Null


Pada hari ke enam dalam suatu minggu, bersantai mendengar hujan dengan rambut basah sehabis keramas, menggunakan baju longgar dan celana pendek, menulis dengan lutut kedinginan nampaknya sebuah kenikmatan tiada tara. Jangan tanyakan akan kehidupan lima hari sebelumnya karena sesungguhnya pada lima hari itu telah menjadi zombie rutinitas yang mati enggan hidup pun tak mau. Padahal sebenarnya mempunyai banyak pilihan untuk bisa mencari sweet escape dan mencari kebebasan. Benar kata orang bahwa tidak hanya di puncak gunung tertinggi di Tibet saja yang menjual galon-galon oksigen untuk hidup, dalam keseharian kita juga fakir oksigen. Di tengah gedung-gedung yang menjulang membosankan dan kosong. Pencarian dunia fana yang katanya adalah mencari nafkah. Namun apakah sebenarnya hidup ini hanya sekedar makan dan buang hajat saja? 

Radio dan televisi masih saja berkoar-koar membodohi publik dan membesar-besarkan berita menutupi bau masam rokok dari penjilat dan koruptor. Tidakkah kita termanja dengan media massa sehingga pada akhirnya menjadi budak-budak televisi dengan informasi simpang siur yang menjejali otak dua puluh empat jam. Hingga pikiran kita teracuni dan meneropong pada kenyataan yang salah sedangkan si cukong pembayar berita sedang tertawa-tawa akan pembodohan masal. Siapa yang harus kita percaya lagi?

Ada kegelisahaan yang rasanya belum bisa saya jawab, sebuah pertanyaan besar yang masih menggantungi kaki ke manapun pergi. Bahwa pada akhirnya saya bukan lagi manusia yang mengikuti ke mana hati membawamu, tapi manusia yang mengikuti ke mana realitas membawamu. Ternyata pembelajaran keras bahwa suara-suara dan pertanyaan yang tidak mau pergi itu selalu ada. Bahwa mulut bisa saja bungkam namun pikiran tidak. Kita ini manusia merdeka di pikiran kita masing-masing. Satu-satunya kemerdekaan yang kita punya sekarang yakni kemerdekaan pikiran, meski tidak memiliki kehendak bebas. 

Atau jangan-jangan sebenarnya manusia itu adalah budak dari keinginannya sendiri. Keinginan itu selalu ada dan terus menerus memupuk diri untuk bisa terwujud. Bagaikan anak kecil gendut yang merengek-rengek minta susu pada ibunya padahal gigi geliginya sudah soak di makan manis dan aliran air susu yang berkerak lengket sudah menempel di pipi, dagu dan lehernya. Jangan-jangan kita ini hanyalah budak dari idealisme kita sendiri. Keinginan untuk membuat sebuah situasi menjadi lebih baik lagi dan melihat segala sesuatu dari sisi humanisme padahal dunia tidak pernah memenangkan orang humanis. Dunia ini kapitalis. Siapa yang menawar harga tinggi dia yang memiliki dunia. Hingga tidak hanya dunia saja yang bisa dibeli, manusia juga bisa dibeli bagaikan barang komoditi. Menjual diri dengan kesadaran penuh karena ada banyak mulut yang harus diberi makan dan ada banyak nyawa yang harus disambung. Tidak ada lagi perkara adil dan tidak adil karena kita bukan tuhan yang bisa mengeja kata adil dengan sempurna. 

Hingga akhirnya, kita ini sebenarnya apa?

Lalu sayup-sayup terdengar lagu Donna-Donna mengalun. 

"Stop complaining", said the farmer
 Who told you a calf to be?
Why don't you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free?










Comments

Popular Posts