25.3.16

Apa yang sering tidak kita bicarakan?


Hal yang menarik pada hari ini adalah hari Jumat yang libur. Betapa tidak? Rehat sejenak dari berbagai aktivitas yang monoton dan bisa berlibur panjang, entah jalan-jalan ataukah istirahat di rumah. Untuk beberapa orang tentu hari ini bukan sekedar liburan biasa karena hari ini adalah hari perayaan Jumat Agung, Hari Kematian Yesus Kristus. 

Hari Jumat Agung selalu ditandai dengan hari mendung disertai hujan terutama pada pukul 3.00 sore. Setidaknya itu yang selalu saya perhatikan selama ini. Ibu saya selalu berkata pada jam kerahiman tersebut akan mendung dan mungkin hujan karena alam ikut berduka atas kematian Raja Semesta. Untuk saya yang mengimani hal tersebut saya mempercayainya. Bukankah terdapat sebuah garis tipis antara logika nalar kritis dengan hal-hal yang menyangkut dengan spiritualisme Ketuhanan? Saya sendiri terkadang masih terseret-seret antara kedua hal ini. Namun hal yang saya yakini adalah kedua hal itu eksis di kehidupan kita, jadi seharusnya bisa saling memberikan jawaban. Meski sekarang ini dalam beberapa hal masih terantuk-antuk, tidak menemukan jawabannya. Tapi hei, sesuatu yang kontradiktif juga adalah jawaban kan?

Mengimani sesuatu terkadang pelik, apalagi iman yang diterima bulat-bulat secara harafiah. Sering kali ibu dan babeh berkata "Segala hal jangan diterima langsung, litterlijk (baca: litterlegh, arti literally) Lihat dasarnya, lihat teologi dan filsafatnya." Namun tentu kita tetap dengan kemalasan otak dan ketumpulan berpikir hingga mengartikan segalanya satu persatu kata, ya kan? Itulah godaan paling besar di abad ini, menjadi dangkal karena itu paling mudah dilakukan. Saya sering begitu. 

Sudah menyadari dan rasanya pernah menulis di tulisan sebelumnya bahwa saya bukanlah pemeluk Katolik yang militan. Sering bolong berdoa, malas gereja, bolos Legio Maria, lupa kalau harus Sakramen Tobat dan saya gemar mempertanyakan ini itu sampai ruwet. Sering kali enggan menyatakan identitas bahwa saya Katolik karena males ditanya ini-itu, malas berkonvrontasi dengan orang lain, malas untuk membicarakan agama karena takut baper. Saya rasa tidak sedikit yang pernah merasakan seperti ini. Hingga akhirnya kita memilih diam dengan dalil, sudahlah ntar ribet panjang ra uwis-uwis. Akhirnya kita hindari. Sesungguhnya sampai saat ini saya pun belum menemukan baiknya bagaimana sih haha. Saya masih mencari dan riset kanan kiri. Mungkin siapa tahu ada yang mau memberikan advise monggo loh, saya menanti. 

Di hari Jumat Agung yang bagi saya spesial ini, saya menemukan sekelumit jawaban untuk sebuah ketakutan: kematian. Saya takut mati karena saya belum pernah. Oke alasan menggelikan, tapi sungguh saya takut karena saya tidak tahu seperti apa itu kematian. Kalau kalian pernah nonton film Before Sunset, tokohnya si Celine juga takut akan kematian. I think I'm afraid of death 24 hours a day … I'm so scared of those few seconds of consciousness before you're gonna die.  Kematian adalah sebuah topik yang tidak mampu kita bicarakan blak-blakan ketika sedang berkumpul istirahat makan siang atau minum kopi. Bukan topik yang bisa kita ulas dengan santai tanpa ada rasa emosional di sana. Setidaknya itu yang saya rasakan. Terutama kematian orang yang kita sayangi. Sungguh sebagai manusia kita masih tergagap-gagap dengan kematian ini. Ya benar kita memang tidak mempunyai kendali atas urusan ini. Saya pernah baca salah satu tweet seseorang namun saya lupa siapa, dia menulis  salah satu lagu di film Begin Again berjudul Lost Stars. Ada satu lyric bunyinya begini Who are we? Just a speck of dust within the galaxy. Kalau di translete kira-kira jadi begini: Da aku mah apa atuh? Cuman butiran debu. Haha nah ini cocok tepat sekali menggambarkan situasi ini. Kita cuman butiran debu di alas kaki Tuhan, coy!

