2.12.15

Dengan tanda-tanda yang menyertainya

Akan ada malam-malam ketika saya menyetel radio kamar kelewat keras karena tidak ingin merasa sendirian dengan isi kepala yang tidak bisa sunyi. Lalu saya pun menikmati situasi ramai yang fana. Dan sungguh menyukai bunyi-bunyi tuts keyboard laptop saya yang berbunyi tik-tik-tik itu. Rambut basah dan harum shampoo, wewangian buah yang manis lalu saya tak henti-henti berkata pada diri sendiri "Ah senangnya, rambut saya wangi." 

Hal yang saya sukai di malam hari adalah berdiam diri dan membaca. Namun kali ini sedang tidak mood untuk membaca, padahal saya baru beli buku baru kemarin dan masih ada setumpuk buku di sudut meja menunggu untuk dibaca. Oh ini namanya perbuatan sia-sia. Semoga bisa dibaca selesai sebelum ganti tahun. 

Hari ini pasti saya sedang demam karena saya tiba-tiba tergerak untuk membaca Alkitab. Astaganaga, iya saya bukan Katolik militan yang lurus karena saya ini belok-belok dan gemar bertanya. Bukankah keimanan seseorang juga berasal dari pertanyaan-pertanyaan dan kegelisahan dia dalam pencarian? Mungkin saya adalah tipe yang harus bertanya terlebih dahulu untuk sampai pada sebuah iman. Dan menurut saya kita harus kritis dan tidak menjadi fanatis dan merasa benar sendiri. Toh agama adalah sarana untuk merasakan cinta Tuhan lalu membagikannya pada sesama kan? Iya kan?

Bacaan hari ini menarik karena ada satu perikop yang menarik begini bunyinya "... Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya."  Saya menyukai perikop Markus 16:20 ini.

Tuhan turut bekerja. Saya kadang abai akan hal ini hingga saya merasa bahwa saya bekerja sendiri dengan kekuatan dan pemahaman saya sendiri tanpa menyadari bahwa Tuhan juga ikut andil dalam hidup saya. Seharusnya sih, saya bekerja melakukan dengan baik dan sungguh-sungguh bagian saya dan menyerahkan bagian Nya untuk Dia urus. Namun ya... namanya juga manusia, seringnya sih lupa lalu takut dan khawatir. 

Menurut saya perikop ini manis, karena seolah Tuhan sedang berbicara selayaknya ayah pada anak perempuannya yang bandel, keras kepala dan banyak tanya ini. Ayah yang pasti bisa diandalkan dan melindungi anak perempuannya. Ayah saya saja demikian bagaimana dengan Dia, Bapa yang ada di sorga? Lalu penyertaan Nya akan kita jumpai dalam setiap pertanda. Mungkin apa yang dihadapi pasti berliku dan berat, tapi Dia adalah setia. Bahwa saya percaya kalau segelap apa pun lorong di depan saya. Dia akan selalu menggandeng tangan saya dengan tanda-tanda yang menyertainya.




1.12.15

Satu Desember dalam pelukan


Sudah memasuki bulan Desember yang menandakan sebentar lagi 2015 akan tutup tahun, lalu menandakan bahwa wangi-wangi Natal akan muncul disudut rumah. Dan yang terakhir umur saya akan berubah jadi seperempat abad di akhir tahun ini. Jengjengjeng! Nyaris menjadi 25 tahun sebenarnya tidak membuat saya merasa dewasa atau merasa tua. Entah mengapa saya merasa bersyukur pada akhirnya saya menginjak umur 25 tahun. Umur-umur legenda ketika perempuan sudah bukan lagi anak-anak namun juga belum matang sepenuhnya. 

Sepuluh tahun silam saya membayangkan ketika saya berumur 25 tahun maka saya akan menikah dan sudah "mapan" dengan apapun di dunia ini. Entah pasangan, cinta, rumah dan pekerjaan. Namun saudara-saudara ternyata rasanya saya baru seperempat jalan dari hidup saya ini (barangkali?). Rasanya ini belum apa-apa masih geli-geli gitu. Namun saya cukup bersyukur dengan apapun yang sudah terjadi dan sudah bisa saya lewati dengan baik. Hingga saya jadi mengingat betapa untuk sampai ke hari ini saya harus melewati berbagai macam peristiwa, berbagai orang dan berbagai cinta.

Banyak pengalaman yang membentukmu sampai hari ini dan mungkin itu yang membuatmu menjadi manusia. Mari rayakan! Bahwa memang menjadi dewasa butuh proses dan saya mau kok menjadi dewasa. Bukan dewasa yang karbitan tentunya. Lalu belajar untuk melangkah lebih jauh dan menyelam lebih dalam. 

Saya percaya bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kehendak bebas. Kita bebas untuk menjadi apapun sesuai dengan talenta yang telah diberikan Tuhan dengan semua panggilan-panggilan kita. Dan di umur yang ke-25 ini saya berjanji untuk mau menemukan dan mengikuti panggilan itu. Tidak akan mudah pasti namun, menjawab dengan berkata "Ya, Tuhan saya sanggup", saya percaya Tuhan pasti akan melindungi dan memberkati.

Tidak ada yang kebetulan, semua sudah direncakan. Hingga dengan siapa pun kamu jatuh cinta kelak sekalipun. Bukan sekedar seorang pemuda bertemu dengan seorang gadis lalu mereka bercinta, namun ada aliran-aliran magis yang harus diikuti dengan hati. Dan sudah seharusnya cinta diciptakan bukan umtuk memisahkan dan mencerai berai, cinta ada untuk menyatukan perbedaan, karena semata-mata ingin bersama dan mengetatkan peluk.





8.11.15

Suaka


metta's awkward drawing 

Bangun pagi dan menyadari kalau kamu merasa 'penuh' adalah sebuah berkat. Kamu melakukan aktivitas berjam-jam namun kamu tidak capek sama sekali, sebaliknya kamu merasa senang. Benar sekali seperti yang tertulis di Alkitab hati yang gembira adalah obat, semangat yang patah membusukan tulang. Begitu kira-kira bunyinya. 

Mengerjakan apa yang jiwamu sukai adalah kekayaan selain kebahagian tidur lelap, makan kenyang dan boker lancar. Setelah kebutuhan primitif itu terpenuhi lalu dilanjutkan pula dengan kepuasan hati karena bisa memenuhi apa yang kamu sukai, hal yang membuat hatimu bergetar dan bergairah akan sesuatu. Itu rasa yang sangat mahal harganya.

Saya akhir-akhir ini semakin tersadar bahwa menjalani hobi ternyata memang membantu kamu menjadi balance. Lalu dengan ini saya ingin menyampaikan pesan padamu: LUANGKAN! Luangkan waktu untukmu melakukan apa yang kamu sukai dan lakukan dengan serius. Percayalah energi postitif yang dihasilkan sangatlah besar. Dan percayalah hatimu mengetahui ketika energi asal menyatu dengan alam semesta dan menghasilkan frekuensi yang harmoni dan selaras.

Saya ingin berkata padamu untuk melakukan apa yang membuatmu rela berkeringat panas-panasan, jauh-jauh berjalan atau duduk berjam-jam sibuk dengan dirimu sendiri. Saat itulah kamu sedang menyambungkan aliran energi semesta dengan dirimu sendiri, jangan sampai putus dan lakukan sesering mungkin. 

Saya menyebutnya sebagai suaka. Suaka saya adalah melakukan pekerjaan kreatif dan seni. Itu adalah semacam rahim yang nyaman dan hangat untuk saya, seolah saya kembali ke asal dan menguap menjadi partikel di udara. Itulah saat di mana saya merasa sadar, penuh dan utuh. 

Saya rasa, setiap manusia harus menemukan suakanya sendiri. Agar tetap waras dan agar sedikit lepas untuk pada akhirnya menyatu lagi. Bahwa melebur dalam aliran daramu sendiri dan masuk ke otakmu sendiri tanpa intrupsi adalah kebebasan. Bahwa kamu itu bebas dan merdeka. Tidak ada yang bisa mengambil itu semua darimu. Ingat itu.

Dan hidup itu harus bisa menggerakan. Membuat dampak baik untuk orang lain, tidak harus melulu besar, kecil namun menyala-nyala itu lebih baik dari pada tidak sama sekali, kan?



Luangkan! Ayoooo produktif saudara-saudara! Selagi bisa, selagi sempat. 




4.11.15

Harus seimbang!






Menyambung tulisan saya yang terakhir tentang pencarian frekuensi, jawabannya adalah: saya belum menemukan frekuensi yang cocok. Bukan berarti saya tidak mencari, saya mencari,tapi tidak menemukan apa yang saya cari, namun menemukan sesuatu yang lain. Pernah tidak mengalami hal yang serupa?

Justru sering kali saya merasa ketika saya mencari sesuatu, eh saya malah mendapatkan hal lain. Bulan kemarin saya pusing tujuh keliling karena saya berasa tersesat di tengah hutan belantara, di tengah pekerjaan, di tengah keseharian. Padahal sebenarnya saya bukan tersesat hanya saja saya tiba-tiba terbuka matanya. Itu euforia saya terbuka matanya. Saya terbuka matanya bahwa ternyata selama ini saya terlalu serius dengan jalan di depan saya, hingga saya lupa tengok kanan kiri, dan begitu saya merasa bosan dengan jalan di depan saya dan menengok kanan kiri, lalu saya jadi jengah.

Saya menemukan sesuatu yang penting untuk saya pribadi, yakni sebenarnya saya bisa melakukan keduanya. Baik serius melangkah dengan keseharian saya ataupun lihat-lihat pemandangan dengan hobi dan kesukaan saya. Jadi intinya adalah jangan serius- serius lah, Metta, lemesin dikit aja gitu. Cari balance nya. Men... jawabannya adalah mencari keseimbangan. 

Bukan berarti mencari frekuensi yang sama itu tidak baik, namun sudah seharusnya nggak sih kalau saya belajar membaur dengan frekuensi yang lain. Tidak usah selalu harus sama frekuensi kan? Ada kalanya berbeda frekuensi menjadi sebuah keunikan tersendiri. Berkreatifitas sendiri jadi lone ranger. Jadi solo traveler yang bisa dinikmati sendirian. Mungkin sesuatu yang indah tidak harus melulu dinikmati beramai-ramai kan? 

Lalu akhir-akhir ini saya menemukan website kumpulan opini satir, artikel cerdas astagaaaanagaaaaa bahagianya saya bisa menemukan dunia lain ini. Gila saya selalu terkagum-kagum dengan orang kritis dan pintar. Heran mereka makan apa sih ya? 

Astaga, melihat mereka yang kritis dan pintar di sana sini saya jadi berasa dungu sekali. Dan merasa kuraaaaang sekali dengan apa yang saya tahu. Duh, harus banget ini catch up dan mulai belajar dan baca ini itu. 

Hingga misalnya suatu saat ada orang iseng yang tanya tentang arti teori kelas milik Karl Marx saya bisa jawab gitu. 


11.10.15

Minggu santai dan Passion Pit

                                     Monggo didengarkan Passion Pit-nya! 

