid 100% benar karena kebenaran itu ideal dan sesuatu yang ideal belum tentu nyata. Kebenaran kita ini  sesungguhnya hanya didefinisikan dari ciri-ciri abstrak bukan quintessentially truth. Hingga tidak bisa dikatakan valid.

Seperti misalnya kita mengajarkan seorang anak menggambar lingkaran, kita akan memberikan banyak cara misal pakai jangka, meniru benda bulat, menggambar lewat kertas yang sudah ada titik-titiknya dan lalu memberikan ciri-ciri lingkaran seperti apa, hitungannya bagaimana dan sebagainya. Lalu anak ini buatlah lingkaran, sama-sama lingkaran bulat, sesuai dengan ciri-ciri lingkaran dan hitungan juga sama namun perbedaannya adalah itu belum  quintessentially truth karena hanya sesuai ciri-ciri abstrak lingkaran. Demikian juga dengan kebenaran dan keyakinan.

Sebenar-benarnya hingga saya sampai pada pemikiran, ada baiknya kita tidak terlalu sehitam-putih itu karena kita jadi abai dengan segala hal. Dan lalu meneriak-neriakkan kebenaran yang diyakininya sebagai ungkapan meyakinkan diri sendiri versi berisik. Mungkin kupingnya sudah terlampau budeg sehingga harus meneriakkan ke sana ke mari agar kuping dia juga ikut mendengar. Dan memang baiknya kebenaran dan keyakinan dimulai dari penghayatan spiritual masing-masing individu bukan koar-koar yang tak perlu.

Kira-kira sampai di sini dulu meski banyak kealpaan logika di sana sini. Dan kayaknya pilek ini sungguh butuh istirahat di sebuah akhir pekan. Selamat berakhir pekan, jaga kesehatan ya!


25.5.16

Konspirasi Tai Kucing #7: Karena saya perempuan dan tubuh sering diperbincangkan


Pagi ini saya tergesa-gesa berangkat ke kantor hingga tidak menyadari ternyata kuku jempol kaki saya berdarah-darah. Sepertinya saya tidak sengaja menendang kursi meja makan, saya terkaget-kaget dan ngeri sendiri melihat darahnya. Awalnya tidak sakit, namun setelah melihat darah mengalir segar saya baru berasa pedih. Sambil mengobati jempol kaki saya dan membersihkan darahnya, saya jadi berpikir apa jangan-jangan sebenarnya ada banyak pedih yang sebenarnya kita rasa namun tidak kita rasa-rasa karena itu tersembunyi, kasat mata? Lalu setelah menyadari ada luka di sana, sensor rasa panik dan sakit baru menyeruak keluar hingga berjengit sesaat dan buru-buru mengobati. Pentingnya kesadaran dan membuka indera lebar-lebar pada setiap peristiwa, agar bisa diperbaiki dan diobati.

Mengingat kemarin malam saya marah-marah dan panas sendiri karena membaca tweet seorang Bapak yang sedang kultwit penyebab pemerkosaan adalah berpakaian sexy serta berbagai rentetan argumen sexist yang dia punya. Ih sebal sekali rasanya hingga yang tadinya Twitter saya gembok untuk privasi, pada akhirnya saya buka lagi karena saya mau komen ke Bapak-bapak itu, tapi rasanya sih tidak dibaca. Ya sudahlah, belum saatnya saya dan Bapak itu berkenalan. Eh tapi saya akhirnya unfollow Bapak itu demi tidur-tidur nyenyak saya di hari depan. 

Kemarin saya jadi berpikir sebegitu istimewakah tubuh perempuan hingga akhirnya kepemilikan tubuh pun akhirnya harus diambil alih? Hak atas memiliki tubuh yang didogma serentetan hukum dan norma. Seolah tubuh perempuan ini salah dan menyebabkan hilangnya akal sehat laki-laki. Saya sebenarnya gemas sekali dengan pemikiran 'perempuan harus menjaga' apapun yang ada di dirinya. Aduh, bahkan bagaimana isi otak laki-laki pun harus kita jaga? Oke saya paham jikalau laki-laki itu visual dan memiliki alat kelamin yang mudah terangsang, lalu apakah kiranya itu juga harus dijaga oleh perempuan? Saya sendiri percaya bahwa laki-laki memiliki pertahanan sendiri untuk bisa tetap mengutamakan akal budinya dari pada penisnya. Tidakkah ingat bahwa manusia diciptakan dengan akal budi dan perasaan. Lalu ini menjadi timpang ketika laki-laki merasa memiliki kuasa atas perempuan, bahwa itu sah-sah saja. Dan yang paling mengagetkan adalah ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran seperti Bapak di Twitter itu. Duh semakinlah saya tepok jidat berkali-kali.

