3.8.14

Sesudah Hujan

Hujan datang sebentar. Sebentar saja. Basah. Lalu wangi hujan semerbak di mana-mana. Wanginya sama tidak peduli kamu di Sydney, Kaohsiung atau Serpong. Apakah hujan itu memiliki sejenis parfum yang adiktif ya? Ada sebuah zat adiksi yang membuat saya suka wangi hujan. Wangi hujan itu sendu dan segar. Ada sebuah kegelisahan yang pasrah di sana. Pasrah pada akhirnya air akan tumpah ke bawah, entah ke tanah, meresap ke dalam akar pohon atau mungkin ke sungai dan berpulang lagi ke laut. 

Saya suka hujan. Dia memiliki waktunya sendiri. Dia memiliki filosofinya sendiri. Bahwa di dalam hujan kita jadi lebih merenung dan melamun jauh. Seolah isi kepalamu dan otakmu juga kena rembes hujan. Ada sebuah kekuatan mistis yang saya percayai antara pikiran kita dan hujan. Entah kamu akan tertidur atau berpikir tentang pertanyaan esensial yang mendasar. Bahwa saran saya jikalau kamu ingin mengenal seseorang, kamu harus duduk berdua dengannya, menunggu hujan reda, dan berbicara menatap matanya. Segala yang ada dalam hujan itu menyembuhkan. Percayalah. 

Karena semua hujan pasti akan berpulang ke laut. Dan laut adalah rumah. Rumah saya. 






After The Rain
Words and music by Adhitia Sofyan
About the song :
The simple thought of missing someone that’s far far away.
If I could bottled the smell of the wet land after the rain
I’d make it a perfume and send it to your house
If one in a million stars suddenly will hit satellite
I’ll pick some pieces, they’ll be on your way
In a far land across
You’re standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star will there to guide me
If only I could find my way to the ocean
I’m already there with you
If somewhere down the line
We will never get to meet
I’ll always wait for you after the rain


No comments:

Post a Comment