Setelah saya lihat-lihat, urat menulis saya begitu dimanjakan pada hari Sabtu dan Minggu. Menyenangkan untuk bisa duduk-duduk sambil ketawa-ketawa lelucon aneh slapstick. Selera humor saya memang agak kelas rendahan. Sudahlah tidak perlu kita membahas hari Senin-Jumat karena pada dasarnya hari-hari tersebut jiwa seniman saya ketekan sampai tinggal ampas. Namun kembali lagi bukankah kita melakukan segala hal karena suatu keinginan? Tsah, makin dewasa aja saya ini *idung kembang kempis*

Saya menemukan sebuah kesenangan aneh, apa coba saudara-saudara? Saya suka memperhatikan sekitar dan orang-orang berlama-lama. Karena saya sesungguhnya mencari inspirasi dan karakter yang cocok untuk tulisan saya. Astaga mengobservasi suatu hal itu sungguh menyenangkan ya, seperti menemukan lahan mainan baru. Saya suka sekali mendengarkan pendapat dan sudut pandang orang, karena terkadang saya jadi terkaget-kaget sendiri dan lalu langsung saya tulis di notes saya. Sudah macam detektif gadungan. Saya harus melihat orang lekat-lekat, bagaimana cara bicaranya, intonasinya, cara jalan, sorot padangnya, dan yang paling menarik adalah bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Sungguh ini adalah suatu misteri. Bagaimana seseorang bereaksi akan stimulus di sekitarnya. Saya perhatikan. Sejauh ini hal yang menurut saya menarik adalah suatu kesimpulan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, pasti terpengaruh dari background dia. Entah cerita apa yang dia punya. Dan sesungguhnya kita manusia terbuat dari hal-hal yang sama, keluarga, teman, cinta, patah hati, benci, harapan, putus asa, kekecewaan, sedih, masalah, kesenangan, passion, luka, sakit , tubuh dan lainnya. Semua dari kita tidak pernah terhenti pada satu titik saja, semua berputar. Dan saya percaya manusia adalah hal-hal yang tidak pernah selesai. Mengutip sedikit dari Goenawan Mohammad. 

Lalu saya menyimpulkan sedikit kalau sudah seharusnya saya tidak perlu kebanyakan mikir mengenai manusia yang begitu menyebalkan dalam memperlakukan orang lain karena mungkin saja ada yang belum selesai dari jiwanya. Dan saya berdoa semoga apa pun yang dia cari bisa segera ditemukan hingga setiap tindakan dan perkataan adalah untuk kebaikan. 

Oh ya satu lagi. Hari ini saat saya sedang asyik mendengarkan lagu-lagu ciamik lalu saya kepencet sebuah band Passion Pit. Seharusnya sih ini  agak lama ya, namun karena kadar anak indie saya sudah digerus kehidupan kantor jadi saya ketinggalan deh. Ini sih mantap punya, mendengarkannya rasanya seperti makan es krim lalu kembali berteriak-teriak wacana lama: Astaganaga rasanya saya harus cari komunitas penulis atau ikut diskusi tentang seni-sastra-puisi-teater-film festival-dan teman-temannya. Kalau tidak saya bisa gila. Mungkin sesekali harus mengunjungi Salihara untuk bisa kenalan dengan orang-orang hebat nan kreatif.  Saya pahami benar, mencari teman satu frekuensi yang sama itu tidaklah mudah ya, apalagi jikalau kamu nyemplung ke planet kotak-kotak-persegi yang semuanya dikotak-kotak, lalu kamu adalah alien penganut free-thinking. Mungkin ini ziarah batin buat saya, begitu kata Ibu. 


Nb. Ada yang tahu komunitas yang saya maksud? Mohon petunjuknya ya.



Salam bahagia,


gadispayungkuning
yang sedang mencari frekuensi yang sama *pasang antena*



4.10.15

Naik level seekor kutu busuk

Pagi hari yang dikejutkan dengan sakit perut karena ingin buang air besar itu sebenarnya bukan sebuah cara untuk membangunkan seseorang dengan cara yang ideal. Ya kan? Namun siapa sih yang punya kehidupan yang ideal kecuali Chelsea dan Glenn. Melihat pernikahan mereka yang bak fairy tale saya pandangi dengan alis naik satu. Okelah. Ya setiap orang punya hak mereka masing-masing menggunakan uangnya dan bagaimana mendesign weddingnya, bukan? Mungkin kalau saya bukan tipe yang seperti itu. Mungkin saya tipe kolot yang hanya ingin pesta kebun dengan keluarga dan teman dekat saja. Ya itulah konsep ideal orang berbeda-beda sehingga menjalani hidup juga berbeda-beda. 

Kali ini saya sedang agak nyinyir dan suka ngomong sembarangan. Kayak kurang pelampiasan untuk sesuatu yang saya suka. Idealnya saya harusnya mengejar apa yang saya suka dong. Tapi saya kok kebalikannya ya? Sinting. Bisa diambil contoh ringan saja begini saya mau menjadi penulis namun untuk menjadi penulis saya tidak menulis-menulis atau setidaknya kerja di suatu media. Logikanya begitu dong. Namun saya tahu menjadi penulis bukan profesi yang bikin hidup mapan kecuali kamu adalah Paulo Coelho yang punya buku best seller sepanjang tahun di seluruh dunia lalu bukunya diterjemahkan ke banyak bahasa. Oke itu baru bisa duduk santai di pegunungan sambil makan ciki. Tapi kan saya nggak gitu, bray. 

Lalu saya mulai mengerti sebuah pola bahwa manusia terkadang takut sendiri untuk mencapai sesuatu yang membuat dia bahagia, bahwa upaya untuk mencapai bahagia itu begitu berliku dan terkadang terhenti di tengah jalan karena takut. Semacam masochist juga yang suka menyakiti diri sendiri karena mendapatkan pleasure dari rasa sakit itu sendiri. Mungkin itu yang didapatkan orang saat membuat tato. Rasa sakit yang enak. Menurut kamu itu sakit jiwa gak? Menurut saya enggak. Siapa sih yang gak sakit jiwa di dunia ini btw?

Balik lagi ke pembicaraan awal kalau saya sebagai seseorang yang sering kali salah kaprah dengan tidak jelas mengejar apa yang saya suka namun malah berlarian ke arah sebaliknya, itu kenapa bisa terjadi ya? Kalau kata guru writing saya di uni dulu itu ada sesuatu hal yang dibuat untuk jalan memutar untuk bisa balik lagi. Mungkin kita sedang di situ.

Saya suka sebal dengan diri saya apabila mendapati diri saya tidak produktif. Ada beberapa hari saya sudah kayak ayam tiren. Saya ogah deh jadi ayam tiren lagi, itu pasti karena saya kurang hobby dan melakukannya. Sedih sih itu, apalagi saya punya adik yang sangat tahu hobby dia apa dan melakukannya dengan segenap hatinya, seserius-seriusnya. Eh saya malah mengglepar-glepar jadi kutu busuk di tempat tidur. Kalau diingat-ingat bego yaa...tapi setiap orang memang harus punya fase itu untuk pada akhirnya memutuskan apa yang harus diputuskan. 

Dilihat-lihat memang hidup gak seideal Chelsea dan Glenn tapi saya sih sebenernya mau yang biasa-biasa saja, naik pangkat tidak lagi jadi kutu busuk setidaknya sudah membuat saya happy keujung tulang. Lalu menyibukan diri dengan melakukan hal yang saya suka. Ayo men... lakukan yang kamu suka, buat dirimu terinspirasi dan bisa menginspirasi orang lain untuk bergerak. Itu sih kekuatan energinya keren banget. Menggerakan orang lain. 

Tiba-tiba kemarin saya teringatkan kembali pada sebuah quote lama yang sudah pernah saya tuliskan di blog rasanya, bagi saya menulis itu adalah kelenjar. Artinya tanpa kelenjar kita tidak bisa hidup dan untuk saya tanpa menulis saya tidak bisa hidup. Kalau kelenjar kamu apa? 

PS. Ini tulisannya kadar sarkasmenya agak jenuh ya.  Hallo bagi pembaca baru kalau begitu. 

27.9.15

Mau sepi dan tenang, kok mahal?

Kemarin saya tengah berjalan-jalan di sebuah mall terdekat di rumah saya. Saya bukan tipe anak mall yang suka sekali muter-muter belanja sampai kaki pegal. Namun kemarin kebetulan ada festival kopi sehingga saya dan adik saya tertarik untuk minum kopi sebentar dan saya mau lihat-lihat (barista cute)  pembuatan kopi. Ternyata dalam mall itu juga ada promosi apartemen. Heran padahal apartemen yang ini belum laku dijual eh kok ya sudah bangun lagi ya? Bukan main heran saya sama pengusaha kapitalis. 

Kalau sudah seperti ini pasti deh saya mulai kepo dan minta brosur. Lalu sambil lewat mendengarkan presentasi mencuri dengar. Sambil dalam hati berkata,  'Ini orang kaya pada mau beli banget nih?' Bisa jadi saya yang iri dengan orang-orang kaya itu karena bisa punya uang buaaaaanyak buat beli yang 'aneh-aneh' tapi di otak saya rada gak nyampe kenapa mereka mau beli apartemen yang mahalnya amit-amit dan harganya bisa buat kasih makan orang satu pulau. Heran. Mental kere mungkin kayak gini ya haha. 

Bagian yang lebih membuat saya heran adalah tema yang diambil yakni ketenangan. Widih... segar banget sih temanya kena di hati. Seperti salah satu quotenya Jane Austen di Mansfield Park "Let us have the luxury of silence." Jadi mengambil tema sepi dan tenang dari stress serta hiruk pikuk kota dan kerja. Inilah yang dibutuhkan orang-orang urban yang kekinian, mereka sudah capek kerja dan stress, menghadapi macet dan hal-hal negetif lainnya, pasti mereka membutuhkan pelarian agar tetap menjadi waras. Dari ide apartemen ini ok banget sih kelihatannya.

Pertanyaannya kini adalah kenapa ya orang-orang masa kini mau sepi dan tenang saja kok harus bayar mahaaaaaaal sekali. Sedangkan untuk yang bisa menikmati sepi dan tenang seharusnya murah dan terjangkau ya dan itu bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang. Namun kenapa sekarang sepi dan tenang seolah menjadi sesuatu yang bisa dijual dan dibeli. Kalau kamu mau sepi dan tenang kenapa harus beli apartemen kenapa tidak pergi ke gunung, meditasi, atau ke pantai lalu duduk-duduk bengong. Ya.. tapi kan Met, mereka maunya sepi dan tenang di tengah kota biar bisa deket kantor, dekat ke mall, bisa makan enak serta menikmati hidup setelah beberapa hari stress jadi babu corporate, ya kan? Bisa jadi. Gaya hidup kita ini sudah sangat konsumtif dan maunya instan dan mudah. Dalam satu jentik jari kita berharap kita bisa menerima semuaaa kenyamanan di dunia ini. 

Apa salah?

Ya nggak salah sih namun menurut saya jadi mengaburkan arti sepi dan tenang itu sendiri. Seolah sepi dan tenang itu harus nyaman, enak serta indentik menjadi mahal. Kenapa sesuatu yang sifatnya dari alam semesta dan gratis, di zaman kini malah diartikan jauh sekali dari arti sederhana ya? 

Aduh saya jadi bingung. 