Mengapa saya sebegitu responsif dengan issue perempuan ini? Karena saya perempuan dan itu adalah tubuh saya. Itu adalah bibir saya, itu adalah rambut saya, itu adalah leher saya, itu adalah tangan saya, itu adalah payudara saya, itu adalah perut saya, itu adalah pinggang saya, itu adalah pinggul saya, itu adalah paha saya, itu adalah kaki saya dan itu adalah vagina saya. Mengapa saya tidak punya hak atas itu semua yang ada di diri saya? Saya tidak paham. Saat saya remaja, saya diberi tahu bahwa tubuh saya ini harus dijaga karena bisa saja 'mengundang', saat itu saya tidak tahu artinya. Sampai akhirnya saya berjalan sendirian dan sekelompok anak laki-laki tidak dikenal berseloroh nakal tentang tubuh saya. Hingga ada satu masa saya sebal setengah mati menjadi perempuan, terlebih karena payudara saya yang bertumbuh, dengan pantat saya yang semakin berbentuk, dengan rambut saya yang ikal dan tubuh saya yang semakin feminin. Saya dulu merasa ini salah tubuh saya yang menggoda mereka, pasti demikian. Sejak itu saya menjadi paham akan keberadaan tubuh perempuan di society. Sedari kecil anak perempuan diajarkan untuk menjaga, duduk rapat-rapat, baju tidak menggoda, perilaku santun dan satu lagi jangan jadi manusia seksual. Perempuan tidak diajarkan untuk menjadi penasaran atas tubuhnya hingga sedari kecil ketika tiba-tiba tanpa sadar bermain dengan alat kelamin sendiri, diberi tahu eits.... jangan! Ya kita tahu kenapa banyak perempuan tidak tahu tubuhnya sendiri dan akhirnya sulit orgasme ya kan? Setiap inchi tubuh kita ini seksual dan bisa juga tidak, itu tergantung dari perspektif kita. 

Lalu kemarin mendengarkan kembali lagunya Anggun yang In Your Mind begini lyricnya: I don't want to believe and I don't want to live by the excuses of your weakness. 'Cause a women should do what she wants to do, there is no reason for your shallow aggravation. Seharusnya perempuan bisa melakukan apapun sesuai keingiannya tentu dengan tanggung jawab dan sudahlah berilah ruang untuk perempuan memilih dan memiliki. 

Susah-susah gampang menjadi perempuan, terkadang saya pun harus banyak belajar menjadi perempuan yang sebegitu banyak label dan tuntutan ini itu. Bahkan tuntutan tersebut lebih kejam dilayangkan dari perempuan ke perempuan lainnya. Gila itu kejam sekali, seolah menjadi tuhan atas perempuan lainnya. Terlebih jikalau kamu gadis. Lalu berusaha untuk mengerti nilai-nilai masyarakat ini yang sepertinya tidak adil sedari lahir. Gadis-gadis yang berusaha hidup di dunia yang lebih condong ke laki-laki ini dan semuanya berpihak pada mereka. Gadis-gadis yang sebenarnya merasa pedih sendiri dengan siulan nakal, dengan pandangan yang menelanjangi, dengan celotehan melecehkan, dengan tangan yang usil. Ketika kegadisan seharusnya dirayakan dengan penuh sebagai lambang kesuburan hidup namun akhirnya mereka salah kaprah dengan tubuhnya sendiri. Mencari makna lain dari tubuhnya agar diterima oleh laki-laki, agar dicintai, dikasihi bukannya dilecehkan. Meski dengan cara yang berbeda-beda. Hingga seorang gadis sedemikian butuhnya diakui keberadaannya oleh laki-laki dan akan menjadi keprihatinan apabila mental itu terbawa sampai dia menjadi dewasa. 

Satu titik awal mengapa saya berubah pikiran tentang keberadaan saya sebagai perempuan adalah saat Oma saya meninggal di masa awal remaja saya. Melihat saat beliau tersengal memanggil 'Mama' dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, lalu saya menangis keras sekali hingga sesegukkan. Betapa tubuh sebegitu rentannya, sebegitu fananya ketika ruh tidak ada. Itu hanya kendaraan yang digunakan roh untuk berkarya di dunia ini. Pada prosesi memandikan saya pun mengintip, tubuh telanjang kaku perempuan. Air terus mengalir-mengalir membersihan tubuh. Mungkin kita manusia sebegitu terobsesinya dengan tubuh tanpa menyadari bahwa ada jiwa di dalamnya. Jiwa itu sama-sama yang memiliki ketakutan, cita-cita, trauma, sakit hati, kekhawatiran, kesenangan, kesedihan, cinta yang juga sama dengan kita. Lalu masihkah kita manusia tidak bisa saling menghargai karena pada dasarnya kita ini hanya manusia dengan berburuan makna hidup masing-masing yang tidak kita tahu artinya?

