Lama-lama otak saya butuh reparasi


Saya akhir-akhir ini sedang gelisah dengan rasa penasaran saya. Otak saya sedang banyak pertanyaan yang tidak ada ujungnya, (karena setiap pertanyaan berbuntut panjang dan melahirkan pertanyaan lain lalu saya pusing sendiri dengan pertanyaan saya). Apakah karena terlalu banyak memperhatikan dan mengamati maka banyak berpikir, atau terlalu banyak bertanya sehingga akhirnya pusing? 

Saya akhir-akhir ini sedang berpikir tentang 'perbedaan'. Setiap manusia sangat sensitif dengan perbedaan, mereka mengidentifikasi sesuatu dengan mencari persamaan dan perbedaan. Lalu mereka akan menjadi nyaman dan erat pada hal-hal yang sama dengan identitas mereka.

Ada yang menarik, ketika pemikiran perbedaan itu menjadi sesuatu yang 'salah' dan 'beda', bukan sekedar sesuatu yang berbeda dan diterima begitu saja. Sebuah prespektif akan perbedaan yang dibeda-bedakan dan mengagungkan persamaan menjadi suatu kebenaran. Itu semacam cara penghakiman awal.

Saya sedang tergelitik dengan sebuah wacana rasisme. Jengjeng! Sebenarnya tentu ini bukanlah suatu wacana yang aneh lagi untuk diungkit-ungkit karena inilah realita kita di mana kita tinggal. Namun ternyata rasisme ini tinggal tepat di depan mata kita dan saya akhir-akhir ini baru menyadarinya kalau ini bahaya laten. 

Saya tinggal di sebuah keluarga campur, ayah ibu saya berasal dari suku yang berbeda, background yang berbeda dan profesi mereka berbeda juga. Saya bersekolah di sekolah pluralis. Sehingga bisa dibayangkan saya dimanjakan dengan pluralisme. ( Dan ayah ibu saya adalah dua manusia bebas yang membebaskan anaknya berpendapat dan bergaul dengan siapa saja).

Lalu akhir-akhir ini saya melihat suatu belahan dunia lain yang ternyata memiliki pandangan yang  akan apa yang saya lihat dan pengalaman yang saya alami. Mengenal seorang individu yang ternyata cukup kuat akan pemikirannya yang ternyata berbeda dengan pandangan saya. Ih saya kaget setengah mati. Sumpah. Rasanya seperti kepala saya ditempeleng keras-keras.

Saya agak terkaget-kaget dengan pemikiran dia yang 'berbeda' dan saya merasa ada yang aneh. Rasanya sampai saya mau tertawa keras-keras sampai kejungkel dari kursi saya. Sambil berteriak kencang "Men...hidup di dunia mana sih lo men?" 

Tapi ternyata stereotype akan racial itu ada di mana-mana. Label-label yang society berikan untuk beberapa orang dari suku dan bangsa yang berbeda itu masih ada di sini. Dan sebenarnya itu tidak akan pernah musnah. Rasisme itu nyata ada dan tinggal di hidup kita. Hingga bagaimana kita saling menyikapinya saja apakah kita berada di garis keras atau tidak.

Lalu saya berpikir, jika begitu bagaimana menyikapinya? Mungkin dengan pemakluman. Misalnya begini bayangkan jikalau kita memiliki mata minus 4 namun memakai kaca mata minus 1. Tentu tidak cocok, tentu tidak terlihat apa-apa, ya kan? Apa yang kita lihat tidak akan menjadi sama dengan apa yang matanya sehat lihat. Karena ada beberapa hal yang luput dari penglihatan. Sehingga jikalau saling berdebat tentu tidak akan menemukan jalan yang pas. Hingga dibutuhkan pemakluman. Bahwa perbedaan itu ada, ya saya menghargai perbedaan pandangan itu. Selesai. Mungkin tidak harus berdebat panjang. Mungkin hanya harus saling mengalami. Bahwa masing-masih kita memiliki pengalaman yang berbeda sehingga melahirkan suatu pandangan. 


Ah, tapi saya cuman sok tahu aja sih. Sebenarnya tidak tahu.
Lama-lama otak saya butuh reparasi.
Di mana sih?



Comments

Popular Posts