28.10.14

Numpang Minum


pic: google



Pernah dengar sebuah pribahasa jawa yang kira-kira bunyinya begini, 'Irup mung mampir ngombe'? Kalau diartikan ke bahasa Indonesia jadi begini ' Hidup hanya mampir minum.' Mengapa minum? Pastilah ada falsafah jawanya, tapi kalau saya boleh sok tahu dengan otak saya yang seiprit ini mungkin maksudnya hidup ini terlalu singkat, terlalu sebentar.

Minum itu sifatnya menyegarkan. Coba saja bayangkan ketika kita selesai jogging. Berkeringat, panas, terengah-engah, pegal, lelah dan sudah pasti tenggorokan kering. Pasti kita ingin minum. Dan sudah bisa ditebak bahwa proses minum ini terjadi hanya sepersekian detik saja... glek..glek...glek... lalu sudah. Lalu dahaga pun hilang seketika. Ada momen menyegarkan pada saat kita minum. 

Akhir-akhir ini saya mendengar banyak berita sana sini tentang keluh kesah teman-teman saya akan hidup yang sedang dijalaninya. Tidak usah jauh-jauh, saya pun demkian. Mengeluh ini itu anu. Lalu curcol di blog panjang pendek sampai saya jadi super rajin ngeblog karena ingin mencari pelarian sendiri. Memang kita ini cuman manusia biasa yang mau saja terus menerus jadi budak keinginan. Saya sih menyadari betul kalau saya demikian. Saya sering mengeluh, sering merasa apa yang saya jalani sekarang ini tidak sesuai dengan keinginan saya. Ya terus? Mengapa hanya mengeluh saja namun tidak melakukan apa-apa?

Kalau kata Ibu saya, saya itu omdo, omong doang. Tapi memang berbicara itu lebih mudah dan lebih enak dari pada melakukan sih ya. Dan celakanya itulah yang kiranya harus diubah. Entah saya mengubah agar tidak jadi NATO atau saya sepenuhnya menerima. Itu dua-duanya pilihan yang bisa saya pilih satu sesuai kebutuhan.

Mbak Mega

Di tengah stress di kantor, dari pada saya ngobrol ngalor ngindul dengan teman kantor, saya lebih suka jalan ke toilet. Mengapa toilet? Karena saya butuh peregangan kaki dan pantat agar setidaknya bergerak sedikit. Di toilet saya suka sekali bernyanyi, joget atau ngomong sendiri, tentu kalau tidak ada orang. Toilet sudah seperti oasis di padang gurun.

Di toilet kantor, ada karyawati yang suka membersihkan toilet namanya Mbak Mega. Apa yang spesial dari Mbak Mega? Saya merasa dia seorang karyawati yang bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya. Kalian bayangkan deh, membersihkan toilet setiap hari di dua lantai dan bisa dibayangkan toilet itu digunakan banyaaak orang. Apalagi toilet perempuan, sampah tissue, pembalut, tumpahan make up ada semua komplit di toilet. Namun ajaibnya toilet kantor saya itu selalu bersih, apik, tidak becek, sampah tidak berserakan dan wangi. Hebat tidak? Iya, itu yang mengerjakan Mbak Mega sendiri. Saya merasa dia hebat sekali, menjalankan tugas sebaik-baiknya dengan segenap tanggung jawab, lalu setiap kali saya ke toilet Mbak Mega sedang mengepel sambil senyum-senyum. Antara memang ramah atau pusing lihat kelakuan saya yang pecicilan di toilet. 

Tidak banyak orang yang bisa demikian, saya pun masih jaaaauuuhhhhhh...rasanya. Saya belum tentu dengan senyum-senyum mengerjakan tugas sebaik-baiknya, pasti saya kerjakan sebaik-baiknya dengan bonus muka bete lalu memasang senyum pembawa luka. Mengambil keputusan untuk merubah atau menerima sepenuhnya keadaan yang tidak enak memang sialan banget dan tidak enak. Sering kali saya dengan serba ingin cepat sampai ke 'tujuan' saya dan keinginan saya, generasi instan sih katanya.

Minum

Kalau seandanya hidup ini hanya numpang minum, berarti hidup ini hanya sebentar, seharusnya saya lebih aware dong dengan segala senti hidup saya. Seharusnya saya lebih sering merayakan kehidupan, senangnya dan susahnya. Lalu saya lebih menikmati alunan ombak hidup saya. Toh hidup cuman sebentar, ya kan? Sayang penerapannya sulit sekali. Tapi bisa dicoba, barangkali. Kita ini hanya makhluk titipan, bisa langsung tiba-tiba 'di-booking' Tuhan kapan saja. Saya dan kamu hanya titipan di dunia. Sehingga relevan kalau saya bertanya kepada kamu, 'Hidup seperti apakah yang kamu pilih?'

