27.8.15

Membaca Pertanda


Sedikit cerita aneh tentang hari ini. Begini ceritanya saat saya berangkat kantor, biasa saya suka berdoa pagi dalam hati sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Pagi ini entah mengapa saya sedang bercerita dengan Ibu saya bahwa saya sedang berdoa untuk suatu keinginan saya. Lalu kemudian Ibu saya pun sharing kalau saat dia berdoa terkadang jawaban itu ada hadir dalam hati, mungkin seperti pencerahan? Lalu entah mengapa pembicaraan kita terhenti sampai situ saja. Lalu saya berangkat ke kantor seperti biasa, di pagi yang biasa, naik bus kantor seperti biasa, duduk di kursi favorite saya yang biasa dan memandang jendela yang sama setiap harinya. Semua sama. Sampai akhirnya saya berpikir yang aneh-aneh. 

Begini, saya berpikir begini kenapa ya kok Tuhan tidak memberikan kita jawaban langsung seketika sehingga kita mengerti segamblang-gamblangnya jikalau jawaban Dia "ya" dan "tidak". Mengapa harus kita yang muter-muter cari sendiri dan hanya mengandalkan kepercayaan kita sepenuhnya pada Dia. Memang Tuhan tidak tahu apa ya kalau saya itu orangnya sudah egois, oon, nyebelin, keras kepala dan susah diberi tahu. Namun tetap saja dong Tuhan tidak memberikan jawaban yang "taraaaaa!" langsung depan mata. Kalau begitu kan hidup saya pasti semakin baik dan jadi lempeng gak belok-belok. Ya gak?

Lalu memang dasar saya ini agak bandel, saya bertanya-tanya sendiri, kenapa juga Tuhan tidak menggunakan bahasa manusia langsung ke saya gitu, jadi hubungan kita tuh ada tanya jawab, jadi semua clear. Bukannya Tuhan itu Maha Segala Bisa dan Maha Esa ya? Tapi kenapa untuk memberi jawaban ke saya aja susaaaaaaaahhhh banget rasanya, kan saya jadi gelisah dan gerah sendiri. Ya itulah manusia eh salah, mungkin itulah saya, Metta yang nyebelin dan suka tanya ini itu. Heran saya juga kenapa ya Tuhan kok gak give up aja sama saya yang bebal ini. Ya itu lagi,  mungkin karena Dia itu Esa maka Dia tidak akan pernah menyerah dengan saya. 

Kembali lagi, sehingga sepagian ini saya bertanya-tanya mengapa kok Tuhan pelit sekali kasih saya jawaban. Lalu saya pun duduk di bus mau ke kantor sambil berpikir asyik sendiri, berpikir tentang Tuhan dan menganalisa Dia dengan otak saya yang sudah pas-pasan dan seuprit ini. Oh betul... semakin saya berpikir saya semakin pusing dengan pemikiran saya sendiri. Akhirnya saya sudahi saja dan membaca-baca renungan singkat untuk pagi itu. 

Memang ya... mungkin karena Tuhan sudah gerah dengan saya yang sok tahu ini lalu serta merta renungannya judulnya begini "Apakah Dia Mendengar?" Waduh...bisik hati saya. Perasaan saya jadi agak geli-geli gimana gitu. Lalu bacaannya sungguh menohok saya sampai rasanya tembus hati saya ini. Gila...udah deh saya skakmat, habis sudah saya jadi butiran debu.  Begini bunyinya:

Apabila kita berdoa, kita mungkin tidak melihat bagaimana Allah berkerja, atau kita tidak mengerti bagaimana Dia akan membawa kebaikan melalui semuanya ini. Oleh karena itu, kita harus percaya kepada-Nya. Kita mesti melepaskan hak-hak kita dan membiarkan Allah melakukan apa yang terbaik untuk kita.  Kita harus menyerahkan apa yang tidak kita ketahui kepada Dia yang tahu segala sesuatu. Dia sedang mendengarkan dan menangani masalah itu menurut cara-Nya sendiri. Apabila kita berlutut untuk berdoa, Allah mendekatkan telinga-Nya untuk mendengarkan. 