Pernah suatu hari saya dan adik kecil saya yang masih berumur lima tahun, Abhimanyu sedang berjalan ke kuburan Oma untuk nyekar. Saat itu kami jalan berdua dan melewati sebuah kuburan anak kecil. Lalu Abhimanyu diam sejenak dan bertanya, "Ini kuburan kecil ya? Kok anak kecil mati, kenapa?" Saya pun menjawab karena dia sakit keras. Lalu Abhimanyu pun bertanya lagi "Aku juga sedang sakit batuk, aku nanti mati ya?" Saya bingung mau menjelaskan bagaimana, akhirnya saya pun menjawab " Iya... kita semua nanti akan mati. Tapi kamu kan kemarin sudah ke dokter sudah mau sembuh kan." Akhirnya pembicaraan itu selesai begitu saja. Saya tahu jawaban saya masih menimbulkan pertanyaan, di otak Abhimanyu masih berputar, anak kecil kok mati? Bukankah seharusnya orang dewasa? Jadi aku juga bisa ya? Sungguh saya tidak tahu bagaimana menjelaskan kematian pada anak kecil karena saya sendiri pun ketakutan untuk sampai ke sana apalagi membayangkannya. 

Hingga akhirnya saya menemukan sedikit pencerahan dari Dia yang disalibkan dan kakinya saya cium tadi. Bahwa Yesus sendiri pun melewati kematian dengan penderitaan yang dia rasakan. Dengan ketakutan yang Dia alami dan berkata "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Yesus pun takut namun dia menghadapi penderitaannya dan kematiannya sebagai sesuatu yang harus dihadapi. Lalu akhirnya pada hari ketiga bangkit. 

Penderitaan dan kematian tidak akan bisa dihindari manusia. Itu adalah bagian dari hidup manusia. Dengan kematian Yesus di kayu salib, mengubah makna penderitaan dan kematian sebagai sesuatu yang tidak perlu ditakuti, semua akan kembali pada Bapa dan ada kebangkitan serta keselamatan dari sana.

Kira-kira demikian. Lalu saya jadi bertanya lagi, jikalau memang kita dilahirkan dan pada akhirnya kita mati dan kembali pada Nya,  sebenarnya hidup sendiri untuk apa ya?

Nah kan, mulai.


21.3.16

Obat pemati rasa



Kau butuh obat pemati rasa
Agar tahan berpura-pura
Redam tangis di ujung mata
Dalam peran dimainkan sementara

Bungkam mimpi hingga pusara
Seolah manusia tidak memiliki suara
Karena bekerja di ladang bayaran sehasta

Jangan karena dalih realita
Seolah hidup punya sembilan nyawa
Besok mati siapa sangka?



Serpong, 2016
Karena hari ini Hari Puisi Sedunia

13.3.16

Konspirasi Tai Kucing #1: Muda Medioker


Hai. Sebelum membaca tulisan saya ini saya mau mengingatkan bahwa tidak semua yang kamu baca bisa ditelan bulat-bulat dan seutuhnya, harus melalui nalar kritis dengan pertimbangan sana sini. Dan tulisan dengan tag Konspirasi Tai Kucing ini adalah sebuah tulisan sebagai diary belajar saya. Kenapa konspirasi tai kucing? Karena saya rasa dunia ini dipenuhi dengan pembodohan masal. Apa yang diyakini dan cara pandang kita ternyata masih di garis abu-abu dan masih harus dicari jawabannya dengan banyak-banyak belajar dan membaca. Saya rasa harus saya tuliskan agar saya punya  record sendiri. Lalu suatu hari nanti ketika saya sudah tua dan gemetar bisa saya buka lagi dan menertawai diri sendiri betapa bodoh dan naifnya saya di masa lalu haha. 

***

Sepanjang ingatan saya menjadi berbeda dan menonjol selalu digalakkan untuk dimiliki oleh anak-anak muda, kunci sukses katanya. Hingga dalam mengemukakan pendapat pun kita harus berbeda dan tidak sama dengan yang lain. Selalu diupayakan agar mencari alternatif lain dari berbagai studi kasus dan mencari solusi yang paling berbeda dari yang lain. Intinya berbeda itu baik. Ya menurut saya berbeda itu baik dan 'beda'. Intinya perbedaan yang tidak harus dibeda-bedakan. Dengan kita aware bahwa kita berbeda dan tidak usah mencari-cari persamaannya, saya rasa itu langkah awal dari toleransi. Menerima bahwa itu beda. Selesai.