Saya tahu sih hidup ini cuman numpang minum, tapi minuman seperti apa yang ingin saya minum? Perlukah saya minum? Itu kembali lagi pada diri sendiri, ya kan?

27.10.14

Tol Serang-Serpong Kilometer 35


Tol Serang-Serpong Kilometer 35
pic: fotosendiridongehbuset

Memandang pemandangan jendela di luar, seraya sayup terdengar band indie Alvin and I yang lyric nya penuh sirat makna. ' Ada hal yang tidak akan terdengar, kemampuan dalam berbicara. Terpadu dalam cairan, cair dan emosi. Kita pasti pernah bersuara, kita pasti pernah bersandiwara, pasti pernah bersuara... dalam emosi.'

Ada sebuah janji dalam hati bahwa saya akan mengikuti hati saya sendiri. Saya berjanji kalau ternyata ada suatu panggilan yang menggugah dan tidak bisa saya abaikan begitu saja. Panggilan itu di mana-mana, berbisik-bisik, menggelitik hati dan mencair dalam waktu. 

Ada yang tertinggal untuk dibicarakan, ada yang tertinggal untuk didengar. Kata hati. Dia sifatnya cair dan mengalir sesuai wadah. Menyesuaikan tempat. Namun sesuai dengan sifat air yang bisa bergejolak, ternyata ada gelombang pasang yang bisa sewaktu-waktu datang. Dan giliran saya sekarang. Gelombang saya sedang besar. Ternyata menutupi kata hati itu tidak mudah. Ada banyak pertahanan yang harus tinggal. Ada sebuah bendungan yang sewaktu-waktu akan meledak. Entah kapan.

Ada sandiwara yang harus dilakoni terlebih dahulu sebelum pada akhirnya bisa menjadi diri sendiri dan terbang dengan sayap sendiri. Ada yang harus dilakukan sampai tuntas terlebih dahulu, demi bisa mendapatkan tujuan di seberang pulau. Ada jalan memutar untuk sampai pada tempat yang sebenarnya. Bukan salah jalan, hanya memang untuk menemukan jalan kita harus tersesat. 

Saya sedang tersesat sekarang. Ada kabut tipis di depan mata saya yang kadang menebal, kadang menipis. Adalah tugas saya meraba-raba dalam gelap dan mencoba-coba. Ada pedoman pasti, mercusuar saya yakni kata hati. Harus diikuti setiap langkahnya. Saya harus bersabar dalam kehilangan arah ini. 

Ada scene hidup yang tidak bisa di-skip atau dipercepat pergerakannya. Ada proses di sana. Ada pertumbuhan di sana. Ada kebijaksanaan di sana. Ada kedewasaan di sana. Dan ternyata menjadi dewasa itu tidak mudah. Ada cerita dibalik seseorang dalam mencari jati diri dan cita-citanya. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah mimpi. Entah saya akan sampai ke sana atau tidak. Atau mungkin bisa saja mati muda. Tidak pernah ada yang tahu umur seseorang kan?

Tidak harus ada yang harus ditakutkan. Mungkin begini penziarahan hidup manusia di dunia ini. Bukankah seperti yang dikatakan oleh Goenawan Mohammad di buku favorite saya Tuhan & Hal-Hal yang Tidak Selesai: Artinya Ia tidak pernah selesai dengan manusia. Mungkin Ia tak pernah puas. Ia mencintainya tapi harus menyaksikan cacatnya.”

***

Saya harus tidur.
Besok saya harus bangun pagi dan bersandiwara lagi.
Sampai akhirnya saya jadi diri sendiri.
Selamat malam, damai sejahtera untuk kalian, pengejar mimpi.
Kurangkul dan kukecup kalian dengan sepenuh hati.
Teman seperjalanan, ikuti kata hati. 






26.10.14

Chef

pic: google


Sebelum saya lupa akan begitu menginspirasinya film ini, lebih baik saya tulis terlebih dahulu. Ternyata terinspirasi pada suatu hal itu layaknya air ketika diberi panas. Mendidih namun pada waktu dan titik tertentu bisa menguap begitu saja. Sehingga alangkah baiknya kalau momen yang menginspirasi itu bisa kita simpan atau didokumentasikan. Hingga sewaktu-waktu bisa kita buka dan ingat kembali.

