Tol Serang-Serpong Kilometer 35


Tol Serang-Serpong Kilometer 35
pic: fotosendiridongehbuset

Memandang pemandangan jendela di luar, seraya sayup terdengar band indie Alvin and I yang lyric nya penuh sirat makna. ' Ada hal yang tidak akan terdengar, kemampuan dalam berbicara. Terpadu dalam cairan, cair dan emosi. Kita pasti pernah bersuara, kita pasti pernah bersandiwara, pasti pernah bersuara... dalam emosi.'

Ada sebuah janji dalam hati bahwa saya akan mengikuti hati saya sendiri. Saya berjanji kalau ternyata ada suatu panggilan yang menggugah dan tidak bisa saya abaikan begitu saja. Panggilan itu di mana-mana, berbisik-bisik, menggelitik hati dan mencair dalam waktu. 

Ada yang tertinggal untuk dibicarakan, ada yang tertinggal untuk didengar. Kata hati. Dia sifatnya cair dan mengalir sesuai wadah. Menyesuaikan tempat. Namun sesuai dengan sifat air yang bisa bergejolak, ternyata ada gelombang pasang yang bisa sewaktu-waktu datang. Dan giliran saya sekarang. Gelombang saya sedang besar. Ternyata menutupi kata hati itu tidak mudah. Ada banyak pertahanan yang harus tinggal. Ada sebuah bendungan yang sewaktu-waktu akan meledak. Entah kapan.

Ada sandiwara yang harus dilakoni terlebih dahulu sebelum pada akhirnya bisa menjadi diri sendiri dan terbang dengan sayap sendiri. Ada yang harus dilakukan sampai tuntas terlebih dahulu, demi bisa mendapatkan tujuan di seberang pulau. Ada jalan memutar untuk sampai pada tempat yang sebenarnya. Bukan salah jalan, hanya memang untuk menemukan jalan kita harus tersesat. 

Saya sedang tersesat sekarang. Ada kabut tipis di depan mata saya yang kadang menebal, kadang menipis. Adalah tugas saya meraba-raba dalam gelap dan mencoba-coba. Ada pedoman pasti, mercusuar saya yakni kata hati. Harus diikuti setiap langkahnya. Saya harus bersabar dalam kehilangan arah ini. 

Ada scene hidup yang tidak bisa di-skip atau dipercepat pergerakannya. Ada proses di sana. Ada pertumbuhan di sana. Ada kebijaksanaan di sana. Ada kedewasaan di sana. Dan ternyata menjadi dewasa itu tidak mudah. Ada cerita dibalik seseorang dalam mencari jati diri dan cita-citanya. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah mimpi. Entah saya akan sampai ke sana atau tidak. Atau mungkin bisa saja mati muda. Tidak pernah ada yang tahu umur seseorang kan?

Tidak harus ada yang harus ditakutkan. Mungkin begini penziarahan hidup manusia di dunia ini. Bukankah seperti yang dikatakan oleh Goenawan Mohammad di buku favorite saya Tuhan & Hal-Hal yang Tidak Selesai: Artinya Ia tidak pernah selesai dengan manusia. Mungkin Ia tak pernah puas. Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.”

***

Saya harus tidur.
Besok saya harus bangun pagi dan bersandiwara lagi.
Sampai akhirnya saya jadi diri sendiri.
Selamat malam, damai sejahtera untuk kalian, pengejar mimpi.
Kurangkul dan kukecup kalian dengan sepenuh hati.
Teman seperjalanan, ikuti kata hati. 






Comments

Popular Posts