10.9.15

Labil gak stabil

Mungkin inilah yang dinamakan dengan quarter life crisis. Apakah pemirsa budiman pernah merasakan kegelisahan terus menerus lalu nanti galau nanti jadi bingung dan lalu ditutup dengan ketiduran, saking capeknya mikirin negara. Situasi saya adalah akhir-akhir ini menjadi seorang remaja tanggung galau ( dibaca: galauwati). Eh tapi seharusnya blog ini kan membawa penyegaran ilmu pengetahuan yang ciamik dan ilmiah terpercaya biar disangka pinter gitu ya, tapi ah sudahlah. Sudah banyak blog pintar berbobot, Tidak usah deh saya ikutan pinter, toh pembaca blog saya sudah pintar-pintar semua, jadi saya menulis versi isi otak pas-pasan saja ya. Oke?

Saya ini antara bingung dan yakin. Saya yakin saya bisa melewati kebingungan ini sekaligus saya juga bingung bagaimana cara saya keluar dari kebingungan ini. Bingung kuadrat. Mungkin karena saya diberkahi menjadi orang yang luar biasa optimis melihat semua, jadi saya punya keyakinan, oh pasti ini bisa diatasi, tapi sebenarnya saya juga gak tahu sih bagaimana caranya. Aih. Cerdas memang.

Sebenarnya permasalahan saya cuman satu. Saya bingung saya sebenarnya mau jadi apa ya? Lalu bagaimana cara saya bisa mandiri sepenuhnya? Bagaimana cara saya bisa menjalani kehidupan saya sekaligus passion saya? Bagaimana cara saya tahu jodoh saya siapa, di mana? Bagaimana caranya saya bisa bermanfaat untuk orang lain lalu menjadi berkat? Lha...kok masalah saya jadi banyak ya? Saya jadi bingung lagi kan nih. 

Sebenarnya ini gak sih saat-saat di mana lo jelimet sendiri sama hidup lo lalu akan ada satu masa, dalam hati lo bilang: Anjrit, gue ngapain sih ya? Kok orang-orang terlihat sangat yakin dengan dirinya sendiri. Padahal kalau selidik punya selidik dalam hati mereka juga menjeritkan hal yang serupa. 

Kalau saya rasa sih, saat-saat ini  masa-masa di mana kita pengen nyobain ini itu, pengen tahu ini itu, penasaran sama ini itu, dan rada ceroboh lalu salah dalam mengambil keputusan. Lalu menyesal dan bangkit lagi karena penasaran lagi dan terus berulang. Ini saatnya di mana di umur lo yang masih 20an ini untuk trial and error. Begituuu sepanjang waktu. Mungkin ini kenikmatan masa muda. Berpetualang dalam ketidakpastian. Dalam umur kita ini, kita ingin sesuatu yang pasti, stabil namun ternyata hidup menyuguhkan hal yang berbeda. Ya sudah telan saja dulu bulat-bulat. 

Ya kuncinya satu, kalau jatuh, nangis sebentar dan jangan takut lari lagi. Setuju? 


27.8.15

Membaca Pertanda


Sedikit cerita aneh tentang hari ini. Begini ceritanya saat saya berangkat kantor, biasa saya suka berdoa pagi dalam hati sambil melihat-lihat keadaan sekitar. Pagi ini entah mengapa saya sedang bercerita dengan Ibu saya bahwa saya sedang berdoa untuk suatu keinginan saya. Lalu kemudian Ibu saya pun sharing kalau saat dia berdoa terkadang jawaban itu ada hadir dalam hati, mungkin seperti pencerahan? Lalu entah mengapa pembicaraan kita terhenti sampai situ saja. Lalu saya berangkat ke kantor seperti biasa, di pagi yang biasa, naik bus kantor seperti biasa, duduk di kursi favorite saya yang biasa dan memandang jendela yang sama setiap harinya. Semua sama. Sampai akhirnya saya berpikir yang aneh-aneh. 

Begini, saya berpikir begini kenapa ya kok Tuhan tidak memberikan kita jawaban langsung seketika sehingga kita mengerti segamblang-gamblangnya jikalau jawaban Dia "ya" dan "tidak". Mengapa harus kita yang muter-muter cari sendiri dan hanya mengandalkan kepercayaan kita sepenuhnya pada Dia. Memang Tuhan tidak tahu apa ya kalau saya itu orangnya sudah egois, oon, nyebelin, keras kepala dan susah diberi tahu. Namun tetap saja dong Tuhan tidak memberikan jawaban yang "taraaaaa!" langsung depan mata. Kalau begitu kan hidup saya pasti semakin baik dan jadi lempeng gak belok-belok. Ya gak?

Lalu memang dasar saya ini agak bandel, saya bertanya-tanya sendiri, kenapa juga Tuhan tidak menggunakan bahasa manusia langsung ke saya gitu, jadi hubungan kita tuh ada tanya jawab, jadi semua clear. Bukannya Tuhan itu Maha Segala Bisa dan Maha Esa ya? Tapi kenapa untuk memberi jawaban ke saya aja susaaaaaaaahhhh banget rasanya, kan saya jadi gelisah dan gerah sendiri. Ya itulah manusia eh salah, mungkin itulah saya, Metta yang nyebelin dan suka tanya ini itu. Heran saya juga kenapa ya Tuhan kok gak give up aja sama saya yang bebal ini. Ya itu lagi,  mungkin karena Dia itu Esa maka Dia tidak akan pernah menyerah dengan saya. 

Kembali lagi, sehingga sepagian ini saya bertanya-tanya mengapa kok Tuhan pelit sekali kasih saya jawaban. Lalu saya pun duduk di bus mau ke kantor sambil berpikir asyik sendiri, berpikir tentang Tuhan dan menganalisa Dia dengan otak saya yang sudah pas-pasan dan seuprit ini. Oh betul... semakin saya berpikir saya semakin pusing dengan pemikiran saya sendiri. Akhirnya saya sudahi saja dan membaca-baca renungan singkat untuk pagi itu. 

Memang ya... mungkin karena Tuhan sudah gerah dengan saya yang sok tahu ini lalu serta merta renungannya judulnya begini "Apakah Dia Mendengar?" Waduh...bisik hati saya. Perasaan saya jadi agak geli-geli gimana gitu. Lalu bacaannya sungguh menohok saya sampai rasanya tembus hati saya ini. Gila...udah deh saya skakmat, habis sudah saya jadi butiran debu.  Begini bunyinya:

Apabila kita berdoa, kita mungkin tidak melihat bagaimana Allah berkerja, atau kita tidak mengerti bagaimana Dia akan membawa kebaikan melalui semuanya ini. Oleh karena itu, kita harus percaya kepada-Nya. Kita mesti melepaskan hak-hak kita dan membiarkan Allah melakukan apa yang terbaik untuk kita.  Kita harus menyerahkan apa yang tidak kita ketahui kepada Dia yang tahu segala sesuatu. Dia sedang mendengarkan dan menangani masalah itu menurut cara-Nya sendiri. Apabila kita berlutut untuk berdoa, Allah mendekatkan telinga-Nya untuk mendengarkan. 

Astaganaga, ternyata saya deh yang rada budeg dan menutup hati untuk melihat berbagai banyak pertanda. Bahwa pertanda itu nyata ada di sekeliling kita. Saya lupa kalau sebenarnya saya ini hanya butiran debu di alas kaki-Nya. Bahwa saya ini ciptaan-Nya, mana mungkin otak saya ini bisa melampaui Pencipta sih. 

Saya tahu mungkin ketika anda sekalian membaca tulisan ini pasti ada yang berfikir kalau saya ini terlalu religius dan tidak realistis. Padahal saya kan pecicilan ke sana ke mari, namun entah mengapa saya sungguh merasa doa adalah kekuatan saya untuk tetap bisa kuat dan entah mengapa saya ingin mempunyai hubungan mesra dengan Dia. Keyakinan saya kalau manusia terlalu kerdil untuk rencana-rencana-Nya yang begitu besar. Bahwa saya percaya Dia adalah Allah yang setia dan pemeliharaan-Nya selalu tetap. Dan saya merasa tenang dalam Dia.





25.8.15


masa iya mau cinta tapi takut jatuh?

sama seperti
mau belajar berenang tapi takut air







18.8.15

Permintaan



pic: metta


Saya sedang getol meminta kepada Tuhan, merayu dan terkadang sedikit memaksa. Permintaan saya pada awalnya cuman satu lalu lama kelamaan mengapa jadi beranak pinak ya? Saya juga agak bingung. Iya saya memang serakah. Sudah mau ini eh lihat yang itu saya juga mau. Semoga Tuhan masih sabar dengan anak perempuannya yang satu ini.

Pernah tahu dengan sebuah pepatah yang bunyinya begini "Manusia berencana dan Tuhan yang menentukan?" Menurut kamu benarkah demikian yang terjadi? Kalau begitu apakah Tuhan tidak pernah memberikan pilihan pada kita untuk memilih? Menurut saya Tuhan memberikan begitu banyak pilihan dan kita punya kehendak yang bebas. Lalu bagaimana dengan yang namanya 'kehendak Tuhan'. Saya juga belum tahu sih jawabannya apa? Haha!

Tapi begini, saya rasa seharusnya pepatah itu berubah menjadi "Saya dan Tuhan bersama-sama berencana dan bekerja". Menurut saya entah mengapa rasanya ini lebih tepat. Sehingga kita bersama-sama menentukan, bukan hanya sepihak saja. 

Saya hanya mau berkata bahwa saat ini saya sedang dalam masa meminta dengan sangat sebuah permintaan. Dan terkadang saya tidak mengerti kenapa ya kok belum dikabulkan? Kenapa ya kok tidak sesuai dengan rencana saya? Apakah ada yang terlewat dan saya belum menyelesaikan prosedurnya, atau bagaimana ya? 

Sebenarnya saya jadi ragu apakah saya berhak ya atas keinginan saya ini? Dan saya sedang serius meminta untuk yang satu ini. Ketika kita meminta dan kita sedang menunggu jawaban saya jadi ragu, benar tidak ya jalan saya selama ini. 

Namun saya percaya bahwa jikalau sampai hari ini saya masih hidup semata-mata karena Dia setuju dan melindungi. Bahwa sebenarnya ada tangan-tangan yang bekerja untuk tetap menjaga saya dan membuat segalanya tepat indah pada waktunya. Dan memang karya Dia melampaui pikiran dan indera manusia. Dan kalau Dia hanyalah konsep, betapa Konsep ini tidak bisa saya jangkau dan saya uraikan dengan otak saya ini. 

Inilah saya dengan semua doa-doa yang dibisikan malam-malam. Yang mungkin hanya bergetar rendah di dinding kamar dan gaung energinya ditangkap semesta dan direkam. Hingga nanti pada suatu persimpangan waktu dan berkat pun turun, semua ini akan ada jawabannya dan dilancarkan segala sesuatunya. 

Akan tiba saatnya saya dan kamu tumbuh menjadi pohon rindang dan berakar kuat. 


13.8.15

Nyaman


Baru hari Kamis ya, iya baru hari Kamis. Tarik nafas dulu karena besok masih hari Jumat. Apakah kita seharusnya berkata 'masih Jumat' ataukah 'sudah Jumat'? Silahkan pilih. Saya rasa beberapa orang dan termasuk saya memberikan label bahwa weekend is the loveliest thing in the world. Menurut saya iya. 

Saya sedang berpikir, mungkin karena weekend memberi rasa nyaman dan kita manusia cenderung menempatkan diri kita di tempat yang menurut kita nyaman. Saya paham kalau setiap orang memiliki definisi kenyamanan yang berbeda-beda serta memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda-beda. Bagi saya nyaman itu artinya ketika saya bisa menjadi diri saya sendiri dan membuat saya merasa betah dan bersemangat. Lalu seorang teman saya pun nyeletuk "Oh kalau begitu menurut kamu nyaman itu adalah subject ya? Bukan tempat, bukan object?" Lalu saya berpikir, iya juga ya, nyaman untuk saya adalah orang-orang di sekitar saya. 

