18.4.16

Konspirasi Tai Kucing #4: Sifat Dominan



Mungkin tulisan ini akan saya baca sambil ketawa-ketawa sepuluh tahun dari sekarang. Itu pasti. Jadi ya sudahlah agar ada bahan yang bisa diketawain sepuluh tahun mendatang, lebih baik saya tulis ya kan? Menghibur diri sendiri di masa depan itu baik adanya, bukankah kita harus bisa menertawakan diri sendiri agar tidak stress dan memiliki humor yang bagus. Ya hitung-hitung agar tidak mudah jantungan deh.

Sampai mana ya tadi? Oh ya, akhir-akhir ini saya sedang menunggu-nunggu twit war dengan topik perempuan. Karena apa? Karena sebentar lagi hari Kartini saudara-saudara. Saya sudah tidak sabar membaca artikel-artikel tentang perempuan. Oh please please feed my ego and my curiosity well, dearest you who might concern. Saya lagi kosong tidak ada amunisi apa-apa nih, sedih deh. Kayaknya lagi buntu, ada saatnya saya duduk manis di kursi penonton. Mengamati. 

Menjadi perempuan. Saya rasa definisi menjadi perempuan kian berkembang di masa ini dan salah satu yang tidak berbeda mungkin adalah alat reproduksi. Penjelasan akan perempuan yang harus begini dan harus begitu pun rasanya sudah mulai terkikis perlahan. Baik laki-laki dan perempuan semakin terbuka dengan pemahaman kesetaraan gender, namun tetap juga ada yang tak bergeming. Mungkin sedikit kejedot pas masih kecil kali ya. 

Ada satu hal yang menarik untuk dibicarakan: Apakah semenyeramkan itu perempuan yang bisa mendominasi laki-laki? Saya muncul pertanyaan tersebut pada saat diskusi kelompok. Ada sebuah pertanyaan begini: tipe pasangan seperti apakah yang kamu inginkan? Pertanyaannya mudah dong dan pasti dijawab dengan nilai-nilai ideal pasanan yang diingini seperti apa, dan kebetulan perempuan menjawab mereka ingin laki-laki yang lebih superior dari mereka dan laki-laki ingin perempuan yang inferior tidak dominan. Saya lupa saya menjawab apa ya, karena saya terlalu asyik mendengarkan opini orang lain. Lalu  muncul sebuah pertanyaan, hubungan yang seperti apa yang kamu inginkan dengan pasanganmu? Rata-rata menjawab: laki-laki sebagai pemimpin yang bisa mengayomi. Lalu saya menjawab kalau saya ingin hubungan yang sejalan, saling berdampingan, hubungan yang equal dan kalau ada masalah baiknya diambil cara win-win solution bukan melulu persoalan siapa mengalah siapa. Eh tiba-tiba saya ditanya apakah saya perempuan dominan atau tidak?

Menurut saya, saya adalah perempuan dominan karena saya tidak suka diatur, itu satu. Lalu yang kedua saya tidak suka saja gitu kalau misalnya harus jadi inferior di bawah siapa pun. Maka saya lebih memilih hubungan yang equal jadi berdua memang sepadan untuk hidup bersama. Ya gak sih? Pernah suatu ketika, menjalani hubungan dengan seorang laki-laki yang sebegitu tinggi egonya hingga akhirnya harus sok-sok lemah atau sok-sok bego karena dia tidak suka perempuan yang lebih pintar atau lebih tahu dari dia dan begonya saya, saya iya-iya aja, lalu jadilah Metta yang bego. Hingga akhirnya saya tidak tahan karena memberi makan ego orang lain terus menerus rasanya menyakiti diri sendiri sebenarnya. 

