Obrolan Kamar Mandi


Hari ini saya cuti setengah hari karena diare dan menstruasi di hari pertama. Rasanya? Gimana yaa mendeskripsikannya, saya sampai bingung yang mana sakit perut karena kram dan sakit perut mules karena mau bab. Itu semua nyaru, bersatu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam satu mahligai cinta. Pokoknya rasanya setengah hari di kantor bolak-balik toilet seperti setrikaan rusak dan menghabis-habiskan air dan tissue. 

Saya sebagai perempuan, sudah menstruasi semenjak duduk di kelas 2 SMP. Bulan demi bulan terlewati dengan 'peperangan berdarah-darah' dan entah siapa pemenangnya. Yang pasti dilema menstruasi itu ada, kalau 'dapet' kita repot, kalau tidak 'dapet' wah itu lebih repot lagi. Sedari kecil pasti kita diajarkan untuk menutup erat-erat obrolan kamar mandi. Biarkan apa yang ada di kamar mandi tinggal di kamar mandi karena itu kotor dan najis. 

Segar sekali dalam ingatan saya ketika saya SMA dahulu. Saya dan kamu pasti tahu, puberty is a bitch. Apabila ada plang nya seharusnya ditulis begini: "Maaf, sedang dalam proses perbaikan." Saat-saat pubertas ini semua orang dalam masa anomali, sini salah situ salah. Pernah suatu ketika saya menstruasi hari pertama di sekolah, seragam saya hijau kotak-kotak tembus dan terpampanglah seceplok darah merah. Saat itu saya malu sekali karena bocor. Seolah tembus karena menstruasi ini tidak boleh terjadi karena memalukan. Kita sebagai perempuan selalu diajarkan untuk menjaga agar hal-hal tersebut tidak keluar, tidak bocor, bahwa perempuan itu ya harus wangi, bersih, dan terjaga. Padahal dalam prosesnya perjuangan untuk sampai standard perempuan ideal itu bukan perkara mudah. Bahkan ketika perempuan menstruasi pun diatur padahal saat itu sedang morat-marit. 

Obrolan kamar mandi pamali untuk diceritakan karena mungkin society ingin lihat yang bagus-bagus saja dan yang menyegarkan mata saja tanpa mau melihat dibalik cantik dan wangi tersebut ada apa saja yang disembunyikan. Mungkin society lebih suka dibodoh-bodohi. Mungkin demikian. Saya kurang paham sampai sana. Menurut saya logika yang dimiliki society ini sungguh fana hanya melihat apa yang mau dilihat dan mendengar apa yang mau didengar. Mungkin society tidak ingin melihat 'kebocoran' sistem patriarki yang akhirnya tembus ke permukaan. Maka itu ditutup-tutupi dimulai dari darah perempuan dari rahim mereka. Di mana di sanalah kehidupan tumbuh. Mungkin sistem patriarki sudah mengendus bahwa sesungguhnya perempuan itu penggerak kehidupan.

Sampai saat ini saya pun masih harus belajar banyak dengan mengalami menjadi perempuan. Saya masih harus belajar mencintai rasa sakit kram saat menstruasi. Memeluk ritual alam yang dimiliki perempuan dan merayakan menjadi perempuan. 

Saya rasa tidak ada alasan bagi perempuan menjadi tidak bangga menjadi perempuan.

Comments

Popular Posts