Astaganaga, ternyata saya deh yang rada budeg dan menutup hati untuk melihat berbagai banyak pertanda. Bahwa pertanda itu nyata ada di sekeliling kita. Saya lupa kalau sebenarnya saya ini hanya butiran debu di alas kaki-Nya. Bahwa saya ini ciptaan-Nya, mana mungkin otak saya ini bisa melampaui Pencipta sih. 

Saya tahu mungkin ketika anda sekalian membaca tulisan ini pasti ada yang berfikir kalau saya ini terlalu religius dan tidak realistis. Padahal saya kan pecicilan ke sana ke mari, namun entah mengapa saya sungguh merasa doa adalah kekuatan saya untuk tetap bisa kuat dan entah mengapa saya ingin mempunyai hubungan mesra dengan Dia. Keyakinan saya kalau manusia terlalu kerdil untuk rencana-rencana-Nya yang begitu besar. Bahwa saya percaya Dia adalah Allah yang setia dan pemeliharaan-Nya selalu tetap. Dan saya merasa tenang dalam Dia.





25.8.15


masa iya mau cinta tapi takut jatuh?

sama seperti
mau belajar berenang tapi takut air







18.8.15

Permintaan



pic: metta


Saya sedang getol meminta kepada Tuhan, merayu dan terkadang sedikit memaksa. Permintaan saya pada awalnya cuman satu lalu lama kelamaan mengapa jadi beranak pinak ya? Saya juga agak bingung. Iya saya memang serakah. Sudah mau ini eh lihat yang itu saya juga mau. Semoga Tuhan masih sabar dengan anak perempuannya yang satu ini.

Pernah tahu dengan sebuah pepatah yang bunyinya begini "Manusia berencana dan Tuhan yang menentukan?" Menurut kamu benarkah demikian yang terjadi? Kalau begitu apakah Tuhan tidak pernah memberikan pilihan pada kita untuk memilih? Menurut saya Tuhan memberikan begitu banyak pilihan dan kita punya kehendak yang bebas. Lalu bagaimana dengan yang namanya 'kehendak Tuhan'. Saya juga belum tahu sih jawabannya apa? Haha!

Tapi begini, saya rasa seharusnya pepatah itu berubah menjadi "Saya dan Tuhan bersama-sama berencana dan bekerja". Menurut saya entah mengapa rasanya ini lebih tepat. Sehingga kita bersama-sama menentukan, bukan hanya sepihak saja. 

Saya hanya mau berkata bahwa saat ini saya sedang dalam masa meminta dengan sangat sebuah permintaan. Dan terkadang saya tidak mengerti kenapa ya kok belum dikabulkan? Kenapa ya kok tidak sesuai dengan rencana saya? Apakah ada yang terlewat dan saya belum menyelesaikan prosedurnya, atau bagaimana ya? 

Sebenarnya saya jadi ragu apakah saya berhak ya atas keinginan saya ini? Dan saya sedang serius meminta untuk yang satu ini. Ketika kita meminta dan kita sedang menunggu jawaban saya jadi ragu, benar tidak ya jalan saya selama ini. 

Namun saya percaya bahwa jikalau sampai hari ini saya masih hidup semata-mata karena Dia setuju dan melindungi. Bahwa sebenarnya ada tangan-tangan yang bekerja untuk tetap menjaga saya dan membuat segalanya tepat indah pada waktunya. Dan memang karya Dia melampaui pikiran dan indera manusia. Dan kalau Dia hanyalah konsep, betapa Konsep ini tidak bisa saya jangkau dan saya uraikan dengan otak saya ini. 

Inilah saya dengan semua doa-doa yang dibisikan malam-malam. Yang mungkin hanya bergetar rendah di dinding kamar dan gaung energinya ditangkap semesta dan direkam. Hingga nanti pada suatu persimpangan waktu dan berkat pun turun, semua ini akan ada jawabannya dan dilancarkan segala sesuatunya. 

Akan tiba saatnya saya dan kamu tumbuh menjadi pohon rindang dan berakar kuat. 


13.8.15

Nyaman


Baru hari Kamis ya, iya baru hari Kamis. Tarik nafas dulu karena besok masih hari Jumat. Apakah kita seharusnya berkata 'masih Jumat' ataukah 'sudah Jumat'? Silahkan pilih. Saya rasa beberapa orang dan termasuk saya memberikan label bahwa weekend is the loveliest thing in the world. Menurut saya iya. 