Entah mengapa kita dipaksa menjadi ketakutan dengan kata: perempuan dominan. Terbayang perempuan yang galak, judes, ngeselin, dan lain-lain. Seolah menjadi dominan bukan nature nya perempuan. Seolah perempuan diciptakan untuk ya submissive yang passive. Tapi apa iya? Saya rasa banyak juga laki-laki yang sebenarnya tidak dominan namun dipaksa untuk menjadi dominan, karena dominan ini sebagai ciri gambar laki-laki sejati. Menurut saya setiap orang berbeda dengan bawaan sifat dan background yang berbeda, sehingga sebenarnya pemilihan sifat dari jenis kelamin rasanya tidak relevan. Saya juga merasa terkadang berat juga ya jadi laki-laki karena harus mengikuti standard maskulin di masyarakat. Ya sebenarnya urusan sexism ini tidak akan habis-habis sih karena praktiknya masih banyak dan saya pun kerap masih sexist. Saya pribadi merasa menjadi perempuan dominan mempunyai kekuatan sendiri untuk bertanggung jawab atas hidupnya dan sebenarnya meringankan tugas laki-laki yang dituntut ini itu. Atau mungkin sebenarnya laki-laki suka dituntut ini-itu dan menunjukan kekuatannya ya? Saya cari tahu dulu ya haha.

Tapi ya mungkin loh ya, pada akhirnya sifat-sifat mendasar perempuan dan laki-laki ini akan disempurnakan ketika mereka saling mencintai karena pasti ada banyak hal yang harus ditolerir untuk bisa bersama, ya bahwasanya menjalani hubungan itu susah-susah gampang dan butuh kerja sama yang baik. Lalu ada juga yang berkata bahwa kita terlalu banyak memilih tipe kualitas seseorang  untuk menjadi pasangan tanpa peduli yang terpenting adalah kualitas hubungan itu sendiri. Bagaimana? Bukankah perjalanan pertemuan dan percintaan pemuda dan gadis itu sebegitu rumitnya? 

Yha~


13.4.16

Konspirasi Tai Kucing #3: Tubuh dan Ketelanjangan Asali


Setelah membaca tulisan Ibu saya tentang Ketelanjangan Asali dan berdiskusi singkat dengan beliau, saya kembali memerlukan medium untuk merangkum agar tidak mudah lupa, maklum di dalam otak saya yang  IQ jongkok ini memerlukan sedikit ruang agar tidak kesempitan lalu bisa diisi lebih banyak lagi nanti. Susah ya punya otak seuprit dengan kecerdasan yang tidak pintar-pintar amat sehingga selalu harus berjalan mencari meraba-raba dan membaca ke sana-ke mari. Satu-satunya yang saya punyai adalah rasa penasaran itu saja. Sudahlah biarkan saya asyik sendiri mencari-cari, berpikir ala kadarnya kemudian bertanya. Mungkin itulah cara saya belajar. 

Saya sedang tertarik dengan sebuah topik mengenai tubuh. Tubuh dengan jiwa dan kedagingannya yang terkadang diartikan terpisah dengan mengatakan bahwa jiwa itu baik dan daging itu jahat. Padahal telah diciptakan keduanya, bukankah seharusnya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi? Sebenarnya terbesit pertanyaan ini ketika saya sedang duduk di gereja. Ada salib dari kayu dipajang besar sekali di dinding altar. Salib dengan tubuh Yesus beserta kain penutup aurat. Saat itu pastor sedang kotbah namun ternyata pikiran saya ke mana-mana dan memikirkan kenapa peristiwa penyaliban ini melibatkan tubuh yang berdarah-darah dan tercabik-cabik ya? Tidakkah cukup dengan memperlihatkan ke-Ilahian Allah dari jiwa saja? Mengapa justru tubuh? Bukankah katanya, hidup bukan hanya dari daging saja melainkan juga roh? Kenapa tidak langsung saja pada inti jiwa/roh saja ya? Saya pusing sendiri sesungguhnya dan saya masih berpikir lama tanpa memperdulikan pastor. 