Kamu adalah zona nyaman itu sendiri

Manis, gak sih jikalau ada seseorang yang tiba-tiba berkata padamu bahwa kamu adalah zona nyaman untuk mereka. Ketika keberadaan kita bisa membuat seseorang merasa aman dan nyaman. Bahwa segalanya pasti akan baik-baik saja jikalau ada kamu. Manis gak sih? Saya rasa lutut saya pasti lemes dan saya tersanjung sekali jikalau ada seseorang berkata seperti itu pada saya. 

Menurut saya tidak banyak orang yang bisa membuat orang lain merasa nyaman dengan keberadaan mereka. Ketika orang tersebut bisa membuat diri kita jadi terbuka dan menjadi diri sendiri. Sebenarnya lucu juga sih jikalau kita malah mencari zona nyaman untuk menjadi diri sendiri dalam diri orang lain. Mengapa tidak dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu? Dimulai dari kita bisa merasa nyaman dengan diri sendiri, merasa ok dengan diri sendiri. 

Dahulu ketika saya masih labil banyak hal yang saya pertanyakan seperti kenapa sih rambut saya tidak lurus namun bergelombang ikal, saya kan maunya lurus cantik gitu. Dan saat itu saya ingat sekali kalau saya saat itu sedang berjerawat heboh parah, hingga saya malas ngaca dan melihat muka saya yang menurut saya jelek. Makin ke sini saya rasa saya sudah terbiasa dengan jerawat saya, bahwa saya berjerawat dan jerawat sudah menjadi hiasan muka saya semenjak kuliah. Hingga saya sudah tidak ambil pusing lagi dengan itu. 

Saya rasa ketika kita bertumbuh menjadi dewasa, akan banyak kritik dan omongan negatif seiring dengan pertumbuhan kita. Pada akhirnya bisa saja kita akan berpikir bahwa kita tidak menarik karena gendut atau jerawat atau berambut ikal atau tidak tinggi atau tidak putih atau tidak memiliki muka yang cantik dan banyak label lainnya. Hingga akhirnya kita tidak menyukai apa yang ada di dalam tubuh kita. Padahal kalau dipikir-pikir, cara kerja tubuh kita ini sungguh amazing. Ada suatu mekanisme tertentu dalam tubuh kita yang bekerja dengan ajaib dan kalau satu tidak berfungsi dengan baik maka mampus sudah kita. Ya...memang manusia suka lupa akan sesuatu yang di dalam dan lebih memikirkan polesan luar. Bahwa sesungguhnya sesuatu yang ada di dalam itu tidak kalah baik kualitasnya. Dan sudah saya bilang berkali-kali bahwa penampilan luar itu menipu. 

Terkadang dilupakan

Apabila kita sudah nyaman dan selesai dengan diri sendiri pasti kita pun bisa menerima orang lain dengan baik. Dan kita merasa yakin bahwa kita ini ok dengan diri sendiri sehingga saya pun ok dengan orang lain. Tidak peduli dengan kata orang karena kita sudah menerima kekurangan diri sendiri. 

Saya memiliki satu kelemahan yakni saya bukan anak eksak, hitungan saya parah, matematika saya amit-amit. Dan ini berpengaruh pada suatu hal yakni saya kesulitan membedakan mana kanan dan kiri. Saya selalu menutupi kelemahan ini dan mungkin sekarang tidak terlalu ketara, namun ketika saya harus menunjukan arah itulah suatu hal yang paling tidak saya sukai. Buat saya kanan dan kiri sangat sulit untuk dibedakan, maka itu saya selalu pakai jam tangan di tangan kiri saya untuk sebagai pengingat. Mungkin bagi orang lain ini aneh dan bego sekali, namun iya itulah saya. Kanan dan kiri tidak semudah atas dan bawah. Kanan dan kiri tidak semudah besar dan kecil. Dulu saya malu sekali jikalau saya harus memberi tahu kelemahan ini, namun sekarang saya sudah cuek saja. Iya memang saya sulit membedakan, namun bukan berarti saya tidak usaha untuk menjadi bisa. Saya selalu latihan kok. Dan ketika saya berkenalan dengan teman baru atau orang baru, saya pasti akan langsung memberi tahukan hal ini. Menurut saya saya membuat satu langkah untuk menjadi nyaman dengan diri sendiri.

Menurut saya, it's okay kalau kita mengakui kelemahan kita, bahwa kita memang tidak sempurna dan kita ini manusia biasa. Kita tidak sempurna namun kita berusaha untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, ya kan? Pernah suatu hari teman saya berkata bahwa dia buta warna. Saya tidak pernah tahu kalau dia buta warna. Awalnya saya kaget, namun saya jadi penasaran, akan dunia yang dia lihat seperti apa, karena pasti cara pandang dia berbeda. Saya selalu tertarik dengan cara pandang orang lain melihat dunia, karena menurut saya pasti berbeda-beda. 

Pernah suatu hari adik saya yang paling kecil sedang bermain dengan temannya, mereka bermain kadang akur dan kadang berantem lalu nanti bermain lagi. Menurut saya anak kecil selalu memberikan kenyamanan untuk temannya. Mereka bermain dengan saling menawarkan kenyamanan sehingga mereka pun memiliki rasa kasih yang lebih luas dari kita yang katanya dewasa ini.

Saya jadi ingat sebuah quote dari Atticus begini bunyinya : Watch carefully, the magic that occurs, when you give a person just enough comfort to be themselves.  

Hingga akhirnya tidak lagi menjadi berarti dengan yang namanya  perbedaan status, penampilan, harta benda, baju yang kamu pakai, tas yang kamu pakai, rambut yang kamu punya, atau wajah yang terpapang di kepalamu. Itu menjadi sesuatu yang fana ketika ada suatu hal yang lebih berharga ditawarkan, yakni pribadi yang penuh kasih. Karena kualitas yang terbaik ada di hati. 


10.8.15

Menurut kamu gimana?


"Lo mah gak usah khawatir Met urusan mau kerja di mana, nanti kan jadi istri. "

Ujar seorang teman ganteng yang pada saat kuliah saya jatuh cinta setengah mati. Dari segi penampilan dia ok abis. Badan besar, tinggi, tegap model anak basket lalu sedikit kumis dan brewok. Senyumnya manis manja sudah gitu seagama pula. Kece banget lah, pokoknya tipe seorang Metta. Pada saat dia melontarkan hal demikian sebenarnya saya agak syok juga. Dan mau teriak: Woi... hari gini mikirnya segitu doang!! Tapi tidak jadi saya lontarka karena pada saat itu saya naksir setengah mati sama dia. Sehingga saya hanya tertawa bareng dengan dia sambil tersipu malu. Iya...pura-pura bego.

Setelah saya pikir-pikir ada berapa banyak kali ya saya pura-pura bego di depan cowok yang saya suka? Pura-pura kalau saya tidak tahu ini itu, tidak bertanya kritis, pura-pura kalau saya tidak memiliki ambisi apa-apa semata-mata karena saya suka dengan dia. Saya pernah baca artikel di internet dan kira-kira begini bunyinya:  Men will feel the need to be more intelligent than their woman in proportion to how masculine they are . Oke jadi logikanya kita harus pura-pura bego jikalau ternyata kita jatuh cinta pada cowok gak pinter-pinter amat? 

Lalu pernah tiba-tiba, saya sedang ngobrol random dengan teman saya. Yang akhirnya kita ngobrol tentang perempuan pintar yang akhirnya cerai dari suaminya yang super hot dan menikah dengan cowok yang biasa saja namun seorang guru spiritualist. Lalu teman saya nyeletuk: " Iyalah pasti cerai, mantan suaminya rada bego gitu ga sih Met?" Lalu kami pun berkesimpulan bahwa perempuan memang mencari pasangan yang lebih smart dari dia. Dan memang laki-laki mencari perempuan yang dumber dari dia. Menurut saya ini bisa diterima. Apakah ini seksis sekali kedengarannya? Menurut saya iya. Apakah ini terlalu generalisasi? Iya bisa jadi. 

Kemudian kemarin saat weekend saya sibuk nonton serial mandarin My boss and me, yang kira-kira ceritanya begini. Si boss jatuh cinta pada anak buahnya. Anak buahnya ini perempuan biasa, cantik imut, polos, lugu, dependent women, lemah-lemah minta dilindungi dan si bos yang lelaki sukses, kaya, pintar, keren, ganteng, pokoknya yang bagus-bagus ada di dia. Singkat cerita adalah si boss ini menjadi pahlawan keren si perempuan ini, lalu mereka menikah dan si perempuan ini berkata, "Aku gak mau kerja lagi, aku maunya ngurus kamu aja di rumah, menunggu kamu pulang kerja..." Lalu mereka pelukan. Prettt lah. Saya nontonnya sampe pusing-pusing gitu, antara kepengen tapi kok jadi eneg gitu ya.

Tapi bener deh, memang kenapa gitu kalau seandainya perempuan itu pintar dan lalu dia kritis? Misalnya dia berkarier lalu dia smart lalu dia independent dan dia bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan usahanya sendiri. Lalu pasti nanti masyarakat kembali judge dia terlalu superior lah, sukses banget lah, terlalu independent lah... cowok pada takut lah. Haduh... saya gemes mendengarnya. Kenapa kalau laki-laki sukses, keren, independent tidak dikecil-kecilkan namun dianggap hebat namun jikalau perempuan yang sukses dan keren pasti akan dibombardir pertanyaan: sudah punya pasangan belum, sudah nikah, sudah punya anak. Aduhhh... seolah kesuksesan perempuan hanya dari laku sudah punya pasangan, menikah dan beranak pinak. Lalu akan kembali ada pembicaraan, makanya tidak usah pintar-pintar dan sukses sekali takut kan jadinya cowok-cowok. 

Lha... itu yg salah perempuannya apa laki-lakinya yang minder? Saya sedari dulu tidak suka cowok minder, menurut saya itu gak attractive sama sekali. Ya nggak sih? Menurut kamu gimana?



7.8.15

Makin digosok makin sip!


Haiiiii... apa kabar dunia persilatan selama satu minggu ini? Tentu heboh dan berdarah-darah kan? Puji Tuhan tandanya kita masih hidup saudara-saudara. Untuk melepas stress berlebihan selama seminggu ini lebih baik saya menulis di sini. Marilah kita lepaskan semua terlebih dahulu dan relax sejenak sambil minum kopi di sini. 

Pernah gak sih kalian merasa kalau kalian sudah fed up dengan gosip-gosip dan desas desus sana sini. Entah gosip itu berkaitan dengan diri sendiri atau dari orang lain. Sebenarnya saya paling malas ngobrol bergosip karena sesungguhnya saya bukan tipe orang peduli dengan urusan orang lain. Sehingga selalu saya jadi orang yang terakhir mengetahui berita tersebut. Sudah basi. 

Gosip 

Kalau saya perhatikan sepertinya bergosip itu bisa mempererat hubungan seseorang, dengan berbagi rasa suka dan tidak suka. Mungkin begitu ya. Sebenarnya gosip tidak akan membuat kita jadi lebih cantik, lebih pinter atau lebih baik dari dia yang kita 'gunjingkan' itu. Tapi gimana dong ya... bergosip itu terkadang memang asyik dan membuat si penggosip merasa lebih baik dari orang lain. Ya terkadang saya juga suka kelepasan ikutan kalau tidak saya rem. 