Saya sedang berpikir, mungkin karena weekend memberi rasa nyaman dan kita manusia cenderung menempatkan diri kita di tempat yang menurut kita nyaman. Saya paham kalau setiap orang memiliki definisi kenyamanan yang berbeda-beda serta memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda-beda. Bagi saya nyaman itu artinya ketika saya bisa menjadi diri saya sendiri dan membuat saya merasa betah dan bersemangat. Lalu seorang teman saya pun nyeletuk "Oh kalau begitu menurut kamu nyaman itu adalah subject ya? Bukan tempat, bukan object?" Lalu saya berpikir, iya juga ya, nyaman untuk saya adalah orang-orang di sekitar saya. 

Kamu adalah zona nyaman itu sendiri

Manis, gak sih jikalau ada seseorang yang tiba-tiba berkata padamu bahwa kamu adalah zona nyaman untuk mereka. Ketika keberadaan kita bisa membuat seseorang merasa aman dan nyaman. Bahwa segalanya pasti akan baik-baik saja jikalau ada kamu. Manis gak sih? Saya rasa lutut saya pasti lemes dan saya tersanjung sekali jikalau ada seseorang berkata seperti itu pada saya. 

Menurut saya tidak banyak orang yang bisa membuat orang lain merasa nyaman dengan keberadaan mereka. Ketika orang tersebut bisa membuat diri kita jadi terbuka dan menjadi diri sendiri. Sebenarnya lucu juga sih jikalau kita malah mencari zona nyaman untuk menjadi diri sendiri dalam diri orang lain. Mengapa tidak dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu? Dimulai dari kita bisa merasa nyaman dengan diri sendiri, merasa ok dengan diri sendiri. 

Dahulu ketika saya masih labil banyak hal yang saya pertanyakan seperti kenapa sih rambut saya tidak lurus namun bergelombang ikal, saya kan maunya lurus cantik gitu. Dan saat itu saya ingat sekali kalau saya saat itu sedang berjerawat heboh parah, hingga saya malas ngaca dan melihat muka saya yang menurut saya jelek. Makin ke sini saya rasa saya sudah terbiasa dengan jerawat saya, bahwa saya berjerawat dan jerawat sudah menjadi hiasan muka saya semenjak kuliah. Hingga saya sudah tidak ambil pusing lagi dengan itu. 

Saya rasa ketika kita bertumbuh menjadi dewasa, akan banyak kritik dan omongan negatif seiring dengan pertumbuhan kita. Pada akhirnya bisa saja kita akan berpikir bahwa kita tidak menarik karena gendut atau jerawat atau berambut ikal atau tidak tinggi atau tidak putih atau tidak memiliki muka yang cantik dan banyak label lainnya. Hingga akhirnya kita tidak menyukai apa yang ada di dalam tubuh kita. Padahal kalau dipikir-pikir, cara kerja tubuh kita ini sungguh amazing. Ada suatu mekanisme tertentu dalam tubuh kita yang bekerja dengan ajaib dan kalau satu tidak berfungsi dengan baik maka mampus sudah kita. Ya...memang manusia suka lupa akan sesuatu yang di dalam dan lebih memikirkan polesan luar. Bahwa sesungguhnya sesuatu yang ada di dalam itu tidak kalah baik kualitasnya. Dan sudah saya bilang berkali-kali bahwa penampilan luar itu menipu. 

Terkadang dilupakan

Apabila kita sudah nyaman dan selesai dengan diri sendiri pasti kita pun bisa menerima orang lain dengan baik. Dan kita merasa yakin bahwa kita ini ok dengan diri sendiri sehingga saya pun ok dengan orang lain. Tidak peduli dengan kata orang karena kita sudah menerima kekurangan diri sendiri. 