Lepas dari peristiwa itu dengan pertanyaan yang masih menggelayut tertinggal saja demikian dan terlupakan karena saya mentok. Kembali menjalani hari-hari yang biasa saja, lalu asyik bercanda makan siang dengan teman kantor tentang seks dan seputar selangkangan. Honey, ketika laki-laki seumuran saya sudah puas membicarakannya ketika remaja, kami perempuan baru mulai membicarakannya dan mengeksplor. Mungkin memang ada sebuah aturan terselubung bahwa pembicaraan tersebut tidak elok untuk perempuan, walau sebenarnya perempuan pun sama-sama makhluk seksual. Heran kan? Seperti pembicaraan bagaimana prempuan mengeksplor tubuhnya sendiri, pengalamannya mengenal tubuhnya dan kenikmatannya atau pemikirannya tentang tubuhnya. Tidak mudah dibicarakan atau diungkapkan. Seolah hal tersebut bukan milik perempuan dan harus dijaga rapat-rapat dan meyakinkan masyarakat kalau perempuan itu submissive dan aseksual. Kenapa ya? 

Kemudian saya berdiskusi dengan Ibu tentang hal tersebut dan keluarlah sebuah frasa Ketelanjangan Asali, ternyata ini menyambung dari Teologi Tubuh dari Paus Yohanes Paulus II. Dasar pembahasannya dari penciptaan manusia di Genesis / Kejadian 2:25 ..."Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tapi tidak merasa malu." Kata kuncinya telanjang dan tidak merasa malu, karena mereka melihat sebagai subjek yang harus dihargai. Ketelanjangan adalah sebuah situasi ketika sesuatu itu suci dan murni, tidak ada yang ditutupi di sana. Itulah perayaan manusia yang pertama, dalam ketelanjangan nilai tubuh dirayakan dengan agung dan ilahiyah. Lalu Paus Yohanes Paulus II merefleksikan bahwa karakter manusia adalah berelasi, kesadaran manusia untuk memberikan dirinya pada manusia lainnya sebagai ungkapan cinta. Ini disebut juga sebagai makna nupsial tubuh, karakter relasional tubuh yang mengarah pada pemberian diri yang berdasarkan pada cinta sejati*. Situasi ketelanjangan asali ini manusia mengungkapkan tubuh sebagai pemberian (diartikan sebagai perkawinan) ungkapan cinta, melihat manusia bukan sebagai objek melainkan subjek. Lalu makna nupsial ini menjadi hilang makna karena manusia dikendalikan nafsu dan memandang manusia lainnya sebagai objek semata.

Pembahasan ketelanjangan asali ini amat menarik karena tubuh merupakan kehadiran yang nyata dan konkret dari penciptaan Tuhan. Kita mengenal seseorang dimulai dari tubuhnya, langkah awal mengenal pribadi dan jiwa. Namun sayangnya manusia mulai tidak menghargai tubuh karena hanya dikaitkan dengan nafsu dan fungsi seksualnya saja. Mereduksi tujuan dan nilai tubuh itu sendiri sehingga membalikkan makna tubuh yang dekat dengan dosa dan objek pemuasaan hasrat saja, karenanya maka harus dikendalikan, dikekang atau dimusnahkan. Kita melupakan bahwa tubuh adalah karya agung Allah, tubuh dan seksualitas adalah baik adanya dan perlunya kita bersyukur karenanya. Seksualitas itu sendiri bukan hanya mencakup kegiatan seksual saja, itu hanya bagian kecil. Seksualitas adalah keinginan kita untuk mengasihi dan dikasihi, dapat berupa pengakuan, penerimaan dan ekspresi diri manusia sebagai mahluk seksual. Hingga menjadi salah apabila diartikan seksualitas adalah kegiatan berhubungan seks saja. Itu lebih dari itu.

Seiringnya dengan berkembangnya pengetahuan dan kemudahan teknologi, berimbas pula pada relasi manusia dan pemahaman manusia mengenai tubuh. Karena tubuh berubah sebagai komoditi untuk dipasarkan. Tubuh diidentikan dengan seks, kenikmatan tubuh saja tanpa cinta. Hingga pandangan ini merubah pola pikir perempuan dan laki-laki  mengenai tubuh mereka dan saling tidak menghargai satu sama lain karena degradasi makna tubuh. Seandainya makna tubuh dipulihkan kembali ke titik nol maka ketimpangan pun akan berkurang dan hilang, hingga perempuan dan laki-laki bisa sejajar dan tidak didefinisikan dari tubuh sebagai fungsi seksualnya namun sebagai manusia. Penghargaan akan manusia seutuhnya.

