Eins

Seharian ini sedang berpikir akan suatu bacaan tentang  Nicolas Copernicus lewat teori ilmiahnya yang berhasil menghancurkan pemikiran astronomi tradisional teori Arisoteles dan Ptolomeus  yang mengandaikan bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Copernicus mengatakan bahwa bumi mengitari matahari sebagai pusat alam semesta.

Lalu munculah penemuan teleskop oleh Galieo-Galilei yang membuktikan kebenaran teori Coperncus. Melalui bukunya Dialogo ( Dialog tentang dua sistem utama tentang dunia, 1632) akhirnya Galileo dipanggil ke Roma untuk dihukum oleh intelejen Gereja dan dicukil matanya karena dianggap membahayakan sistem pemikiran akibat penemuannya. Dianggap sesat.

Saya membayangkan bahwa pergantian zaman dari pemikirian religiusitas ke pemikiran modern yang sifatnya menalar sesuai dengan logika, terasa memiliki perjalanan yang panjang. Lalu munculah gerakan humanisme yang diawali dengan kepercayaan akan kemampuan manusia akan akal budi atau intelektualnya. Humanisme lebih mempercayai rasio dapat melakukan segalanya dan lebih penting dari iman. 

Apa yang mau saya sampaikan? Pemberontakan pemikiran tradisional itu selalu ada di berbagai zaman. Society akan terus menerus menang karena mengakarnya pemikiran tradisional dan tidak ingin berusaha untuk mengenal sesuatu yang sifatnya baru. Menang dalam arti memiliki suara terbanyak dan akan selalu dimenangkan karena banyak yang memiliki kepentingan yang merasa aman di sistem yang lama. Entah pada akhirnya sebenarnya paradigma itu benar atau tidak, society tidak peduli.Contohnya dengan teori bumi sebagai pusat semesta yang pada akhirnya ternyata salah, namun sayang bola mata Galileo tidak bisa dipasang kembali. Dibutuhkan seseorang segila Galileo untuk mempertahankan pemikiran dia dan pembuktiannya. Pertanyaannya apa yang Galileo cari? Mengapa ia mengedepankan pemikirannya sebegitu gigihnya? Karena dia menghargai dirinya sebagai makhluk berakal budi yang membutuhkan intelegensinya tersalurkan dan dibenarkan sebagai pembenaran.

Saya kira tidak mudah mempertahankan pemikiran sendiri tanpa dicap gila dan sinting. Karena manusia terbiasa harus seragam, harus sama. Agar sistem bisa terus berjalan semestinya tanpa ada hama parasit pengganggu yang nyeleneh sendirian. Jikalau terus menerus takut dengan pemikiran yang berbeda dengan society, sudah hendaknya kita malu dengan mereka yang membayar mahal nyawa dan biji bola matanya untuk sesuatu yang diyakininya.

Manusia sudah seharusnya memiliki otaknya sendiri yang tidak harus disetir oleh apapun. Seperti yang ditulis di Alkitab, 'Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.' 




Comments

Popular Posts