Naik level seekor kutu busuk

Pagi hari yang dikejutkan dengan sakit perut karena ingin buang air besar itu sebenarnya bukan sebuah cara untuk membangunkan seseorang dengan cara yang ideal. Ya kan? Namun siapa sih yang punya kehidupan yang ideal kecuali Chelsea dan Glenn. Melihat pernikahan mereka yang bak fairy tale saya pandangi dengan alis naik satu. Okelah. Ya setiap orang punya hak mereka masing-masing menggunakan uangnya dan bagaimana mendesign weddingnya, bukan? Mungkin kalau saya bukan tipe yang seperti itu. Mungkin saya tipe kolot yang hanya ingin pesta kebun dengan keluarga dan teman dekat saja. Ya itulah konsep ideal orang berbeda-beda sehingga menjalani hidup juga berbeda-beda. 

Kali ini saya sedang agak nyinyir dan suka ngomong sembarangan. Kayak kurang pelampiasan untuk sesuatu yang saya suka. Idealnya saya harusnya mengejar apa yang saya suka dong. Tapi saya kok kebalikannya ya? Sinting. Bisa diambil contoh ringan saja begini saya mau menjadi penulis namun untuk menjadi penulis saya tidak menulis-menulis atau setidaknya kerja di suatu media. Logikanya begitu dong. Namun saya tahu menjadi penulis bukan profesi yang bikin hidup mapan kecuali kamu adalah Paulo Coelho yang punya buku best seller sepanjang tahun di seluruh dunia lalu bukunya diterjemahkan ke banyak bahasa. Oke itu baru bisa duduk santai di pegunungan sambil makan ciki. Tapi kan saya nggak gitu, bray. 

Lalu saya mulai mengerti sebuah pola bahwa manusia terkadang takut sendiri untuk mencapai sesuatu yang membuat dia bahagia, bahwa upaya untuk mencapai bahagia itu begitu berliku dan terkadang terhenti di tengah jalan karena takut. Semacam masochist juga yang suka menyakiti diri sendiri karena mendapatkan pleasure dari rasa sakit itu sendiri. Mungkin itu yang didapatkan orang saat membuat tato. Rasa sakit yang enak. Menurut kamu itu sakit jiwa gak? Menurut saya enggak. Siapa sih yang gak sakit jiwa di dunia ini btw?

Balik lagi ke pembicaraan awal kalau saya sebagai seseorang yang sering kali salah kaprah dengan tidak jelas mengejar apa yang saya suka namun malah berlarian ke arah sebaliknya, itu kenapa bisa terjadi ya? Kalau kata guru writing saya di uni dulu itu ada sesuatu hal yang dibuat untuk jalan memutar untuk bisa balik lagi. Mungkin kita sedang di situ.

Saya suka sebal dengan diri saya apabila mendapati diri saya tidak produktif. Ada beberapa hari saya sudah kayak ayam tiren. Saya ogah deh jadi ayam tiren lagi, itu pasti karena saya kurang hobby dan melakukannya. Sedih sih itu, apalagi saya punya adik yang sangat tahu hobby dia apa dan melakukannya dengan segenap hatinya, seserius-seriusnya. Eh saya malah mengglepar-glepar jadi kutu busuk di tempat tidur. Kalau diingat-ingat bego yaa...tapi setiap orang memang harus punya fase itu untuk pada akhirnya memutuskan apa yang harus diputuskan. 

Dilihat-lihat memang hidup gak seideal Chelsea dan Glenn tapi saya sih sebenernya mau yang biasa-biasa saja, naik pangkat tidak lagi jadi kutu busuk setidaknya sudah membuat saya happy keujung tulang. Lalu menyibukan diri dengan melakukan hal yang saya suka. Ayo men... lakukan yang kamu suka, buat dirimu terinspirasi dan bisa menginspirasi orang lain untuk bergerak. Itu sih kekuatan energinya keren banget. Menggerakan orang lain. 

Tiba-tiba kemarin saya teringatkan kembali pada sebuah quote lama yang sudah pernah saya tuliskan di blog rasanya, bagi saya menulis itu adalah kelenjar. Artinya tanpa kelenjar kita tidak bisa hidup dan untuk saya tanpa menulis saya tidak bisa hidup. Kalau kelenjar kamu apa? 

PS. Ini tulisannya kadar sarkasmenya agak jenuh ya.  Hallo bagi pembaca baru kalau begitu. 

Comments

Popular Posts