Hingga lalu saya terbesit jawaban mengapa karya keilahian Allah atas penebusan Yesus Kristus disimbolkan dari tubuh? Untuk memulihkan makna tubuh itu sendiri. Bahwa karya Allah yang Ilahi dilihat konkret dan nyata dari tubuh. Penciptaan tubuh yang fana ini sebagai ungkapan penerimaan kasih Allah untuk dibagikan pada sesama. Hingga akhirnya jiwa pun bisa menemukan keutuhannya lagi dengan Sang Cinta itu sendiri.

Mungkin demikian untuk saat ini. Iya.



* Refrensi: Teologi Tubuh 

8.4.16

Biru dan Ungu


pic: pribadi, Seminyak, 2 Mei 2015.


Terbangun di pagi yang masih muda membuat saya terkejut. Saya terbangun dan serta merta mata saya benderang. Pagi ini masih terlalu pagi dan saya masih setengah terbangun belum sepenuhnya. Ada selapis selaput tipis antara kesadaran dan tidaknya. Saya berhenti di situ. Saya tidak tahu apa namanya momen tadi itu. Ngelindur? Rasanya tidak. 

Saya merasa momen itu berwarna biru dan ungu. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan jelas seperti perlu mendekatkan diri namun takut-takut. Hanya bisa saya deskripsikan dengan warna dan itu terjadi ketika melihat dan berkenalan dengan orang baru pertama kali, saya akan mendeskripsikan dia dengan warna. Rasa ini janggal namun tidak membahayakan. Ada rasa damai dan sepi di sana. Sepi yang betul-betul hening bening hingga jantung saya berdebar hangat namun kaki saya sedikit kedinginan. Atmosfir yang agung, hening dan murni  Ketika momen itu saya merasa cukup. Pada momen itu pula saya merasa kepenuhan.  

Sepi ini melahirkan rasa lain seperti koneksi dengan diri sendiri dan pikiran, terbuka seluas-luasnya. Mungkin benar apabila ada beberapa orang berdoa dan memulai kerjanya pada jam segini karena jam inilah seolah aliran energi Tuhan dan alam semesta sungguh terasa. Mungkin benar apabila mencari sesuatu carilah keheningan. Keheningan dan ketiadaan mampu melahirkan sesuatu. Selesai itu saya menemukan sebuah kata: menerima. Menerima dan membuka hati apa pun itu.

Kemarin saya berdoa dengan sangat. Sungguh-sungguh berdoa agar saya tidak menjadi 'pengecut' yang mudah lari. Saya berdoa untuk tidak jadi penakut untuk mengambil komitmen karena menurut saya itu menakutkan. Komitmen dengan diri sendiri bahwa saya bertanggung jawab sepenuhnya untuk semua hidup, tubuh dan jiwa saya. Saya terlalu overthinking atau terlalu 'dalam'? Saya rasa tidak. Saya hanya lelah, lelah sekali apabila harus terus-terusan menjadi kekanakan dan tidak bertumbuh. Saya lelah, lelah sekali menghadapi diri saya yang takut ini itu dan melarikan diri dari hidup, dari semua kesulitannya, dari semua lukanya, dan dari semua gesekannya. Saya menemukan diri saya terhenti, stuck di sana, stagnan, membosankan dan  menjemukan. Saya ingin melangkah ke tempat yang lebih dalam. Saya ingin menjadi berani untuk masuk ke kedalaman meski misalnya itu tidak mudah dan pasti saya sesekali akan mengeluh. Saya yakin tidak hanya saya yang pernah merasa ini karena pada suatu fase akan ada momen ini ketika segalanya harus diruntuhkan dulu untuk membangun sesuatu. Ketika harus menjadi pecah dan penyok dulu untuk membentuk wujud lain. 