***

Dan ya, inilah saya
Saya gadis, saya perempuan 
Dan ini adalah keapaan, keberadaan dan tubuh saya
Dan saya pun menghormati dan menghargai kamu, Laki-laki
Dengan keapaan, keberadaan dan tubuhmu. 


22.5.16

Tidak Ada Judul karena Ketidakbernamaanku yang Kau Ingat


Ada selongsong rindu di dadaku yang tidak kunjung rampung menggantung
Kukira itu akan habis dalam semalam dan selesai

Ada selongsong rindu di jantungku yang mengkhawatirkan degupku
Seharusnya tidak semudah ini jatuh

Ada selongsong rindu di mataku yang menginginkan pertemuan kedua
Mencuri-curi kebetulan yang tidak ada

Ada selongsong rindu di kepalaku yang mengintai penasaran
Meregang di antara singkat percakapan

Ada selongsong rindu yang terbawa pulang olehku
Ini sepertinya milik kamu

Namun kau tak ingat namaku
Tak ingat namaku



Serpong,2016

21.5.16

Sebuah Aphrodisiac


Terbangun di satu sisi tempat tidur. Serta merta membutuhkan kehangatan hingga mencari selimut yang terjatuh di mana entah, kedua pucuk payudara yang mengeras kedinginan, kaca mata yang masih bersandar di hidung dan buku yang tergeletak di samping badan. Semalam tertidur dengan lampu menyala dan kembali bermimpi meniduri laut, menciumi tengkuknya dengan bibir berpasir, membelai lekuk punggung ombaknya dan mengecup sepi di matanya. Tiada lagi yang dibutuhkan, ketika sejumlah puisi wangi runtuh dingin di sudut kamar dan aksara sia-sia tentang cinta yang tidak lagi dipertanyakan. Mengawini laut tanpa ketakutan dan mencintai menjadi sebebas-bebasnya. Bukankah itu yang kita butuhkan?

Hiruk pikuk di sebuah kota yang bising, menyusuri jalan dengan lampu yang kekuningan dan bunyi klakson kendaraan yang memekakkan telinga. Pekerjaan-pekerjaan yang tak kunjung usai dan kecemasan di setiap kening orang yang dijumpai. Mungkin kita manusia hanya bisa sedikit-sedikit cemas lalu menelusup di malam hari mencari tuhan, entah dengan wujud t kecil atau T besar. Kesendirian yang tidak sebegitu menakutkan karena masih mengalun lagu Tiny Dancer-nya Elton John dari kejauhan "Hold me closer tiny dancer, counts the headlights on the highway, lay me down in the sheets of linen, you had a busy day today." 

Perempuan yang menulis pukul setengah empat pagi tidak akan mampu lagi menyangkal ritualnya yang diam-diam dicintai dan dinikmati. Pagi yang awal tanpa riuh: ayam berkokok, bayi yang menangis minta susu, bunyi air yang gemericik, wangi masakan di dapur, cengkrama singkat dan ketergesaan yang lompat meminta perhatian. Semuanya dijalani pelan-pelan-lalu-detik---mengalir---lambat----lambat---sekali.

Menyibukkan diri dengan tuts-tuts keyboard yang berbunyi tik-tik-tik-tik dan suara diri sendiri yang menggaung di kepala. Meyakini akan tiba saatnya seseorang yang sungguh mengerti ritual singkatnya tanpa banyak bicara dan si perempuan akan memandanginya sesekali ketika ia sedang tertidur lalu akhirnya mengecup keningnya, meski si laki-laki tidak terbangun dan menyadarinya. Ketika menelusup jemari di tubuh laki-laki itu adalah kenyamanan itu sendiri dan memeluknya menjadi energi ratusan watt untuk menjalani hari. Dan laki-laki itu kini belum datang, belum datang. 