Namun semakin lama saya semakin tidak mau tahu urusan orang lain karena saya merasa itu tidak menarik sama sekali, karena toh urusan saya saja banyak yang belum selesai dan masih berantakan di sana sini. Ya kali saya sibuk ngurusin orang lain. Sebenarnya apa yang membuat saya fed up dengan gosip? Itu menyebabkan saya tidak punya clear mind lagi sehingga saya tidak bisa mengenal seseorang langsung dari orang tersebut namun akhirnya melihat opini orang lain. Kalau dia itu begini kalau dia itu begitu. Saya capek saja sih dengan memberikan judgment pada orang lain, toh saya juga tidak lebih baik dari dia. 

Lagi pula menurut saya tidak fair saja kalau saya pada akhirnya jadi percaya bahwa si bahan gosip ini bukan orang baik-baik dari cerita sana sini. Tanpa mengetahui kebenarannya. Bukannya lebih asyik kalau kita tuh bebas ya ... peduli amat dengan kata orang lain dan menilai dari apa yang sudah kita alami saja. Jikalau memang kita tidak merasa cocok dengan orang tersebut ya tidak usah dekat-dekat, beres. 

Lidah tidak bertulang

Seperti sebuah pribahasa lidah tidak bertulang sehingga memang sangat mudah untuk kita mengeluarkan perkataan yang mungkin bisa menyakiti orang lain, kita sadari atau tidak. Saya sedang berusaha untuk tetap bisa bijaksana menilai dan mengerem mulut yang memang sulit sekali. Bahwasanya saya juga bukan orang suci yang tidak punya salah. Pasti saya banyak salah dan kekurangan yang amit-amit banyaknya yang saya sembunyikan berharap orang lain tidak tahu. 

Intinya tidak kepo ingin tahu urusan orang lain itu lebih baik dan pada dasarnya menjadi cuek itu jauh lebih asyik karena tidak usah pusing memikirkan pendapat orang lain. Wong hidup udah susah masih juga mendengarkan kata orang apa tidak capek. Sudah lakukan saja apa yang kamu senangi yang bisa membuat dampak baik untuk orang lain. Bukan sebaliknya. 

Karena toh saya ini bandel dan gak baik-baik amat jadi orang, masa iya saya masih juga sih menjelek-jelekan orang lain untuk membuat saya merasa lebih baik. Padahal kalau sudah jelek mah jelek aja. Mau jadi apa nantinya? Lengket-lengket di kerak neraka?



4.8.15

Yang terpikir-pikir malam ini


Sudah bulan Agustus, pemirsa! Dan rasanya saya sudah tidak sabar menunggu Natal. Lima bulan lagi menuju Natal horeeee. Siapa yang tidak senang? Berbicara tentang menunggu suatu event besar. Kadang saya suka tersenyum sendiri ketika memikirkan beberapa kekhawatiran saya dan rasa gelisah saya. Bukankah itu aneh ketika kita begitu takut dengan masa depan yang tidak kita ketahui. Saya sering sekali mengalaminya, setiap hari saya berpikir, kira-kira apa yang akan terjadi di akhir tahun ini apakah saya masih di Indonesia atau apakah saya masih melakukan apa yang saya lakukan sekarang?Atau mungkin bisa saja Tuhan sudah memanggil saya. Tidak ada yang tahu bukan?

Beberapa hari lalu sudah keluar jawaban besar yakni saya tidak diterima di universitas yang saya inginkan untuk melanjutka master. Saya mungkin sedikit kecewa namun pada dasarnya saya lega sekali karena saya tidak usah merasa khawatir lagi dan menunggu harap-harap cemas. Lucu sih ketika ternyata jalan masing-masing orang itu berbeda-beda tidak sama. Mungkin jalan kamu ke sana, namun belum tentu dengan saya. Begitu pula dengan saya, mungkin sukses saya di sini, dan tidak bisa diikuti oleh orang lain. Bukan rezeki katanya. 


Beda jalan


Kemarin ini saya bertemu dengan teman lama reunian dengan teman SMA. Tentunya di saat-saat ini temu kangen dengan teman SMA dan heboh asyik ngobrol ini itu lagi dan bertemu dengan guru-guru pokoknya mah seru. Lalu terlibatlah sebuah pembicaraan "Eh lo di mana sekarang? Sibuk apa?" Dan lucunya apa yang dijalani sekarang, jauuuuuuh sekali dari apa yang kita bayangkan saat SMA. Aduh tahu apa sih anak SMA kalau dipikir-pikir? 

Namun kembali lagi, seberapa pun jauhnya kamu melangkah sampai hari ini semata-mata karena rencana dan rancangan Tuhan dan jalannya pun berbeda, porsinya pun berbeda. Sehingga mengapa juga kita harus takut dan tidar berserah pada Nya?

Ada teman yang ketika saya ajak reunian berkata "Gue belom jadi apa-apa Met, apa yang mau dibanggain?" Lalu saya jadi berpikir apakah kita harus jadi apa-apa dulu baru bangga dengan diri sendiri? Memang kita harus jadi seperti apa dulu baru akhirnya bisa menerima diri sendiri? Saya tidak tahu sih. Memang harus ya kita jadi super, sukses dan jago ini itu? Bolehkah kalau kita bercita-cita menjadi jadi biasa-biasa saja yang luar biasa? Kenapa kita harus selalu dikhawatirkan dengan ke-apa-an kita bukan tentang siapa diri kita sendiri. Jikalau misalnya seorang 'saya' tidak punya ini itu, bukan siapa-siapa, tidak sekolah di tempat mentereng, biasa saja, lalu saya jadi bukan orang bahagia dan sukses?

Nah mulai berat

Jadi definisi sukses dan bahagia itu apa ya kalau begitu? Apakah dengan kita punya posisi tinggi di tempat kerja, dihormati (katanya), kaya sampai tujuh turunan, dan terkenal lalu kita akan bahagia? Saya rasa tidak ya. Lalu kita menjadi sukses? Sukses dalam apa dulu nih tolak ukurnya. Jadi  dua hal itu tidak bisa kita satukan. 

Sampai kemarin ada teman saya masuk profile di koran nasional karena karyanya dalam suatu bidang. Saya kaget sih lalu dengan nyinyirnya saya pun whatsapp teman saya " Lo coba baca deh, ini temen kita nih. Widihhh... keren amat yaa udah ke mana-mana, keren, sukses, terkenal, lha gue? Masih aja begini." Lalu teman saya ini dengan santainya berkata "Gue harap sih definisi sukses bukan cuman terkenal dan masuk koran nasional aja sih Met." Deg! Oh iya juga ya. Saya jadi ikutan berpikir akan hal tersebut. Definisi sukses salah satunya memang terkenal dan bisa masuk koran nasional tapi itu hanya salah satu saja, karena tolak ukur yang dipakai bisa berbeda-beda. 

Saya juga tidak paham betul apa yang saya inginkan dan definisi sukses saya sendiri apa, karena rasanya saya juga bingung dan masih mencari. Namun biarkanlah itu demikian adanya. Musti melewati proses toh menara Eiffel tidak dibangun dalam sehari seperti candi Prambanan kan ya? Jadi semua butuh proses untuk menjadi clear dan jelas arah tujuannya. Lalu seiring waktu saya harap saya bisa lebih hmmm.... bijak?


Bebas


Hari ini saat saya berangkat kerja, saya melihat  seorang ibu tukang sapu dan anaknya yang mau sekolah sedang berjalan bergandengan tangan. Si ibu dengan membawa sapu lidinya berjalan sambil mengobrol santai dengan anaknya. Lalu si anak pun berbicara sambil tersenyum pada si ibu. Figur sederhana yang juga seorang pekerja rendahan sama seperti saya, pergi bekerja untuk mencari sesuap nasi sama seperti saya, bekerja untuk diri sendiri dan demi orang yang dia sayang, sama seperti saya. 

Lalu saya berpikir, apabila benar definisi sukses dan bahagia sebegitu sempitnya pada menjadi terkenal, uang banyak, masuk koran nasional, kedudukan yang tinggi, lalu bagaimana dengan ibu tukang sapu ini? Apakah dia menjadi tidak sukses dan tidak bahagia? Saya rasa tidak. 

Mungkin saja dia lebih bahagia dan lebih sukses dari pada ukuran manusia. Karena sebenarnya harus kita tahu bahwa senang dan bahagia itu hal yang berbeda. Bisa saja seseorang itu senang namun belum tentu bahagia. Sejak kapan ya bahagia itu jadi susah sekali? Mungkin semenjak banyak ukuran yang dilekatkan padanya.

Lalu jikalau gelisah dan khawatir itu selalu ada, maka menjadi bahagia adalah suatu barang langka yang mahal harganya karena tidak terbeli dengan uang. Jadi masih berani mendefinisikan arti bahagia dan sukses? 


3.7.15

Kutek


Melewati hari-hari dengan tidak menulis ternyata sangat menyiksa ya. Betapa rasanya skrup saya sedang lepas akhir-akhir ini karena tidak bisa menemukan baut yang pas. Kelenjar menulis saya sedang terjadi disfungsi. Ternyata demikian rasanya ketika tidak melakukan sesuatu yang kamu suka di mana jiwa kamu berada. Serasa ‘hilang’. Ternyata menyerah untuk sesuatu yang kamu betul-betul suka itu tidak mudah. 

Akhir-akhir ini rasanya saya stress karena saya tidak merasa penuh. Saya merasa kosong melompong seperti sterofoam yang ringan dan mudah terbang atau terbakar. Bukan lagi pohon yang berakar. Ternyata ada yang sedang tidak seimbang ada yang tidak pada tempatnya hingga akhirnya saya merasa tidak bahagia (?)

Saya selalu percaya bahwa masing-masing orang akan menemukan jalannya sendiri suka atau tidak suka. Jika jalannya sudah ke sana dia pasti akan menuju ke tujuan yang sudah ditentukan. Namun ternyata saya salah. Ada beberapa jalan yang mungkin bukan milik kita tapi bisa kita lalui dan akhirnya entah bagaimana bisa menjadi milik kita. Saya rasa saya tidak akan bisa menjadi penulis karena tidak melihat jalan ke sana. Namun nyatanya semakin saya tidak menulis rasanya saya nelangsa. Saya langsung tidak bisa seimbang.

Kegiatan mengutek

Saya sangat suka kutekkan karena saya suka harumnya kutek yang bau tengik enak itu. Itu membuat saya senang melihat cat warna warni di kuku saya. Melihatnya serasa sangat menyenangkan. Lalu sering kali saya berpikir sambil mengutek, jikalau memang kamu suka mengapa tidak dilakukan? Tidak ada yang salah toh dengan melakukan sesuatu yang kita suka biarpun kita tidak ahli di bidang tersebut? Toh itu membuat bahagia dan menjadi manusia yang utuh kan? Mengapa tidak dilakukan saja?

Seeperti saat mengutek, ada kalanya kutek keluar dari bidang kuku dan jelek, namun tetap itu bisa diperbaiki entah dengan mengulangnya lagi atau membiarkannya demikian lalu pakai pembersih kuku untuk menghapus sisa kutek yang beleber ke mana-mana itu. Mudah kan? Mungkin tidak harus selalu sempurna untuk menjadi bahagia dan tidak perlu menjadi ahli untuk menyukai sesuatu. Cukup dengan menyukai dan bahagia saat melakukannya saya rasa itu cukup. Saya cuman butuh merasa penuh dan terisi saja.