Saya ulang sekali lagi. Mungkin kata kuncinya adalah menerima, membuka hati apapun itu. Menghadapi seberani-beraninya. Berpasrah dalam arus-Nya dan menyadari bahwa tidak ada eskapisme dalam hal menerima. Tidak ada. Membiarkan diri dituntun oleh-Nya sebagai bentuk menyerahan diri karena dia Allah yang setia. Dan bagi saya yang tersulit adalah membiarkan diri dicintai bukan hanya mencintai. Itu sama sulitnya. Menerima kasih dari luar dan tidak serta merta membentengi diri. Mencintai itu memberikan dan menurut saya lebih mudah dari pada menerima diri untuk dicintai. Karena ternyata kita kadang menjudge diri sendiri bahwa kita bukan apa-apa untuk dicintai. Sehingga rasa dicintai itu saya rasa perlu. Dicintai keluarga, teman, kekasih dan yang terpenting merasakan cinta Tuhan. Keberanian untuk keluar dan memperlihatkan sisi 'penyok dan pecah'. Menunjukan bahwa kamu juga memiliki sisi vulnerable. Bahwa kamu dan orang lain pun sama-sama memiliki patahan-patahan di berbagai tempat yang sudah atau sedang kamu perbaiki dan plester sedemikian rupa. Menemukan bahwa hati manusia memiliki mekanismenya sendiri untuk sembuh. Bahwa mungkin hati manusia diciptakan untuk terluka, sembuh dan dia menjadi kuat dari sebelumnya. Toh dalam luka dan kematian, Dia bangkit. Saya dan kamu, kita sama-sama pernah terluka, bukankah demikian? Namun kita menjadi semakin kuat dari sebelumnya. Tidak, tidak usah takut menjadi dewasa. Jadilah tenang! Saya ingatkan sekali lagi: Tidak ada sehelai rambut pun yang terlewatkan dari rencana Tuhan.

Lalu kemarin saya terpesona sendiri dengan tulisannya Paulo Coelho di salah satu bukunya, Aleph. Ada satu halaman penuh yang saya gemari dan saya baca berulang-ulang. Begini:

"Aku mencintaimu," kataku padanya. "Aku mencintaimu karena semua cinta di dunia ini seperti sungai berbeda-beda yang akhirnya mengalir menuju danau yang sama. Semuanya bertemu dan kemudian menjadi satu cinta yang menjadi hujan dan memberkati bumi.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang menciptakan keadaan-keadaan yang tepat bagi pohon-pohon, semak-semak, dan bunga-bunga untuk tumbuh dan berkembang di pinggirannya. Aku mencintaimu seperti sungai yang memberikan air pada yang haus dan mengantar orang-orang ke mana pun tempat yang mereka tuju.

"Aku mencintaimu seperti sungai yang memahami bahwa ia harus mengalir ke arah berbeda saat melewati air terjun dan beristirahat di cekungan-cekungan rendah. Aku mencintaimu karena kita semua lahir di tempat yang sama, pada sumber yang sama, sehingga sumber air untuk kita selalu tersedia. Jadi, saat kita merasa lemah, kita hanya perlu menunggu sebentar. Musim semi kembali, dan salju musim dingin meleleh serta memberi kita energi baru.
"Aku mencintaimu seperti sungai yang dimulai dengan tetesan-tetesan sepi di pegunungan, lalu pelan-pelan membesar dan bergabung dengan sungai-sungai lain sampai pada satu titik, sungai itu dapat mengalir melewati hambatan apa pun untuk mencapai tujuannya.
"Aku menerima cintamu dan memberikan cintaku. Bukan cinta lelaki pada perempuan, bukan cinta ayah pada anak, bukan cinta Tuhan pada umat-Nya, melainkan cinta tanpa nama dan tanpa penjelasan, seperti sungai yang tidak bisa menjelaskan kenapa ia mengikuti alur tertentu dan hanya terus mengalir. Cinta yang tidak meminta dan memberikan apa-apa; sungai yang hanya hadir, apa adanya. Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, dan kau tidak akan pernah menjadi milikmu, meski begitu, jujur kukatakan: aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu."
 Astaganaga kan? Terbengong-bengong sendiri sampai pada pemahaman itu. Apa gerangan yang harus dia lewati untuk bisa lahir sebuah tulisan itu, ya memang harus mau dibentuk, dipecahkan, dikoyak dan terluka.  Karena itu: Bertumbuhlah!



