Konspirasi Tai Kucing 2#: Idealisme Itu Mematikan?


Hiburan menarik itu bukan hanya dari mall-mall dan membeli suatu barang. Itu sih menurut saya. Ya namun tidak bisa disalahkan apabila pada akhirnya kita terjebak hiburan di gedung-gedung bertingkat karena hanya itu yang tersedia. Sehingga mencari hiburan kecil di sebuah kedai kopi dan berbagi cerita adalah sedikit remah-remah yang bisa dinikmati selagi bisa. Kita semakin melupakan momen untuk menikmati kedalaman pembicaraan. Kalau terkadang pembicaraan dua teman secara langsung dengan tatap mata, berbagi ruang, tertawa bersama dan memperlihatkan gesture serta mimik adalah cara yang paling murah dan efektif untuk mencapai suatu kedekatan. Percaya tidak, kalau menemukan lawan bicara yang sepadan adalah sebuah anugerah. Sepadan dalam arti kesamaan frekuensi atau setidaknya tidak ada judgment. Itu sih. Kenapa sih semakin dewasa kita semakin judgmental? Seperti was-was dan harus waspada setiap saat karena bisa saja tiba-tiba kita 'disenggol' orang lain. Hingga pada akhirnya apabila belum menemukan lawan bicara yang sepadan, lebih baik berpuas diri dengan buku dan riset sendiri. Meski akhirnya jadi melahirkan teori aneh, ya udahlah ya. Harus mencukupkan diri seadanya lalu saat bertemu dengan sahabat-sahabat kembalilah berbagi dan bertukar info. Ada waktunya menyendiri mungkin, agar fermentasinya kuat kayak tape. 

Ada beberapa pertanyaan menarik seminggu ini. Pasti gara-gara kebanyakan makan micin deh jadinya rada-rada bego nanya mulu eh tapi jawabannya susah belum ketemu. Harus buat mind mapping rasanya agar sedikit tahu sebenarnya ke mana alurnya. 

Kemarin ini saya sedang gatal sekali ingin nonton short movie yang sekejap mata tapi membuat otak berasap ke mana-mana. Nah, esensi ini yang dikejar. Lalu tiba-tiba saya teringat dengan sebuah cerpen Examination Day karya Henry Slesar di tahun 1958. Sebenarnya pertama kali baca  cerpen ini di buku belajar baca bahasa Jerman. Saya baca sampai jereng rasanya. Ceritanya adalah tentang seorang anak pintar cerdas bernama Dickie Jordan. Mereka tinggal di era masa depan distopia, yakni sebuah masyarakat yang tinggal di bawah pemerintah yang totaliter/ otoriter. Ada sebuah peraturan pemerintah bahwa anak berusia 12 tahun wajib mengikuti test IQ. Tepat pada ulang tahunnya yang ke 12, dia ikut test IQ ini. Dia sangat penasaran dan bersemangat ikut test ini, sedangkan orang tuanya terlihat sangat cemas. Hingga pada hari test tiba, Dickey harus meminum cairan agar bisa berbicara jujur saat menjawab test IQ ini dan hasilnya Dickey 'gagal' dalam test tersebut dan dieksekusi mati. Apa alasannya? Kecerdasan Dickey melebihi limit ketentuan pemerintah sehingga harus dimusnahkan. 

Lalu hari ini sepulang kantor, saya memilih untuk merayakan hari Jumat dengan selimutan membaca buku sampai kelaparan. Hingga akhirnya meyudahi membaca dan beralih liat-liat film dokumenter di youtube. Tadinya saya mau memanjakan diri lihat documenter yang serem-serem agar menyudahi rasa penasaran, eh tapi ternyata otak reptil saya bekerja lebih keras sehingga saya tidak jadi dan penasaran dengan film dokumenternya Aaron Swartz. Siapakah mas Aaron ini? *sok kenal* Dia adalah internet aktivis yang membayar mahal untuk kecerdasan dan idealisme. Dialah penggiat kebebasan informasi yang melawan UU Anti Pembajakan (SOPA). Hingga akhirnya sekarang kita masih bisa mengakses informasi di internet untuk buat thesis . Dia adalah co-designer-of-tools  RSS dan Markdown , yang ikut membuat peradaban internet hingga secanggih sekarang. Dia juga adalah seseorang yang buat kode system copyright agar orang awam bisa melindungi hak cipta mereka ketika orang lain ingin menggunakan karyanya. 

