2.12.15

Dengan tanda-tanda yang menyertainya

Akan ada malam-malam ketika saya menyetel radio kamar kelewat keras karena tidak ingin merasa sendirian dengan isi kepala yang tidak bisa sunyi. Lalu saya pun menikmati situasi ramai yang fana. Dan sungguh menyukai bunyi-bunyi tuts keyboard laptop saya yang berbunyi tik-tik-tik itu. Rambut basah dan harum shampoo, wewangian buah yang manis lalu saya tak henti-henti berkata pada diri sendiri "Ah senangnya, rambut saya wangi." 

Hal yang saya sukai di malam hari adalah berdiam diri dan membaca. Namun kali ini sedang tidak mood untuk membaca, padahal saya baru beli buku baru kemarin dan masih ada setumpuk buku di sudut meja menunggu untuk dibaca. Oh ini namanya perbuatan sia-sia. Semoga bisa dibaca selesai sebelum ganti tahun. 

Hari ini pasti saya sedang demam karena saya tiba-tiba tergerak untuk membaca Alkitab. Astaganaga, iya saya bukan Katolik militan yang lurus karena saya ini belok-belok dan gemar bertanya. Bukankah keimanan seseorang juga berasal dari pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahan dia dalam pencarian? Mungkin saya adalah tipe yang harus bertanya terlebih dahulu untuk sampai pada sebuah iman. Dan menurut saya kita harus kritis dan tidak menjadi fanatis dan merasa benar sendiri. Toh agama adalah sarana untuk merasakan cinta Tuhan lalu membagikannya pada sesama kan? Iya kan?

Bacaan hari ini menarik karena ada satu perikop yang menarik begini bunyinya "... Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya."  Saya menyukai perikop Markus 16:20 ini.

Tuhan turut bekerja. Saya kadang abai akan hal ini hingga saya merasa bahwa saya bekerja sendiri dengan kekuatan dan pemahaman saya sendiri tanpa menyadari bahwa Tuhan juga ikut andil dalam hidup saya. Seharusnya sih, saya bekerja melakukan dengan baik dan sungguh-sungguh bagian saya dan menyerahkan bagian Nya untuk Dia urus. Namun ya... namanya juga manusia, seringnya sih lupa lalu takut dan khawatir. 

Menurut saya perikop ini manis, karena seolah Tuhan sedang berbicara selayaknya ayah pada anak perempuannya yang bandel, keras kepala dan banyak tanya ini. Ayah yang pasti bisa diandalkan dan melindungi anak perempuannya. Ayah saya saja demikian bagaimana dengan Dia, Bapa yang ada di sorga? Lalu penyertaan Nya akan kita jumpai dalam setiap pertanda. Mungkin apa yang dihadapi pasti berliku dan berat, tapi Dia adalah setia. Bahwa saya percaya kalau segelap apa pun lorong di depan saya. Dia akan selalu menggandeng tangan saya dengan tanda-tanda yang menyertainya.




1.12.15

Satu Desember dalam pelukan


Sudah memasuki bulan Desember yang menandakan sebentar lagi 2015 akan tutup tahun, lalu menandakan bahwa wangi-wangi Natal akan muncul disudut rumah. Dan yang terakhir umur saya akan berubah jadi seperempat abad di akhir tahun ini. Jengjengjeng! Nyaris menjadi 25 tahun sebenarnya tidak membuat saya merasa dewasa atau merasa tua. Entah mengapa saya merasa bersyukur pada akhirnya saya menginjak umur 25 tahun. Umur-umur legenda ketika perempuan sudah bukan lagi anak-anak namun juga belum matang sepenuhnya. 

Sepuluh tahun silam saya membayangkan ketika saya berumur 25 tahun maka saya akan menikah dan sudah "mapan" dengan apapun di dunia ini. Entah pasangan, cinta, rumah dan pekerjaan. Namun saudara-saudara ternyata rasanya saya baru seperempat jalan dari hidup saya ini (barangkali?). Rasanya ini belum apa-apa masih geli-geli gitu. Namun saya cukup bersyukur dengan apapun yang sudah terjadi dan sudah bisa saya lewati dengan baik. Hingga saya jadi mengingat betapa untuk sampai ke hari ini saya harus melewati berbagai macam peristiwa, berbagai orang dan berbagai cinta.

Banyak pengalaman yang membentukmu sampai hari ini dan mungkin itu yang membuatmu menjadi manusia. Mari rayakan! Bahwa memang menjadi dewasa butuh proses dan saya mau kok menjadi dewasa. Bukan dewasa yang karbitan tentunya. Lalu belajar untuk melangkah lebih jauh dan menyelam lebih dalam. 

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kehendak bebas. Kita bebas untuk menjadi apapun sesuai dengan talenta yang telah diberikan Tuhan dengan semua panggilan-panggilan kita. Dan di umur yang ke-25 ini saya berjanji untuk mau menemukan dan mengikuti panggilan itu. Tidak akan mudah pasti namun, menjawab dengan berkata "Ya, Tuhan saya sanggup", saya percaya Tuhan pasti akan melindungi dan memberkati.

Tidak ada yang kebetulan, semua sudah direncakan. Hingga dengan siapa pun kamu jatuh cinta kelak sekalipun. Bukan sekedar seorang pemuda bertemu dengan seorang gadis lalu mereka bercinta, namun ada aliran-aliran magis yang harus diikuti dengan hati. Dan sudah seharusnya cinta diciptakan bukan umtuk memisahkan dan mencerai berai, cinta ada untuk menyatukan perbedaan, karena semata-mata ingin bersama dan mengetatkan peluk.





Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...