1.12.15

Satu Desember dalam pelukan


Sudah memasuki bulan Desember yang menandakan sebentar lagi 2015 akan tutup tahun, lalu menandakan bahwa wangi-wangi Natal akan muncul disudut rumah. Dan yang terakhir umur saya akan berubah jadi seperempat abad di akhir tahun ini. Jengjengjeng! Nyaris menjadi 25 tahun sebenarnya tidak membuat saya merasa dewasa atau merasa tua. Entah mengapa saya merasa bersyukur pada akhirnya saya menginjak umur 25 tahun. Umur-umur legenda ketika perempuan sudah bukan lagi anak-anak namun juga belum matang sepenuhnya. 

Sepuluh tahun silam saya membayangkan ketika saya berumur 25 tahun maka saya akan menikah dan sudah "mapan" dengan apapun di dunia ini. Entah pasangan, cinta, rumah dan pekerjaan. Namun saudara-saudara ternyata rasanya saya baru seperempat jalan dari hidup saya ini (barangkali?). Rasanya ini belum apa-apa masih geli-geli gitu. Namun saya cukup bersyukur dengan apapun yang sudah terjadi dan sudah bisa saya lewati dengan baik. Hingga saya jadi mengingat betapa untuk sampai ke hari ini saya harus melewati berbagai macam peristiwa, berbagai orang dan berbagai cinta.

Banyak pengalaman yang membentukmu sampai hari ini dan mungkin itu yang membuatmu menjadi manusia. Mari rayakan! Bahwa memang menjadi dewasa butuh proses dan saya mau kok menjadi dewasa. Bukan dewasa yang karbitan tentunya. Lalu belajar untuk melangkah lebih jauh dan menyelam lebih dalam. 

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kehendak bebas. Kita bebas untuk menjadi apapun sesuai dengan talenta yang telah diberikan Tuhan dengan semua panggilan-panggilan kita. Dan di umur yang ke-25 ini saya berjanji untuk mau menemukan dan mengikuti panggilan itu. Tidak akan mudah pasti namun, menjawab dengan berkata "Ya, Tuhan saya sanggup", saya percaya Tuhan pasti akan melindungi dan memberkati.

Tidak ada yang kebetulan, semua sudah direncakan. Hingga dengan siapa pun kamu jatuh cinta kelak sekalipun. Bukan sekedar seorang pemuda bertemu dengan seorang gadis lalu mereka bercinta, namun ada aliran-aliran magis yang harus diikuti dengan hati. Dan sudah seharusnya cinta diciptakan bukan umtuk memisahkan dan mencerai berai, cinta ada untuk menyatukan perbedaan, karena semata-mata ingin bersama dan mengetatkan peluk.





No comments:

Post a Comment