Dalam pertumbuhannya dia semakin tertarik pada politik dan melihat bahwa terdapat praktik ketidakadilan dan ketimpangan yang berbau neoliberal capitalism. Karena diberkahi talenta dalam bidang teknologi sehingga dia dikenal sebagai the most technologically- gifted political activist in history. Singkat cerita, dia terbentur dengan tuduhan dari federal setelah mengunduh banyak makalah akademis yang seharusnya berbayar menjadi bisa didistribusikan secara gratis untuk siapapun yang membutuhkan informasi tersebut. Lalu dia dihukum cukup berat denda maksimal $ 1 Juta dan 35 tahun penjara. Setelah jaksa federal menolak tawaran pengacaranya yang kedua, Aaron Swarz ditemukan tewas menggantung diri di New York (untuk lebih jelasnya bisa dicari di wikipedia atau youtube).

Saya melihat betapa untuk memegang prinsip dan keyakinan itu sulit. Seperti Dickey, dia hanya berusaha untuk menjadi diri sendiri sejujur-jujurnya namun pada akhirnya ada pihak lain yang ketakutan dengan keberadaannya. Lalu Swartz juga merasakan pengasingan karena untuk fit-in dan berdiri atas prinsip dan keyakinannya ternyata banyak juga yang merasa khawatir posisinya runtuh. Di documentary film Swartz itu disebutkan begini: He feels comfortable with the world, but world feel uncomfortable with his presence. Gila. Bisa bayangkan tidak rasanya bagaimana? Dia pasti merasa sendiri dan tidak cocok di mana-mana. Depresi hingga akhirnya bunuh diri. 

Di dua cerita ini mengacu pada pemerintah yang tidak memberikan kebebasan untuk berpikir dan 'membunuh' mereka. Ketakutan akan isi otak dan idealisme seseorang karena dianggap mampu menggerakan manusia lainnya hingga menjadi 'berbahaya'. Tidak usah dengan pemerintah dulu deh, karena scope nya jadi kebesaran. Coba dengan keinginan dan keyakinan kita, pasti mudah dikebiri ditengah jalan kan? Mungkin sebenarnya masyarakat tidak bisa menerima sesuatu yang diluar dari normanya, yang sebenarnya normanya sendiri belum tentu benar dan sering kali bias. Atau mungkin terjadi juga di antara kita yang tidak bisa mengapresiasi perbedaan itu sendiri. Namun ada sih yang menurut saya lebih fatal yakni pemahaman kalau mereka tidak tahu sesuatu maka sesuatu itu tidak ada. Seolah tidak memberikan kemungkinan kalau ada banyak hal yang tersedia namun mereka tidak tahu. Kan kasian sebenarnya.

Idealisme itu mungkin mahal harganya dan dibayar dengan nyawa. Banyak yang berkata bahwa idealisme dapat mematikan seseorang. Mungkin ya dan tidak. 'Ya' karena banyak nyawa yang bergelimpangan karena idealisme ini dan dianggap beberapa orang mengikuti idealisme adalah sebuah kesia-siaan. Namun menjadi 'tidak' apabila dia menjalani idealisme ini sebagai panggilan hidupnya dan misi yang diemban di dunia. Bahwa pada akhirnya saya dan kamu akan mati lalu kenapa tidak melakukan apa yang membuat kamu benar-benar hidup? Atau mau raga hidup tapi jiwa mati?




Comments

Popular Posts