Saya memiliki satu kelemahan yakni saya bukan anak eksak, hitungan saya parah, matematika saya amit-amit. Dan ini berpengaruh pada suatu hal yakni saya kesulitan membedakan mana kanan dan kiri. Saya selalu menutupi kelemahan ini dan mungkin sekarang tidak terlalu ketara, namun ketika saya harus menunjukan arah itulah suatu hal yang paling tidak saya sukai. Buat saya kanan dan kiri sangat sulit untuk dibedakan, maka itu saya selalu pakai jam tangan di tangan kiri saya untuk sebagai pengingat. Mungkin bagi orang lain ini aneh dan bego sekali, namun iya itulah saya. Kanan dan kiri tidak semudah atas dan bawah. Kanan dan kiri tidak semudah besar dan kecil. Dulu saya malu sekali jikalau saya harus memberi tahu kelemahan ini, namun sekarang saya sudah cuek saja. Iya memang saya sulit membedakan, namun bukan berarti saya tidak usaha untuk menjadi bisa. Saya selalu latihan kok. Dan ketika saya berkenalan dengan teman baru atau orang baru, saya pasti akan langsung memberi tahukan hal ini. Menurut saya saya membuat satu langkah untuk menjadi nyaman dengan diri sendiri.

Menurut saya, it's okay kalau kita mengakui kelemahan kita, bahwa kita memang tidak sempurna dan kita ini manusia biasa. Kita tidak sempurna namun kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, ya kan? Pernah suatu hari teman saya berkata bahwa dia buta warna. Saya tidak pernah tahu kalau dia buta warna. Awalnya saya kaget, namun saya jadi penasaran, akan dunia yang dia lihat seperti apa, karena pasti cara pandang dia berbeda. Saya selalu tertarik dengan cara pandang orang lain melihat dunia, karena menurut saya pasti berbeda-beda. 

Pernah suatu hari adik saya yang paling kecil sedang bermain dengan temannya, mereka bermain kadang akur dan kadang berantem lalu nanti bermain lagi. Menurut saya anak kecil selalu memberikan kenyamanan untuk temannya. Mereka bermain dengan saling menawarkan kenyamanan sehingga mereka pun memiliki rasa kasih yang lebih luas dari kita yang katanya dewasa ini.

Saya jadi ingat sebuah quote dari Atticus begini bunyinya : Watch carefully, the magic that occurs, when you give a person just enough comfort to be themselves.  

Hingga akhirnya tidak lagi menjadi berarti dengan yang namanya  perbedaan status, penampilan, harta benda, baju yang kamu pakai, tas yang kamu pakai, rambut yang kamu punya, atau wajah yang terpapang di kepalamu. Itu menjadi sesuatu yang fana ketika ada suatu hal yang lebih berharga ditawarkan, yakni pribadi yang penuh kasih. Karena kualitas yang terbaik ada di hati. 


10.8.15

Menurut kamu gimana?


"Lo mah gak usah khawatir Met urusan mau kerja di mana, nanti kan jadi istri. "

Ujar seorang teman ganteng yang pada saat kuliah saya jatuh cinta setengah mati. Dari segi penampilan dia ok abis. Badan besar, tinggi, tegap model anak basket lalu sedikit kumis dan brewok. Senyumnya manis manja sudah gitu seagama pula. Kece banget lah, pokoknya tipe seorang Metta. Pada saat dia melontarkan hal demikian sebenarnya saya agak syok juga. Dan mau teriak: Woi... hari gini mikirnya segitu doang!! Tapi tidak jadi saya lontarka karena pada saat itu saya naksir setengah mati sama dia. Sehingga saya hanya tertawa bareng dengan dia sambil tersipu malu. Iya...pura-pura bego.

Setelah saya pikir-pikir ada berapa banyak kali ya saya pura-pura bego di depan cowok yang saya suka? Pura-pura kalau saya tidak tahu ini itu, tidak bertanya kritis, pura-pura kalau saya tidak memiliki ambisi apa-apa semata-mata karena saya suka dengan dia. Saya pernah baca artikel di internet dan kira-kira begini bunyinya:  Men will feel the need to be more intelligent than their woman in proportion to how masculine they are . Oke jadi logikanya kita harus pura-pura bego jikalau ternyata kita jatuh cinta pada cowok gak pinter-pinter amat? 

Lalu pernah tiba-tiba, saya sedang ngobrol random dengan teman saya. Yang akhirnya kita ngobrol tentang perempuan pintar yang akhirnya cerai dari suaminya yang super hot dan menikah dengan cowok yang biasa saja namun seorang guru spiritualist. Lalu teman saya nyeletuk: " Iyalah pasti cerai, mantan suaminya rada bego gitu ga sih Met?" Lalu kami pun berkesimpulan bahwa perempuan memang mencari pasangan yang lebih smart dari dia. Dan memang laki-laki mencari perempuan yang dumber dari dia. Menurut saya ini bisa diterima. Apakah ini seksis sekali kedengarannya? Menurut saya iya. Apakah ini terlalu generalisasi? Iya bisa jadi. 

