12.4.15

Keintiman


Beberapa hari ini saya sedang merasa geram dan uring-uringan membutuhkan penjelasan secara rinci mengenai beberapa pertanyaan yang crucial bagi saya. Akhir-akhir ini saya sedang diganggu dengan banyak pemikiran tentang hubungan manusia dan Tuhan. Saya tahu saya terlalu serius dan mengawang-awang akan pemikiran ini. Mungkin orang lain menganggap saya berlebihan karena memang sebenrnya yang seperti ini jarang dipertanyakan.

Suatu sore saya pernah sedang ngobrol-ngobrol santai namun berubah menjadi tidak santai karena orang yang bersangkutan mulai menceramahi saya akan kehidupan agama yang baik sebagai seorang Katolik dan kiat-kiat menjadi seorang Katolik yang lurus dan lempeng. Saya rasa mungkin dia merasa saya ini belok-belok. Mendengar ocehannya dari A-Z, meninggalkan reaksi saya yang sekedarnya, hanya manggut-mannggut saja sambil berpikir "Aduh standard apa lagi sih yang harus saya lalui hanya untuk bisa menjadi orang "saleh" ini? Kok rasanya saya ini bandel dan pendosa sejati karena berdoa bolong-bolong, tidak devosi, tidak puasa, jarang ikut acara gereja. Karakteristik seperti apa lagi yang harus saya punya agar tidak lagi menjadi seorang Katolik yang KW?" Menurutnya saya ini terlalu banyak mempertanyakan banyak hal tentang agama dan Tuhan. Menurut beliau juga saya ini terlalu bandel untuk sekedar "tidak melihat namun persaya" seperti yang dikatakan Yesus saat Thomas mencucukan jarinya ke luka-luka Yesus. Mungkin saya ini versi Thomas yang lebih cerewet dan banyak bertanya. Otak saya tidak pernah puas begitu saja. 

Sakit hati

Selain saya ini terlalu banyak mikir, saya ini juga sensitif hingga menjadi pas duo kelemahan saya ini. Namun kalau saya tidak banyak berpikir kritis dan sensitif, bagaimana mungkin saya bisa jadi penulis? Karya apa yang mau dihasilkan kalau saya bebal dan mau terima jadi begitu saja? Baiklah, itu adalah kelemahan yang berbuah manis pada akhirnya.

Kembali lagi, saya masih teringat jelas ketika saya masih kuliah di Taiwan yang notabene adalah atheis. Betapa saya merasa pencarian saya akan Tuhan dimulai dari sana. Saya harus mencari cara sendiri untuk bisa mencari Tuhan yang ternyata memang bisa kita temui di mana-mana. Di sana saya mengenal banyak teman yang agnostic dan atheis, namun saya merasa enjoy-enjoy saja mengenal dan berteman baik dengan mereka. Saya jadi mengenal konsep Tuhan yang berbeda dengan apa yang saya kenal selama ini. Hal yang membuat saya takjub adalah mereka tidak memojokan dan menjejalkan konsep mereka akan Tuhan. Saling menghargai saja cukup, hidup baik dengan sesama saja cukup, itulah mereka. Saat itu saya merasa kita memang beda tapi sesuatu yang beda ini tidak perlu dicari-cari yang sama, hanya perlu diterima kalau berbeda lalu ya sudah. Selesai. Hingga saya tidak pernah debat hingga panas hati, ribet gono gini. Hingga kadang saya bingung kenapa sih kadang kita di sini harus meributkan persoalan Tuhan? Saya kurang paham. 

Lalu saya kembali ke Indonesia yang adalah negara beragama. Ada perasaan senang karena pada akhirnya Tuhan semakin mudah dicari karena gereja banyak di mana-mana dan komunitas rohani pun tersedia banyak. 

Hingga akhirnya saya menemukan perbedaannya, Ada beberapa orang yang ternyata masih tidak mengerti dan menerima bahwa penghayatan akan Tuhan untuk masing-masing individu berbeda-beda. Ada banyak standarisasi yang diterapkan untuk bisa dicap sebagai orang beragama dan benar. Hingga jika seandainya jikalau saya jarang ke gereja dan beribadah, satu kecamatan bisa tahu. Aduh saya gerah sekali. Kenapa sih hubungan manusia dan Tuhan tidak diurusi masing-masing saja?

Intim

Menurut saya hubungan seseorang dengan Tuhan itu sesuatu yang tidak bisa diukur dengan apapun. Seberapa sering kamu beribadah, berdoa, puasa  tidak menjadikan kamu jadi lebih dekat dari pada yang frekuensinya jarang. Itu adalah penghayatan iman, seberapa dalam kamu mengenal Dia dan melakukannya di kehidupan sehari-hari. Iman tanpa perbuatan adalah mati, Ingat?

 Dan sebenarnya acara kenal mengenal ini adalah sesuatu yang pribadi karena yang mengetahui kedalaman rasa akan suatu hubungan hanyalah kedua belah pihak itu sendiri. Hubungan ini adalah hubungan yang unik dan setiap orang memiliki caranya sendiri untuk me-maintain hubungannya.

Hubungan ini adalah hubungan yang intim tidak untuk digembar-gemborkan dengan khayalak ramai. Kita bukan exhibitionist kan? Hingga sudah seharusnya dilakukan diam-diam agar saya dan Dia saja yang tahu. Hubungan manusia dan Penciptanya ini sangatlah unik dan biarlah serahkan pada mereka berdua lalu fokuslah dengan hubunganmu sendiri dan tidak perlu repot-repot judge orang lain. 

Terkadang saya suka bertanya sendiri, kenapa sih secara tidak sadar kita suka menjadi tuhan untuk manusia lainnya? Kenapa ya?

***

Lalu Ibu saya yang seringkali menjadi tempat curhat dan dengar omelan saya nyeletuk,  "Jadi, orang tuh ya Met, gak usah ribet dengar kata orang. Capek. Biar saja mereka, toh kamu yang tahu persis dan kamu yang jalani. Anjing menggonggong khafilah berlalu."

"Ya...iya sih Bu." 


No comments:

Post a Comment