Apakah akan ada seseorang yang sedemikian lelahnya mencari dan lalu berhenti mencari hingga akhirnya duduk di sisi perempuan karena sudah merasa cukup? Karena si perempuan sudah lelah mencari dan tidak membutuhkan pertemuan mubazir yang hanya mengunci ketertarikan dari pandangan mata dan tubuh saja, ia sudah selesai membicarakan tubuh. Ketika ciuman-ciuman sudah selesai di malam yang lampau dan tidak lagi menjadi hangat lalu. Pengalaman seketika menjadi guru killer yang mencoret seluruh kertas ulangan matematikanya dengan tinta merah dan melingkari semua jawabannya yang salah. Perhitunganmu salah, Perempuan! Logikamu amburadul, Perempuan! Dan si perempuan tahu dia bukan seseorang yang dianugerahi otak secemerlang itu hingga terus menerus penasaran dan bertanya menjadi keahliannya.

Apakah masih ada seseorang yang sudah usai dengan kesombongan alpha male-nya yang harus memenangkan segala hal dari si perempuan termasuk sedikit nalar dan otaknya? Lalu akhirnya mencintai bukan alasan sebuah karena namun diri itu sendiri. Lalu ketika ciuman-ciuman gairah selesai, kecupan di tengkuk sudah luruh, pelukan tidak lagi diketatkan dan persenggamaan sudah membosankan. Apalagi yang tersisa? Percakapan-percakapan yang lahir dari cerebrum, otak besar kita. 

Mungkinkah ada seseorang yang sederhana saja, biasa saja, dengan segala penziarahan hidupnya, duduk di sini sejajar. Di samping. Tidak duduk di depan dan tidak di belakang. Berbagi sedih dan tawa di ujung hari, membicarakan hal-hal yang sederhana namun tidak sesederhana itu, bergandengan tangan lalu sesekali berpandangan tersenyum, mengetatkan peluk dari jarak dan mengakhiri segala tanya yang tidak perlu. Dan memulai. Karena rasanya si perempuan tidak seromantis itu untuk segala banyak tetek bengek sia-sia candle light dinner yang canggung, hadiah-hadiah berkilau dan bouquet mawar. 

Hadirilah dengan realitas dan mimpi yang getir karena cuka asam sudah biasa di mulutnya, pemandangan kota yang biasa saja, tukang soto ceker di pinggiran jalan, temaram lampu kota, kedai kopi kecil, pasar, atau perpustakaan yang penuh buku lalu pemikiran-pemikiran yang menjadi keingintauan untuk dijelajahi dan dipertanyakan. 

Adakah seseorang yang sedemikian bisa diajak bercakap-cakap tanpa ada prasangka dan meyakinkan diri bahwa dia paling benar dan pintar? Dan adakah seseorang yang mampu menawarkan si perempuan aphrodisiac yang memberikan getaran pertama pada sanggurdinya akan pembicaraan panjang tentang: Tuhan, manusia, mimpi. manifestasi cinta, berita-berita yang berkoar-koar di tivi lalu menertawakannya, artikel panjang tentang nalar ketuhanan dan keyakinan yang banal, kapitalisme yang tentu akan berbicara tentang Karl Marx dengan: 'Derita termasuk kenikmatan manusia', berbicara tentang humanisme, berbicara tentang idealisme, berbicara tentang filsafat yang tidak kunjung dimengerti namun dinikmati dengan sisa-sisa otak si perempuan. Dan jikalau sudah selesai marilah kita berbicara tentang hidup. 

Hingga akhirnya mengerti, bahwa si perempuan membutuhkan laki-laki yang bisa bersenggama dengan pikirannya. Sebuah aphrodisiac


Serpong, 2016

gadispayungkuning



18.5.16

Konspirasi Tai Kucing #6: Hidup Seperti Minggu Sore


Saya sedang sedikit canggung untuk menulis karena rasanya hari ini bukan hari yang tepat untuk menulis karena mood saya sedang tidak untuk itu. Namun saya ingat kalau saya janji mau sok-sok serius menulis rutin yang tadinya mau hari Selasa, Jumat dan Minggu saya sunat seenak hati menjadi Rabu dan Jumat karena saya merasa berat. Gila. Lalu sekarang saya menemukan diri saya tidak dalam kondisi sebegitu bergairahnya untuk menulis karena banyak rasa-rasa yang seharusnya tidak dirasa-rasa, semelankolis itu. Kan saya jadi malu kalau saya menulis layaknya orang curhat. Tapi sudahlah, saya sudah rela ditelanjangi dan berbagi perasaan, mengingat pasti yang membaca blog saya adalah kalian yang 'dekat' di hati baik sahabat atau orang tidak saya kenal namun memiliki kembaran rasa. Hai!

Saya sangat ingin memulai tulisan ini dengan keceriaan yang sama seperti tulisan sebelumnya namun nyatanya saya sedang tidak seceria biasanya hari ini. Manusiawi sekali saya rasa ketika seseorang bersedih akan sesuatu dan bersuka ria akan sesuatu. Mungkin porsinya saja harus seimbang dan bersedia untuk bisa kembali ke titik nol. Zero, seperti di zen. 