Kemudian kemarin saat weekend saya sibuk nonton serial mandarin My boss and me, yang kira-kira ceritanya begini. Si boss jatuh cinta pada anak buahnya. Anak buahnya ini perempuan biasa, cantik imut, polos, lugu, dependent women, lemah-lemah minta dilindungi dan si bos yang lelaki sukses, kaya, pintar, keren, ganteng, pokoknya yang bagus-bagus ada di dia. Singkat cerita adalah si boss ini menjadi pahlawan keren si perempuan ini, lalu mereka menikah dan si perempuan ini berkata, "Aku gak mau kerja lagi, aku maunya ngurus kamu aja di rumah, menunggu kamu pulang kerja..." Lalu mereka pelukan. Prettt lah. Saya nontonnya sampe pusing-pusing gitu, antara kepengen tapi kok jadi eneg gitu ya.

Tapi bener deh, memang kenapa gitu kalau seandainya perempuan itu pintar dan lalu dia kritis? Misalnya dia berkarier lalu dia smart lalu dia independent dan dia bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan usahanya sendiri. Lalu pasti nanti masyarakat kembali judge dia terlalu superior lah, sukses banget lah, terlalu independent lah... cowok pada takut lah. Haduh... saya gemes mendengarnya. Kenapa kalau laki-laki sukses, keren, independent tidak dikecil-kecilkan namun dianggap hebat namun jikalau perempuan yang sukses dan keren pasti akan dibombardir pertanyaan: sudah punya pasangan belum, sudah nikah, sudah punya anak. Aduhhh... seolah kesuksesan perempuan hanya dari laku sudah punya pasangan, menikah dan beranak pinak. Lalu akan kembali ada pembicaraan, makanya tidak usah pintar-pintar dan sukses sekali takut kan jadinya cowok-cowok. 

Lha... itu yg salah perempuannya apa laki-lakinya yang minder? Saya sedari dulu tidak suka cowok minder, menurut saya itu gak attractive sama sekali. Ya nggak sih? Menurut kamu gimana?



7.8.15

Makin digosok makin sip!


Haiiiii... apa kabar dunia persilatan selama satu minggu ini? Tentu heboh dan berdarah-darah kan? Puji Tuhan tandanya kita masih hidup saudara-saudara. Untuk melepas stress berlebihan selama seminggu ini lebih baik saya menulis di sini. Marilah kita lepaskan semua terlebih dahulu dan relax sejenak sambil minum kopi di sini. 

Pernah gak sih kalian merasa kalau kalian sudah fed up dengan gosip-gosip dan desas desus sana sini. Entah gosip itu berkaitan dengan diri sendiri atau dari orang lain. Sebenarnya saya paling malas ngobrol bergosip karena sesungguhnya saya bukan tipe orang peduli dengan urusan orang lain. Sehingga selalu saya jadi orang yang terakhir mengetahui berita tersebut. Sudah basi. 

Gosip 

Kalau saya perhatikan sepertinya bergosip itu bisa mempererat hubungan seseorang, dengan berbagi rasa suka dan tidak suka. Mungkin begitu ya. Sebenarnya gosip tidak akan membuat kita jadi lebih cantik, lebih pinter atau lebih baik dari dia yang kita 'gunjingkan' itu. Tapi gimana dong ya... bergosip itu terkadang memang asyik dan membuat si penggosip merasa lebih baik dari orang lain. Ya terkadang saya juga suka kelepasan ikutan kalau tidak saya rem. 

Namun semakin lama saya semakin tidak mau tahu urusan orang lain karena saya merasa itu tidak menarik sama sekali, karena toh urusan saya saja banyak yang belum selesai dan masih berantakan di sana sini. Ya kali saya sibuk ngurusin orang lain. Sebenarnya apa yang membuat saya fed up dengan gosip? Itu menyebabkan saya tidak punya clear mind lagi sehingga saya tidak bisa mengenal seseorang langsung dari orang tersebut namun akhirnya melihat opini orang lain. Kalau dia itu begini kalau dia itu begitu. Saya capek saja sih dengan memberikan judgment pada orang lain, toh saya juga tidak lebih baik dari dia. 

