17.11.14

Dansa dansi


Hai, kamu!
Lelaki yang meminjam wangi hujan
Jikalau tidak ada waktu untuk berbicara
Kamu bisa menatap hitam mataku
Dan aku menangkap cahaya di matamu
Lalu kita berdansa

Meski kita mengetahui nama namun tidak mengenal satu sama lain
Ngomong-ngomong kamu tidak takut petir kan?


***




VANCE JOY-  Riptide


''Lady, running down to the riptide

Taken away to the dark side
I wanna be your left hand man
I love you when you're singing that song and
I got a lump in my throat because
You're gonna sing the words wrong''

16.11.14

Adiktif

1. Bandung
Kota kelahiran yang selalu membuat kangen dan rindu. Jangan-jangan Bandung adalah rahim Ibu. 
Ketika semua orang berlomba-lomba ingin pindah ke Jakarta dan sekitarnya. Saya sedang menabung untuk punya rumah di Bandung. Kata orang, kamu belum akan jadi romantis, kalau belum pernah tinggal di Bandung.  


2. Tibet
Suatu hari harus mengadakan perjalanan panjang ke Tibet. Iya... Tibet. Saya bosan sekali dengan
ibu kota dan mall-mallnya. 


3. Rak buku
Sudah membutuhkan rak buku yang agak bukuwi ( sinonim: manusiawi) karena buku-buku banyak, namun rak buku di rumah hanya sedikit. 


4. Menulis! 
Kegiatan reflektif yang mengasyikan adalah menulis. Menulis seperti menelanjangi diri sendiri. Dan memiliki blog itu semacam tong sampah asyik yang bisa dipandangi dan memuasi diri sendiri. Mungkin menulis semacam masturbasi. Puas sendiri, senang sendiri dan kegiatan yang paling sendiri. Tidak dilakukan beramai-ramai. Saya suka punya blog sendiri, meski tidak ada yang baca.  


5. Awkward drawing
Menggambar dengan komposisi dan warna yang nabrak itu sangat menyenangkan. Meski tidak bisa-bisa amat menggambar tapi sesuatu yang membuat kamu senang itu harus dipelihara. Lain waktu saya post ya..awkward drawingnya.


6. Menari
Seperti lagunya Elton John yang berjudul Tiny Dancer. Menari tradisional Indonesia adalah sebuah nadi yang menghidupkan. Pada akhirnya hidup ini adalah tarian-tarian kita dengan alam dan Pencipta.


7. Theater
Tidakkah kamu merasakan kalau menonton sandiwara dan theater itu sungguh mengasyikan? Berkumpul dengan mereka dan berdiskusi tentang seni, seperti sebuah energi magis. Menonton theater tidak akan membuat bosan. 


8. Bahasa
Mempelajari bahasa asing artinya kamu belajar jiwa baru. Mempelajarinya seperti belajar
suatu dunia baru dengan kultur mereka. Lalu kamu akan seperti spons yang siap menyerap bahasa tersebut.


9. Musik
Asyiknya seperti menonton band indie yang sedang manggung. Fenomenal sekali.


10. Industri kreatif
Tidakkah kamu merasa bahwa industri kreatif itu sangat brilliant? Gila. Harus punya satu itu rasanya.


11. Meditasi
Salah satu yang mengasyikan namun sangat sulit untuk dilakukan. Padahal sesuatu yang sepi itu lebih kaya dari pada hingar bingar. Mungkin jiwa saya ini jiwa oma-oma. Tidak suka pesta. 


12. Jurnalis itu adalah kelenjar
Saya tidak tahu sih, apakah jurnalis itu adalah panggilan saya atau tidak, namun terkadang merasakan
setruman-setruman listrik tegangan tinggi akan hal ini. Kita tidak pernah tahu kan? Jikalau bukan panggilan, namun itu tetap adalah kelenjar. 









