18.4.16

Konspirasi Tai Kucing #4: Sifat Dominan



Mungkin tulisan ini akan saya baca sambil ketawa-ketawa sepuluh tahun dari sekarang. Itu pasti. Jadi ya sudahlah agar ada bahan yang bisa diketawain sepuluh tahun mendatang, lebih baik saya tulis ya kan? Menghibur diri sendiri di masa depan itu baik adanya, bukankah kita harus bisa menertawakan diri sendiri agar tidak stress dan memiliki humor yang bagus. Ya hitung-hitung agar tidak mudah jantungan deh.

Sampai mana ya tadi? Oh ya, akhir-akhir ini saya sedang menunggu-nunggu twit war dengan topik perempuan. Karena apa? Karena sebentar lagi hari Kartini saudara-saudara. Saya sudah tidak sabar membaca artikel-artikel tentang perempuan. Oh please please feed my ego and my curiosity well, dearest you who might concern. Saya lagi kosong tidak ada amunisi apa-apa nih, sedih deh. Kayaknya lagi buntu, ada saatnya saya duduk manis di kursi penonton. Mengamati. 

Menjadi perempuan. Saya rasa definisi menjadi perempuan kian berkembang di masa ini dan salah satu yang tidak berbeda mungkin adalah alat reproduksi. Penjelasan akan perempuan yang harus begini dan harus begitu pun rasanya sudah mulai terkikis perlahan. Baik laki-laki dan perempuan semakin terbuka dengan pemahaman kesetaraan gender, namun tetap juga ada yang tak bergeming. Mungkin sedikit kejedot pas masih kecil kali ya. 

Ada satu hal yang menarik untuk dibicarakan: Apakah semenyeramkan itu perempuan yang bisa mendominasi laki-laki? Saya muncul pertanyaan tersebut pada saat diskusi kelompok. Ada sebuah pertanyaan begini: tipe pasangan seperti apakah yang kamu inginkan? Pertanyaannya mudah dong dan pasti dijawab dengan nilai-nilai ideal pasanan yang diingini seperti apa, dan kebetulan perempuan menjawab mereka ingin laki-laki yang lebih superior dari mereka dan laki-laki ingin perempuan yang inferior tidak dominan. Saya lupa saya menjawab apa ya, karena saya terlalu asyik mendengarkan opini orang lain. Lalu  muncul sebuah pertanyaan, hubungan yang seperti apa yang kamu inginkan dengan pasanganmu? Rata-rata menjawab: laki-laki sebagai pemimpin yang bisa mengayomi. Lalu saya menjawab kalau saya ingin hubungan yang sejalan, saling berdampingan, hubungan yang equal dan kalau ada masalah baiknya diambil cara win-win solution bukan melulu persoalan siapa mengalah siapa. Eh tiba-tiba saya ditanya apakah saya perempuan dominan atau tidak?

Menurut saya, saya adalah perempuan dominan karena saya tidak suka diatur, itu satu. Lalu yang kedua saya tidak suka saja gitu kalau misalnya harus jadi inferior di bawah siapa pun. Maka saya lebih memilih hubungan yang equal jadi berdua memang sepadan untuk hidup bersama. Ya gak sih? Pernah suatu ketika, menjalani hubungan dengan seorang laki-laki yang sebegitu tinggi egonya hingga akhirnya harus sok-sok lemah atau sok-sok bego karena dia tidak suka perempuan yang lebih pintar atau lebih tahu dari dia dan begonya saya, saya iya-iya aja, lalu jadilah Metta yang bego. Hingga akhirnya saya tidak tahan karena memberi makan ego orang lain terus menerus rasanya menyakiti diri sendiri sebenarnya. 

Entah mengapa kita dipaksa menjadi ketakutan dengan kata: perempuan dominan. Terbayang perempuan yang galak, judes, ngeselin, dan lain-lain. Seolah menjadi dominan bukan nature nya perempuan. Seolah perempuan diciptakan untuk ya submissive yang passive. Tapi apa iya? Saya rasa banyak juga laki-laki yang sebenarnya tidak dominan namun dipaksa untuk menjadi dominan, karena dominan ini sebagai ciri gambar laki-laki sejati. Menurut saya setiap orang berbeda dengan bawaan sifat dan background yang berbeda, sehingga sebenarnya pemilihan sifat dari jenis kelamin rasanya tidak relevan. Saya juga merasa terkadang berat juga ya jadi laki-laki karena harus mengikuti standard maskulin di masyarakat. Ya sebenarnya urusan sexism ini tidak akan habis-habis sih karena praktiknya masih banyak dan saya pun kerap masih sexist. Saya pribadi merasa menjadi perempuan dominan mempunyai kekuatan sendiri untuk bertanggung jawab atas hidupnya dan sebenarnya meringankan tugas laki-laki yang dituntut ini itu. Atau mungkin sebenarnya laki-laki suka dituntut ini-itu dan menunjukan kekuatannya ya? Saya cari tahu dulu ya haha.

Tapi ya mungkin loh ya, pada akhirnya sifat-sifat mendasar perempuan dan laki-laki ini akan disempurnakan ketika mereka saling mencintai karena pasti ada banyak hal yang harus ditolerir untuk bisa bersama, ya bahwasanya menjalani hubungan itu susah-susah gampang dan butuh kerja sama yang baik. Lalu ada juga yang berkata bahwa kita terlalu banyak memilih tipe kualitas seseorang  untuk menjadi pasangan tanpa peduli yang terpenting adalah kualitas hubungan itu sendiri. Bagaimana? Bukankah perjalanan pertemuan dan percintaan pemuda dan gadis itu sebegitu rumitnya? 

Yha~


No comments:

Post a Comment