Pagi ini saya mendapat kabar bahwa Om saya, kakaknya ayah saya, sebut saja Pak Harto, ternyata menderita sakit kanker paru-paru stadium empat, setelah selama ini didiagnosa sakit jantung. Lalu saya jadi kepikiran seharian. Kami tidak sedekat itu memang, namun mengingat dia adalah sosok yang lucu, jenaka, ceria dan rupawan lalu harus terbaring sakit cukup berat, rasanya kok tidak cocok ya? Meski saya tahu sakit kanker paru-paru itu bukan masalah cocok atau tidak cocok. Mungkin karena beliau adalah perokok yang cukup aktif, namun setelah saya pikir-pikir lagi rasanya banyak perokok aktif yang tidak sakit juga, ya rokok salah satu faktor pemicu juga tapi bukan inti. Duh pokoknya saya tidak tahu. Saya hanya berdoa semoga semua baik-baik saja sesuai dengan rencana Allah. Sudah. 

Kalian tahu kan, apabila memulai hari dengan suatu perasaan negatif maka rasanya semua energi negatif jadi ikutan merasa diundang, nah itu yang terjadi hari ini. Rasanya saya seperti membawa satu kaca pembesar dan men-zoom-in semua pandangan saya, sehingga melihat semua serba detail. Ada baiknya hingga akhirnya saya aware dengan keadaan sekitar, namun akhirnya saya jadi kewalahan karena capek semua terlihat buruk. Kembali lagi ini masalah jarak pandang dan cara memandang sih, ya ya saya tahu. Saya serta merta menyadari beberapa hal yang sengaja tidak saya kulik lebih dalam karena takut. Padahal bukankah ketakutan itu seharusnya semakin didekati hingga semua jelas sebenarnya apa yang membuat takut? Saya sedikit tersentak kaget dengan keadaan kalau saya sudah tidak lagi bertumbuh karena merasa inilah comfort zone saya. Padahal setelah saya telaah, comfort zone ini bukanlah kenyamanan yang sedemikian nyamannya bagai rahim Ibu namun segala hal yang sudah saya kenal dan familiar saja. Ketakutan-ketakutan saya akan perubahan karena harus beradaptasi lagi dan pasti harus belajar dari awal lagi. Kenyamanan yang kita kira nyaman namun sebenarnya ini hanyalah persoalan terbiasa dan kebiasaan. Saya tidak tahu sih dengan pemikiran ini apakah saya menjadi tidak bersyukur?

Hal kedua adalah saya sedang dalam stage berusaha melihat segalanya realistis namun pandangan saya malah bias, kabur dan tidak lagi menemukan garis pemisah tipis antara realita dan mimpi. Seperti berlari-lari menuju mimpi namun realitanya harus sedemikian adanya, hingga agar tetap waras saya harus menjaga diri agar tetap realistis. Duh saya tidak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya dengan mudah. Mungkin begini momennya ketika saya berkata pada diri saya: “Anjing, mamam deh tuh mimpi!” 

Kata orang, kenikmatan terakhir yang dimiliki oleh anak muda adalah idealisme, lalu serta merta saya merasa pahit sendiri karena idealisme itu hanya akan menjadi 'ideal' saja tanpa bisa kita raih, mungkin hanya mendekati. Kemarin tiba-tiba saya tersadar dari seorang teman yang sedang bekerja di Taiwan bahwa dia pun memiliki pergulatan sendiri yang kurang lebih tidak jauh beda. Mungkinkah usia-usia saya ini adalah usia berdarah-darah menyelaraskan idealisme dan realitas? Karena itu sungguh bertolak belakang dan saya tidak tahu bagaimana mendamaikan keduanya dalam diri saya. Pergolakan yang pasti dimiliki karena ada masanya menjadi sedemikian riuhnya pertanyaan kita dan harus disederhanakan dengan berpikir setuntas-tuntasnya. Lalu datanglah sebuah pencerahan di suatu garis waktu tertentu, entah datangnya terlambat, lebih awal atau malah tidak sama sekali dan memulai suatu perubahan adalah kesulitan yang nyata. Di setiap mimpi pasti ada rasa-rasa tolol karena merasakan aliran penggerak yang tak disangka-sangka hingga akhirnya yang terbaik adalah mengikuti arusnya dan menjalani jalan-jalan yang sudah ditetapkan.

Hari ini saya menemukan sebuah ayat kecil Yakobus 4:14b-15, begini bunyinya: Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu."

