Konspirasi Tai Kucing #3: Tubuh dan Ketelanjangan Asali


Setelah membaca tulisan Ibu saya tentang Ketelanjangan Asali dan berdiskusi singkat dengan beliau, saya kembali memerlukan medium untuk merangkum agar tidak mudah lupa, maklum di dalam otak saya yang  IQ jongkok ini memerlukan sedikit ruang agar tidak kesempitan lalu bisa diisi lebih banyak lagi nanti. Susah ya punya otak seuprit dengan kecerdasan yang tidak pintar-pintar amat sehingga selalu harus berjalan mencari meraba-raba dan membaca ke sana-ke mari. Satu-satunya yang saya punyai adalah rasa penasaran itu saja. Sudahlah biarkan saya asyik sendiri mencari-cari, berpikir ala kadarnya kemudian bertanya. Mungkin itulah cara saya belajar. 

Saya sedang tertarik dengan sebuah topik mengenai tubuh. Tubuh dengan jiwa dan kedagingannya yang terkadang diartikan terpisah dengan mengatakan bahwa jiwa itu baik dan daging itu jahat. Padahal telah diciptakan keduanya, bukankah seharusnya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi? Sebenarnya terbesit pertanyaan ini ketika saya sedang duduk di gereja. Ada salib dari kayu dipajang besar sekali di dinding altar. Salib dengan tubuh Yesus beserta kain penutup aurat. Saat itu pastor sedang kotbah namun ternyata pikiran saya ke mana-mana dan memikirkan kenapa peristiwa penyaliban ini melibatkan tubuh yang berdarah-darah dan tercabik-cabik ya? Tidakkah cukup dengan memperlihatkan ke-Ilahian Allah dari jiwa saja? Mengapa justru tubuh? Bukankah katanya, hidup bukan hanya dari daging saja melainkan juga roh? Kenapa tidak langsung saja pada inti jiwa/roh saja ya? Saya pusing sendiri sesungguhnya dan saya masih berpikir lama tanpa memperdulikan pastor. 

Lepas dari peristiwa itu dengan pertanyaan yang masih menggelayut tertinggal saja demikian dan terlupakan karena saya mentok. Kembali menjalani hari-hari yang biasa saja, lalu asyik bercanda makan siang dengan teman kantor tentang seks dan seputar selangkangan. Honey, ketika laki-laki seumuran saya sudah puas membicarakannya ketika remaja, kami perempuan baru mulai membicarakannya dan mengeksplor. Mungkin memang ada sebuah aturan terselubung bahwa pembicaraan tersebut tidak elok untuk perempuan, walau sebenarnya perempuan pun sama-sama makhluk seksual. Heran kan? Seperti pembicaraan bagaimana prempuan mengeksplor tubuhnya sendiri, pengalamannya mengenal tubuhnya dan kenikmatannya atau pemikirannya tentang tubuhnya. Tidak mudah dibicarakan atau diungkapkan. Seolah hal tersebut bukan milik perempuan dan harus dijaga rapat-rapat dan meyakinkan masyarakat kalau perempuan itu submissive dan aseksual. Kenapa ya? 

Kemudian saya berdiskusi dengan Ibu tentang hal tersebut dan keluarlah sebuah frasa Ketelanjangan Asali, ternyata ini menyambung dari Teologi Tubuh dari Paus Yohanes Paulus II. Dasar pembahasannya dari penciptaan manusia di Genesis / Kejadian 2:25 ..."Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tapi tidak merasa malu." Kata kuncinya telanjang dan tidak merasa malu, karena mereka melihat sebagai subjek yang harus dihargai. Ketelanjangan adalah sebuah situasi ketika sesuatu itu suci dan murni, tidak ada yang ditutupi di sana. Itulah perayaan manusia yang pertama, dalam ketelanjangan nilai tubuh dirayakan dengan agung dan ilahiyah. Lalu Paus Yohanes Paulus II merefleksikan bahwa karakter manusia adalah berelasi, kesadaran manusia untuk memberikan dirinya pada manusia lainnya sebagai ungkapan cinta. Ini disebut juga sebagai makna nupsial tubuh, karakter relasional tubuh yang mengarah pada pemberian diri yang berdasarkan pada cinta sejati*. Situasi ketelanjangan asali ini manusia mengungkapkan tubuh sebagai pemberian (diartikan sebagai perkawinan) ungkapan cinta, melihat manusia bukan sebagai objek melainkan subjek. Lalu makna nupsial ini menjadi hilang makna karena manusia dikendalikan nafsu dan memandang manusia lainnya sebagai objek semata.

Pembahasan ketelanjangan asali ini amat menarik karena tubuh merupakan kehadiran yang nyata dan konkret dari penciptaan Tuhan. Kita mengenal seseorang dimulai dari tubuhnya, langkah awal mengenal pribadi dan jiwa. Namun sayangnya manusia mulai tidak menghargai tubuh karena hanya dikaitkan dengan nafsu dan fungsi seksualnya saja. Mereduksi tujuan dan nilai tubuh itu sendiri sehingga membalikkan makna tubuh yang dekat dengan dosa dan objek pemuasaan hasrat saja, karenanya maka harus dikendalikan, dikekang atau dimusnahkan. Kita melupakan bahwa tubuh adalah karya agung Allah, tubuh dan seksualitas adalah baik adanya dan perlunya kita bersyukur karenanya. Seksualitas itu sendiri bukan hanya mencakup kegiatan seksual saja, itu hanya bagian kecil. Seksualitas adalah keinginan kita untuk mengasihi dan dikasihi, dapat berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Hingga menjadi salah apabila diartikan seksualitas adalah kegiatan berhubungan seks saja. Itu lebih dari itu.

Seiringnya dengan berkembangnya pengetahuan dan kemudahan teknologi, berimbas pula pada relasi manusia dan pemahaman manusia mengenai tubuh. Karena tubuh berubah sebagai komoditi untuk dipasarkan. Tubuh diidentikan dengan seks, kenikmatan tubuh saja tanpa cinta. Hingga pandangan ini merubah pola pikir perempuan dan laki-laki  mengenai tubuh mereka dan saling tidak menghargai satu sama lain karena degradasi makna tubuh. Seandainya makna tubuh dipulihkan kembali ke titik nol maka ketimpangan pun akan berkurang dan hilang, hingga perempuan dan laki-laki bisa sejajar dan tidak didefinisikan dari tubuh sebagai fungsi seksualnya namun sebagai manusia. Penghargaan akan manusia seutuhnya.

Hingga lalu saya terbesit jawaban mengapa karya keilahian Allah atas penebusan Yesus Kristus disimbolkan dari tubuh? Untuk memulihkan makna tubuh itu sendiri. Bahwa karya Allah yang Ilahi dilihat konkret dan nyata dari tubuh. Penciptaan tubuh yang fana ini sebagai ungkapan penerimaan kasih Allah untuk dibagikan pada sesama. Hingga akhirnya jiwa pun bisa menemukan keutuhannya lagi dengan Sang Cinta itu sendiri.

Mungkin demikian untuk saat ini. Iya.



* Refrensi: Teologi Tubuh 

Comments

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. Eh aku dari sebelum puber udah eksplor lhoo. Jadinya begini ╮(╯▽╰)╭

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha kamu sampe nulis dua kali, kuhapus satu ya :)) iyee tau tau tapi kan gak papa kan hahaha bebas, you have authority over your body :))

      Delete

Post a Comment

Popular Posts