Bersyukur untuk segala hal itu lebih mudah dari pada pencarian keinginan



Akhir-akhir ini rasanya seperti hidup dan berlari-lari. Tidak tahu sedang lari untuk apa. Tapi pastinya berlari-lari dan mencari-cari. Rasanya letih. I take many things for granted. Seperti berusaha untuk meniadakan dan menutup mata untuk banyak hal yang saya punya. Saya egois sekali dan ingin semua berada di keinginan saya. Saya inginnya buru-buru untuk bisa cepat 'menetas' dan tidak perlu melewati scene berdarah-darah terus-terusan. Hingga akhirnya saya lupa akan hal-hal dan momen-momen yang indah setiap harinya. 

Saya lupa banyak hal. Tentang teman-teman yang selalu ada dan memenuhi chatting whatsapp, untuk keluarga yang hangat, selalu mendukung dan mendoakan, untuk teman-teman dekat yang siap ditelepon kapan saja, untuk talenta yang diberikan Tuhan, dan tentunya untuk Dia yang selalu menjaga saya. 

Dan hal terakhir yang selalu saya lupa syukuri adalah betapa hebatnya kita yang masih memilih hidup sampai hari ini.






3.11.14

Eins

Seharian ini sedang berpikir akan suatu bacaan tentang  Nicolas Copernicus lewat teori ilmiahnya yang berhasil menghancurkan pemikiran astronomi tradisional teori Arisoteles dan Ptolomeus  yang mengandaikan bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Copernicus mengatakan bahwa bumi mengitari matahari sebagai pusat alam semesta.

Lalu munculah penemuan teleskop oleh Galieo-Galilei yang membuktikan kebenaran teori Coperncus. Melalui bukunya Dialogo ( Dialog tentang dua sistem utama tentang dunia, 1632) akhirnya Galileo dipanggil ke Roma untuk dihukum oleh intelejen Gereja dan dicukil matanya karena dianggap membahayakan sistem pemikiran akibat penemuannya. Dianggap sesat.

Saya membayangkan bahwa pergantian zaman dari pemikirian religiusitas ke pemikiran modern yang sifatnya menalar sesuai dengan logika, terasa memiliki perjalanan yang panjang. Lalu munculah gerakan humanisme yang diawali dengan kepercayaan akan kemampuan manusia akan akal budi atau intelektualnya. Humanisme lebih mempercayai rasio dapat melakukan segalanya dan lebih penting dari iman. 

Apa yang mau saya sampaikan? Pemberontakan pemikiran tradisional itu selalu ada di berbagai zaman. Society akan terus menerus menang karena mengakarnya pemikiran tradisional dan tidak ingin berusaha untuk mengenal sesuatu yang sifatnya baru. Menang dalam arti memiliki suara terbanyak dan akan selalu dimenangkan karena banyak yang memiliki kepentingan yang merasa aman di sistem yang lama. Entah pada akhirnya sebenarnya paradigma itu benar atau tidak, society tidak peduli.Contohnya dengan teori bumi sebagai pusat semesta yang pada akhirnya ternyata salah, namun sayang bola mata Galileo tidak bisa dipasang kembali. Dibutuhkan seseorang segila Galileo untuk mempertahankan pemikiran dia dan pembuktiannya. Pertanyaannya apa yang Galileo cari? Mengapa ia mengedepankan pemikirannya sebegitu gigihnya? Karena dia menghargai dirinya sebagai makhluk berakal budi yang membutuhkan intelegensinya tersalurkan dan dibenarkan sebagai pembenaran.

Saya kira tidak mudah mempertahankan pemikiran sendiri tanpa dicap gila dan sinting. Karena manusia terbiasa harus seragam, harus sama. Agar sistem bisa terus berjalan semestinya tanpa ada hama parasit pengganggu yang nyeleneh sendirian. Jikalau terus menerus takut dengan pemikiran yang berbeda dengan society, sudah hendaknya kita malu dengan mereka yang membayar mahal nyawa dan biji bola matanya untuk sesuatu yang diyakininya.

Manusia sudah seharusnya memiliki otaknya sendiri yang tidak harus disetir oleh apapun. Seperti yang ditulis di Alkitab, 'Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.' 




Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...