Biru dan Ungu


pic: pribadi, Seminyak, 2 Mei 2015.


Terbangun di pagi yang masih muda membuat saya terkejut. Saya terbangun dan serta merta mata saya benderang. Pagi ini masih terlalu pagi dan saya masih setengah terbangun belum sepenuhnya. Ada selapis selaput tipis antara kesadaran dan tidaknya. Saya berhenti di situ. Saya tidak tahu apa namanya momen tadi itu. Ngelindur? Rasanya tidak. 

Saya merasa momen itu berwarna biru dan ungu. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan jelas seperti perlu mendekatkan diri namun takut-takut. Hanya bisa saya deskripsikan dengan warna dan itu terjadi ketika melihat dan berkenalan dengan orang baru pertama kali, saya akan mendeskripsikan dia dengan warna. Rasa ini janggal namun tidak membahayakan. Ada rasa damai dan sepi di sana. Sepi yang betul-betul hening bening hingga jantung saya berdebar hangat namun kaki saya sedikit kedinginan. Atmosfir yang agung, hening dan murni  Ketika momen itu saya merasa cukup. Pada momen itu pula saya merasa kepenuhan.  

Sepi ini melahirkan rasa lain seperti koneksi dengan diri sendiri dan pikiran, terbuka seluas-luasnya. Mungkin benar apabila ada beberapa orang berdoa dan memulai kerjanya pada jam segini karena jam inilah seolah aliran energi Tuhan dan alam semesta sungguh terasa. Mungkin benar apabila mencari sesuatu carilah keheningan. Keheningan dan ketiadaan mampu melahirkan sesuatu. Selesai itu saya menemukan sebuah kata: menerima. Menerima dan membuka hati apa pun itu.

Kemarin saya berdoa dengan sangat. Sungguh-sungguh berdoa agar saya tidak menjadi 'pengecut' yang mudah lari. Saya berdoa untuk tidak jadi penakut untuk mengambil komitmen karena menurut saya itu menakutkan. Komitmen dengan diri sendiri bahwa saya bertanggung jawab sepenuhnya untuk semua hidup, tubuh dan jiwa saya. Saya terlalu overthinking atau terlalu 'dalam'? Saya rasa tidak. Saya hanya lelah, lelah sekali apabila harus terus-terusan menjadi kekanakan dan tidak bertumbuh. Saya lelah, lelah sekali menghadapi diri saya yang takut ini itu dan melarikan diri dari hidup, dari semua kesulitannya, dari semua lukanya, dan dari semua gesekannya. Saya menemukan diri saya terhenti, stuck di sana, stagnan, membosankan dan  menjemukan. Saya ingin melangkah ke tempat yang lebih dalam. Saya ingin menjadi berani untuk masuk ke kedalaman meski misalnya itu tidak mudah dan pasti saya sesekali akan mengeluh. Saya yakin tidak hanya saya yang pernah merasa ini karena pada suatu fase akan ada momen ini ketika segalanya harus diruntuhkan dulu untuk membangun sesuatu. Ketika harus menjadi pecah dan penyok dulu untuk membentuk wujud lain. 