Ps.
ini adalah sebuah catatan kecil sebelum ikut retret tiga hari, semoga disegarkan kembali! Selamat menikmati hidup ya, sahabat. Doakan semoga saya bisa bertumbuh. Tuhan memberkati. Terima kasih, terima kasih, terima kasih! 


2.4.16

Konspirasi Tai Kucing 2#: Idealisme Itu Mematikan?


Hiburan menarik itu bukan hanya dari mall-mall dan membeli suatu barang. Itu sih menurut saya. Ya namun tidak bisa disalahkan apabila pada akhirnya kita terjebak hiburan di gedung-gedung bertingkat karena hanya itu yang tersedia. Sehingga mencari hiburan kecil di sebuah kedai kopi dan berbagi cerita adalah sedikit remah-remah yang bisa dinikmati selagi bisa. Kita semakin melupakan momen untuk menikmati kedalaman pembicaraan. Kalau terkadang pembicaraan dua teman secara langsung dengan tatap mata, berbagi ruang, tertawa bersama dan memperlihatkan gesture serta mimik adalah cara yang paling murah dan efektif untuk mencapai suatu kedekatan. Percaya tidak, kalau menemukan lawan bicara yang sepadan adalah sebuah anugerah. Sepadan dalam arti kesamaan frekuensi atau setidaknya tidak ada judgment. Itu sih. Kenapa sih semakin dewasa kita semakin judgmental? Seperti was-was dan harus waspada setiap saat karena bisa saja tiba-tiba kita 'disenggol' orang lain. Hingga pada akhirnya apabila belum menemukan lawan bicara yang sepadan, lebih baik berpuas diri dengan buku dan riset sendiri. Meski akhirnya jadi melahirkan teori aneh, ya udahlah ya. Harus mencukupkan diri seadanya lalu saat bertemu dengan sahabat-sahabat kembalilah berbagi dan bertukar info. Ada waktunya menyendiri mungkin, agar fermentasinya kuat kayak tape. 

Ada beberapa pertanyaan menarik seminggu ini. Pasti gara-gara kebanyakan makan micin deh jadinya rada-rada bego nanya mulu eh tapi jawabannya susah belum ketemu. Harus buat mind mapping rasanya agar sedikit tahu sebenarnya ke mana alurnya. 

Kemarin ini saya sedang gatal sekali ingin nonton short movie yang sekejap mata tapi membuat otak berasap ke mana-mana. Nah, esensi ini yang dikejar. Lalu tiba-tiba saya teringat dengan sebuah cerpen Examination Day karya Henry Slesar di tahun 1958. Sebenarnya pertama kali baca  cerpen ini di buku belajar baca bahasa Jerman. Saya baca sampai jereng rasanya. Ceritanya adalah tentang seorang anak pintar cerdas bernama Dickie Jordan. Mereka tinggal di era masa depan distopia, yakni sebuah masyarakat yang tinggal di bawah pemerintah yang totaliter/ otoriter. Ada sebuah peraturan pemerintah bahwa anak berusia 12 tahun wajib mengikuti test IQ. Tepat pada ulang tahunnya yang ke 12, dia ikut test IQ ini. Dia sangat penasaran dan bersemangat ikut test ini, sedangkan orang tuanya terlihat sangat cemas. Hingga pada hari test tiba, Dickey harus meminum cairan agar bisa berbicara jujur saat menjawab test IQ ini dan hasilnya Dickey 'gagal' dalam test tersebut dan dieksekusi mati. Apa alasannya? Kecerdasan Dickey melebihi limit ketentuan pemerintah sehingga harus dimusnahkan. 