Sedikit bengong karena menemukan ayat ajaib ini, kok bisa sekebetulan itu. Mungkin ini bukan kebetulan tapi wahyu. Tsah. Uap itu sesuatu yang bisa dilihat namun cepat menghilang juga. Lalu hidup disamakan dengan uap yang bisa hilang cepat hingga semua kembali lagi pada Tuhan. Aduh kepala saya pening sekali. Dalam hidup ini banyak sekali yang tidak bertahan lama, kita tahu itu. Lalu bisa saja seseorang merasa bahagia dengan hanya mendapatkan sedikit dari hidup karena sudah merasa terbiasa dan takut keluar dari zona nyaman. Entah itu bersyukur dengan keadaan atau semata-mata bodoh saja. Bukankah Tuhan juga menginginkan kita bahagia dan menjadi penuh dalam hidup? Entahlah. Saya tidak bisa membedakannya.

Lalu kata penulis favorite saya Paulo Coelho, melepaskan mimpi adalah kedamaian. Hidup seperti Minggu sore, ketika kita tidak menginginkan sesuatu yang luar biasa. Saat itu kita merasa inilah menjadi dewasa meninggalkan impian masa muda dan mengejar pencapaian pribadi dan profesional. Kita sudah merasa cukup meski di nurani kita telah menyerah pada impian kita. Lalu impian malah mati dan merusak jiwa dan hanya kematian yang dapat membebaskan kita dari segalanya, mendamaikan segalanya. Hingga sebenarnya yang membunuh mimpi kita adalah diri kita sendiri yang takut berjuang sekuat tenaga. Seperti Minggu sore, suasana tenang nyaman namun besok pada akhirnya harus terus berjuang. Keindahan yang terselubung dan jangan kira perjuangan bukanlah sebuah keindahan. 

Baiknya saya catat dan saya ingat baik-baik bahwa: Janganlah berhenti bermimpi. Dan berjuanglah untuk mendapatkannya karena itu adalah upaya mengasihi diri sendiri. Dan baiknya juga besok saya ke kantor pakai sedikit make up dan eyeliner karena mata saya sudah sembab luar biasa.

15.5.16

Seandainya nih ya,







Seandainya saja tidak ada sejarah kau dan dia
Apakah kita akan tetap punya rasa?

Seandainya jarak itu hanyalah fatamorgana
Dan waktu bukanlah soal penyekat
Akankah hati kita tetap mencinta?

Jikalau memang kamu bajingan
dan seandainya saya ini jalang
Yakinkah kamu kita seimbang?

Seandainya misi kita sama
Apakah kita sejalan?

Sandainya kamu tidak mengecup sepi
Dan saya terbiasa sendiri
Apakah kita akan saling mengusik
dan bermain api?

 Kaohsiung, 2012

Konspirasi Tai Kucing #6: Mesin Memandikan Anak


Sabtu dan Minggu ini Ibu sedang ada dinas luar sehingga akhirnya sayalah yang bertanggung jawab atas Abhimanyu adik saya yang paling kecil berumur lima tahun. Abhi atau Manyu, demikian kita memanggilnya. Biasanya saya sih memanggil dia Abhimanyu selengkap-lengkapnya, secara nama Abhimanyu adalah saya yang memberikannya. Tadinya saya ingin punya anak bernama Abhimanyu, namun berhubung itu masih membutuhkan waktu, akhirnya sudahlah saya relakan. Jadi nama anak saya kelak anonim gitu. Enggak deng haha. 

Abhimanyu bukan anak yang rewel atau bandel, masih dalam taraf wajar, makan juga mudah tidak sulit, pada intinya masih tergolong mudah diatur. Namun Abhimanyu ini cukup sensitif dan perasa, jadi kadang kalau ditegur alhasil doi mutung. Dia tipe-tipe anak bungsu yang semua harus dipenuhi sesuai keinginannya, mungkin karena masih kecil juga kali ya. Ngobrol seharian dengan Abhimanyu hari ini sangat menyenangkan karena pada umur-umur segini mereka sedang eksplor tanya ini itu hingga kadang saya bingung mau jawab apa. Pernah suatu hari saat sedang saya mandikan Abhimanyu, dia bertanya: 'Kapankah the end of the world itu, Kak? Apakah nanti yang akan datang adalah Tuhan Yesus palsu atau asli? Apakah iblis akan datang dan bunuh orang jahat? Nanti the end of the world-nya akan tiba di rumah kita atau di rumah Apin (tetangga)?' Ya, itulah Abhimanyu dengan begitu banyak pertanyaan. Saya mau menjelaskan dari awal pun bingung sendiri akhirnya saya jawab: Kamu tanya Ibu aja deh ya, Bhi. 