Pasti ada dalam diri kita masing-masing yang mungkin meninggalkan sesuatu yang dia suka karena rasanya itu tidak akan berhasil atau mungkin meninggalkan itu karena tidak menghasilkan uang banyak. Ada saatnya  menyerah akan sesuatu karea tidak menghasilkan apa-apa. Dan nyatanya menurut saya menyerah pun adalah salah satu pilihan yang cukup berat. Saya ternyata tidak bisa meninggalkan kesukaan saya yakni menulis.

Jika benar suatu hari saya tidak akan bisa menjadi penulis dengan karya mentereng berjajar di toko buku, bolehkan sekiranya saya menjadi penulis karena saya menulis karya entah di mana saja, dibaca atau tidak di baca. Bukankan penulis itu artinya mempunyai pekerjaan menulis? Boleh tidak saya menjadi penulis amatir yang hanya cukup untuk kesenangan pribadi saja?

Dan percayalah

Untuk menjadi sesuatu yang kita inginkan tidaklah mudah. Dan tidak usah melihat orang lain jikalau kamu ingin menjadi sesuatu. Karena setiap orang berbeda dan tidak perlu harus menjadi sama dengan orang lain kan? Bagaimana kalau seandainya memang kamu berjiwa seniman namun kamu tidak cukup bebas dengan omongan sana sini lalu akhirnya  kamu harus bisa kerja kantoran padahal kamu tidak suka. Kenapa harus dipaksa? Toh setiap orang berbeda. Dan jikalau kamu memang suka menjadi manusia bebas mengapa harus sibuk mendengarkan orang lain?  Toh mereka tidak memberi kamu makan kan? Dan menjadi apa pun kamu nantinya tidak akan merugikan mereka kan? 

Manual

Dalam hidup tidak ada manualnya sama sekali, tidak ada tutorial yang mengajarkan kita untuk bisa memilih decision yang pas atau bagaimana bisa menemukan jalan yang pas untuk kita. Tidak ada. Sayangnya hidup ini tidak ada trial-nya yang bisa dicoba dan kalau tidak berhasil bisa kita cancel tidak jadi. Sayangnya tidak berjalan demikian, jatuh ya jatuh dan berdarah ya berdarah, tidak ada stuntman yang bisa menggantiksn dan the pain is real. Dan pastinya kamu akan menangis berulang kali untuk merasa sesuatu yang kamu inginkan ternyata tidak semudah itu didapatkan lalu kamu merasa apa iya gue deserve dengan apa yang gue inginkan?


Tapi kembali lagi, saya memiliki keyakinan ketika kita melakukan sesuatu yang kita suka dengan gembira dan sepenuh hati pasti hasilnya menjadi sangat personal karena memiliki jiwa. Dan segala hal yang dilakukan dengan hati pasti akan sampai ke hati juga.

26.5.15



Dalam seribu sabda semesta di pelukan Tuhan
Bolehkah aku meminta satu 
Satu saja permintaan

Kucoba semua cara
Namun tidak kutemukan juga
Milikku satu 
Aku hanya ingin satu, tidak dua atau tiga

Yang seperti hujan
Jatuh setitik lalu deras

Yang seperti lautan
Selalu kembali menghampiri pantai

Yang seperti angin
Menyusup perlahan namun hadir

Yang seperti langit senja
Merona merah tanpa abu

Dan pasti dia adalah pulang dan tujuan
Ribuan peluk di hari-hari mendatang



26.4.15

Perempuan Bukan Hanya Lubang




Lima hari yang lalu kita merayakan Hari Kartini. Terlihat banyak postingan di twitter, instagram, facebook dan media sosial lainnya yang sibuk update status tentang Selamat Hari Kartini! Bergembira dengan euforia Hari Kartini ini saya lakukan dengan merenung saja di kubikal saya di kantor. Sembari bekerja dan berpikir tentang esensi Hari Kartini ini. Ya...inilah salah satu kelebihan perempuan, multitasking. 

Issue tentang perempuan selalu ada di mana-mana, Saya pun hanya bisa mengikuti issuenya setengah-setengah lewat twitter saja. Diawali dengan kasus perjuangan Ibu-Ibu di Rembang yang memperjuangkan tanahnya, sumber hidupnya dari sebuah pabrik semen. Berlanjut dengan kasus pembunuhan seorang perempuan yang adalah seorang 'penjaja cinta online' yang dibunuh pelanggannya karena merasa sakit hati. Berlanjut dengan kasus Mary Jane yang akan dihukum mati karena kasus menjadi kurir narkoba dan usut punya usut beliau sebenarnya adalah korban trafficking, dan kasus-kasus perempuan lainnya. Kita melihat, kita mendengar kasus-kasus tersebut. Entah memang hanya gembor-gemboran media yang hanya menitik beratkan satu kasus saja sehingga mengaburkan fakta atau sebenarnya berita ini hanya untuk menutupi kasus besar lainnya. Tidak ada yang tahu permainan ini kan?

Perempuan masa kini

Kini zaman sudah berubah, perempuan pun sudah mempunyai ruang gerak yang lebih banyak di ruang publik. Namun apakah iya perempuan sudah mempunyai haknya yang sepenuhnya atas dirinya sendiri? 

Beberapa waktu lalu saya sempat nguping pembicaraan. Saya memang usil dan doyan nguping dengan muka sok cuek tidak peduli saya, padahal saya mendengarkan sepenuh hati. Oke saya ngaku dosa di sini. Kemarin saya nguping pembicaraan beberapa pria usia kisaran 30-45 tahun di cafe. Mereka sedang bercengkrama dan bersenda gurau. Menurut analisis saya mereka adalah teman bisnis karena mereka berbicara tentang usaha mereka lalu pada akhirnya nyerempet ke urusan perempuan. Singkat cerita mereka berbicara tentang business trip mereka yang berakhir dengan entertain yakni yang tak lain tak bukan adalah perempuan. Pembicaraan mereka seolah sedang berbicara tentang 'barang baru' yang masih kinclong, bagus, tersegel dengan baik. Lalu mulailah mereka berbicara teman kantor perempuan mana yang bisa 'dipakai'. 

Ibu saya selalu berpesan kalau nguping itu tidak sopan dan hari itu saya nyesel harus nguping pembicraan mereka. Bukan hanya karena saya merasa tidak sopan tapi akhirnya saya tersadar bahwa ternyata hal ini ada di dunia nyata. Naif sekali ya saya. Lepas dari pembicaraan om-om tadi, saya jadi pusing sendiri. Mungkin perempuan yang dibicarakan om-om tadi memang memanfaatkan seksualitas mereka untuk mencari uang atau mencari jalan agar perjalanan karir mereka bisa 'lempeng'. Namun di sini saya jadi tertohok karena tetap saja di mata society, perempuan itu dihakimi dari seksualitasnya. Seolah adalah barang komoditi yang bisa diperjual belikan. Seolah menjadi objek. Padahal seharusnya tubuh perempuan adalah miliknya sendiri bukan milik society. Mengapa soal menyoal tubuh perempuan dan keperawanan harus diatur juga oleh society sih? Tidak paham. 

Lubang

Terkadang tidak adil apabila society melihat perempuan dari sisi itu saja. Saya ingat pernah membaca sebuah buku, saya lupa judulnya apa. Buku itu seperti sebuah pemberontakan perempuan akan pandangan masyarakat tentang virginity. Di sana ia menjelaskan bahwa ia merasa seolah Tuhan itu seperti memberikan segel pada perempuan yang sekali dibuka habis. Seolah pada saat pembuatan perempuan, seperti di pabrik-pabrik yang peralatannya bisa mencomot satu-satu lalu kaki-kaki perempuan dilebarkan lalu diberikanlah segel yang adalah hymen di selangkangan mereka. Sehingga alhasil kalau segel itu dirobek, barang harus dibeli. Saat membaca itu rasanya saya sempat tertawa miris. Penggambaran yang sadis sih namun tidak ada yang bisa lebih baik lagi menggambarkannya. 

Oh ya saya juga sempat sebal sekali dengan sebuah berita tentang test keperawanan yang ada di beberapa sekolah apabila ingin masuk belajar di sana. Haduh, saya cuman bisa tepok jidat sambil geleng-geleng saja, mungkin maksudnya test moral seorang individu lha tapi kok ya di selangkangan ya? Memang moral yang crucial hanya dari sex before married? Kalo punya penyimpangan suka kekerasan, tidak bisa menghargai orang lain itu bukan moral juga? Kenapa harus selangkangan yang ditest, lha memang otak di selangkangan? 

Zaman sekarang, sebagai anak muda kita harus berjuang lebih keras karena persaingan semakin ketat dan tenaga kerja asing dibayar double atau berkali lipat salarynya dari kita. Kalau misalnya generasi tua msih sibuk test persoalan selangkangan oh pasti Indonesia akan tertinggal jauh.

***

Perempuan bukan objek dan bukan barang komoditi yang diperjual belikan. Saya rasa perempuan harus punya hak sepenuhnya atas tubuhnya sendiri. Urusan tubuh biarkan perempuan yang memutuskan. Perempuan juga bukan hanya perkara lubang. Kita perempuan dan laki-laki, semua lahir ke dunia ini dari seorang perempuan lewat lubang itu. Dan lubang itu namanya: vagina. 




19.4.15

Pembicaraan Kecil

Lucu rasanya ketika sering kali saya merasa tidak yakin dengan ini dan itu. Saya terkadang merasa kalau semakin saya dewasa, saya semakin tidak yakin dengan apa yang saya ambil, apa yang saya rasakan dan apa yang saya pikir. Saya selalu merasa kalau apa yang saya rasakan, pikir dan lakukan selalu salah. Kenapa ya? Rasanya semakin takut apa pikiran orang lain, takut di judge ini itu dan lain-lain dan sebagainya. Memang begini ya dunia orang dewasa? Apa sebenarnya orang dewasa itu memang penuh dengan ketidakyakinan dan kebimbangan ini itu? Saya terlalu takut dengan apa pikiran orang lain pada saya. Padahal mungkin orang lain sendiri sebenarnya takut sendiri dan hanya peduli dengan diri mereka sendiri. Bukankah begitu?

Tadinya sih saya tidak mau berbagi tentang hal ini di blog secara malu kan ya... masa ketakutan diri sendiri diumbar-umbar. Namun hati ini kembali bicara "Hello...pede amat ada yg baca blog lu." Oh iya... kan blog nya jarang pengunjung ya haha. Hingga kembali lagi fungsi blog ini sedari awal yakni saya menulis blog bukan untuk orang lain tapi untuk kebutuhan diri sendiri. Sehingga memang kalau untuk kesenangan sendiri dan kebetulan tidak ada yang baca harusnya saya santaaaaaaaaaiii aja dong kayak di pantai, ya nggak?

Meyakini sesuatu yang kita yakini sendiri itu tidak mudah. Dan hal yang paling sulit sebenarnya bukan meyakinkan orang lain akan sesuatu namun meyakinkan diri sendiri kalau apa yang sedang kita lalui sekarang ini memang baik untuk ke depannya. Oh shit.... men! Itu susah sekali. Meyakinkan diri sendiri kalau inilah jalan yang sebenar-benarnya. Jeng-jeng-jeng-jeng. Itu yang sulit untuk saya. Seharusnya sih lebih berserah pada Tuhan ya.... tapi kan...kan ...kan.. kadang saya bandel. 

