Sebuah tulisan di awal umur 20 tahun(an)

Ada suatu desakan dari kepala saya untuk menuliskan sebuah uneg-uneg di kepala saya. Dan saya yakin desakan tersebut adalah sebuah energi baik untuk menulis. Yeah! Selamat datang kembali, untuk saya setelah beberapa waktu ini bertapa dengan pemikiran sendiri. Sudah waktunya, sudah tiba waktunya kegelisahan saya ini dibagikan. 

Akhir-akhir ini saya gelisah. Saya berpikir (lagi) tentang hidup, tetang passion, tentang arti diri sendiri, tentang jati diri. Apakah saya ini terlalu melankolis? Saya rasa tidak. Kebetulan banyak hal yang membuat saya tergelitik akhir-akhir ini. 

Passion

Ada sebuah tanda tanya besar di depan mata saya dan saya yakin ini pertanyaan besar di usia awal umur 20 tahun(an). Dalam pencarian jalan masing-masing individu, pernah tidak sedikit pun dari kalian berpikir, selama ini sudahkah saya berjalan di jalan yang benar? Sudahkah saya mengetahui apa yang saya mau? Sudahkah saya memakai seluruh talenta yang sudah Tuhan berikan pada saya? Sudahkan saya menjadi berkat untuk sekitar saya? JEDAR!

Lalu saya melihat sekitar saya, pada akhirnya berhenti dan akhirnya menerima apa yang hidup berikan pada kita. Sebenarnya saya belum sampai pada pemahaman menerima. Bagaimana mungkin kita disuruh mengejar passion kita, namun di lain pihak kita harus menerima apa yang kita punya sekarang? Ketika kita mengejar passion artinya sesuatu itu harus kita raih, kita berjuang gigih untuk mencapainya, sedangkan menerima maksudnya ya...menerima keadaan ini. Saya tidak melihat sinkronisasi pada dua hal tersebut. 

Di tengah pembicaraan ngalor ngidul dengan seorang teman lalu tersesat bersama di pemikiran awal dua puluh(an) ini, kami berdua pada akhirnya mengambil sebuah pemikiran bahwa untuk saat ini mengejar passion dan menjadi egois karenanya kita belum bisa. Lalu terlontar sebuah statement: "Met, lo mau idup, Met? Menurut gue screw your passion! Passion gak bisa kasih makan elo!" Lalu saya mengangguk-ngangguk dan tertawa terbahak-bahak. Namun tetap ada sebuah celah barang secuil di hati yang menyangkal hal tersebut, di hati kita berdua tetap pada akhirnya berbisik begini, mengutip quote Oprah Winfrey " You should do what you must do, until that you can do what you wanna do." 

Mungkin beginilah jalannya bahwa saya dan kamu (yang juga di awal umur 20(an)) harus berdarah-darah dulu baru dengan sesuatu yang mungkin jauuuh dari passion kita, namun pada akhirnya kita akan memenuhi panggilan hidup kita masing-masing untuk mewujudkan passion kita itu. Entah pada akhirnya kita akan sampai ke sana atau tidak, kita tidak pernah tahu kan? Istilahnya kita melakukan de tour dulu, berjalan memutar untuk pada akhirnya sampai ke jalan sebenarnya. Mungkin begitu.

Selain itu menurut Soe Hok Gie (saya juga nge-fans sekali dengan Soe Hok Gie, seorang penulis dan aktivis cerdas kritis), dia berkata begini: " Hidup adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar, terimalah dan hadapilah."  Memang ada harga yang harus dibayar untuk kita bisa menuju sesuatu yang berharga dan sesuatu yang berharga itu tidak ada short cutnya, tidak ada jalan mudahnya. 

Cinta

Saya akhir-akhir ini bukan simpatisan cinta. Kembali lagi bahwa semua kesimpulan seseorang berasal dari pengalaman. Dan saya adalah orang yang mudah membuat kesimpulan. Hati saya sudah bosan dan pengap sekali dengan ini. Saya mau jadi apatis. 

Lalu kemudian beberapa hari ini saya menemukan sebuah artikel menarik tentang ini, dalam artikel tersebut ditulis bahwa ada saatnya orang datang dan pergi dalam hidup kamu dan mereka sebenarnya membawa pesan. Namun dalam proses tersebut kamu jadi tidak mengerti cinta itu apa, lalu kamu tidak percaya cinta. Mungkin proses itu membingungkan. Dan lebih membingungkan jikalau kamu ada di dalamnya.

Saya rasa saya sedang capek saja dengan yang satu ini. Bahwa bukan perkara mudah menitipkan hati pada orang lain. Bukan perkara mudah memulai dari awal berkenalan dan merasa nyaman lagi dengan seseorang. Bukan perkara mudah menemukan seseorang yang satu frekuensi dengan kamu. Auk ah. Bodo amat. 

Bahagia

Dan kamu semakin sadar bahwa semakin dewasa, definisi bahagia semakin pelik.


Tapi di atas semua itu, saya suka bahwa saya semakin dewasa, saya suka menjadi dewasa. Karena dewasa itu sexy. Dan saya tidak sabar melihat keindahan lainnya dan mengamati diam-diam. Lalu menulis. 



Pic: Google
Ini Banda Neira. Saya mau ke sana. Suatu hari.







*P.S. Kali ini saya tidak mau membuat kesimpulan dan menjawab pertanyaan dari isi kepala saya. Selain karena jawabannya masih ambigu dan amburadul namun juga saya belajar bahwa tidak semua pertanyaan bisa dijawab dengan jawaban, namun melahirkan pertanyaan baru juga adalah jawaban. 






Comments

Popular Posts