Untuk seusia Abhimanyu ini, sedang masa-masa aktifnya loncat ke sana ke mari sehingga dia pasti gembrobyos keringetan. Alhasil tentu saya harus saya mandikan berulang-ulang kali. Sampai saya berpikir, harusnya peneliti-peneliti itu buat mesin memandikan anak, karena itu juga penting, Toh mesin cuci sudah ada, mesin cuci piring ada, mesin cuci mobil juga ada, masa mesin cuci anak tidak ada? Itu pasti akan dibeli ramai-ramai oleh ibu-ibu praktis.

Saya jadi sedikit berefleksi, ternyata menjadi ibu bukan pekerjaan praktis. Itu akan menjadi pekerjaan rempong hingga akhir hayat bahkan ketika anak-anak sudah besar dan berkeluarga. Tetap hubungan orang tua dan anak adalah hubungan sampai akhir hayat dan sudah dijodohkan oleh Tuhan. Anak adalah titipan, begitu pula orang tua adalah titipan pada anak. Hingga terkadang sebagai anak, saya pun jadi tersadar kalau saya semakin dewasa dan orang tua kita pun semakin tua. Lalu nanti giliran kita yang menjadi orang tua, jika memang terpanggil dan mampu. 

Kadang saya terpikir juga, ada beberapa teman saya yang seumuran saya sudah punya anak. Lalu saya melihat diri saya sendiri lagi, asli saya saja masih pecicilan belum siap punya anak. Memang itu urusan siap atau tidak siap dan mau atau tidak sih. Mungkin untuk saat ini saya belum sanggup untuk punya anak, bahkan minggu kemarin saya beberapa kali mimpi hamil dan melahirkan, saya degdegan setengah mati. Jelas saya belum siap. Mempunyai anak di zaman ini, pelik, harga kebutuhan pokok makin tinggi, gaji naik hanya sesekali kalau dipikir akal sehat sukar dipahami. Tapi mungkin ya, perpanjangan tangan Tuhan pasti menyertai. Mungkin demikian, tidak tahu deh saya. 

Saya ingin menjadi seorang ibu suatu hari nanti, apabila memang sudah siap mental dan mapan materi. Tapi kayaknya sekarang mending cari cumbuan hatinya dulu aja gimana?


***

Menyadari bahwa menggodok jamu itu perlu ramuan yang tepat, mungkin begitu juga dengan menulis. Konspirasi Tai Kucing yang awalnya tidak seserius itu harus diseriusin karena menyadari saya macam karet kolor yang mudah kendor. Sudah begitu saya bosenan kalau tidak ada yang buat penasaran dan menantang. Hingga saya tadi sambil mandi ngomong sendiri dan memutuskan untuk menulis Konspirasi Tai Kucing ini setiap hari Selasa, Jumat dan Minggu. Eh Rabu dan Jumat saja deh ya. Saya butuh proyek pribadi ini sebagai bentuk penyaringan agar mendapat santan eh maksud saya ide yang segar. Lebih memperhatikan hal sederhana yang ternyata tidak sesederhana itu. Gila lah, sudah pasti saya harus muter otak sampai beleleran otaknya. Tapi ya gimana dong harus dimulai dari kecil-kecil dulu untuk mempersiapkan yang besar bukan? Doakan saya ya! 



11.5.16

Konspirasi Tai Kucing #5: Apakah Cinta Bisa Habis?


Tulisan yang ditulis bukan karena sudah nonton AADC2 karena saya belum ingin nonton,  sepertinya masih ramai sekali jadi memilih nanti saja. Mungkin sudah masuk geng oma-oma yang tidak suka keramaian.  Jadi saya mau menikmatinya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Beberapa waktu lalu saya melihat ada satu pasangan unyu sweet memasang video. Lalu saya merasa sepertinya saya beneran sudah oma-oma karena merasa video itu harusnya tidak untuk dipublikasi. Atau saya jadi curiga saya kelamaan sendiri jadi rewel. Tapi sebenarnya menurut saya tetap video itu sebenarnya adalah koleksi pribadi karena dengan melihatnya saya jadi mules. Lalu saya berpikir mungkinkah karena mereka sedang kasmaran hingga mabuk kepayang hingga akhirnya demikian? Hingga akhirnya lupa ada beberapa yang sebenarnya adalah sesuatu yang intimate untuk dinikmati berdua saja karena pasti lebih enak. Ataukah kita sudah masuk zaman semua orang harus tahu hingga urusan daleman sekalipun? Ataukah sepenting itukah harga aktualisasi seseorang dan kebutuhan seseorang untuk diakui? Ya, itu juga benar. Saya dan kamu pasti membutuhkaan rasa diakui oleh orang lain kan?