Lagi pula menurut saya tidak fair saja kalau saya pada akhirnya jadi percaya bahwa si bahan gosip ini bukan orang baik-baik dari cerita sana sini. Tanpa mengetahui kebenarannya. Bukannya lebih asyik kalau kita tuh bebas ya ... peduli amat dengan kata orang lain dan menilai dari apa yang sudah kita alami saja. Jikalau memang kita tidak merasa cocok dengan orang tersebut ya tidak usah dekat-dekat, beres. 

Lidah tidak bertulang

Seperti sebuah pribahasa lidah tidak bertulang sehingga memang sangat mudah untuk kita mengeluarkan perkataan yang mungkin bisa menyakiti orang lain, kita sadari atau tidak. Saya sedang berusaha untuk tetap bisa bijaksana menilai dan mengerem mulut yang memang sulit sekali. Bahwasanya saya juga bukan orang suci yang tidak punya salah. Pasti saya banyak salah dan kekurangan yang amit-amit banyaknya yang saya sembunyikan berharap orang lain tidak tahu. 

Intinya tidak kepo ingin tahu urusan orang lain itu lebih baik dan pada dasarnya menjadi cuek itu jauh lebih asyik karena tidak usah pusing memikirkan pendapat orang lain. Wong hidup udah susah masih juga mendengarkan kata orang apa tidak capek. Sudah lakukan saja apa yang kamu senangi yang bisa membuat dampak baik untuk orang lain. Bukan sebaliknya. 

Karena toh saya ini bandel dan gak baik-baik amat jadi orang, masa iya saya masih juga sih menjelek-jelekan orang lain untuk membuat saya merasa lebih baik. Padahal kalau sudah jelek mah jelek aja. Mau jadi apa nantinya? Lengket-lengket di kerak neraka?



4.8.15

Yang terpikir-pikir malam ini


Sudah bulan Agustus, pemirsa! Dan rasanya saya sudah tidak sabar menunggu Natal. Lima bulan lagi menuju Natal horeeee. Siapa yang tidak senang? Berbicara tentang menunggu suatu event besar. Kadang saya suka tersenyum sendiri ketika memikirkan beberapa kekhawatiran saya dan rasa gelisah saya. Bukankah itu aneh ketika kita begitu takut dengan masa depan yang tidak kita ketahui. Saya sering sekali mengalaminya, setiap hari saya berpikir, kira-kira apa yang akan terjadi di akhir tahun ini apakah saya masih di Indonesia atau apakah saya masih melakukan apa yang saya lakukan sekarang?Atau mungkin bisa saja Tuhan sudah memanggil saya. Tidak ada yang tahu bukan?

Beberapa hari lalu sudah keluar jawaban besar yakni saya tidak diterima di universitas yang saya inginkan untuk melanjutka master. Saya mungkin sedikit kecewa namun pada dasarnya saya lega sekali karena saya tidak usah merasa khawatir lagi dan menunggu harap-harap cemas. Lucu sih ketika ternyata jalan masing-masing orang itu berbeda-beda tidak sama. Mungkin jalan kamu ke sana, namun belum tentu dengan saya. Begitu pula dengan saya, mungkin sukses saya di sini, dan tidak bisa diikuti oleh orang lain. Bukan rezeki katanya. 


Beda jalan


Kemarin ini saya bertemu dengan teman lama reunian dengan teman SMA. Tentunya di saat-saat ini temu kangen dengan teman SMA dan heboh asyik ngobrol ini itu lagi dan bertemu dengan guru-guru pokoknya mah seru. Lalu terlibatlah sebuah pembicaraan "Eh lo di mana sekarang? Sibuk apa?" Dan lucunya apa yang dijalani sekarang, jauuuuuuh sekali dari apa yang kita bayangkan saat SMA. Aduh tahu apa sih anak SMA kalau dipikir-pikir? 

Namun kembali lagi, seberapa pun jauhnya kamu melangkah sampai hari ini semata-mata karena rencana dan rancangan Tuhan dan jalannya pun berbeda, porsinya pun berbeda. Sehingga mengapa juga kita harus takut dan tidar berserah pada Nya?