Ada yang ajaib dari sesuatu yang bisa 'menggerakan', ini semacam menjadi sebuah trigger untuk kita latah ikut berkarya atau berbuat sesuatu untuk hal yang lebih baik lagi. Sesuatu yang dapat 'menggerakan' ini pastinya memiliki gelombang yang sama dengan frekuensi kita. Adalah hal yang menarik ketika kita bisa tergerak oleh sesuatu dan akhirnya bergerak. Dan film ini salah satunya. Saya merasa tergerak, terinspirasi.

Film ini menjadi menarik karena mengangkat tema yang sedang ngehits yakni food porn. Generasi kita ini sedang gencar-gencarnya menyukai kuliner yang memanjakan lidah lalu diunggah di sosial media. Film ini seolah menjadi cerminan kita yang sudah hidup serba viral dan porno dengan artian segala hal menjadi konsumsi umum. Ditambah dengan soundtrack yang pas sekali dengan tema film ini, aroma musik mumba dengan bit yang riang dan cepat.

Menurut saya film ini tidak membosankan sama sekali, saya tidak harus pindah posisi duduk karena bosan dan pegal. Saya tidak perlu gelisah melihat jam terus menerus, saya dengan sepenuh hati menikmati film ini dari awal sampai akhir.

Ada hal yang sebenarnya menarik dari film ini, rasanya tema yang diangkat cukup dekat dengan pergumulan hati saya. Itu sih sebenarnya hal yang bisa membuat saya bisa berkata: Men, ini film gue banget! Saya tidak akan menceritakan filmnya di sini namun jalan cerita seorang Chef  di restoran terkenal dan ramai pengujung yang akhirnya banting setir menjadi seorang penjual makanan food truck, mengikuti hati kecilnya untuk melakukan apa yang dia suka sesuai passionnya ini benar-benar nendang! 

Menurut saya tokoh di film ini hebat ketika pada akhirnya dengan segala harga diri yang dia punya menarik diri mundur dari suatu rutinitas yang tidak sesuai dengan hati kecil dan panggilannya, padahal dia sudah melakukan pekerjaan itu bertahun-tahun dan dia sudah 'nyaman' dengan pekerjaan itu. Namun pada satu titik dia melepaskan keyamanan itu semua dan memulai bisnis baru yakni food truck makanan Kuba. 

Saya suka sekali pada sebuah adegan di mana Chef ini harus memutuskan langkah selanjutnya setelah dia berhenti dari restoran terkenal tempat dia bekerja. Temannya si pramusaji, berkata:
"Ketika kamu menemukan hidup kamu tidak berubah, itu tandanya sudah saatnya kamu pergi meninggalkan dan berubah." Edaaaaannn!

Adalagi quote paling pecah dari film ini. Begini bunyinya:

 Carl Casper: I may not do everything great in my life, but I'm good at this. I manage to touch people's lives with what I do and I want to share this with you.

Sebenarnya kita ini mempunyai panggilan masing-masing untuk menyentuh hidup orang lain, berbagai cara sesuai talenta kita. Hingga sudah seharusnya kita bisa melakukan yang terbaik dan mengikuti passion kita tanpa harus takut mengambil langkah besar untuk keluar dari kenyamanan. Memang sering kali meraih kebahagiaan itu harus susah-susah dahulu dan ternyata kebahagiaan untuk bekerja sesuai passion itu tiada tara.

***


Hai pembaca blog yang budiman, sudahkah mengikuti passion anda dan berbahagia karenanya?





22.10.14

Pertanyaan Penting Abad Ini



'Dalam bekerja kita bukan cuman kerjaan beres, gaji lancar, dapat bonus, ga dimarahin bos, bikin  kaya perusahaan, buat perusahaan maju dan terkenal doang kan?'

'Kita kerja untuk tujuan lebih dari itu kan?'

'Kita  kerja juga untuk berelasi dengan orang lain, kerja sebagai bentuk ibadah, kerja untuk  menyempurnakan eksistensi kita sebagai manusia dan menjadi manusia yang bisa jadi terang dan garam manusia, kan?

 'Ya kan?' 






18.10.14

Konklusi Akhir Pekan

Saya sedang membaca sebuah buku judulnya The Happines Project. Saya mengambil buku itu untuk dibaca karena akhir-akhir ini saya bertekad untuk mengubah hidup saya. Sering kali saya merasa bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja, tanpa akhirnya bisa belajar sesuatu dari situ. Lalu pada akhirnya saya berandai-andai, seandainya saya bisa berada di pantai, menikmati sunset, mendengarkan lagu yang saya suka, membaca buku dan menulis, hidup saya pasti akan lebih baik. Itu yang setiap kali saya pikirkan setiap kali saya duduk di bus menuju kantor. Jelas dengan pikiran ini saya sedang 'tidak bahagia'. Saya tidak menemukan hal yang menarik di hidup saya akhir-akhir ini. Semuanya mundane. 

