7.4.15

Awal April dan Pilek yang Belum Sembuh


Tanggal Maret di kalender sudah berguguran di sudut kamar. Puasa Prapaskah sudah berganti dengan kebangkitan Tuhan Yesus. Sudah selesai. Bulan Maret yang sendu dan sepi. Bulan ketiga di satu tahun ini. Terasa cepat sekaligus terasa lama. Namun dalam satu helaan nafas Maret berlalu. Lama-lama saya jadi ngeri sendiri dengan cepatnya waktu. Waktu ini cair sekali bisa mengikuti wadah. Sewaktu-waktu bisa memuai, mencair, membeku, menyublim dan mungkin menguap. Bagaimana ini? Sampai kadang saya takut mati. Saya tahu sih pada akhirnya kita semua akan mati. Mendengar berita si ini mati, si itu mati lalu dia juga mati membuat saya bergidik sendiri. Bisa saja hari ini saya menengok mendoakan jasad yang terbujur kaku di liang kubur, lalu bisa saja keesokan harinya jasad saya yang ada di sana. Saya sempat terpikir apa ya rasanya detik-detik ketika kita mau mati? Ketika nyawa kita melayang-layang sebentar di udara mengawang-awang lalu memandangi tubuh kita yang sudah ditinggalkan. Pasti bingung. Tidak tahu saya.

Tiba-tiba saya menulis tentang kematian karena semata-mata sedang melewati fase di mana ada kenalan yang meninggal tiba-tiba karna suatu hal yang remeh temeh. Saya tidak tahu mau menulis apa sesungguhnya. Mungkin otak saya sedang kosong sekaligus penuh dengan sejuta pertanyaan dan pemikiran. Atau mungkin saya sedang panik karena besok Senin. Haha. Mungkin begitu.

***

Mensyukuri bahwa Maret sudah selesai dan berganti dengan April sebenarnya membawa kelegaan pada saya. Karena satu-satu selesai lalu saya harus siap kembali melangkah untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Aneh rasanya. Namun mungkin begitulah hidup semua berubah. Kalau tidak berubah tandanya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Oleh-oleh dari bulan Maret adalah pilek yang tidak kunjung sembuh,  saya masih sibuk buang ingus sana sini. Lalu mampet dengan suara bindeng. Hingga ibu saya pun bercanda kalau mungkin belahan jiwa saya entah di mana juga sedang pilek juga. Ah elah. 

Berbicara tentang belahan jiwa, rasanya saya jadi kangen juga dengan perasaan 'lucu-lucu' cinta itu. Lama ya... saya sudah tidak bicara lagi tentang cinta. Rasanya hampir dua tahun ya? Lucu sekali tiba-tiba saya ingin jatuh cinta lagi. Bahwa ternyata hati yang sudah saya taruh entah di mana itu seolah minta diambil lagi. 

Kemarin saya melihat-lihat facebook lagi dan melihat foto lama, lalu sebentar menengok facebook dia. Saya sempat berpikir sejenak apa ya yang membuat saya dulu jatuh cinta setengah mati dengan orang ini? Heran. Saya juga tidak tahu kenapa. Ya memang ganteng, tinggi dan kumis brewokan sih, namun setelah saya cukup lama melihat. Dia tidak semenawan dan seganteng itu. Ganteng... tapi ya udah. Gitu aja. Gila, pasti spell nya dan chemistry nya sudah habis kadaluarsa. Atau mungkin saya jatuh cinta karena dia 'baik'? Tapi ah semua orang juga baik kok. Ah sudahlah tidak masuk akal, toh sudah lewat. Tapi tetap sih menurut saya dari dia saya belajar banyak tentang menghargai diri sendiri, tentang laki-laki dan tentang cinta. Fuih... untunglah sudah selesai episodenya tidak pakai acara ditambah-tambah lagi. Mau nangis berapa ember lagi? Ih... kamsiah. 

Pemulihan patah hati itu tidak secepat itu, butuh waktu. Dan naik turun dua tahun belakang ini memang lumayan terasa capeknya juga. Sesudah patah hati biasanya kita jadi lebih reflektif dan mungkin sedikit insecure. Pada saat inilah memang saya jadi lebih fokus dengan apa yang saya mau, membuat rencana dari awal, menyiapkan masa depan lagi. Awalnya sulit, tapi sekarang jadi terbiasa lagi. Sudah selesai masa itu saya boleh berbangga dengan diri sendiri ternyata saya bisa jadi independent ini. Ternyata saya bisa. 

Untuk mencari cinta lain tentu tidak akan semudah itu karena pada akhirnya saya jadi lebih berhati-hati dan memilih untuk kosong tidak terlebih dahulu. Namun entah mengapa tiba-tiba saya rasa saya sudah siap untuk orang baru. Dengan siapa entah. 



No comments:

Post a Comment