Saya selalu percaya kalau segala sesuatu ini bukanlah kebetulan namun merupakan sebuah rencana dari Tuhan. Bagaimana kita bertemu dengan orang lain, kenal dengan orang lain, perpisahan dengan orang lain semua bukan kebetulan semata. Jadi saya juga percaya kalau apa yang sedang dialami ini sebenarnya membawa kebaikan dan pembelajaran agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Dan satu hal lagi yakni, tetap menjaga attitude dan tindakan kita ketika rasanya kita ingin jambak rambut dia atau mungkin nonjok mukanya, memang sesuatu yang harus dilatih. Kita tidak harus menjadi evil untuk menginginkan sesuatu ada pada tempatnya. Dan kita harus menjaga attitude kita karena itu adalah keputusan kita. Seberapa sulitnya itu. Saya juga bingung kenapa ya demen amat orang-orang ini saling bohong, saling tunjuk, saling ngomel, saling marah-marah, Buat apa sih? Ngga paham saya kadang. 

Dan yang menjadi bagian paling lucu adalah sekarang saya bukan penonton lagi tapi juga pemain yang bisa memilih peran dan lakon saya sendiri. Saya mau menjadi apa? Sial. Saya gak bisa ya duduk di pojokan liatin mereka saling bacok aja? Seperti nonton Game of Thrones gitu haha.. Ah..ya udahlah ya. Saya kerjain saja bagian saya, sisanya saya berikan pada Tuhan. Karena Dia Bapa yang setia.


12.4.15

Keintiman


Beberapa hari ini saya sedang merasa geram dan uring-uringan membutuhkan penjelasan secara rinci mengenai beberapa pertanyaan yang crucial bagi saya. Akhir-akhir ini saya sedang diganggu dengan banyak pemikiran tentang hubungan manusia dan Tuhan. Saya tahu saya terlalu serius dan mengawang-awang akan pemikiran ini. Mungkin orang lain menganggap saya berlebihan karena memang sebenrnya yang seperti ini jarang dipertanyakan.

Suatu sore saya pernah sedang ngobrol-ngobrol santai namun berubah menjadi tidak santai karena orang yang bersangkutan mulai menceramahi saya akan kehidupan agama yang baik sebagai seorang Katolik dan kiat-kiat menjadi seorang Katolik yang lurus dan lempeng. Saya rasa mungkin dia merasa saya ini belok-belok. Mendengar ocehannya dari A-Z, meninggalkan reaksi saya yang sekedarnya, hanya manggut-mannggut saja sambil berpikir "Aduh standard apa lagi sih yang harus saya lalui hanya untuk bisa menjadi orang "saleh" ini? Kok rasanya saya ini bandel dan pendosa sejati karena berdoa bolong-bolong, tidak devosi, tidak puasa, jarang ikut acara gereja. Karakteristik seperti apa lagi yang harus saya punya agar tidak lagi menjadi seorang Katolik yang KW?" Menurutnya saya ini terlalu banyak mempertanyakan banyak hal tentang agama dan Tuhan. Menurut beliau juga saya ini terlalu bandel untuk sekedar "tidak melihat namun persaya" seperti yang dikatakan Yesus saat Thomas mencucukan jarinya ke luka-luka Yesus. Mungkin saya ini versi Thomas yang lebih cerewet dan banyak bertanya. Otak saya tidak pernah puas begitu saja. 

Sakit hati

Selain saya ini terlalu banyak mikir, saya ini juga sensitif hingga menjadi pas duo kelemahan saya ini. Namun kalau saya tidak banyak berpikir kritis dan sensitif, bagaimana mungkin saya bisa jadi penulis? Karya apa yang mau dihasilkan kalau saya bebal dan mau terima jadi begitu saja? Baiklah, itu adalah kelemahan yang berbuah manis pada akhirnya.

Kembali lagi, saya masih teringat jelas ketika saya masih kuliah di Taiwan yang notabene adalah atheis. Betapa saya merasa pencarian saya akan Tuhan dimulai dari sana. Saya harus mencari cara sendiri untuk bisa mencari Tuhan yang ternyata memang bisa kita temui di mana-mana. Di sana saya mengenal banyak teman yang agnostic dan atheis, namun saya merasa enjoy-enjoy saja mengenal dan berteman baik dengan mereka. Saya jadi mengenal konsep Tuhan yang berbeda dengan apa yang saya kenal selama ini. Hal yang membuat saya takjub adalah mereka tidak memojokan dan menjejalkan konsep mereka akan Tuhan. Saling menghargai saja cukup, hidup baik dengan sesama saja cukup, itulah mereka. Saat itu saya merasa kita memang beda tapi sesuatu yang beda ini tidak perlu dicari-cari yang sama, hanya perlu diterima kalau berbeda lalu ya sudah. Selesai. Hingga saya tidak pernah debat hingga panas hati, ribet gono gini. Hingga kadang saya bingung kenapa sih kadang kita di sini harus meributkan persoalan Tuhan? Saya kurang paham. 

Lalu saya kembali ke Indonesia yang adalah negara beragama. Ada perasaan senang karena pada akhirnya Tuhan semakin mudah dicari karena gereja banyak di mana-mana dan komunitas rohani pun tersedia banyak. 

Hingga akhirnya saya menemukan perbedaannya, Ada beberapa orang yang ternyata masih tidak mengerti dan menerima bahwa penghayatan akan Tuhan untuk masing-masing individu berbeda-beda. Ada banyak standarisasi yang diterapkan untuk bisa dicap sebagai orang beragama dan benar. Hingga jika seandainya jikalau saya jarang ke gereja dan beribadah, satu kecamatan bisa tahu. Aduh saya gerah sekali. Kenapa sih hubungan manusia dan Tuhan tidak diurusi masing-masing saja?

Intim

Menurut saya hubungan seseorang dengan Tuhan itu sesuatu yang tidak bisa diukur dengan apapun. Seberapa sering kamu beribadah, berdoa, puasa  tidak menjadikan kamu jadi lebih dekat dari pada yang frekuensinya jarang. Itu adalah penghayatan iman, seberapa dalam kamu mengenal Dia dan melakukannya di kehidupan sehari-hari. Iman tanpa perbuatan adalah mati, Ingat?

 Dan sebenarnya acara kenal mengenal ini adalah sesuatu yang pribadi karena yang mengetahui kedalaman rasa akan suatu hubungan hanyalah kedua belah pihak itu sendiri. Hubungan ini adalah hubungan yang unik dan setiap orang memiliki caranya sendiri untuk me-maintain hubungannya.

Hubungan ini adalah hubungan yang intim tidak untuk digembar-gemborkan dengan khayalak ramai. Kita bukan exhibitionist kan? Hingga sudah seharusnya dilakukan diam-diam agar saya dan Dia saja yang tahu. Hubungan manusia dan Penciptanya ini sangatlah unik dan biarlah serahkan pada mereka berdua lalu fokuslah dengan hubunganmu sendiri dan tidak perlu repot-repot judge orang lain. 

Terkadang saya suka bertanya sendiri, kenapa sih secara tidak sadar kita suka menjadi tuhan untuk manusia lainnya? Kenapa ya?

***

Lalu Ibu saya yang seringkali menjadi tempat curhat dan dengar omelan saya nyeletuk,  "Jadi, orang tuh ya Met, gak usah ribet dengar kata orang. Capek. Biar saja mereka, toh kamu yang tahu persis dan kamu yang jalani. Anjing menggonggong khafilah berlalu."

"Ya...iya sih Bu." 


7.4.15

Awal April dan Pilek yang Belum Sembuh


Tanggal Maret di kalender sudah berguguran di sudut kamar. Puasa Prapaskah sudah berganti dengan kebangkitan Tuhan Yesus. Sudah selesai. Bulan Maret yang sendu dan sepi. Bulan ketiga di satu tahun ini. Terasa cepat sekaligus terasa lama. Namun dalam satu helaan nafas Maret berlalu. Lama-lama saya jadi ngeri sendiri dengan cepatnya waktu. Waktu ini cair sekali bisa mengikuti wadah. Sewaktu-waktu bisa memuai, mencair, membeku, menyublim dan mungkin menguap. Bagaimana ini? Sampai kadang saya takut mati. Saya tahu sih pada akhirnya kita semua akan mati. Mendengar berita si ini mati, si itu mati lalu dia juga mati membuat saya bergidik sendiri. Bisa saja hari ini saya menengok mendoakan jasad yang terbujur kaku di liang kubur, lalu bisa saja keesokan harinya jasad saya yang ada di sana. Saya sempat terpikir apa ya rasanya detik-detik ketika kita mau mati? Ketika nyawa kita melayang-layang sebentar di udara mengawang-awang lalu memandangi tubuh kita yang sudah ditinggalkan. Pasti bingung. Tidak tahu saya.

Tiba-tiba saya menulis tentang kematian karena semata-mata sedang melewati fase di mana ada kenalan yang meninggal tiba-tiba karna suatu hal yang remeh temeh. Saya tidak tahu mau menulis apa sesungguhnya. Mungkin otak saya sedang kosong sekaligus penuh dengan sejuta pertanyaan dan pemikiran. Atau mungkin saya sedang panik karena besok Senin. Haha. Mungkin begitu.

***

Mensyukuri bahwa Maret sudah selesai dan berganti dengan April sebenarnya membawa kelegaan pada saya. Karena satu-satu selesai lalu saya harus siap kembali melangkah untuk sesuatu yang lebih besar lagi. Aneh rasanya. Namun mungkin begitulah hidup semua berubah. Kalau tidak berubah tandanya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Oleh-oleh dari bulan Maret adalah pilek yang tidak kunjung sembuh,  saya masih sibuk buang ingus sana sini. Lalu mampet dengan suara bindeng. Hingga ibu saya pun bercanda kalau mungkin belahan jiwa saya entah di mana juga sedang pilek juga. Ah elah. 

Berbicara tentang belahan jiwa, rasanya saya jadi kangen juga dengan perasaan 'lucu-lucu' cinta itu. Lama ya... saya sudah tidak bicara lagi tentang cinta. Rasanya hampir dua tahun ya? Lucu sekali tiba-tiba saya ingin jatuh cinta lagi. Bahwa ternyata hati yang sudah saya taruh entah di mana itu seolah minta diambil lagi. 

Kemarin saya melihat-lihat facebook lagi dan melihat foto lama, lalu sebentar menengok facebook dia. Saya sempat berpikir sejenak apa ya yang membuat saya dulu jatuh cinta setengah mati dengan orang ini? Heran. Saya juga tidak tahu kenapa. Ya memang ganteng, tinggi dan kumis brewokan sih, namun setelah saya cukup lama melihat. Dia tidak semenawan dan seganteng itu. Ganteng... tapi ya udah. Gitu aja. Gila, pasti spell nya dan chemistry nya sudah habis kadaluarsa. Atau mungkin saya jatuh cinta karena dia 'baik'? Tapi ah semua orang juga baik kok. Ah sudahlah tidak masuk akal, toh sudah lewat. Tapi tetap sih menurut saya dari dia saya belajar banyak tentang menghargai diri sendiri, tentang laki-laki dan tentang cinta. Fuih... untunglah sudah selesai episodenya tidak pakai acara ditambah-tambah lagi. Mau nangis berapa ember lagi? Ih... kamsiah. 