Ketika saya masih kuliah, saya punya anggapan bahwa happines is a state of mind. Itu sesuatu yang ada di pikiran kita bukan apa yang kita punya. Semudah bahwa sebenarnya pikiran itu bisa diperdaya untuk merubah hidup. Jikalau saya terus menerus berpikir bahwa saya tidak suka dengan hidup sekarang yang saya jalani ini, maka saya akan terus terusan merasa bahwa saya tidak bahagia.

Lalu akhirnya, saya memilih untuk membaca buku The Happines Project ini. Saya meneropong bahwa kerap kali saya melewatkan 'syukur' untuk apa yang saya punya. Saya melewatkan bahwa saya memiliki hal lain yang sebenarnya bisa dikembangkan. Menyadari bahwa kita memiliki sesuatu yang bisa kita 'berdayakan' hingga akhirnya membuat kita jadi semangat.

Saya mempunyai project baru untuk hidup saya karena saya tidak ingin menjadi orang yang lesu dalam hidupnya lalu nanti dengan menghela nafas akan berkata 'Saya belum melakukan apa-apa untuk mimpi saya.' Ouch, tragedi.

Langkah awal untuk menciptakan sesuatu yang baru selalu tidak mudah. Dan saya lakukan mulai dari diri sendiri dan bisa kelihatan yakni memotong rambut. Oke, simple tapi saya sudah senang dipijat-pijat kepalanya dan mendapat potongan rambut yang lebih fresh. Semenyenangkan bau rambut yang wangi sehabis keramas. Saya sudah senang. Ternyata bahagia itu sederhana.

Melihat gambaran saya yang memang pada dasarnya cepat bosan, membuat saya harus extra keras mencari sesuatu yang baru agar saya lebih tertarik dengan hidup. Sebenarnya dengan demikian saya belajar untuk lebih mengenal diri sendiri dan menerima kalau saya mudah bosan. Jadi, saya harus lebih aktif dari orang lain. Eh, gitu gak sih?




12.10.14

Firdaus




"Tidak sesaat pun saya ragu-ragu mengenai integritas dan kehormatan diri sendiri sebagai wanita. Saya tahu bahwa profesi saya telah diciptakan oleh lelaki, dan bahwa lelaki menguasai dua dunia kita, yang di bumi ini dan yang di alam baka. Bahwa lelaki memaksa perempuan menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan bahwa tubuh yang paling murah dibayar adalah tubuh isteri. Semua perempuan adalah pelacur dalam satu atau lain bentuk. Karena saya seorang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang isteri yang diperbudak. " -  Perempuan di Titik Nol halaman 132-133  ( Nawal el-Saadawi) 

Ada segurat rasa penasaran pada sebuah buku mungil berwarna merah ini. Buku ini selalu disebut-sebut di setiap kritik sastra feminis. Ada yang berkata bahwa buku ini terlalu feminis, terlalu memojokkan peran laki-laki, sebuah kritik sosial yang pedas. Namun menurut saya, buku ini berani karena mengupas tatanan sosial dan politik pada zamannya. Pengarang buku ini adalah Nawal el-Saadawi, seorang dokter bangsa Mesir. Ia dikenal di seluruh dunia sebagai novelis dan penulis wanita pejuang hak-hak wanita.

Saya menyukai sastra karena dalam sastra saya bisa lebih mengenal hidup dari sisi yang berbeda. Bahwa sebenarnya hidup ini abu-abu, tidak sepenuhnya hitam dan tidak sepenuhnya putih dan bagi yang melihat hanya salah satunya saja, dia miskin perspektif. 

Seperti judul tulisan ini, Firdaus. Firdaus adalah tokoh utama dari buku ini yang adalah seorang pelacur. Pelacur yang meneriakkan suaranya akan ketidakadilan posisi perempuan di masyarakat. Mirisnya dalam buku ini adalah banyak perempuan yang tidak merasa ditindas lalu merasa itu adalah suatu hal yang lumrah untuk perempuan diperlakukan tidak adil. Dan malah berbalik menyerang Firdaus karena Firdaus merasa tatanan ini salah dan dia memberontak. Ada satu perikop yang cukup menohok saya yakni saat Firdaus kembali pulang ke rumah Pamannya karena habis dipukuli oleh suaminya namun Pamannya malah berkata bahwa semua suami memukul istrinya, dan istrinya menambahkan bahwa suaminya pun seringkali memukulnya. Lalu Firdaus pun berkata pada pamannya kalau tidak mungkin pamannya ini memukuli istrinya karena ia terhormat dan terpelajar dalam hal agama, tidak mungkin memiliki kebiasaan memukuli istrinya. Namun dibalas oleh pamannya dengan jawaban, justru laki-laki yang memahami agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannnya ialah kepatuhan  yang sempurna.