Ada teman yang ketika saya ajak reunian berkata "Gue belom jadi apa-apa Met, apa yang mau dibanggain?" Lalu saya jadi berpikir apakah kita harus jadi apa-apa dulu baru bangga dengan diri sendiri? Memang kita harus jadi seperti apa dulu baru akhirnya bisa menerima diri sendiri? Saya tidak tahu sih. Memang harus ya kita jadi super, sukses dan jago ini itu? Bolehkah kalau kita bercita-cita menjadi jadi biasa-biasa saja yang luar biasa? Kenapa kita harus selalu dikhawatirkan dengan ke-apa-an kita bukan tentang siapa diri kita sendiri. Jikalau misalnya seorang 'saya' tidak punya ini itu, bukan siapa-siapa, tidak sekolah di tempat mentereng, biasa saja, lalu saya jadi bukan orang bahagia dan sukses?

Nah mulai berat

Jadi definisi sukses dan bahagia itu apa ya kalau begitu? Apakah dengan kita punya posisi tinggi di tempat kerja, dihormati (katanya), kaya sampai tujuh turunan, dan terkenal lalu kita akan bahagia? Saya rasa tidak ya. Lalu kita menjadi sukses? Sukses dalam apa dulu nih tolak ukurnya. Jadi  dua hal itu tidak bisa kita satukan. 

Sampai kemarin ada teman saya masuk profile di koran nasional karena karyanya dalam suatu bidang. Saya kaget sih lalu dengan nyinyirnya saya pun whatsapp teman saya " Lo coba baca deh, ini temen kita nih. Widihhh... keren amat yaa udah ke mana-mana, keren, sukses, terkenal, lha gue? Masih aja begini." Lalu teman saya ini dengan santainya berkata "Gue harap sih definisi sukses bukan cuman terkenal dan masuk koran nasional aja sih Met." Deg! Oh iya juga ya. Saya jadi ikutan berpikir akan hal tersebut. Definisi sukses salah satunya memang terkenal dan bisa masuk koran nasional tapi itu hanya salah satu saja, karena tolak ukur yang dipakai bisa berbeda-beda. 

Saya juga tidak paham betul apa yang saya inginkan dan definisi sukses saya sendiri apa, karena rasanya saya juga bingung dan masih mencari. Namun biarkanlah itu demikian adanya. Musti melewati proses toh menara Eiffel tidak dibangun dalam sehari seperti candi Prambanan kan ya? Jadi semua butuh proses untuk menjadi clear dan jelas arah tujuannya. Lalu seiring waktu saya harap saya bisa lebih hmmm.... bijak?


Bebas


Hari ini saat saya berangkat kerja, saya melihat  seorang ibu tukang sapu dan anaknya yang mau sekolah sedang berjalan bergandengan tangan. Si ibu dengan membawa sapu lidinya berjalan sambil mengobrol santai dengan anaknya. Lalu si anak pun berbicara sambil tersenyum pada si ibu. Figur sederhana yang juga seorang pekerja rendahan sama seperti saya, pergi bekerja untuk mencari sesuap nasi sama seperti saya, bekerja untuk diri sendiri dan demi orang yang dia sayang, sama seperti saya. 

Lalu saya berpikir, apabila benar definisi sukses dan bahagia sebegitu sempitnya pada menjadi terkenal, uang banyak, masuk koran nasional, kedudukan yang tinggi, lalu bagaimana dengan ibu tukang sapu ini? Apakah dia menjadi tidak sukses dan tidak bahagia? Saya rasa tidak. 

Mungkin saja dia lebih bahagia dan lebih sukses dari pada ukuran manusia. Karena sebenarnya harus kita tahu bahwa senang dan bahagia itu hal yang berbeda. Bisa saja seseorang itu senang namun belum tentu bahagia. Sejak kapan ya bahagia itu jadi susah sekali? Mungkin semenjak banyak ukuran yang dilekatkan padanya.

Lalu jikalau gelisah dan khawatir itu selalu ada, maka menjadi bahagia adalah suatu barang langka yang mahal harganya karena tidak terbeli dengan uang. Jadi masih berani mendefinisikan arti bahagia dan sukses? 


Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...