Contoh sederhananya adalah saya suka band indie yang tanpa label musik lalu dibuat dengan dana seadanya namun liriknya cerdas dan ganas. Atau paling tidak bukan tipe musik yang ada di tivi-tivi dan didengarkan di supermarket gitu lah. Selera musik yang cukup nyusahin sih sebenarnya karena dengan begitu saya harus mencari-cari yang sesuai. Hingga sampai suatu masa di mana saya percaya teori melihat pribadi dan tingkat intelegensi seseorang dari jenis musik yang dia suka. Pasti anda sekalian sudah tahu mau dibawa ke mana tulisan ini. Long story short, saya melihat kalau penyuka lagu indie itu cool abis ( pada masa labil itu siapa juga yang tidak berasa keren sih? *tepok jidat*). 

Menurut saya pada masa jahiliyah itu, memiliki selera musik yang beda memiliki kasta tersendiri seolah satu kasta lebih tinggi dari yang menyukai musik di tivi-tivi itu. Seolah dengan mendengarkan itu saya menjadi terlihat pintar atau cerdas dengan kesombongan-yang-apa-deh. Padahal seiring waktu, semua teori kasta selera musik itu runtuh menjadi serpihan karena sebenarnya itu sama sekali tidak valid untuk menjadi ukuran. Demikian pula dengan buku apa yang kamu baca, ideologi apa yang kamu anut dan lalu agama apa yang kamu peluk. Tidak ada yang namanya undakan tangga mana yang lebih tinggi dan mana yang rendah. Itu hanya ilusi belaka, pembeda-beda karena situasi dan latar belakang seseorang saja yang dikotak-kotakkan. Padahal sebenarnya sama. 

Beberapa hari ini saya sedang tertarik dengan essay yang membicarakan generasi Y, generasi yang lahir di awal 1980 sampai awal 2000. Di essay tersebut kerap kali disebut kata medioker yang maksudnya adalah sesuatu yang standard, cukup, dan pas-pasan. Pada intinya anak muda jangan maulah menjadi medioker. Oke. Di satu sisi saya setuju kalau menjadi muda di zaman ini memang tidak bisa menjadi pas-pasan dengan begitu-begitu saja. Namun definisi pas-pasan setiap orang kan berbeda-beda ya... jadi sekarang saya jadi agak bingung parameternya non medioker apa?

Lalu saya berpikir lagi, apakah benar dengan menjadi medioker kita tidak akan bisa survive di dunia ini? Apakah maksud medioker ini adalah bermain aman di zona nyaman dengan ikut arus saja dan tidak menjadi ikan salmon? Bagaimana kalau seandainya saya tidak ingin menjadi ikan salmon yang berenang melawan arus, bagaimana kalau saya malah ingin loncat ke aquarium dan jadi ikan sapu-sapu yang membersihkan aquarium saja dan lalu saya menjadi bahagia karenanya?

Menurut saya kata medioker ini terlalu luas jangkauannya seperti misal analogi saya ketika saya merasa selera musik indie itu keren dan yang lain tidak. Lalu seiring berjalannya waktu saya berubah pikiran. Saya rasa demikian pula dengan definisi medioker seseorang. Kerap banyak yang mencap orang lain dengan gaya hidup yang kekinian, baju yang mengikuti fashion, mereka yang ikut arus zaman dicap sebagai si medioker ini oleh mereka yang merasa 'berbeda'. Saya melihat kenapa jadi seolah ada sebuah kasta lagi di sini. Apakah kita dalam hidup tidak akan lepas dari kasta, label-label dan kotak-kotak ya? Ya mungkin demikian. 

Sampai hari ini saya membaca buku biografi Tan Malaka,buku keluaran Tempo dengan judul kecil Bapak Republik yang Dilupakan. Di situ saya merasa seperti oh dayummm... selama ini waktu SD saya belajar IPS Terpadu macam apa? Kenapa saya menelan bulat-bulat itu buku teks dan menganggap bahwa peran kemerdekaan adalah semata-mata adalah Pak Soekarno dan Pak Hatta saja ya? Memang ini adalah salah saya sebagai pelajar dan pembaca yang sedikit terlambat menyadari bahwa ada Tan Malaka yang keren ini juga adalah pemikir dan pejuang revolusi. Memang penyesalan itu datangnya selalu terlambat dan saya sebal sekali, sebodoh itunya saya. Bahwa pandangan seseorang berubah, prespektif orang berubah, dan sesuatu yang terlalu dipercayai dan diyakini sungguh-sungguh itu seharusnya disaring dengan akal sehat dan banyak riset. Itu yang saya pelajari, semoga jangan berakhir seperti saya, meyakini hal yang tidak dikaji nalar. Jangan, pokoknya jangan. 

