7.8.15

Makin digosok makin sip!


Haiiiii... apa kabar dunia persilatan selama satu minggu ini? Tentu heboh dan berdarah-darah kan? Puji Tuhan tandanya kita masih hidup saudara-saudara. Untuk melepas stress berlebihan selama seminggu ini lebih baik saya menulis di sini. Marilah kita lepaskan semua terlebih dahulu dan relax sejenak sambil minum kopi di sini. 

Pernah gak sih kalian merasa kalau kalian sudah fed up dengan gosip-gosip dan desas desus sana sini. Entah gosip itu berkaitan dengan diri sendiri atau dari orang lain. Sebenarnya saya paling malas ngobrol bergosip karena sesungguhnya saya bukan tipe orang peduli dengan urusan orang lain. Sehingga selalu saya jadi orang yang terakhir mengetahui berita tersebut. Sudah basi. 

Gosip 

Kalau saya perhatikan sepertinya bergosip itu bisa mempererat hubungan seseorang, dengan berbagi rasa suka dan tidak suka. Mungkin begitu ya. Sebenarnya gosip tidak akan membuat kita jadi lebih cantik, lebih pinter atau lebih baik dari dia yang kita 'gunjingkan' itu. Tapi gimana dong ya... bergosip itu terkadang memang asyik dan membuat si penggosip merasa lebih baik dari orang lain. Ya terkadang saya juga suka kelepasan ikutan kalau tidak saya rem. 

Namun semakin lama saya semakin tidak mau tahu urusan orang lain karena saya merasa itu tidak menarik sama sekali, karena toh urusan saya saja banyak yang belum selesai dan masih berantakan di sana sini. Ya kali saya sibuk ngurusin orang lain. Sebenarnya apa yang membuat saya fed up dengan gosip? Itu menyebabkan saya tidak punya clear mind lagi sehingga saya tidak bisa mengenal seseorang langsung dari orang tersebut namun akhirnya melihat opini orang lain. Kalau dia itu begini kalau dia itu begitu. Saya capek saja sih dengan memberikan judgment pada orang lain, toh saya juga tidak lebih baik dari dia. 

Lagi pula menurut saya tidak fair saja kalau saya pada akhirnya jadi percaya bahwa si bahan gosip ini bukan orang baik-baik dari cerita sana sini. Tanpa mengetahui kebenarannya. Bukannya lebih asyik kalau kita tuh bebas ya ... peduli amat dengan kata orang lain dan menilai dari apa yang sudah kita alami saja. Jikalau memang kita tidak merasa cocok dengan orang tersebut ya tidak usah dekat-dekat, beres. 

Lidah tidak bertulang

Seperti sebuah pribahasa lidah tidak bertulang sehingga memang sangat mudah untuk kita mengeluarkan perkataan yang mungkin bisa menyakiti orang lain, kita sadari atau tidak. Saya sedang berusaha untuk tetap bisa bijaksana menilai dan mengerem mulut yang memang sulit sekali. Bahwasanya saya juga bukan orang suci yang tidak punya salah. Pasti saya banyak salah dan kekurangan yang amit-amit banyaknya yang saya sembunyikan berharap orang lain tidak tahu. 

Intinya tidak kepo ingin tahu urusan orang lain itu lebih baik dan pada dasarnya menjadi cuek itu jauh lebih asyik karena tidak usah pusing memikirkan pendapat orang lain. Wong hidup udah susah masih juga mendengarkan kata orang apa tidak capek. Sudah lakukan saja apa yang kamu senangi yang bisa membuat dampak baik untuk orang lain. Bukan sebaliknya. 

Karena toh saya ini bandel dan gak baik-baik amat jadi orang, masa iya saya masih juga sih menjelek-jelekan orang lain untuk membuat saya merasa lebih baik. Padahal kalau sudah jelek mah jelek aja. Mau jadi apa nantinya? Lengket-lengket di kerak neraka?



No comments:

Post a Comment