26.10.14

Chef

pic: google


Sebelum saya lupa akan begitu menginspirasinya film ini, lebih baik saya tulis terlebih dahulu. Ternyata terinspirasi pada suatu hal itu layaknya air ketika diberi panas. Mendidih namun pada waktu dan titik tertentu bisa menguap begitu saja. Sehingga alangkah baiknya kalau momen yang menginspirasi itu bisa kita simpan atau didokumentasikan. Hingga sewaktu-waktu bisa kita buka dan ingat kembali.

Ada yang ajaib dari sesuatu yang bisa 'menggerakan', ini semacam menjadi sebuah trigger untuk kita latah ikut berkarya atau berbuat sesuatu untuk hal yang lebih baik lagi. Sesuatu yang dapat 'menggerakan' ini pastinya memiliki gelombang yang sama dengan frekuensi kita. Adalah hal yang menarik ketika kita bisa tergerak oleh sesuatu dan akhirnya bergerak. Dan film ini salah satunya. Saya merasa tergerak, terinspirasi.

Film ini menjadi menarik karena mengangkat tema yang sedang ngehits yakni food porn. Generasi kita ini sedang gencar-gencarnya menyukai kuliner yang memanjakan lidah lalu diunggah di sosial media. Film ini seolah menjadi cerminan kita yang sudah hidup serba viral dan porno dengan artian segala hal menjadi konsumsi umum. Ditambah dengan soundtrack yang pas sekali dengan tema film ini, aroma musik mumba dengan bit yang riang dan cepat.

Menurut saya film ini tidak membosankan sama sekali, saya tidak harus pindah posisi duduk karena bosan dan pegal. Saya tidak perlu gelisah melihat jam terus menerus, saya dengan sepenuh hati menikmati film ini dari awal sampai akhir.

Ada hal yang sebenarnya menarik dari film ini, rasanya tema yang diangkat cukup dekat dengan pergumulan hati saya. Itu sih sebenarnya hal yang bisa membuat saya bisa berkata: Men, ini film gue banget! Saya tidak akan menceritakan filmnya di sini namun jalan cerita seorang Chef  di restoran terkenal dan ramai pengujung yang akhirnya banting setir menjadi seorang penjual makanan food truck, mengikuti hati kecilnya untuk melakukan apa yang dia suka sesuai passionnya ini benar-benar nendang! 

Menurut saya tokoh di film ini hebat ketika pada akhirnya dengan segala harga diri yang dia punya menarik diri mundur dari suatu rutinitas yang tidak sesuai dengan hati kecil dan panggilannya, padahal dia sudah melakukan pekerjaan itu bertahun-tahun dan dia sudah 'nyaman' dengan pekerjaan itu. Namun pada satu titik dia melepaskan keyamanan itu semua dan memulai bisnis baru yakni food truck makanan Kuba. 

Saya suka sekali pada sebuah adegan di mana Chef ini harus memutuskan langkah selanjutnya setelah dia berhenti dari restoran terkenal tempat dia bekerja. Temannya si pramusaji, berkata:
"Ketika kamu menemukan hidup kamu tidak berubah, itu tandanya sudah saatnya kamu pergi meninggalkan dan berubah." Edaaaaannn!

Adalagi quote paling pecah dari film ini. Begini bunyinya:

 Carl Casper: I may not do everything great in my life, but I'm good at this. I manage to touch people's lives with what I do and I want to share this with you.

Sebenarnya kita ini mempunyai panggilan masing-masing untuk menyentuh hidup orang lain, berbagai cara sesuai talenta kita. Hingga sudah seharusnya kita bisa melakukan yang terbaik dan mengikuti passion kita tanpa harus takut mengambil langkah besar untuk keluar dari kenyamanan. Memang sering kali meraih kebahagiaan itu harus susah-susah dahulu dan ternyata kebahagiaan untuk bekerja sesuai passion itu tiada tara.

***


Hai pembaca blog yang budiman, sudahkah mengikuti passion anda dan berbahagia karenanya?





No comments:

Post a Comment