Namun keresahan saya bukan itu, melihat pasangan itu sedemikian sweet dan manisnya saya jadi gelisah sendiri bagaimana jikalau cinta itu sudah habis? Berakhir sudahkah video dan foto itu jadi artefak di internet? Ataukah saya yang sedang terlalu sinis dengan cinta? Mungkin iya. Sesungguhnya saya sedang berpikir realistis kalau saya merasa cinta akan habis. Selesai. Demikian. Bye. Karena saya merasa kerap kali cinta saya habis karena bosan, karena tidak tahu harus bagaimana memeliharanya dengan baik dan saya pun khawatir dia pun pasti bosan setengah mati dengan saya. Hingga akhirnya kita menyerah dan selesai. Cinta sudah selesai mari kita bebenah dan berakhir dengan hati yang kosong tak berisi. Jikalau misalnya definisi kebahagiaan berakhir dengan jatuh cinta dan menemukan pasangan yang pas, rasanya kita menyempitkan definisi bahagia itu sendiri. Jikalau misalnya dengan menemukan laki-laki yang pas sebagai tujuan akhir, saya rasa pasti saya akan nelangsa. Saya yakin sebenarnya hidup kita ini tidak hanya untuk menikah dan berkeluarga saja kan? Lebih dari itu. Itu hanya diantaranya.

Kembali lagi ke pertanyaan saya, apakah itu hanya menjadi ketakutan saya saja jikalau cinta itu akan habis dan pudar pada akhirnya dan berakhir dengan komitmen saja. Menjalani sesuatu karena saya sudah komit untuk menjalani ini. Saya rasa jikalau dijalani tidak dengan cinta dan hanya komit saja, yang ada saya pasti koit. Coba deh bayangkan, ketika kecantikan, ketampanan,kemudaan, kegairahan, keseksian, kecerdasan, kepintaran, keperkasaan itu sudah lenyap begitu saja dan lalu apabila seandainya dua pasangan ini saling jatuh cinta karena alasan di atas, akan habiskah cinta? Apakah cinta masih akan ada di sana? Namun bagaimana mekanismenya bisa tetap ada? Pernah saya membaca tentang tingkatan cinta yakni eros, philia dan yang tertinggi agape. Cinta eros adalah cinta yang menginginkan, philia adalah cinta pada teman, saudara, sahabat dan cinta agape adalah cinta tak bersyarat. Cinta pada kekasih dimulai dari cinta eros yang saling menginginkan dan cinta itu seharusnya makin bertumbuh menjadi cinta agape, tak bersyarat.

Gila, saya tahu saya teoritis sekali dan sudah mulai nyebelin. Namun jika benar tidak ada mekanismenya dengan dalih  cinta itu ‘mengalami’, berarti sekarang salah sayalah yang belum genap mencintai. Saya masih mencintai dengan karena. Karena dia pintar, karena dia seniman, karena dia kumisan, karena dia menawan, karena dia seksi, karena, karena, karena. Saya kini merasa tiba-tiba kata-kata saya menguap di udara apabila mendefinisikan cinta itu sendiri. Seperti tukang jualan obat di pasar yang teriak-teriak obat ini paling manjur bla bla bla. Apakah selama ini tolak ukur saya mencintai seseorang bukan karena dia namun karena embel-embel dia di belakangnya. Bahwa yang saya cintai adalah pelengkapnya bukan jiwanya hingga saya seringkali bosan lalu habis cinta saya.

Rasanya saya tolol sekali ya dan mencintai dengan tulus-tulus saja adalah kesulitan kedua setelah tantangan menjilat sikut sendiri. Bukan berarti tidak bisa, itu bisa dengan catatan diperlukan hati yang tiada duanya untuk menerima. Menerima dan berpasrah mengikuti. Semoga kelak jikalau memutuskan untuk menikah dengan seseorang bukan karena embel-embel tetek bengek namun karena jiwanya dan semoga menjalani pernikahan bukan karena komitmen saja namun ada cinta kasih di dalamnya.

Duh setelah saya pikir-pikir betapa  saya ini cupu karena tidak berenang ke tempat dalam namun hanya main di pinggiran takut tenggelam. Sebegitu egoisnya saya di cinta-cinta lama namun ternyata menyadarkan kesalahan. Lalu tersadar dan merasa tolol sendiri. Baiknya sih sadar, daripada tidak. Karena akan ada cinta baru entah kapan. Ya kan?

Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...