27.9.15

Mau sepi dan tenang, kok mahal?

Kemarin saya tengah berjalan-jalan di sebuah mall terdekat di rumah saya. Saya bukan tipe anak mall yang suka sekali muter-muter belanja sampai kaki pegal. Namun kemarin kebetulan ada festival kopi sehingga saya dan adik saya tertarik untuk minum kopi sebentar dan saya mau lihat-lihat (barista cute)  pembuatan kopi. Ternyata dalam mall itu juga ada promosi apartemen. Heran padahal apartemen yang ini belum laku dijual eh kok ya sudah bangun lagi ya? Bukan main heran saya sama pengusaha kapitalis. 

Kalau sudah seperti ini pasti deh saya mulai kepo dan minta brosur. Lalu sambil lewat mendengarkan presentasi mencuri dengar. Sambil dalam hati berkata,  'Ini orang kaya pada mau beli banget nih?' Bisa jadi saya yang iri dengan orang-orang kaya itu karena bisa punya uang buaaaaanyak buat beli yang 'aneh-aneh' tapi di otak saya rada gak nyampe kenapa mereka mau beli apartemen yang mahalnya amit-amit dan harganya bisa buat kasih makan orang satu pulau. Heran. Mental kere mungkin kayak gini ya haha. 

Bagian yang lebih membuat saya heran adalah tema yang diambil yakni ketenangan. Widih... segar banget sih temanya kena di hati. Seperti salah satu quotenya Jane Austen di Mansfield Park "Let us have the luxury of silence." Jadi mengambil tema sepi dan tenang dari stress serta hiruk pikuk kota dan kerja. Inilah yang dibutuhkan orang-orang urban yang kekinian, mereka sudah capek kerja dan stress, menghadapi macet dan hal-hal negetif lainnya, pasti mereka membutuhkan pelarian agar tetap menjadi waras. Dari ide apartemen ini ok banget sih kelihatannya.

Pertanyaannya kini adalah kenapa ya orang-orang masa kini mau sepi dan tenang saja kok harus bayar mahaaaaaaal sekali. Sedangkan untuk yang bisa menikmati sepi dan tenang seharusnya murah dan terjangkau ya dan itu bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Namun kenapa sekarang sepi dan tenang seolah menjadi sesuatu yang bisa dijual dan dibeli. Kalau kamu mau sepi dan tenang kenapa harus beli apartemen kenapa tidak pergi ke gunung, meditasi, atau ke pantai lalu duduk-duduk bengong. Ya.. tapi kan Met, mereka maunya sepi dan tenang di tengah kota biar bisa deket kantor, dekat ke mall, bisa makan enak serta menikmati hidup setelah beberapa hari stress jadi babu corporate, ya kan? Bisa jadi. Gaya hidup kita ini sudah sangat konsumtif dan maunya instan dan mudah. Dalam satu jentik jari kita berharap kita bisa menerima semuaaa kenyamanan di dunia ini. 

Apa salah?

Ya nggak salah sih namun menurut saya jadi mengaburkan arti sepi dan tenang itu sendiri. Seolah sepi dan tenang itu harus nyaman, enak serta indentik menjadi mahal. Kenapa sesuatu yang sifatnya dari alam semesta dan gratis, di zaman kini malah diartikan jauh sekali dari arti sederhana ya? 

Aduh saya jadi bingung. 



10.9.15

Labil gak stabil

Mungkin inilah yang dinamakan dengan quarter life crisis. Apakah pemirsa budiman pernah merasakan kegelisahan terus menerus lalu nanti galau nanti jadi bingung dan lalu ditutup dengan ketiduran, saking capeknya mikirin negara. Situasi saya adalah akhir-akhir ini menjadi seorang remaja tanggung galau ( dibaca: galauwati). Eh tapi seharusnya blog ini kan membawa penyegaran ilmu pengetahuan yang ciamik dan ilmiah terpercaya biar disangka pinter gitu ya, tapi ah sudahlah. Sudah banyak blog pintar berbobot, Tidak usah deh saya ikutan pinter, toh pembaca blog saya sudah pintar-pintar semua, jadi saya menulis versi isi otak pas-pasan saja ya. Oke?

Saya ini antara bingung dan yakin. Saya yakin saya bisa melewati kebingungan ini sekaligus saya juga bingung bagaimana cara saya keluar dari kebingungan ini. Bingung kuadrat. Mungkin karena saya diberkahi menjadi orang yang luar biasa optimis melihat semua, jadi saya punya keyakinan, oh pasti ini bisa diatasi, tapi sebenarnya saya juga gak tahu sih bagaimana caranya. Aih. Cerdas memang.

Sebenarnya permasalahan saya cuman satu. Saya bingung saya sebenarnya mau jadi apa ya? Lalu bagaimana cara saya bisa mandiri sepenuhnya? Bagaimana cara saya bisa menjalani kehidupan saya sekaligus passion saya? Bagaimana cara saya tahu jodoh saya siapa, di mana? Bagaimana caranya saya bisa bermanfaat untuk orang lain lalu menjadi berkat? Lha...kok masalah saya jadi banyak ya? Saya jadi bingung lagi kan nih. 

Sebenarnya ini gak sih saat-saat di mana lo jelimet sendiri sama hidup lo lalu akan ada satu masa, dalam hati lo bilang: Anjrit, gue ngapain sih ya? Kok orang-orang terlihat sangat yakin dengan dirinya sendiri. Padahal kalau selidik punya selidik dalam hati mereka juga menjeritkan hal yang serupa. 

Kalau saya rasa sih, saat-saat ini  masa-masa di mana kita pengen nyobain ini itu, pengen tahu ini itu, penasaran sama ini itu, dan rada ceroboh lalu salah dalam mengambil keputusan. Lalu menyesal dan bangkit lagi karena penasaran lagi dan terus berulang. Ini saatnya di mana di umur lo yang masih 20an ini untuk trial and error. Begituuu sepanjang waktu. Mungkin ini kenikmatan masa muda. Berpetualang dalam ketidakpastian. Dalam umur kita ini, kita ingin sesuatu yang pasti, stabil namun ternyata hidup menyuguhkan hal yang berbeda. Ya sudah telan saja dulu bulat-bulat. 

Ya kuncinya satu, kalau jatuh, nangis sebentar dan jangan takut lari lagi. Setuju? 


Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...