Lalu hari ini sepulang kantor, saya memilih untuk merayakan hari Jumat dengan selimutan membaca buku sampai kelaparan. Hingga akhirnya meyudahi membaca dan beralih liat-liat film dokumenter di youtube. Tadinya saya mau memanjakan diri lihat documenter yang serem-serem agar menyudahi rasa penasaran, eh tapi ternyata otak reptil saya bekerja lebih keras sehingga saya tidak jadi dan penasaran dengan film dokumenternya Aaron Swartz. Siapakah mas Aaron ini? *sok kenal* Dia adalah internet aktivis yang membayar mahal untuk kecerdasan dan idealisme. Dialah penggiat kebebasan informasi yang melawan UU Anti Pembajakan (SOPA). Hingga akhirnya sekarang kita masih bisa mengakses informasi di internet untuk buat thesis . Dia adalah co-designer-of-tools  RSS dan Markdown , yang ikut membuat peradaban internet hingga secanggih sekarang. Dia juga adalah seseorang yang buat kode system copyright agar orang awam bisa melindungi hak cipta mereka ketika orang lain ingin menggunakan karyanya. 

Dalam pertumbuhannya dia semakin tertarik pada politik dan melihat bahwa terdapat praktik ketidakadilan dan ketimpangan yang berbau neoliberal capitalism. Karena diberkahi talenta dalam bidang teknologi sehingga dia dikenal sebagai the most technologically- gifted political activist in history. Singkat cerita, dia terbentur dengan tuduhan dari federal setelah mengunduh banyak makalah akademis yang seharusnya berbayar menjadi bisa didistribusikan secara gratis untuk siapapun yang membutuhkan informasi tersebut. Lalu dia dihukum cukup berat denda maksimal $ 1 Juta dan 35 tahun penjara. Setelah jaksa federal menolak tawaran pengacaranya yang kedua, Aaron Swarz ditemukan tewas menggantung diri di New York (untuk lebih jelasnya bisa dicari di wikipedia atau youtube).

Saya melihat betapa untuk memegang prinsip dan keyakinan itu sulit. Seperti Dickey, dia hanya berusaha untuk menjadi diri sendiri sejujur-jujurnya namun pada akhirnya ada pihak lain yang ketakutan dengan keberadaannya. Lalu Swartz juga merasakan pengasingan karena untuk fit-in dan berdiri atas prinsip dan keyakinannya ternyata banyak juga yang merasa khawatir posisinya runtuh. Di documentary film Swartz itu disebutkan begini: He feels comfortable with the world, but world feel uncomfortable with his presence. Gila. Bisa bayangkan tidak rasanya bagaimana? Dia pasti merasa sendiri dan tidak cocok di mana-mana. Depresi hingga akhirnya bunuh diri. 

Di dua cerita ini mengacu pada pemerintah yang tidak memberikan kebebasan untuk berpikir dan 'membunuh' mereka. Ketakutan akan isi otak dan idealisme seseorang karena dianggap mampu menggerakan manusia lainnya hingga menjadi 'berbahaya'. Tidak usah dengan pemerintah dulu deh, karena scope nya jadi kebesaran. Coba dengan keinginan dan keyakinan kita, pasti mudah dikebiri ditengah jalan kan? Mungkin sebenarnya masyarakat tidak bisa menerima sesuatu yang diluar dari normanya, yang sebenarnya normanya sendiri belum tentu benar dan sering kali bias. Atau mungkin terjadi juga di antara kita yang tidak bisa mengapresiasi perbedaan itu sendiri. Namun ada sih yang menurut saya lebih fatal yakni pemahaman kalau mereka tidak tahu sesuatu maka sesuatu itu tidak ada. Seolah tidak memberikan kemungkinan kalau ada banyak hal yang tersedia namun mereka tidak tahu. Kan kasian sebenarnya.

Idealisme itu mungkin mahal harganya dan dibayar dengan nyawa. Banyak yang berkata bahwa idealisme dapat mematikan seseorang. Mungkin ya dan tidak. 'Ya' karena banyak nyawa yang bergelimpangan karena idealisme ini dan dianggap beberapa orang mengikuti idealisme adalah sebuah kesia-siaan. Namun menjadi 'tidak' apabila dia menjalani idealisme ini sebagai panggilan hidupnya dan misi yang diemban di dunia. Bahwa pada akhirnya saya dan kamu akan mati lalu kenapa tidak melakukan apa yang membuat kamu benar-benar hidup? Atau mau raga hidup tapi jiwa mati?




Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...