Mungkin menjadi medioker ada baiknya juga dan saya rasa menjadi medioker juga adalah pilihan dan itu bebas dilakukan selama tidak menyenggol kepentingan orang lain. Kalau kata Dewi Lestari, "Akan tetapi hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realitas berubah." Ya, hidup ini cair, Kawan. Semua berubah sesuai wadahnya dan kalau suatu hari kamu mau pindah wadah, ya monggo silahkan. 



10.3.16

Obrolan Kamar Mandi


Hari ini saya cuti setengah hari karena diare dan menstruasi di hari pertama. Rasanya? Gimana yaa mendeskripsikannya, saya sampai bingung yang mana sakit perut karena kram dan sakit perut mules karena mau bab. Itu semua nyaru, bersatu menjadi satu kesatuan yang utuh dalam satu mahligai cinta. Pokoknya rasanya setengah hari di kantor bolak-balik toilet seperti setrikaan rusak dan menghabis-habiskan air dan tissue. 

Saya sebagai perempuan, sudah menstruasi semenjak duduk di kelas 2 SMP. Bulan demi bulan terlewati dengan 'peperangan berdarah-darah' dan entah siapa pemenangnya. Yang pasti dilema menstruasi itu ada, kalau 'dapet' kita repot, kalau tidak 'dapet' wah itu lebih repot lagi. Sedari kecil pasti kita diajarkan untuk menutup erat-erat obrolan kamar mandi. Biarkan apa yang ada di kamar mandi tinggal di kamar mandi karena itu kotor dan najis. 

Segar sekali dalam ingatan saya ketika saya SMA dahulu. Saya dan kamu pasti tahu, puberty is a bitch. Apabila ada plang nya seharusnya ditulis begini: "Maaf, sedang dalam proses perbaikan." Saat-saat pubertas ini semua orang dalam masa anomali, sini salah situ salah. Pernah suatu ketika saya menstruasi hari pertama di sekolah, seragam saya hijau kotak-kotak tembus dan terpampanglah seceplok darah merah. Saat itu saya malu sekali karena bocor. Seolah tembus karena menstruasi ini tidak boleh terjadi karena memalukan. Kita sebagai perempuan selalu diajarkan untuk menjaga agar hal-hal tersebut tidak keluar, tidak bocor, bahwa perempuan itu ya harus wangi, bersih, dan terjaga. Padahal dalam prosesnya perjuangan untuk sampai standard perempuan ideal itu bukan perkara mudah. Bahkan ketika perempuan menstruasi pun diatur padahal saat itu sedang morat-marit. 

Obrolan kamar mandi pamali untuk diceritakan karena mungkin society ingin lihat yang bagus-bagus saja dan yang menyegarkan mata saja tanpa mau melihat dibalik cantik dan wangi tersebut ada apa saja yang disembunyikan. Mungkin society lebih suka dibodoh-bodohi. Mungkin demikian. Saya kurang paham sampai sana. Menurut saya logika yang dimiliki society ini sungguh fana hanya melihat apa yang mau dilihat dan mendengar apa yang mau didengar. Mungkin society tidak ingin melihat 'kebocoran' sistem patriarki yang akhirnya tembus ke permukaan. Maka itu ditutup-tutupi dimulai dari darah perempuan dari rahim mereka. Di mana di sanalah kehidupan tumbuh. Mungkin sistem patriarki sudah mengendus bahwa sesungguhnya perempuan itu penggerak kehidupan.

Sampai saat ini saya pun masih harus belajar banyak dengan mengalami menjadi perempuan. Saya masih harus belajar mencintai rasa sakit kram saat menstruasi. Memeluk ritual alam yang dimiliki perempuan dan merayakan menjadi perempuan. 

Saya rasa tidak ada alasan bagi perempuan menjadi tidak bangga menjadi perempuan.

Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...