1.2.15

Sekarang!

Waktu yang tepat unuk menulis ada saat hujan, saat weekend, saat liburan, saat udara dingin dan tentu saja saat ada bahan untuk ditulis. Itu adalah paradigma yang saya miliki. Sebenarnya pemikiran ini kurang tepat karena menurut penulis dengan jam terbang yang tinggi, seharusnya bukan begitu cara kerjanya. Cara kerjanya adalah menjadikan menulis sebagai kelenjar, sehingga serupa kelenjar apabila tidak ada maka mati, begitu pula dengan menulis. Memiliki cita-cita untuk bisa menjadi penulis yang bisa ikut 'bersuara' dan menjadi tajam dalam tulisan tentu memiliki suatu proses yang panjang. Dalam proses itu juga sering kali habis akal untuk bisa bangkit dan mendapat suatu epiphany akan topik yang ingin dibahas.

Akhir-akhir ini saya sedang melakukan research tentang gaya penulisan setiap penulis yang saya senangi, saya melihat bagaimana cara mereka membuat suatu ide menjadi mudah untuk bisa diterima. Dalam perjalanan saya mencari ini juga saya sempat ilfil dengan salah satu penulis yang saya suka sedari lama. Saya tidak akan memberi tahu siapa, namun saya agak sedikit kaget karena telah beberapa kali dia mengambil ide penulisan penulis lain. Aduh, rasanya saya patah hati sekali. Saya tahu sih, kalau belajar sesuatu pasti kita akan mulai dengan 'meniru' gaya seseorang yang kita adore tersebut lalu setelah itu kita berusaha untuk mencari style penulisan kita sendiri, saya tahu. Namun untuk yang ini saya risih sekali karena pengambilan ide penulisan itu terlalu gamblang untuk dia tulis di sana sini lalu beberapa penggemarnya pun sibuk memuji tanpa megetahui bahwa si sumber otak ide itu bukan milik dia. Atau mungkin kebetulan saya terlalu kutu buku sehingga kebetulan tahu sumber empunya ide.

Lalu kini saya berpikir, dalam proses belajar apakah benar kita harus dalam proses meniru 'plek' dengan sumber ide, gak malu apa ya? Saya jadi pusing karena saya tahu persis proses melahirkan ide itu sangatlah tidak mudah. Itu seperti proses melahirkan yang sesungguhnya, seperti menjadi ibu melahirkan bayi-bayinya. Tentunya sebagai induk akan marah dan berang sekali apabila idenya diambil bukan begitu?

Saya tahu sih, sebenarnya ini hanya persoalan kecil dalam suatu karya karena dalam berkarya bisa saja kita memiliki ide yang sama dan pemikiran yang sama. Namun masa iya packaging nya juga sama? Polesannya serupa? Aduh perih saya melihatnya. Lalu ibu saya pun berkata bahwa itu hal yang biasa terjadi dalam kerja kreatif, harus menerima dan lapang dada sesuai dengan sebuah perikop Pengkotbah 1:9, "Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi, tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari." 

Sudahlah biarlah itu menjadi sebuah pelajaran untuk saya bahwa jikalau saya sedang mentok dan paceklik ide, mungkin itu saatnya bagi saya untuk rehat sejenak membuat teh manis hangat. Ini berarti saatnya saya untuk lebih fokus dengan apa yang sedang saya kerjakan sekarang dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Menulis banyak-banyak, membaca banyak-banyak. 

Ada sebuah artikel menarik dari brain pickings, sejenis website informatif yang membahas pemikiran-pemikiran mulai dari science, psychology, art, politic, etc, sekali-kali bolehlah ditengok sebentar. Ada satu quote yang menarik dari Debbie Millman.

If you imagine less, less will be what you undoubtedly deserve. Do what you love, and don’t stop until you get what you love. Work as hard as you can, imagine immensities, don’t compromise, and don’t waste time. Start now. Not 20 years from now, not two weeks from now. Now.


Berapa banyak dari kita yang sebenarnya betul-betul mengetahui apa yang dia suka dan mengejarnya sampai dapat? Ada berapa banyak? Apakah kita mengenal salah satu orang yang demikian di sekeliling kita? Apakah kita sudah berani mengejarnya? Apakah kita sudah melakukannya sekarang? Iya,... sekarang.  



No comments:

Post a Comment