Tidaklah saya mengerti bahwa tafsiran agama manakah yang dapat mengeluarkan statement seperti itu? Saya rasa ini bukan urusan agama namun manusia itu sendiri yang salah menafsirkan hingga akhirnya menjadikan agama sebagai dalil tertinggi untuk bisa dihormati dan dipatuhi. Saya benci sekali jikalau segala sesuatu dihubungan dengan hukum agama dan penafsiran sendiri bahwa Tuhan itu begono begini. Hingga akhirnya saya rasa manusia sendiri yang membuat gambaran Tuhan itu begono begini, bahwa Ia Maha Penghukum. Mungkin memang kita manusia terlalu sok tahu untuk menyelami semua pemikiran-Nya. Hingga akhirnya kita, manusia menjelma menjadi tuhan itu sendiri.

Buku ini sungguh menggambarkan bahwa tubuh perempuan bukanlah milik perempuan, namun milik laki-laki. Karena tubuh perempuan bisa dibeli dan sewaktu-waktu bisa ditinggalkan apabila sudah bosan. Perempuan tidak memiliki haknya atas tubuhnya sendiri dan di buku ini juga digambarkan bahwa perempuan tanpa dilindungi oleh laki-laki, maka dia tidak aman dan tidak dianggap. di masyarakat. Anggapan bahwa laki-laki sebagai pelindung rasanya sangat kontradiktif sekali. Melindungi dari apa? Dari laki-laki lain yang akan menyakiti dan merampas tubuhnya? Namun apa bedanya jikalau 'lelaki pelindung' atau suaminya pada akhirnya malah jadi momok yang menakutkan dan sumber kesengsaraan. Dari mana perlindungannya? 

Ada satu yang cukup menggelitik saya dari sekian tokoh laki-laki di buku ini. Ada satu tokoh namanya Ibrahim, dia adalah teman Firdaus yang menjadi salah satu kekasih Firdaus. Dia tipe laki-laki kritis, pintar yang meneriakkan revolusi. Seorang revolusioner, pada awalnya saya jatuh cinta pada tipe Ibrahim ini. Sosok yang memanjakan otak dan intelegensi bukannya menawarkan harta seperti lelaki lain di buku ini. Sosok yang menawarkan rayuan baru yakni sesuatu yang saya bilang sebagai tipe laki-laki yang mampu men-seduce otak dengan pemikiran-pemikiran smartnya. Sayang ujung-ujungnya dia pun lari meninggalkan Firdaus dengan putri presiden direktur tempat Firdaus bekerja. Hal yang mau digambarkan nyata dalam buku ini adalah betapa laki-laki mudah tergoda dengan kekuasaan. Saya rasa sebenarnya tidak hanya laki-laki namun perempuan juga. Pada akhirnya manusia menginginkan rasa menguasai manusia lainnya. Layaknya bermain peran budak-majikan. Sebuah perasaan primitif manusia untuk menguasai. 

Menurut saya buku ini buku yang galak. Kritiknya nyelekit dan tajam. Bisa saja pada zaman ini kita memandang buku ini sebagai kemarahan seorang perempuan atas laki-laki, mungkin karena dia aliran sakit hati pada laki-laki, sebagai pelarian cinta yang ditolak dan ditinggalkan. Banyak orang yang menuduh feminist seperti itu, namun kembali lagi. Kita tidak berhak menghakimi seseorang dan cara pandangnya, hanya karena dia bersebrangan dengan kita. Saya rasa si penulis buku ini adalah perempuan yang berani dan saya kagum dengan karyanya karena dia menyuarakan situasi ekstrem yang terjadi pada zamannya dan meneriakkan suara-suara perempuan pada zamannya. 

Bagi saya hal yang paling kasihan adalah bukan pada orang yang tertindas dan meneriakan keadilan namun dihiraukan. Tapi orang-orang yang tidak menyadari bahwa ia tertindas dan menganggap itu adalah tatanan sistem yang benar dan membenarkan hal itu terjadi pada orang lain. Tidak menyadari kalau dia juga korban itu kasihan, sungguh kasihan. 




Merekam Percakapan Sebuah Kota

Bergulat dengan hidup barangkali salah satunya adalah dengan menolak untuk terus menerus tidur-tiduran ayam di tempat tidur saat se...