Pemulihan patah hati itu tidak secepat itu, butuh waktu. Dan naik turun dua tahun belakang ini memang lumayan terasa capeknya juga. Sesudah patah hati biasanya kita jadi lebih reflektif dan mungkin sedikit insecure. Pada saat inilah memang saya jadi lebih fokus dengan apa yang saya mau, membuat rencana dari awal, menyiapkan masa depan lagi. Awalnya sulit, tapi sekarang jadi terbiasa lagi. Sudah selesai masa itu saya boleh berbangga dengan diri sendiri ternyata saya bisa jadi independent ini. Ternyata saya bisa. 

Untuk mencari cinta lain tentu tidak akan semudah itu karena pada akhirnya saya jadi lebih berhati-hati dan memilih untuk kosong tidak terlebih dahulu. Namun entah mengapa tiba-tiba saya rasa saya sudah siap untuk orang baru. Dengan siapa entah. 



28.2.15

Syukur syukurin


Setelah sekian lama tidak ngeblog akhirnya ada waktu juga untuk duduk diam sejenak dan menguras otak, apa ya kiranya yang bisa saya tulis lagi? Terkadang kegiatan menulis itu tidak datang begitu saja namun  harus ada kajian lebih lanjut dan mood. Nah... terkadang mood inilah yang swing banget. Saya tahu sih, kalau penulis yang sebenar-benarnya tidak ada alasan untuk tidak menulis. Namun saya kan amateur writer jadi cincai lah ya. Okesip.

Puas?

Akhir-akhir ini saya sedang berpikir sendiri mengenai fenomena rasa syukur. Uooh... hell yea so deep. Iya. Saya sedang berpikir dengan keras, keras sekali menggunakan otak saya yang hanya seuprit ini. Kok susah ya untuk bersyukur atas segala apa yang kita miliki dan alami? Oh men, bunuh gue aja sob.  Seperti misalnya masih diberikan nafas setiap harinya, masih diberikan pekerjaan, berterima kasih atas orang-orang yang kita sayangi, makanan yang kita makan, rekan kerja, sahabat kita, atau rezeki kita. Rasanya susah sekali menghitung kebaikan-kebaikan yang ada dan yang terlihat hanya kekurangan-kekurangannya saja, kurang puas, kehidupan yang gini-gini aja, kisah cinta yang amit-amit dan sebagainya. Sehingga kesempatan untuk berdiam diri, tersenyum dan bersyukur itu jarang. Ih... capek tau bernegatif ria dengan pikiran-pikiran itu karena hanya menimbulkan masalah baru dan ujung-ujungnya sakit. 

Kebetulan saya ini tipe manusia yang nyebelin, saya ini manusia yang tidak pernah puas. Selalu harus ada goal yang harus saya kejar dan saya dapatkan, kalau saya gagal saya bisa penasaran setengah mati dan harus sampai ke sana. Terkadang capek juga ya seperti itu, apalagi kalau saya sudah mulai tidak sabaran dengan apa yang sedang saya jalani. Ih... rasanya ingin saya tinggalin. Bye. Namun ternyata hidup ini bukan perihal tinggal meninggalkan lalu melarikan diri namun seberapa kuatnya kamu bertahan sampai kamu dapat goal yang kamu mau. Ya gak sih? Sehingga dalam proses itu kamu harus memiliki rasa syukur. Karena rasa syukur ini adalah rasa positif untuk bisa bertahan. Percayalah. 

Bukan lihat ke bawah

Suatu hari saya ada training singkat melihat-lihat produksi di suatu pabrik, memperhatikan kondisi mesin seperti apa, pembuatan produksi seperti apa. Dan  ternyata pabrik itu seberisik, sepanas dan segerah itu. Seharusnya saya melihat-lihat bentuk dan cara produksi sebaik-baiknya namun ada satu hal yang mencuri perhatian saya. Saya merasa tergelitik dengan sebuah quote yang ditempel di dekat mesin produksi. Kira-kira bunyinya begini: Kalau tidak kerja, mau makan apa? Dan banyak sekali quote-quote serupa yang ditulis besar-besar beserta doa keselamatan kerja. Banyak loh orang di luar sana yang memang literally jika  tidak kerja bisa gak makan. Menurut saya makan itu kan salah satu kebutuhan pokok manusia dan ketika itu tidak terpenuhi manusia bisa mati. Lalu saya berpikir lagi, banyak manusia yang bekerja sebegitunya untuk menyambung hidupnya, kerja hingga larut malam dan bekerja penuh resiko keselamatan. Lalu tiba-tiba teman saya ada yang bisik-bisik ke saya "Gila, kita harusnya bersyukur sekali ya bisa kerja di gedung AC, dingin, duduk, selamat tidak perlu panas-panas di sini meski hati dan kuping panas banget diomelin melulu... haha". Deg. Lalu saya merasa kok ada yang aneh ya dengan pernyataan ini.

Harus ya kita bersyukur atas kehidupan kita yang lebih 'beruntung' dari mereka? Maksudnya mengapa dengan melihat ke bawah terlebih dahulu baru kita bisa sadar dengan apa yang sudah kita punya? Lalu kita baru bisa menikmati apa yang ada yang kita punya? Kenapa sih harus lihat ke bawah dulu dan seolah bersyukur kalo nasib kita tidak seperti mereka? Saya kok tidak setuju ya? 

Lalu kemarin saya iseng kepo melihat instagram orang lain. Orang ini posting foto dia dengan petani di daerah Tasikmalaya lalu captionnya seperti ini: "Kita harus bersyukur sekali karena gak bisa terbayang kalau kita harus kerja seperti mereka." Men....oh men. Lo ga salah, cuman dapet ginian doang jauh-jauh sebulan KKN ke Tasikmalaya lalu pulang mikirnya gini doang? Di situ saya merasa sedih. 

Bukan perbandingan

Saya tahu sih kalau saya bukan orang alim lurus ke depan, saya juga sering belok-belok, tapi menurut saya bersyukur itu maknanya jauuuuh lebih dari itu, lebih dalam lagi. Kita kerap kali bersyukur karena kita merasa lebih mujur dari mereka.Sampai kita lupa caranya bersyukur dan menerima apa yang saya punya yang sudah Tuhan berikan pada saya. 

Apakah benar kalau kita baru bisa bersyukur apabila melihat situasi orang lain lebih buruk dari kita dan kita berkata: "Aduh bersyukur sekali ya kita ga harus seperti mereka..." Saya rasa bukan bersyukur  model begini yang sesungguhnya. 

Hingga beberapa minggu yang lalu ada kotbah pastor yang menurt saya mengena di hati. Begini bunyinya, "Sudahkah saudara bersyukur dan menerima segala kesulitan dan tantangan yang Tuhan berikan pada anda dan bukan hanya bersyukur pada hari baik saja?"

Lalu dalam hati saya menjawab  "Eh.... please ya Romo kalau yang itu levelnya masih ketinggian. Belom nyampe saya. Tapi masih otw ke sana sih."  Malunya saya ini. Oh manusia. 


1.2.15

Sekarang!

Waktu yang tepat unuk menulis ada saat hujan, saat weekend, saat liburan, saat udara dingin dan tentu saja saat ada bahan untuk ditulis. Itu adalah paradigma yang saya miliki. Sebenarnya pemikiran ini kurang tepat karena menurut penulis dengan jam terbang yang tinggi, seharusnya bukan begitu cara kerjanya. Cara kerjanya adalah menjadikan menulis sebagai kelenjar, sehingga serupa kelenjar apabila tidak ada maka mati, begitu pula dengan menulis. Memiliki cita-cita untuk bisa menjadi penulis yang bisa ikut 'bersuara' dan menjadi tajam dalam tulisan tentu memiliki suatu proses yang panjang. Dalam proses itu juga sering kali habis akal untuk bisa bangkit dan mendapat suatu epiphany akan topik yang ingin dibahas.

Akhir-akhir ini saya sedang melakukan research tentang gaya penulisan setiap penulis yang saya senangi, saya melihat bagaimana cara mereka membuat suatu ide menjadi mudah untuk bisa diterima. Dalam perjalanan saya mencari ini juga saya sempat ilfil dengan salah satu penulis yang saya suka sedari lama. Saya tidak akan memberi tahu siapa, namun saya agak sedikit kaget karena telah beberapa kali dia mengambil ide penulisan penulis lain. Aduh, rasanya saya patah hati sekali. Saya tahu sih, kalau belajar sesuatu pasti kita akan mulai dengan 'meniru' gaya seseorang yang kita adore tersebut lalu setelah itu kita berusaha untuk mencari style penulisan kita sendiri, saya tahu. Namun untuk yang ini saya risih sekali karena pengambilan ide penulisan itu terlalu gamblang untuk dia tulis di sana sini lalu beberapa penggemarnya pun sibuk memuji tanpa megetahui bahwa si sumber otak ide itu bukan milik dia. Atau mungkin kebetulan saya terlalu kutu buku sehingga kebetulan tahu sumber empunya ide.

Lalu kini saya berpikir, dalam proses belajar apakah benar kita harus dalam proses meniru 'plek' dengan sumber ide, gak malu apa ya? Saya jadi pusing karena saya tahu persis proses melahirkan ide itu sangatlah tidak mudah. Itu seperti proses melahirkan yang sesungguhnya, seperti menjadi ibu melahirkan bayi-bayinya. Tentunya sebagai induk akan marah dan berang sekali apabila idenya diambil bukan begitu?

Saya tahu sih, sebenarnya ini hanya persoalan kecil dalam suatu karya karena dalam berkarya bisa saja kita memiliki ide yang sama dan pemikiran yang sama. Namun masa iya packaging nya juga sama? Polesannya serupa? Aduh perih saya melihatnya. Lalu ibu saya pun berkata bahwa itu hal yang biasa terjadi dalam kerja kreatif, harus menerima dan lapang dada sesuai dengan sebuah perikop Pengkotbah 1:9, "Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi, tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari." 

Sudahlah biarlah itu menjadi sebuah pelajaran untuk saya bahwa jikalau saya sedang mentok dan paceklik ide, mungkin itu saatnya bagi saya untuk rehat sejenak membuat teh manis hangat. Ini berarti saatnya saya untuk lebih fokus dengan apa yang sedang saya kerjakan sekarang dan belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Menulis banyak-banyak, membaca banyak-banyak. 

Ada sebuah artikel menarik dari brain pickings, sejenis website informatif yang membahas pemikiran-pemikiran mulai dari science, psychology, art, politic, etc, sekali-kali bolehlah ditengok sebentar. Ada satu quote yang menarik dari Debbie Millman.

If you imagine less, less will be what you undoubtedly deserve. Do what you love, and don’t stop until you get what you love. Work as hard as you can, imagine immensities, don’t compromise, and don’t waste time. Start now. Not 20 years from now, not two weeks from now. Now.


Berapa banyak dari kita yang sebenarnya betul-betul mengetahui apa yang dia suka dan mengejarnya sampai dapat? Ada berapa banyak? Apakah kita mengenal salah satu orang yang demikian di sekeliling kita? Apakah kita sudah berani mengejarnya? Apakah kita sudah melakukannya sekarang? Iya,... sekarang.  



new post

teko teh

hari ini aku minum teh cukup banyak deh, kayanya aku harus batasi konsumsi kaffeinku yang kurasa kayaknya kebanyakan deh lol. bisa gak ya ak...