Saya ulang sekali lagi. Mungkin kata kuncinya adalah menerima, membuka hati apapun itu. Menghadapi seberani-beraninya. Berpasrah dalam arus-Nya dan menyadari bahwa tidak ada eskapisme dalam hal menerima. Tidak ada. Membiarkan diri dituntun oleh-Nya sebagai bentuk menyerahan diri karena dia Allah yang setia. Dan bagi saya yang tersulit adalah membiarkan diri dicintai bukan hanya mencintai. Itu sama sulitnya. Menerima kasih dari luar dan tidak serta merta membentengi diri. Mencintai itu memberikan dan menurut saya lebih mudah dari pada menerima diri untuk dicintai. Karena ternyata kita kadang menjudge diri sendiri bahwa kita bukan apa-apa untuk dicintai. Sehingga rasa dicintai itu saya rasa perlu. Dicintai keluarga, teman, kekasih dan yang terpenting merasakan cinta Tuhan. Keberanian untuk keluar dan memperlihatkan sisi 'penyok dan pecah'. Menunjukan bahwa kamu juga memiliki sisi vulnerable. Bahwa kamu dan orang lain pun sama-sama memiliki patahan-patahan di berbagai tempat yang sudah atau sedang kamu perbaiki dan plester sedemikian rupa. Menemukan bahwa hati manusia memiliki mekanismenya sendiri untuk sembuh. Bahwa mungkin hati manusia diciptakan untuk terluka, sembuh dan dia menjadi kuat dari sebelumnya. Toh dalam luka dan kematian, Dia bangkit. Saya dan kamu, kita sama-sama pernah terluka, bukankah demikian? Namun kita menjadi semakin kuat dari sebelumnya. Tidak, tidak usah takut menjadi dewasa. Jadilah tenang! Saya ingatkan sekali lagi: Tidak ada sehelai rambut pun yang terlewatkan dari rencana Tuhan.

Lalu kemarin saya terpesona sendiri dengan tulisannya Paulo Coelho di salah satu bukunya, Aleph. Ada satu halaman penuh yang saya gemari dan saya baca berulang-ulang. Begini:

"Aku mencintaimu," kataku padanya. "Aku mencintaimu karena semua cinta di dunia ini seperti sungai berbeda-beda yang akhirnya mengalir menuju danau yang sama. Semuanya bertemu dan kemudian menjadi satu cinta yang menjadi hujan dan memberkati bumi.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang menciptakan keadaan-keadaan yang tepat bagi pohon-pohon, semak-semak, dan bunga-bunga untuk tumbuh dan berkembang di pinggirannya. Aku mencintaimu seperti sungai yang memberikan air pada yang haus dan mengantar orang-orang ke mana pun tempat yang mereka tuju.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang memahami bahwa ia harus mengalir ke arah berbeda saat melewati air terjun dan beristirahat di cekungan-cekungan rendah. Aku mencintaimu karena kita semua lahir di tempat yang sama, pada sumber yang sama, sehingga sumber air untuk kita selalu tersedia. Jadi, saat kita merasa lemah, kita hanya perlu menunggu sebentar. Musim semi kembali, dan salju musim dingin meleleh serta memberi kita energi baru.
"Aku mencintaimu seperti sungai yang dimulai dengan tetesan-tetesan sepi di pegunungan, lalu pelan-pelan membesar dan bergabung dengan sungai-sungai lain sampai pada satu titik, sungai itu dapat mengalir melewati hambatan apa pun untuk mencapai tujuannya.
"Aku menerima cintamu dan memberikan cintaku. Bukan cinta lelaki pada perempuan, bukan cinta ayah pada anak, bukan cinta Tuhan pada umat-Nya, melainkan cinta tanpa nama dan tanpa penjelasan, seperti sungai yang tidak bisa menjelaskan kenapa ia mengikuti alur tertentu dan hanya terus mengalir. Cinta yang tidak meminta dan memberikan apa-apa; sungai yang hanya hadir, apa adanya. Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, dan kau tidak akan pernah menjadi milikmu, meski begitu, jujur kukatakan: aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu."
 Astaganaga kan? Terbengong-bengong sendiri sampai pada pemahaman itu. Apa gerangan yang harus dia lewati untuk bisa lahir sebuah tulisan itu, ya memang harus mau dibentuk, dipecahkan, dikoyak dan terluka.  Karena itu: Bertumbuhlah!



Ps.
ini adalah sebuah catatan kecil sebelum ikut retret tiga hari, semoga disegarkan kembali! Selamat menikmati hidup ya, sahabat. Doakan semoga saya bisa bertumbuh. Tuhan memberkati. Terima kasih, terima kasih, terima kasih! 


Comments

Popular Posts